Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sesuai kesepakatan malam tadi, Adnan benar-benar menepati janjinya.
Keesokan paginya, mereka berangkat menuju sebuah klinik konseling keluarga yang dikelola oleh seorang rekan sejawat Adnan namun bergerak secara profesional di bidang psikologi Islam.
Momen pertemuan pertama mereka dengan konselor pernikahan yang ternyata sangat suportif ini menjadi titik balik yang menentukan.
Di sebuah ruangan yang tenang dan beraroma kayu cendana, duduklah seorang pria paruh baya dengan wajah teduh.
Ustadz Jefry membantu mereka. Ia bukan sekadar pemuka agama, tapi juga seorang ahli kejiwaan yang memahami bahwa iman dan kesehatan mental harus berjalan beriringan.
"Silakan duduk, Adnan, Kinan," sapa Ustadz Jefry dengan senyum yang menenangkan.
"Di ruangan ini, tidak ada ustadz atau jamaah. Hanya ada suami dan istri yang sedang berikhtiar mencari jalan keluar demi ridha Allah."
Adnan tampak sangat kaku. Ia duduk dengan punggung tegak, sementara Kinan menunduk sambil meremas tas tangannya.
Ustadz Jefry membiarkan keheningan terjadi sejenak sebelum mulai berbicara.
"Adnan, saya tahu ini tidak mudah bagi pria dengan posisi seperti Anda. Tapi ketahuilah, mengakui luka adalah bentuk kejujuran iman yang paling tinggi," ucap Ustadz Jefry lembut.
"Kinan, silakan katakan apa yang paling memberatkan hatimu saat ini."
Kinan menarik napas panjang. Dengan suara bergetar, ia menceritakan tentang trauma sentuhan yang ia rasakan.
"Saya merasa kembali menjadi wanita yang 'hina' itu saat Mas Adnan mendekat. Tuduhannya tempo hari menghidupkan kembali semua ingatan buruk yang sudah saya kubur, Ustadz. Saya takut setiap sentuhan batin kami hanya akan didasari rasa jijik yang ia sembunyikan."
Ustadz Jefry mengangguk paham, lalu menatap Adnan.
" Ustadz Adnan, apakah Anda sadar bahwa lisan Anda telah menciptakan 'penjara mental' bagi istri Anda? Anda memaafkan dengan lisan, tapi tindakan Anda saat emosi telah mencabut rasa aman yang merupakan hak dasar seorang istri."
Adnan tertunduk dalam. Di depan Ustadz Jefry, ia tidak bisa lagi membela diri dengan dalih cemburu.
"Saya sadar, Ustadz. Saya khilaf dan saya sangat menyesal."
"Menyesal saja tidak cukup untuk menyembuhkan trauma," tegas Ustadz Jefry.
"Kita akan mulai dengan metode re-bonding. Untuk sementara, saya minta Adnan untuk tidak menuntut nafkah batin sampai Kinan sendiri yang merasa siap dan aman. Tugasmu sekarang bukan sebagai 'pemimpin' yang menuntut hak, tapi sebagai 'pelayan' yang memulihkan hati."
Adnan menatap Kinan, lalu mengangguk mantap. "Saya bersedia, Ustadz. Berapa lama pun itu."
Kinan mendongak, menatap Adnan dengan mata yang mulai basah. Untuk pertama kalinya, ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Ada pihak ketiga yang memahami bahwa sakitnya bukan karena kurang ibadah, tapi karena luka yang memang nyata adanya.
Pertemuan itu berakhir dengan suasana yang jauh lebih ringan.
Saat mereka keluar dari ruangan, Adnan membukakan pintu untuk Kinan tanpa mencoba menyentuhnya, memberikan ruang fisik yang diminta istrinya sebagai bentuk penghormatan baru.
Suasana di antara Adnan dan Kinan terasa jauh lebih lega.
Meskipun masalah mereka belum tuntas sepenuhnya, ada satu beban besar yang terangkat dari pundak masing-masing.
Adnan melirik jam tangannya, lalu menatap Kinan yang tampak lebih tenang setelah sesi konseling tadi.
"Mau beli bakso? Kita bungkuskan untuk Athar juga," ucap Adnan mencoba mencairkan sisa-sisa kecanggungan.
Ia ingat betapa Athar sangat menyukai makanan berkuah setelah semalam lahap memakan soto buatan Kinan.
Kinan sedikit terkejut dengan ajakan itu, namun ia mengangguk pelan dengan senyum tipis yang tulus.
"Boleh, Mas. Athar pasti senang."
Sebelum menuju tempat bakso langganan mereka, Adnan terlebih dahulu menghubungi Ustadz Yusuf.
