NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Sang Konglomerat

Batas Obsesi Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.

Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.

Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.

Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Debu Konstruksi dan Pesan Bertinta Merah

​Cahaya matahari pagi yang pucat menembus masuk melalui kaca jendela raksasa penthouse, menyinari seprai sutra abu-abu yang berantakan. Nadin Kirana membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa sangat berat, sisa kelelahan dari ketegangan emosional di rumah sakit kemarin dan pergumulan panjang yang menguras tenaga semalaman suntuk.

​Nadin menoleh ke samping. Sisi ranjang itu kosong, namun masih menyisakan kehangatan. Suara gemericik air dari kamar mandi menandakan bahwa Gilang Mahendra sudah bangun.

​Nadin menarik napas panjang, membiarkan aroma parfum vetiver yang tertinggal di bantal memenuhi paru-parunya. Ingatan tentang kejadian kemarin sore berputar kembali di kepalanya. Keputusasaannya saat Arya kritis, ketakutannya yang luar biasa, dan bagaimana Gilang memeluknya di lorong rumah sakit itu. Pria arogan itu telah memutarbalikkan dunia medis hanya untuk memastikan adiknya tetap bernapas. Dan sebagai bayarannya, Nadin telah menyerahkan dirinya secara sukarela di kamar kosong tersebut, membiarkan Gilang menghapus semua sisa keraguannya dengan sentuhan yang memabukkan.

​Pintu kamar mandi terbuka. Gilang melangkah keluar hanya dengan mengenakan handuk putih yang melilit pinggangnya. Tetesan air mengalir dari rambut hitamnya yang basah, turun melewati dada bidang dan otot perutnya yang terbentuk sempurna. Pria itu berjalan mendekati ranjang sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

​Mata hitam Gilang langsung mengunci tatapan Nadin. Sebuah senyuman tipis yang sangat posesif terukir di bibir pria itu.

​"Kau terlihat jauh lebih baik pagi ini," ucap Gilang dengan suara bariton yang serak. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan satu lutut di tepi kasur. Tangan besarnya terulur, menyusuri garis rahang Nadin sebelum akhirnya ibu jarinya mengusap bibir bawah wanita itu. "Dan kau terasa jauh lebih jujur semalam. Aku sangat menyukai penyerahan dirimu yang tanpa perlawanan, Nadin."

​Nadin menelan ludah, tidak berani memalingkan wajahnya dari tatapan gelap tersebut. "Anda menyelamatkan nyawa Arya. Saya berutang budi pada Anda, Gilang."

​"Utang budi," ulang Gilang pelan, nada suaranya berubah menjadi sedikit mengejek. Jari-jari pria itu turun menyusuri leher Nadin, berhenti tepat di atas kalung berlian raksasa yang tidak pernah dilepaskannya. "Jangan menggunakan kata-kata murah seperti utang budi di depanku. Apa yang terjadi di antara kita kemarin bukan transaksi utang piutang. Itu adalah penegasan hak milik. Kau adalah milikku. Titik."

​Gilang menarik tangannya mundur dan berdiri tegak. Pria itu berjalan menuju ruang ganti pakaian yang luas.

​"Bangun dan bersiaplah. Kita akan mengunjungi adikmu sebentar, lalu kita memiliki jadwal inspeksi ke lokasi proyek Menara Selatan," perintah Gilang dari dalam ruang ganti.

​Nadin segera beranjak dari ranjang. Dia membersihkan diri dengan cepat dan memilih pakaian yang sesuai. Mengingat mereka akan pergi ke lokasi konstruksi, Nadin memilih kemeja lengan panjang berbahan katun tebal berwarna biru tua dan celana bahan hitam yang nyaman, dipadukan dengan sepatu bot datar yang aman untuk berjalan di area berbatu. Rambut panjangnya dia ikat rapi menyerupai ekor kuda.

​Satu jam kemudian, mereka tiba di lantai sepuluh rumah sakit.

