NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ITEM SURGAWI

PEMBALASAN ITEM SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: DINGINNYA LANTAI AULA UTAMA

Lantai marmer putih Aula Puncak Utama terasa sedingin es saat kaki telanjang Tian Feng melangkah di atasnya. Ruangan ini begitu luas hingga suara langkah kakinya menggema, memantul di antara pilar-pilar raksasa yang diukir dengan relief naga dan awan. Di ujung aula, tujuh kursi tinggi teratur melingkar, diduduki oleh para pemegang otoritas tertinggi Sekte Kunci Langit.

Di tengah-tengah mereka, duduk Tetua Agung Mu, sosok yang auranya terasa seperti gunung yang menjulang tinggi—diam namun mampu menghancurkan apa pun di bawahnya hanya dengan satu pikiran. Di sisi kanannya, Tetua Lu duduk dengan wajah yang nyaris membiru karena amarah yang ditahan, sementara di sisi lain, Guru Lin berdiri di sudut bawah dengan kepala sedikit tertunduk, meski matanya tetap tajam mengawasi muridnya.

"Tian Feng," suara Tetua Agung Mu memecah kesunyian. Suaranya tidak keras, namun setiap kata terasa seperti beban berat yang menekan pundak. "Kau berdiri di sini bukan sebagai pemenang babak penyisihan, melainkan sebagai seorang murid yang harus memberikan jawaban atas anomali yang baru saja terjadi."

Feng berhenti tepat di tengah ruangan. Ia tidak bersujud, sebuah tindakan yang membuat beberapa tetua faksi disiplin mengerutkan kening. Ia hanya membungkuk sedikit, sebuah gestur yang lebih mirip sapaan pada tetangga daripada penghormatan pada penguasa.

"Apa yang ingin diketahui oleh Tetua Agung?" tanya Feng datar. Matanya yang biasanya terlihat malas, kini tampak sangat jernih, memantulkan cahaya lampion aula.

"Jangan berlagak bodoh!" Tetua Lu menggebrak pegangan kursinya. "Kau menggunakan teknik terlarang! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Lu Chen adalah murid tingkat lima Alam Pengumpulan Chi yang sempurna, namun kau menghentikan serangannya hanya dengan satu jari. Tidak ada teknik medis di dunia ini yang bisa melakukan itu. Kau pasti telah mempraktikkan sihir iblis atau menggunakan pusaka gelap yang dilarang oleh hukum sekte!"

Feng menoleh perlahan ke arah Tetua Lu. Senyum tipis, hampir tidak terlihat, muncul di sudut bibirnya. "Tetua Lu, jika setiap orang yang lebih kuat dari putra Anda dianggap menggunakan sihir iblis, maka saya rasa daftar 'penganut aliran hitam' di sekte ini akan menjadi sangat panjang."

"Kau—!"

"Cukup," Tetua Agung Mu mengangkat tangan, dan seketika aura di ruangan itu menjadi sangat tenang. "Tian Feng, aku telah memeriksa catatanmu. Selama tiga tahun kau berada di Paviliun Pengobatan sebagai pelayan medis. Kau tidak pernah menunjukkan bakat dalam teknik bela diri, bahkan aliran Chi-mu dianggap cacat. Namun hari ini, aku tidak merasakan aliran Chi yang kacau itu lagi. Sebaliknya, aku tidak merasakan apa-apa darimu. Kau seperti... ruang kosong."

Ini adalah bagian yang paling berbahaya. Feng tahu bahwa "Dantian Lubang Hitam" miliknya tidak memancarkan energi seperti kultivator normal. Ia menyerap cahaya dan getaran di sekitarnya. Bagi ahli tingkat tinggi, ini adalah tanda bahwa Feng telah mencapai tahap 'Penyatuan Alam' yang biasanya hanya dicapai oleh mereka yang sudah berkultivasi selama ratusan tahun.

"Mungkin itu efek dari ledakan semalam, Tetua," jawab Feng tenang. "Seperti yang dikatakan Guru Lin, saya adalah kelinci percobaan. Selama bertahun-tahun, tubuh saya dijejali berbagai macam sisa obat dan racun. Semalam, saat petir menyambar hutan bambu, sepertinya semua racun itu terbakar habis, menyisakan... kekosongan ini."

"Bohong!" teriak Tetua Lu lagi. "Dia terlihat di pasar bawah tanah! Dia membeli Inti Buah Salju dengan harga lima ribu batu roh. Dari mana seorang pelayan medis mendapatkan uang sebanyak itu?!"

Mata semua tetua kini tertuju pada Feng. Ini adalah jebakan politik yang rapi. Di sekte ini, memiliki kekayaan mendadak tanpa sumber yang jelas bisa dianggap sebagai bukti bekerja sama dengan pihak luar atau pengkhianatan.

