Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akrom Kafa Bihi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Mulai Terbuka
Hujan tipis turun di halaman mansion Wijaya pagi itu. Langit masih kelabu, seolah ikut menyimpan rahasia yang belum terungkap.
Aluna berdiri di depan jendela kamarnya, memandangi taman yang masih basah oleh embun. Tangannya memegang cangkir teh hangat, tetapi pikirannya sama sekali tidak tenang.
Semalam hampir tidak ada tidur.
Ucapan Arkan terus terngiang di kepalanya.
“Aku menemukan sesuatu tentang kematian ayahmu.”
Kalimat itu terasa seperti batu yang dilempar ke dalam danau yang tenang—menciptakan riak yang terus meluas.
Selama ini Aluna selalu menganggap kematian ayahnya adalah kecelakaan kerja biasa. Ayahnya jatuh di proyek pembangunan milik perusahaan rekanan, dan semua orang mengatakan itu murni musibah.
Namun kini Arkan mengatakan ada sesuatu yang janggal.
Dan yang lebih membuat hatinya bergetar—
Arkan tidak terdengar seperti pria yang sedang berspekulasi.
Ia terdengar seperti seseorang yang sudah menemukan sesuatu.
Pintu kamarnya diketuk.
“Masuk,” jawab Aluna pelan.
Pintu terbuka, dan Bi Sari muncul dengan senyum ramah.
“Nyonya, Tuan Arkan sudah menunggu di ruang kerja.”
Jantung Aluna langsung berdegup lebih cepat.
“Baik, Bi. Saya segera turun.”
Beberapa menit kemudian, ia berjalan menyusuri lorong panjang menuju ruang kerja Arkan.
Pintu kayu besar itu sedikit terbuka.
Ia mengetuk pelan.
“Masuk.”
Suara Arkan terdengar tegas seperti biasa.
Ketika Aluna masuk, ia melihat Arkan berdiri di dekat meja kerja besar dengan beberapa dokumen terbuka. Laptopnya menyala, layar menampilkan grafik dan laporan.
Namun ekspresi wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya.
“Duduk,” kata Arkan.
Aluna duduk di kursi di depannya.
Untuk beberapa detik, ruangan itu hening.
Lalu Arkan mendorong sebuah map ke arah Aluna.
“Baca.”
Aluna membuka map itu dengan jari sedikit gemetar.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen.
Laporan kecelakaan.
Foto proyek.
Salinan kontrak kerja.
Dan satu laporan medis.
Matanya bergerak cepat membaca setiap baris.
“Ini… laporan kematian ayah saya.”
“Ya,” jawab Arkan.
Aluna mengerutkan kening.
“Apa yang aneh dari ini?”
Arkan menyandarkan tubuhnya pada kursi.
“Laporan resmi mengatakan ayahmu jatuh dari lantai dua proyek saat melakukan pengecekan struktur.”
“Iya.”
“Namun saksi di lokasi mengatakan sesuatu yang berbeda.”
Aluna mengangkat kepala.
“Berbeda?”
Arkan mengangguk pelan.
“Ayahmu tidak jatuh sendirian.”
Ruangan terasa lebih dingin.
“Maksud Anda?”
Arkan mengambil satu lembar foto dari map itu.
Ia meletakkannya di meja.
“Itu diambil dari kamera keamanan proyek.”
Aluna menatap foto itu.
Gambar agak buram, namun cukup jelas menunjukkan dua sosok pria di lantai dua proyek.
Salah satunya adalah ayahnya.
Yang satu lagi—
Tidak terlihat jelas wajahnya.
Namun posisinya sangat dekat.
Terlalu dekat.
Seolah mereka sedang berdebat.
Jantung Aluna mulai berdetak lebih cepat.
“Setelah itu kamera mati selama lima menit,” kata Arkan.
“Lima menit?”
“Ketika kamera kembali aktif, ayahmu sudah jatuh di bawah.”
Aluna merasakan tangannya dingin.
“Kamera mati… secara kebetulan?”
Arkan tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya.
“Aku tidak percaya pada kebetulan seperti itu.”
Aluna menelan ludah.
“Jadi Anda berpikir… ini bukan kecelakaan?”
Arkan tidak langsung menjawab.
Ia berdiri, berjalan ke jendela, lalu berkata pelan,
“Aku berpikir seseorang ingin itu terlihat seperti kecelakaan.”
