NovelToon NovelToon
Call Man Service

Call Man Service

Status: tamat
Genre:Harem / Dikelilingi wanita cantik / Teen / Tamat
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: APRILAH

Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.

Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.

Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Siang itu panas terik menyengat di halaman SMP Negeri 7 Golden Core. Xiao Han berjalan cepat melewati gerbang sekolah sambil menatap jam tangan murah di pergelangan tangannya, sudah pukul 13:15. Dia terlambat lima belas menit karena jemputan GoCar mogok di tengah jalan dan harus ganti kendaraan. Kemeja putih lengan pendek yang dia pakai sudah basah keringat di punggung, celana chino hitam yang biasa dipakai ke "panggilan" terlihat terlalu formal untuk suasana sekolah.

Dia langsung menuju ruang Bimbingan Konseling. Di depan pintu tertulis papan nama: "Wali Kelas 1C – Ibu Rina Susanti, S.Pd."

Xiao Han mengetuk pelan.

"Masuk," suara perempuan dari dalam terdengar tegas tapi ramah.

Di dalam ruangan kecil itu, Bu Rina duduk di belakang meja penuh tumpukan buku nilai dan laporan. Di sebelahnya duduk Xiao Mei, adiknya, kepala menunduk, tangan memilin-milin ujung seragam putih abu-abunya. Wajah Xiao Mei pucat, mata merah seperti habis menangis diam-diam.

"Maaf, Bu. Saya kakaknya Xiao Mei. Xiao Han. Baru bisa datang sekarang," kata Xiao Han sambil membungkuk hormat.

Bu Rina mengangguk, menunjuk kursi kosong di depan mejanya.

"Duduk dulu, Mas. Terima kasih sudah datang. Ayah atau ibu tidak bisa?"

"Ibu sedang sakit, Bu. Jadi saya yang mewakili."

Bu Rina menghela napas pelan, lalu membuka map berlabel "Xiao Mei – Kelas 1C".

"Saya panggil karena ada penurunan signifikan dalam performa Xiao Mei akhir-akhir ini. Nilai ulangan harian Matematika dan IPA turun drastis. Tugas sering terlambat atau tidak dikumpul. Yang paling mengkhawatirkan, konsentrasinya di kelas sangat buruk. Beberapa guru bilang dia sering melamun, bahkan sampai tidak mendengar dipanggil."

Xiao Han menoleh ke adiknya. Xiao Mei masih menunduk, tapi bahunya mulai bergetar kecil.

"Xiao Mei, kamu mau cerita sendiri apa kakakmu yang tanya?" tanya Bu Rina lembut.

Xiao Mei menggeleng pelan. Air matanya mulai menetes ke meja.

Xiao Han meraih tangan adiknya di bawah meja, menggenggam erat. "Mei, cerita sama Kakak. Apa yang salah?"

Beberapa detik hening. Lalu Xiao Mei berbisik, suaranya pecah.

"Kak… aku takut Ibu tambah parah. Tiap malam aku dengar Ibu sesak napas. Aku takut kalau aku belajar terus, nanti Ibu… nanti Ibu pergi kayak Ayah. Aku nggak mau belajar kalau nanti Ibu sendirian di rumah."

Xiao Han merasa dadanya seperti ditusuk. Dia tahu adiknya pintar—ranking 3 sejak SD, selalu juara olimpiade kelas. Tapi dia tidak pernah tahu betapa dalam ketakutan itu menyelimuti Xiao Mei.

Bu Rina mengangguk pelan, matanya penuh empati.

"Mas Han, saya paham kondisi keluarga kalian tidak mudah. Saya sudah baca catatan dari tahun lalu. Ibu Xiao Mei lumpuh setelah kecelakaan, dan kalian berdua yang mengurus semuanya. Tapi Xiao Mei ini anak berbakat. Kalau dibiarkan begini, dia bisa kehilangan momentum. Saya sarankan ikut program bimbingan intensif di sekolah, gratis. Tapi yang paling penting, dia butuh dukungan emosional dari rumah."