Selama mereka melakukan konseling, Athar memang dititipkan di sana agar bocah itu tidak merasa bosan atau bingung melihat orang tuanya masuk ke ruang konsultasi.
"Assalamu’alaikum, Ustadz Yusuf. Mohon maaf merepotkan, saya dan Kinan sedang dalam perjalanan menjemput Athar. Ini kami mau mampir beli bakso dulu untuk orang rumah," ucap Adnan melalui sambungan telepon.
Setelah menutup telepon, Adnan membukakan pintu mobil untuk Kinan.
Kali ini, gerakannya tidak lagi terburu-buru atau penuh tuntutan.
Ia menjaga jarak yang sopan, memberikan ruang bagi Kinan untuk merasa aman di dekatnya, persis seperti arahan Ustadz Jefry tadi.
Di perjalanan, Adnan menyetir dengan tenang. Ia tidak lagi mencoba memulai percakapan yang berat.
Ia hanya memutar murottal dengan volume rendah yang menenangkan hati.
"Kinan," panggil Adnan saat mereka berhenti di lampu merah.
"Iya, Mas?"
"Terima kasih sudah mau mengajak Mas ke sini. Mas sadar, menjadi ustadz bukan berarti Mas tahu segalanya tentang hati manusia. Mas masih harus banyak belajar dari kamu," ucap Adnan tulus tanpa menoleh, matanya tetap menatap lurus ke depan, namun nada suaranya sangat bergetar.
Kinan tertegun. Ia tidak menyangka suaminya akan mengakui hal itu secepat ini.
"Sama-sama, Mas. Aku juga belajar untuk tidak terus menutup diri."
Suasana di dalam mobil itu kini tidak lagi terasa mencekam.
Meskipun luka belum sepenuhnya sembuh, setidaknya mereka sudah berada di jalan yang benar untuk pulang—bukan hanya pulang ke rumah secara fisik, tapi pulang ke hati satu sama lain.
Aroma daging yang gurih dan uap panas dari kuali besar menyambut mereka saat sampai di warung bakso langganan.
Adnan segera memesan dua porsi besar untuk dibawa pulang dan dua porsi untuk mereka makan di tempat, karena ia ingin memberikan waktu lebih lama untuk berbincang santai dengan Kinan sebelum kembali ke rutinitas.
Saat sedang menunggu pesanan disiapkan, Kinan menatap jemarinya yang saling bertaut di atas meja kayu.
Perasaannya campur aduk; ada rasa bersalah karena telah menolak suaminya, namun ada juga rasa lega karena Adnan mau mengerti.
"Maaf ya, Mas..." ucap Kinan lirih, nyaris tertutup oleh suara hiruk-pikuk pembeli lain.
Adnan menghentikan kegiatannya mengaduk sambal, lalu menatap Kinan dengan tatapan yang sangat dalam dan lembut.
Ia meletakkan sendoknya, memberikan perhatian penuh pada wanita di depannya.
"Mas yang seharusnya minta maaf, Sayang. Mas yang sudah membuatmu merasa tidak aman di rumah sendiri. Mas yang membuatmu merasa harus meminta maaf atas sesuatu yang sebenarnya adalah dampak dari kesalahan Mas," balas Adnan dengan nada sungguh-sungguh.
Adnan menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa ketegangan yang masih tersisa di antara mereka.
Ia melihat ke arah gerobak di depan yang juga menjajakan camilan lain.
"Sekarang kita nikmati bakso ini ya. Mau bakso bakar? Sepertinya enak juga itu," tawar Adnan sambil menunjuk deretan tusukan bakso yang sedang dipanggang dengan bumbu kecap yang harumnya menyerbak.
Kinan menganggukkan kepalanya, sebuah senyuman kecil namun tulus akhirnya muncul di wajahnya.
Melihat Kinan mulai menunjukkan nafsu makan dan ketertarikan pada hal kecil seperti bakso bakar membuat separuh beban di hati Adnan menguap.
"Tolong bakso bakarnya dua porsi ya, Pak. Bumbunya yang manis saja, jangan terlalu pedas," seru Adnan kepada penjualnya, teringat bahwa lambung Kinan mungkin masih sensitif pasca perawatan di rumah sakit.
Sambil menunggu, mereka duduk berdampingan tanpa jarak yang menyesakkan.
Sesekali Adnan bercerita tentang hal-hal ringan di madrasah, menghindari topik berat untuk sejenak.
Sore itu, di pinggir jalan yang ramai, mereka belajar satu hal penting.
Bahwa pemulihan sebuah pernikahan terkadang dimulai dari semangkuk bakso dan kesediaan untuk saling mendengarkan tanpa menghakimi.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