Guru Lin berdeham, mencoba masuk ke dalam percakapan. "Jika saya boleh menyela, Tetua Agung... uang itu adalah hasil taruhan. Feng bertaruh pada dirinya sendiri sejak hari pertama turnamen. Mengingat betapa rendahnya peluang yang diberikan bandar kepadanya, kemenangan di Arena Sepuluh Serigala kemarin menghasilkan jumlah yang cukup untuk membeli buah tersebut."

Tetua Agung Mu menatap Guru Lin, lalu kembali pada Feng. "Inti Buah Salju adalah obat untuk menekan panas dalam yang ekstrem. Jika kau mengonsumsinya di bawah sambaran petir, ada kemungkinan kecil meridianmu mengalami mutasi unik. Namun, itu tidak menjelaskan bagaimana kau bisa menyerap serangan Lu Chen dengan begitu sempurna."

Tetua Agung bangkit dari kursinya. Setiap gerakannya diikuti oleh tekanan udara yang semakin mencekam. Ia berjalan menuruni anak tangga, mendekati Feng. Para tetua lainnya menahan napas; Tetua Agung jarang sekali turun dari kursinya hanya untuk seorang murid biasa.

"Ulurkan tanganmu," perintah Tetua Agung.

Feng ragu sejenak. Jika Tetua Agung memasukkan energinya ke dalam tubuhnya, identitas Tao-nya mungkin akan terungkap. Namun, menolak perintah ini berarti mengakui kesalahan. Feng mengulurkan tangan kanannya.

Tetua Agung meletakkan dua jarinya di pergelangan tangan Feng. Seketika, Feng merasakan sebuah gelombang energi yang sangat panas dan masif mencoba menyeruak masuk ke dalam meridiannya. Itu adalah Chi Naga Emas milik Tetua Agung, sebuah kekuatan yang bisa menghancurkan tubuh orang biasa dalam sekejap.

Feng menutup matanya. Di dalam Dantiannya, pusaran giok dan emas mulai berputar perlahan. Ia tidak melawan. Sebaliknya, ia membuka semua "pintu" meridiannya. Ia membiarkan energi panas itu masuk, namun bukan untuk merusak, melainkan untuk diteruskan kembali ke bumi melalui kakinya.

Lantai marmer di bawah kaki Feng mulai retak dan mengeluarkan uap panas, namun tubuh Feng tetap tegak, tidak bergemar sedikit pun. Wajahnya tetap tenang, tanpa keringat, tanpa erangan sakit.

Setelah beberapa saat, Tetua Agung menarik tangannya. Matanya menunjukkan keterkejutan yang dalam, meskipun wajahnya tetap kaku.

"Meridiannya... benar-benar kosong," gumam Tetua Agung, suaranya mengandung nada keheranan yang tak bisa disembunyikan. "Bukan karena dia tidak punya kekuatan, tapi karena tubuhnya telah menjadi konduktor yang sempurna bagi energi alam. Dia tidak menyimpan energi, dia adalah jalur bagi energi itu sendiri."

"Jadi, apa keputusannya, Tetua Agung?" Tetua Lu mendesak. "Apakah dia harus didiskualifikasi?"

Tetua Agung Mu kembali ke kursinya dengan langkah perlahan. Ia terdiam cukup lama, membiarkan ketegangan di aula mencapai puncaknya.

"Tian Feng tidak melanggar aturan sekte," suara Tetua Agung menggema. "Tidak ada bukti penggunaan sihir hitam. Apa yang ia miliki adalah mutasi langka yang dipicu oleh kecelakaan alkimia dan faktor keberuntungan yang ekstrem. Turnamen akan dilanjutkan. Tian Feng tetap berada dalam daftar Babak Utama."

Tetua Lu tampak ingin meledak, namun ia tidak berani membantah keputusan mutlak tersebut. Ia hanya bisa menatap Feng dengan tatapan yang menjanjikan kematian di luar aula ini.

"Namun," lanjut Tetua Agung, "karena kekuatannya yang tidak lazim, dia tidak akan ditempatkan dalam undian normal. Dia akan langsung ditempatkan di blok yang sama dengan Han Shuo dari Klan Han dan Zhao Ling dari Sekte Pedang Langit. Jika dia benar-benar 'jalur bagi alam', mari kita lihat apakah dia bisa menahan badai yang akan mereka bawa."

Feng menghela napas. "Tentu saja. Kenapa saya tidak terkejut?"

"Satu hal lagi, Tian Feng," Tetua Agung Mu menatapnya dengan tajam. "Jangan berpikir bahwa kau bisa menyembunyikan segala sesuatu selamanya. Langit punya mata, dan Sekte ini punya telinga. Pertandingan besok akan membuktikan siapa dirimu yang sebenarnya."

"Saya hanya seorang pelayan medis yang ingin segera pensiun, Tetua," jawab Feng sambil membungkuk, kali ini sedikit lebih rendah sebagai tanda formalitas terakhir.