​Kondisi Arya sudah jauh lebih stabil. Anak laki-laki berusia lima belas tahun itu sudah sadar, meskipun masih terlihat sangat pucat dan lemah. Nadin duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan adiknya dengan erat. Gilang berdiri diam di sudut ruangan, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, mengawasi interaksi kakak beradik itu dengan tatapan datar.

​"Kak Nadin jangan menangis lagi. Arya sudah tidak sakit," ucap Arya dengan suara yang sangat pelan. Anak itu memaksakan sebuah senyuman.

​Air mata Nadin kembali menggenang, namun dia buru-buru menghapusnya. "Kakak tidak menangis. Kakak hanya lega. Kamu harus cepat sembuh, ya. Jangan membuat Kakak jantungan lagi."

​Pintu kamar VVIP itu terbuka pelan. Dokter Adrian masuk untuk melakukan pemeriksaan rutin pagi. Langkah dokter muda itu langsung terhenti begitu matanya bertatapan dengan Gilang yang berdiri di sudut ruangan. Aura Gilang yang sangat mengintimidasi membuat Adrian menelan ludah dengan susah payah.

​"Selamat pagi, Tuan Mahendra. Selamat pagi, Nona Kirana," sapa Adrian dengan nada yang sangat kaku dan formal.

​Adrian tidak berani menatap Nadin lebih dari dua detik. Dokter muda itu segera berjalan menuju ranjang Arya, memeriksa monitor detak jantung, dan mencatat sesuatu di papan rekam medisnya dengan gerakan terburu-buru. Tidak ada lagi senyum ramah atau pertanyaan hangat tentang keadaan Nadin. Adrian benar-benar menjaga jaraknya, seolah Nadin adalah sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

​Melihat perubahan sikap Adrian, dada Nadin terasa sesak. Dia menyadari betapa efektifnya ancaman Gilang beberapa hari yang lalu. Gilang telah memotong habis semua tali koneksi Nadin dengan dunia luar. Satu-satunya orang yang bersikap tulus padanya kini terlalu takut untuk sekadar menyapanya. Nadin benar-benar terisolasi di dalam sangkar emas ini.

​"Waktu kita habis, Nadin," potong Gilang dingin, memecah keheningan yang canggung di dalam ruangan itu. Pria itu melirik arlojinya. "Mobil sudah menunggu di bawah."

​Nadin mencium kening adiknya dengan lembut, mengucapkan salam perpisahan, lalu berdiri mengikuti langkah Gilang keluar dari kamar.

​Perjalanan menuju lokasi proyek Menara Selatan memakan waktu hampir satu jam menembus kemacetan Jakarta. Proyek raksasa itu terletak di kawasan strategis pusat bisnis. Saat mobil Maybach hitam itu memasuki area konstruksi, pemandangan kemewahan langsung berganti dengan realita lapangan yang kasar. Debu beterbangan di udara, suara bising dari alat berat, mesin paku bumi, dan teriakan para pekerja memenuhi telinga.

​Dimas turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk mereka. Seorang pria paruh baya yang mengenakan rompi proyek berwarna hijau neon dan helm keselamatan berwarna putih berlari tergopoh-gopoh menyambut mereka. Pria itu adalah Pak Handoko, Manajer Proyek Lapangan untuk Menara Selatan.

​"Selamat pagi, Tuan Mahendra! Kami tidak menyangka Anda akan melakukan inspeksi langsung hari ini," sapa Pak Handoko sambil membungkuk hormat, mengabaikan debu yang menempel di wajahnya.

​Gilang tidak menjawab sapaan basa-basi itu. Dimas menyerahkan dua buah helm keselamatan berwarna putih kepada Gilang. Gilang memakai satu, lalu berbalik menghadap Nadin. Pria itu memakaikan helm putih kedua ke kepala Nadin dengan gerakan yang sangat teliti. Jari-jari Gilang mengencangkan tali pengaman di bawah dagu Nadin, membiarkan sendi-sendi jarinya bergesekan dengan kulit rahang wanita itu.

