Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Satu tahun telah berlalu sejak pertemuan di lampu merah itu, dan hubungan Paroline serta Fharell telah tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar romansa kampus. Fharell kini berusia 20 tahun, tampak lebih dewasa dengan rahang yang tegas, sementara Paroline, di usianya yang ke-25, memancarkan aura kematangan yang luar biasa. Namun, di balik kemesraan yang mereka pamerkan, ada sebuah kotak pandora yang belum pernah terbuka, identitas ayah biologis Andreas.
Malam itu, hujan badai mengguyur Los Angeles, menciptakan suasana terisolasi di apartemen pribadi milik Paroline. Andreas sudah terlelap di kamar sebelah setelah seharian bermain dengan Fharell. Di ruang tengah yang hanya diterangi lampu temaram dan nyala lilin aromaterapi, suhu udara terasa memanas oleh gairah yang sudah lama mereka pendam.
Fharell tidak lagi menahan diri. Di atas sofa beludru hitam, ia menghujani leher Paroline dengan kecupan-kecupan lapar. Tangannya yang gemetar karena hasrat mulai melucuti pakaian Paroline satu per satu, menyingkap keindahan tubuh wanita itu yang selalu membuatnya bertekuk lutut. Paroline mengerang rendah, jemarinya tertanam kuat di rambut tebal Fharell, menarik pria itu lebih dekat.
Suasana menjadi sangat intim dan intens. Fharell, dengan segala pemujaannya, bergerak turun. Ia ingin menyesap setiap jengkal kenikmatan dari wanita yang ia cintai. Dengan penuh gairah, ia menyapu bersih sisa-sisa pertahanan Paroline, memberikan stimulasi yang membuat Paroline melengkungkan punggungnya, tenggelam dalam samudera kenikmatan yang memabukkan.
Namun, di tengah napas yang memburu dan puncak kenikmatan yang hampir tercapai, sebuah pikiran yang sudah beberapa bulan ini mengusik otak Fharell tiba-tiba meluncur begitu saja. Rasa penasaran yang dipicu oleh ejekan Danesa Smith setahun lalu akhirnya meledak.
"Paro... Sayang..." bisik Fharell di sela napasnya yang berat, wajahnya masih sangat dekat dengan kulit hangat Paroline. "Boleh aku tahu satu hal? Aku tidak bermaksud lain... aku hanya ingin tahu, siapa sebenarnya ayah biologis Andreas?"
Seketika, atmosfer di ruangan itu membeku. Gairah yang tadi membara padam seolah disiram air es. Paroline terkesiap, matanya yang tadi sayu karena nikmat kini terbuka lebar dengan binar kemarahan dan luka yang mendalam. Ia segera mendorong bahu Fharell, menjauhkan pria itu darinya.
"Kenapa kau menanyakan itu sekarang?" suara Paroline bergetar, bukan karena nafsu, tapi karena rasa terhina.
Fharell yang masih bertelanjang dada, tampak bingung dan menyesal. "Aku... aku hanya ingin tahu saja, Paro. Aku mencintaimu, aku mencintai Andreas. Aku hanya merasa sebagai pria yang akan menjadi suamimu, aku berhak tahu sedikit tentang masa lalumu..."
"Masa lalu?" Paroline tertawa sinis sambil terburu-buru mengenakan kembali pakaiannya dengan tangan gemetar. "Kau pikir ini soal rasa penasaran? Kau pikir ini soal hak? Kau menanyakan itu saat kita sedang seperti ini? Kau merusak semuanya, Fharell!"
"Paro, maafkan aku, aku tidak bermaksud meragukan mu..."
"Cukup!" teriak Paroline. Air mata kemarahan mulai jatuh. "Aku lelah, Fharell. Aku lelah dengan bayang-bayang itu, dan sekarang kau malah menyeretnya kembali ke tempat tidur kita. Jika kau tidak bisa menerimaku tanpa harus tahu siapa pria brengsek itu, maka hubungan ini tidak ada gunanya."
"Paro, dengarkan aku dulu..."
"Kita Putus, Fharell. Kita selesai," ucap Paroline dingin.
Fharell terpaku. Ia berdiri, mencoba meraih tangan Paroline dengan penuh kesabaran. "Sayang, tolong jangan begini. Aku salah, aku minta maaf. Aku hanya manusia biasa yang kadang punya rasa ingin tahu yang bodoh. Aku tidak akan bertanya lagi, aku janji."
Namun Paroline sedang berada di puncak sensitivitasnya. Luka lama tentang Sania, kebenciannya pada Danesh, dan rasa takut jika rahasia Andreas terbongkar membuat pertahanannya runtuh menjadi agresi. Ia menatap Fharell dengan tatapan paling meremehkan yang pernah ia tunjukkan.
"Kau tahu kenapa aku marah?" Paroline melangkah maju, menatap langsung ke mata Fharell yang mulai berkaca-kaca. "Karena kau memang masih bocah, Fharell. Kau tidak tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam."
Paroline tersenyum pahit, sengaja ingin menyakiti pria di depannya agar dia pergi. "Lagipula, aku memang sudah mulai muak. Aku muak berurusan dengan bocah yang bahkan tidak bisa memuaskan ku sepenuhnya tanpa merusak suasana dengan pertanyaan konyol."
Deg.
Dunia seolah runtuh bagi Fharell. Kata-kata itu menghujam jantungnya lebih tajam dari sembilu. Sebagai pria muda yang selalu berusaha membuktikan kematangannya, kejantanannya, dan dedikasinya pada Paroline, dihina tidak bisa memuaskan adalah luka yang paling dalam.
Fharell terdiam, tangannya yang tadi ingin memeluk kini terkulai lemas di samping tubuhnya. Ia menatap Paroline dengan tatapan hancur, namun tidak ada kemarahan di sana, hanya kekecewaan yang luar biasa besar.
"Jadi... itu yang kau pikirkan tentangku selama ini?" suara Fharell pecah.
Paroline membuang muka, hatinya sebenarnya menjerit menyesal begitu kata-kata itu keluar, tapi ego dan rasa takutnya terlalu besar untuk ditarik kembali. Di apartemen itu, kesunyian yang mencekam menggantikan gairah yang tadi sempat bertahta, meninggalkan dua jiwa yang terluka di tengah badai Los Angeles.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