Feng berbalik dan berjalan keluar dari aula. Begitu pintu kayu raksasa itu tertutup di belakangnya, ia merasakan angin malam Puncak Utama menerpa wajahnya. Guru Lin menyusulnya dengan langkah cepat.

"Kau gila! Bagaimana kau bisa menahan energi Tetua Agung tanpa meledak?!" bisik Guru Lin dengan nada panik sekaligus kagum.

"Saya hanya membiarkannya lewat, Guru. Seperti air yang melewati pipa," jawab Feng sambil berjalan menuju jalur turun. "Tapi pipa ini sekarang terasa sangat haus. Saya butuh makan besar."

"Makan besar? Besok kau akan menghadapi Han Shuo! Kau tahu apa artinya itu? Blok yang diberikan Tetua Agung itu adalah blok kematian. Mereka ingin membunuhmu secara legal di atas arena agar tidak perlu repot-repot menyidangmu lagi."

"Saya tahu," Feng berhenti melangkah dan menengadah ke arah bulan purnama yang menggantung di atas puncak gunung. "Han Shuo dengan esnya, dan Zhao Ling dengan pedangnya. Ini akan menjadi hari yang sangat panjang."

Saat mereka sampai di persimpangan jalan menuju Paviliun Pengobatan, seorang murid berpakaian jubah putih dengan bordiran perak berdiri menunggu di bawah pohon sakura yang gugur. Itu adalah Han Shuo.

Wajah Han Shuo tampak lebih pucat di bawah cahaya bulan, dan suhu di sekitarnya terasa beberapa derajat lebih dingin. Ia tidak membawa pedang, namun kehadirannya terasa seperti ujung tombak yang mengarah tepat ke jantung.

"Aku melihat apa yang kau lakukan di aula tadi," ucap Han Shuo tanpa basa-basi. "Tetua Agung mungkin bisa kau tipu dengan trik 'konduktor'-mu, tapi aku tahu apa yang kau sembunyikan di hutan bambu semalam."

Feng tidak berhenti berjalan. "Oh? Dan apa yang saya sembunyikan?"

Han Shuo melangkah maju, menghalangi jalan Feng. "Kau tidak menghancurkan Buah Salju itu untuk memicu ledakan. Kau memakannya untuk menyatukan sesuatu di dalam tubuhmu. Sesuatu yang seharusnya tidak dimiliki oleh murid rendahan sepertimu."

Han Shuo mengangkat tangannya, dan tiba-tiba sekuntum bunga sakura yang jatuh membeku menjadi kristal es tajam di udara sebelum hancur menjadi debu.

"Besok di arena, aku tidak akan menyerang fisikmu," Han Shuo berbisik, matanya berkilat biru. "Aku akan membekukan jiwamu. Aku ingin melihat, apakah 'ruang kosong' di dalam dirimu itu sanggup menahan keheningan abadi dari es Klan Han."

Feng menatap Han Shuo, lalu menguap lebar tepat di depan wajah sang jenius klan tersebut. "Es, ya? Guru Lin selalu bilang sup yang terlalu panas tidak enak dimakan. Mungkin kau bisa membantu mendinginkannya besok."

Feng berjalan melewati Han Shuo begitu saja, membiarkan bahu mereka bersenggolan. Han Shuo tertegun sejenak. Saat bahu mereka bersentuhan, ia merasakan sebuah getaran yang sangat asing—bukan rasa sakit, bukan tekanan, melainkan perasaan seolah-olah ia baru saja menyentuh dasar jurang yang paling dalam.

Feng terus berjalan tanpa menoleh lagi. Namun, begitu ia sampai di kamarnya yang kecil dan menutup pintu, ia segera terduduk di lantai. Ia membuka jubahnya, memperlihatkan dadanya yang kini dipenuhi oleh garis-garis hitam kebiruan yang menjalar dari tanda pusaran gioknya.

Penyatuan semalam memang menghapus hutang karmanya, tapi ia baru menyadari bahwa "Hukum Keseimbangan" yang baru saja aktif di tubuhnya memiliki tuntutan yang berbeda.

Pesan Sistem Terintegrasi: Peringatan. Energi Tetua Agung yang dilewatkan tadi tidak terbuang sepenuhnya ke bumi. 10% terserap ke dalam inti. Ketidakseimbangan elemen api terdeteksi.

"Sial," gumam Feng sambil menahan panas yang mulai membakar dari dalam. "Jika besok aku tidak mendapatkan energi es dari Han Shuo untuk mendinginkan ini... tubuhku benar-benar akan menjadi tungku yang meledak."

Di luar, bayangan seseorang melintas di jendela kamar Feng, meninggalkan aroma melati yang sangat samar sebelum menghilang ke dalam kegelapan malam.

1
Raden Saleh
Bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!