​Sentuhan intim di tengah ratusan pekerja konstruksi yang sedang berlalu lalang itu membuat wajah Nadin memanas. Gilang sengaja melakukannya. Pria itu sedang menandai wilayahnya.

​"Nona Kirana adalah Kepala Konsultan Arsitek untuk proyek ini," ucap Gilang dengan suara bariton yang tegas, memastikan Pak Handoko dan beberapa mandor di sekitarnya mendengar dengan jelas. "Setiap instruksi desain yang keluar dari mulutnya adalah perintah mutlak dariku. Paham?"

​"Paham, Tuan Mahendra! Siap laksanakan, Nona Kirana," jawab Pak Handoko cepat, menundukkan kepalanya kepada Nadin dengan penuh rasa hormat.

​"Tunjukkan padaku pondasi sayap utara yang akan menggunakan desain kisi-kisi aerodinamis milik Nona Kirana," perintah Gilang.

​Mereka berjalan menyusuri area proyek yang berdebu. Nadin melangkah dengan sangat hati-hati, matanya menyapu sekeliling dengan penuh minat. Di sinilah dunianya yang sesungguhnya. Melihat gambar di atas kertas kalkir berubah menjadi struktur beton dan besi baja selalu memberikan kepuasan tersendri baginya.

​Setibanya di area sayap utara, Nadin langsung terlibat dalam diskusi teknis dengan Pak Handoko dan tim insinyur lapangan. Dia menunjuk cetak biru, menjelaskan sudut kemiringan besi baja, dan memberikan instruksi dengan sangat lugas. Suaranya terdengar tegas, tidak ada keraguan sedikit pun.

​Selama Nadin berbicara, Gilang berdiri di belakangnya dalam diam. Lengan Gilang bersilang di depan dada. Mata hitam pria itu tidak pernah lepas dari sosok Nadin. Menyaksikan wanita itu berdiri di tengah debu dan beton kasar, memimpin belasan insinyur laki-laki dengan kecerdasannya, membuat darah Gilang berdesir panas. Gairah yang dirasakan Gilang saat ini bukan hanya sekadar ketertarikan fisik, melainkan sebuah obsesi yang mendalam terhadap kekuatan dan kecerdasan wanita tersebut.

​Setelah inspeksi di lantai dasar selesai, Gilang memberikan isyarat kepada Dimas untuk menahan Pak Handoko dan para insinyur lainnya.

​"Ikut aku," perintah Gilang kepada Nadin. Pria itu meraih tangan Nadin dan menariknya menuju sebuah lift sementara yang biasa digunakan pekerja untuk naik ke lantai atas yang belum selesai dibangun.

​"Kita mau ke mana, Gilang? Area atas belum dipasangi dinding pengaman, itu sangat berbahaya," protes Nadin saat mereka masuk ke dalam kotak besi terbuka tersebut.

​Gilang tidak menjawab. Dia menekan tombol menuju lantai dua puluh. Lift sementara itu bergerak naik dengan suara derit besi yang nyaring. Angin kencang mulai menerpa wajah mereka seiring dengan ketinggian yang terus bertambah.

​Begitu tiba di lantai dua puluh, pemandangan kota Jakarta terhampar luas di hadapan mereka. Lantai itu baru berupa hamparan beton kasar yang luas, dikelilingi oleh pilar-pilar beton besar, tanpa ada dinding kaca atau pembatas apa pun di pinggirannya. Debu halus beterbangan tertiup angin kencang. Suasana di atas sana sangat sepi, terisolasi dari kebisingan alat berat di bawah.

​Gilang menarik tangan Nadin, menuntunnya berjalan hingga mereka berada di dekat pilar beton raksasa di tengah ruangan. Tanpa memberikan peringatan, Gilang membalikkan tubuh Nadin dan mendorong punggung wanita itu ke permukaan pilar beton yang kasar.

​"Gilang! Apa yang Anda lakukan?" pekik Nadin tertahan, matanya membelalak kaget.

