Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian yang Menyesakan
Langkah ini akan membuat suasana "benteng beton" mereka berubah menjadi medan perang gerilya. Jenderal Baskoro tidak pernah benar-benar menyerah; dia hanya mengubah taktik dari serangan terbuka menjadi pengawasan terselubung.
Kebebasan yang baru saja mereka beli dengan air mata ternyata memiliki harga yang sangat mahal. Dua hari setelah insiden di ruang kerja Jenderal, sebuah mobil van putih berhenti di depan rumah selatan. Dua orang pria berseragam safari menurunkan berbagai peralatan medis, dan seorang wanita paruh baya dengan seragam perawat yang kaku berdiri di depan pintu.
"Nama saya Suster Lastri," ujar wanita itu dengan suara datar dan senyum yang tidak sampai ke mata. "Saya dikirim oleh Bapak Jenderal untuk memastikan Mbak Laras mendapatkan perawatan terbaik, nutrisi yang tepat, dan... jadwal istirahat yang disiplin."
Laras, yang saat itu hanya memakai kaos oblong dan sedang memegang cangkir kopi, hampir menjatuhkan gelasnya. "Perawat? Saya tidak butuh perawat, Sus. Saya hanya butuh istirahat."
"Perintah Bapak Jenderal adalah mandat bagi saya, Mbak," sahut Lastri sambil melangkah masuk tanpa menunggu izin, seolah dia adalah pemilik baru rumah itu.
Arka yang baru turun dari lantai dua langsung menghentikan langkahnya. Matanya bertemu dengan mata Laras. Mereka berdua tahu apa artinya ini: Mata-mata di dalam benteng.
"Ini keterlaluan," bisik Laras saat mereka bersembunyi di area laundry untuk berdiskusi. "Dia akan tahu kalau kita tidur di kamar terpisah, Arka! Dia akan mencatat setiap jam kita pulang, apa yang kita makan, bahkan mungkin dia akan memeriksa sampah kita!"
Arka memijat pelipisnya. "Ayahku menggunakan dalih 'perhatian' untuk menempatkan pengawas. Kalau kita mengusirnya sekarang, dia akan semakin curiga bahwa aktingmu kemarin hanya bualan."
"Terus kita harus gimana? Tidur satu kamar beneran?" Laras menatap Arka dengan mata membelalak.
Arka terdiam cukup lama. "Untuk sementara... iya. Setidaknya sampai Suster Lastri tidur. Kita harus memindahkan beberapa barangmu lagi ke kamarku secara permanen selama dia ada di sini. Kita harus terlihat seperti pasangan yang sedang berjuang bersama demi kesehatanmu."
Maka, dimulailah hari-hari yang menyesakkan. Suster Lastri bukan sekadar perawat; dia adalah bayangan. Saat Laras ingin pergi ke proyek, Lastri akan mengingatkan tentang "debu yang berbahaya bagi hormon". Saat Arka pulang terlambat, Lastri akan mencatatnya di buku laporan kecilnya.
Puncaknya terjadi pada malam ketiga. Suster Lastri mengetuk pintu kamar utama Arka pukul sepuluh malam. "Mbak Laras, ini jamunya. Dan ini vitamin yang harus diminum bersama suami sebelum tidur. Saya harus memastikan Mbak meminumnya sekarang," suara Lastri terdengar dari balik pintu.
Laras, yang saat itu sedang duduk di ujung ranjang Arka dengan perasaan sangat canggung, menoleh ke arah Arka yang sedang bertelanjang dada, baru saja hendak berganti pakaian tidur.
"Masuk saja, Sus!" seru Arka sambil dengan cepat menarik Laras agar berbaring di sampingnya dan menutupi tubuh mereka dengan selimut tebal hingga sebatas dada.
Pintu terbuka. Lastri masuk, matanya dengan cepat memindai ruangan. Ia melihat tumpukan buku Laras di meja samping tempat tidur Arka dan pakaian wanita yang tersampir di kursi. Tampaknya, sandiwara satu kamar ini berhasil meyakinkannya untuk sementara.
"Ini, Mbak," Lastri menyerahkan gelas berisi cairan hijau pekat.
Laras meminumnya sambil menahan mual, sementara tangan Arka merangkul bahunya di balik selimut. Sentuhan kulit Arka yang hangat di bahu polosnya membuat Laras merinding, bukan karena dingin, tapi karena sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Terima kasih, Sus. Kami mau istirahat sekarang," ujar Arka dengan suara bariton yang dibuat selembut mungkin.
Setelah Lastri keluar dan pintu tertutup, Laras langsung melepaskan diri dari rangkulan Arka. Ia duduk tegak, napasnya memburu. "Itu tadi... gila. Jamunya rasanya seperti tanah."
Arka tidak langsung menjauh. Ia tetap duduk di samping Laras, menatap lurus ke depan. "Maaf soal tadi. Aku harus melakukannya agar dia tidak curiga."
"Aku tahu," sahut Laras pelan. "Tapi Arka... sampai kapan kita bisa begini? Suster itu nggak akan pergi dalam waktu dekat. Apa kita bakal terjebak di kamar ini setiap malam?"
Arka menoleh ke arah Laras. Di bawah lampu tidur yang temaram, wajah Laras tampak sangat lelah namun tetap cantik dengan cara yang rapuh. "Mungkin ini cara dunia memaksa kita untuk tidak lagi menjadi orang asing, Laras." Laras tertegun. "Maksudmu?"
"Kita selalu bilang ini aliansi. Tapi kita selalu membangun tembok di antara kita sendiri di dalam rumah ini," Arka mengulurkan tangan, merapikan anak rambut Laras yang menutupi matanya. "Mungkin, aliansi yang sesungguhnya baru dimulai saat kita berhenti merasa canggung berada di ruang yang sama."
Malam itu, Laras tidak kembali ke kamarnya sendiri. Ia tidur di sisi kanan ranjang besar Arka, sementara Arka di sisi kiri. Ada jarak yang lebar di antara mereka, namun untuk pertama kalinya, mereka berbagi keheningan yang sama tanpa rasa takut.
Namun, di luar kamar, Suster Lastri tidak langsung tidur. Ia berdiri di lorong, memegang ponselnya, dan mengirimkan pesan singkat kepada Jenderal Baskoro "Mereka tidur di satu ranjang, Jenderal. Tapi suasananya terlalu sunyi untuk pengantin baru. Saya akan terus memantau."
Perang saraf ini belum berakhir. Musuh kini berada di dalam selimut, dan satu gerakan salah saja bisa meruntuhkan seluruh sandiwara yang mereka bangun dengan susah payah.