Xiao Han mengangguk. "Saya mengerti, Bu. Saya akan usahakan lebih banyak waktu di rumah. Mungkin kurangi jam kerja malam."

Bu Rina menatapnya tajam. "Kerja malam? Maksudnya shift malam di perusahaan ekspedisi?"

Xiao Han tersenyum kaku. "Iya, Bu. Tambahan supaya bisa bayar pengobatan Ibu."

Ruangan kembali hening. Bu Rina menutup map itu pelan.

"Baiklah. Untuk sementara, Xiao Mei boleh pulang lebih awal hari ini. Tapi mulai minggu depan, dia wajib ikut les tambahan Matematika dan IPA di sekolah. Dan Mas Han… kalau bisa, bicarakan dengan adikmu soal perasaannya. Jangan biarkan dia menyimpan sendiri."

Xiao Han mengangguk lagi. "Terima kasih banyak, Bu."

Saat mereka berdua keluar dari ruang BK, Xiao Mei langsung memeluk pinggang kakaknya di koridor yang sepi.

"Kak… maaf. Aku nggak mau bikin tambah susah."

Xiao Han membalas pelukan itu, menahan air mata yang hampir jatuh.

"Bukan salah kamu, Mei. Kakak yang kurang perhatian. Mulai sekarang, Kakak janji pulang lebih awal. Kita makan malam bareng Ibu setiap hari. Kamu fokus belajar lagi, ya? Ibu pasti bangga kalau kamu tetap pintar."

Xiao Mei mengangguk di dada kakaknya. "Janji, Kak."

Mereka berjalan keluar gerbang sekolah bersama. Di luar, angin siang bertiup kencang, membawa bau debu dan asap knalpot. Xiao Han memandang adiknya yang berjalan di sampingnya, langkahnya lebih ringan sekarang.

Tapi di saku celananya, ponsel bergetar pelan. Notifikasi pesan masuk.

**Lin Qing:**

Malam ini jam 9. Bukan di apartemen. Di villa pribadi di pinggir danau. Aku butuh kamu lebih lama. Bayaran 25 juta. Detail lokasi nanti aku kirim. Jangan tolak.

Xiao Han menatap layar itu lama. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena uangnya yang besar, tapi karena dia tahu "lebih lama" itu artinya apa.

Dia menoleh ke Xiao Mei yang sedang tersenyum kecil sambil memegang tangannya.

"Kak, besok aku mau masak mie goreng buat Ibu. Kamu pulang cepat ya?"

Xiao Han memaksakan senyum. "Pasti, Mei."

Tapi di dalam hatinya, dia tahu malam ini dia tidak akan pulang cepat.

Dia akan pergi lagi ke dunia yang semakin menariknya lebih dalam, dunia di mana setiap pelukan berbayar, setiap malam berharga, dan setiap pagi meninggalkan rasa bersalah yang lebih berat.

Dan dia tidak tahu sampai kapan dia bisa menjaga janji ke adiknya.

1
Sulis Tiana
cewek nya juga bego laki begitu bukan di tinggalin malah dimaafin terus ...dy juga nikmatin kali...wlw dy nilang itu demi keluarga ttep salah lah caranya...ciwok kok gak gentle bgt
APRILAH
mwehehe
Sulis Tiana
bodoh terlalu bodoh laki2 plin plan kenapa enggak jujur aja sam huang linger atau rina kalo lu pacarnya huang linger aneh bgt sih...
Eeng
sampe tamat y thor can....
Eeng
lanjuut kn thor....
Wang Chen
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Wang Chen
ummm♥️
Wang Chen
/Determined//Determined//Determined/
Wang Chen
oh my Vina♥️♥️
Wang Chen
fhb
Wang Chen
ok
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
😍/Drool//Drool/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Determined//Determined//Determined/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Luar biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
lanjut
APRILAH
Chapter 16, sabar ya🙏
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Lanjutkan
APRILAH: Asyiappp
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
🤭🤭/Determined//Slight/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Aaaaa tidak... itu Vina ku
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Vina I love you
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!