​Gilang mengunci Nadin dengan kedua tangannya yang diletakkan di sisi kepala wanita itu. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, mengikis jarak di antara mereka hingga Nadin bisa merasakan dada bidang Gilang yang keras menekan tubuhnya. Angin kencang menerbangkan beberapa helai rambut Nadin yang terlepas dari ikatannya.

​"Aku menahan diriku sejak tadi pagi di rumah sakit, Nadin," geram Gilang dengan suara parau yang nyaris tenggelam oleh deru angin. Mata pria itu menyala oleh gairah yang sangat gelap dan menakutkan. "Melihatmu memerintah para pekerja di bawah sana, melihat bagaimana matamu bersinar saat membahas struktur baja itu, membuatku nyaris kehilangan akal sehat."

​Tangan kanan Gilang turun mencengkeram rahang Nadin, memaksa wanita itu mendongak.

​"Kau terlalu memukau. Dan aku sangat membenci kenyataan bahwa ada puluhan pria di bawah sana yang bisa melihat kecerdasanmu ini secara langsung," lanjut Gilang posesif.

​Tanpa memedulikan tempat mereka yang terbuka dan berdebu, Gilang meraup bibir Nadin dengan ciuman yang sangat liar dan merampas. Sentuhan itu dipenuhi oleh rasa lapar yang mematikan. Permukaan beton yang kasar menggores punggung Nadin dari balik kemejanya, sementara tubuh bagian depannya terbakar oleh panas tubuh Gilang. Sensasi bahaya berada di ketinggian puluhan meter bercampur dengan gairah yang mendominasi, membuat Nadin kehilangan seluruh kosakatanya. Nadin meremas ujung kemeja Gilang, membalas ciuman pria itu dengan napas yang terputus-putus.

​Di lantai beton yang belum selesai itu, Gilang kembali menegaskan kepemilikannya dengan cara yang paling gila. Pria itu tidak peduli pada debu atau keringat, dia hanya peduli pada fakta bahwa wanita jenius di dalam dekapannya ini adalah miliknya sepenuhnya.

​Suara derit lift sementara yang naik kembali ke lantai tersebut memaksa Gilang untuk melepaskan tautan bibir mereka. Gilang mendengus kesal, menyandarkan dahinya ke dahi Nadin sambil menormalkan ritme napasnya yang memburu.

​Dimas melangkah keluar dari lift tersebut dengan wajah tegang. Asisten setia itu selalu tahu kapan dia harus mengganggu tuannya.

​"Mohon maaf mengganggu, Tuan Mahendra," ucap Dimas sambil menundukkan kepala, membuang pandangannya ke arah lain untuk memberikan privasi. "Ada masalah mendadak di kantor pusat. Penolakan dari pihak perizinan tata kota mengenai amdal proyek ini baru saja masuk. Mereka meminta pertemuan langsung dengan Anda sekarang juga."

​Rahang Gilang mengeras. Pria itu mengumpat pelan. Dia melepaskan tubuh Nadin, merapikan kemejanya sendri, lalu menatap Nadin dengan tatapan yang masih menyisakan sisa gairah.

​"Aku harus kembali ke kantor pusat. Ini pasti ulah Bastian yang menyuap orang dalam tata kota," ucap Gilang dingin. Pria itu menoleh ke arah Dimas. "Tinggalkan empat orang pengawal di sini. Biarkan Nadin menyelesaikan pemeriksaannya di lapangan. Begitu selesai, antar dia langsung kembali ke penthouse. Aku tidak mau dia berada di luar terlalu lama."

​"Baik, Tuan," jawab Dimas patuh.

​Gilang menangkup wajah Nadin dengan kedua tangannya, memberikan satu kecupan keras dan singkat di bibir wanita itu. "Selesaikan tugasmu. Aku akan menagih kelanjutan yang tertunda ini nanti malam di penthouse."

​Setelah Gilang dan Dimas turun menggunakan lift, Nadin membiarkan tubuhnya merosot bersandar pada pilar beton. Kakinya terasa lemas. Dia mengatur napasnya yang masih tersengal. Jantungnya berdebar sangat kencang, entah karena ciuman brutal tadi atau karena angin dingin yang menerpa wajahnya.

​Setengah jam kemudian, Nadin kembali turun ke lantai dasar. Dia berjalan menuju kantor sementara proyek yang terbuat dari kontainer modifikasi untuk mengambil cetak biru revisi yang harus dia bawa pulang. Empat orang pengawal berjas hitam berdiri berjaga di luar kontainer, memastikan tidak ada yang bisa mendekati Nadin.

​Nadin masuk ke dalam kontainer yang sepi. Hanya ada tumpukan dokumen dan meja kayu sederhana di sana. Nadin sedang memasukkan gulungan cetak biru ke dalam tabungnya ketika tiba-tiba pintu belakang kontainer yang menghubungkan langsung ke area gudang material terbuka pelan.

​Seorang pria pekerja konstruksi dengan wajah tertutup masker debu dan topi proyek yang ditarik rendah masuk ke dalam. Pria itu mendorong sebuah troli berisi tumpukan map tebal.

​Nadin menoleh, bermaksud menyuruh pria itu meletakkan map tersebut di meja ujung, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan.

​Pekerja itu mendongak sedikit. Mata berwarna cokelat terang yang sangat familier menatap Nadin dari balik masker debu. Bastian Wirawan. Pria itu menyamar masuk ke dalam area proyek musuhnya dengan sangat nekat.

​Bastian meletakkan sebuah map cokelat tepat di atas meja Nadin, menyamarkannya di bawah tumpukan dokumen lain. Pria itu tidak bersuara sedikit pun, menyadari bahwa ada empat pengawal mematikan yang berdiri di luar pintu depan.

​Bastian hanya menunjuk map cokelat itu dengan jari telunjuknya, menatap mata Nadin dengan tatapan penuh urgensi, lalu pria itu segera berbalik dan menghilang kembali ke dalam area gudang material dengan cepat sebelum Nadin sempat bereaksi.

​Nadin berdiri mematung. Tangannya bergetar hebat saat dia perlahan menarik map cokelat itu dari bawah tumpukan dokumen. Dia membuka map tersebut.

​Di dalamnya tidak ada dokumen desain. Hanya ada selembar foto ukuran besar yang dicetak dengan kualitas tinggi. Jantung Nadin seolah berhenti berdetak saat melihat gambar di foto tersebut.

​Itu adalah foto ayahnya, Herman Kirana. Pria tua itu terlihat sangat kurus, wajahnya penuh memar, dan kedua tangannya terikat di sebuah kursi kayu di ruangan yang gelap. Di bagian bawah foto itu, terdapat tulisan tangan bertinta merah yang sangat rapi.

​Waktu kita tidak banyak, Nadin. Gilang bukanlah pelindungmu. Gilang adalah algojo ayahmu. Temui saya besok siang di restoran seberang rumah sakit jika kamu ingin ayahmu tetap hidup. - B.W.

​Nadin menutup map itu dengan cepat, menekan ujung mapnya hingga send-send jarinya memutih. Udara di dalam kontainer itu terasa lenyap seketika. Paru-parunya tidak bisa meraup oksigen. Racun kecurigaan yang selama ini berusaha dia kubur dalam-dalam kini meledak menjadi realita yang mengerikan.

​Kartu perak di dalam botol losion itu bukan sekadar ancaman kosong. Bastian memegang bukti nyata. Dan Nadin kini menyadari dengan ngeri bahwa pria yang baru saja menciumnya dengan penuh gairah di lantai dua puluh tadi, pria yang mengatakan bahwa dia adalah miliknya, mungkin adalah iblis yang sedang bermain dengan nyawa keluarganya sebagai papan caturnya.

​Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan Nadin berdiri sendirian di tengah medan perang yang mematikan ini.

1
Ida Aja
lah mana lanjutannya
juwita
serba salah di posisi nadin. tp klo di nikahi gpp. ini mah hny di jadikan budak nafsu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!