Jantung Aluna terasa seperti berhenti sejenak.
“Siapa?”
Arkan menatapnya.
“Itu yang sedang kucari.”
Ruangan kembali hening.
Aluna mencoba mencerna semuanya.
Ayahnya mungkin dibunuh.
Dan selama ini ia hidup tanpa mengetahui kebenaran itu.
“Kenapa Anda menyelidiki ini?” akhirnya ia bertanya.
Arkan menatapnya lama.
“Karena kematian ayahmu terjadi di proyek yang berkaitan dengan salah satu perusahaan anak Wijaya Group.”
Aluna terdiam.
“Jika ada seseorang di dalam perusahaan yang terlibat,” lanjut Arkan, “aku harus mengetahuinya.”
Namun Aluna merasa ada alasan lain.
Tatapan Arkan terlalu serius untuk sekadar urusan bisnis.
“Dan karena itu juga menyangkut keluargamu,” tambah Arkan pelan.
Hati Aluna bergetar.
Namun sebelum ia sempat berkata sesuatu, ponsel Arkan tiba-tiba berdering.
Arkan melihat layar ponselnya.
Ekspresinya langsung berubah.
Ia mengangkat telepon.
“Apa?”
Beberapa detik ia hanya mendengarkan.
Kemudian rahangnya mengeras.
“Aku akan ke sana sekarang.”
Telepon ditutup.
“Ada apa?” tanya Aluna.
Arkan meraih jasnya.
“Lokasi proyek tempat ayahmu meninggal.”
Aluna langsung berdiri.
“Kenapa?”
“Polisi menemukan sesuatu.”
Jantung Aluna terasa seperti jatuh.
“Aku ikut.”
Arkan menatapnya beberapa detik.
Biasanya ia akan menolak.
Namun kali ini, ia hanya berkata singkat,
“Baik.”
—
Perjalanan ke lokasi proyek memakan waktu hampir satu jam.
Mobil hitam Arkan melaju cepat menembus jalanan Jakarta yang padat.
Sepanjang perjalanan, Aluna tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya menatap keluar jendela.
Pikirannya dipenuhi bayangan ayahnya.
Senyumnya.
Nasihatnya.
Dan kini kemungkinan bahwa kematiannya bukan kecelakaan.
Mobil akhirnya berhenti di depan proyek bangunan setengah jadi.
Polisi sudah berada di sana.
Beberapa garis kuning dipasang di area tertentu.
Seorang pria berseragam polisi mendekati mereka ketika mereka turun dari mobil.
“Pak Arkan.”
“Komisaris Rendra,” jawab Arkan.
Mereka berjabat tangan.
“Ini istri saya, Aluna Maheswari.”
Rendra mengangguk sopan.
“Kami menemukan sesuatu pagi ini,” katanya.
“Apa?”
Rendra memberi isyarat agar mereka mengikutinya.
Mereka berjalan ke sisi bangunan.
Di sana, beberapa petugas sedang memeriksa sebuah area kecil yang digali.
Tanahnya masih basah.
Rendra menunjuk ke dalam lubang kecil itu.
“Ini ditemukan sekitar satu meter di bawah permukaan.”
Salah satu petugas menyerahkan kantong bukti.
Di dalamnya—
Sebuah jam tangan.
Aluna membeku.
“Itu… milik ayah saya.”
Ia mengenali jam itu.
Hadiah ulang tahunnya dua tahun lalu.
Namun bukan itu yang membuat suasana berubah.
Rendra mengeluarkan benda lain dari kantong bukti.
Sebuah paku besar yang berlumuran karat… dan bercak cokelat tua.
“Ini ditemukan tertancap di kayu dekat lokasi jatuhnya korban.”
Arkan menyipitkan mata.
“Darah?”
Rendra mengangguk.
“Sedang diuji di laboratorium.”
Aluna merasakan napasnya semakin berat.
“Kenapa ini baru ditemukan sekarang?”
Rendra menjawab pelan,
“Karena seseorang berusaha menutupinya.”
Angin bertiup pelan di area proyek.
Langit mulai gelap lagi.
Arkan memandangi bangunan itu dengan ekspresi dingin.
Namun di balik itu, pikirannya bekerja cepat.
Seseorang di proyek itu tahu apa yang terjadi.
Dan orang itu mungkin masih berada di dalam jaringan perusahaan.
Tiba-tiba seorang petugas berlari mendekat.
“Pak Komisaris!”
“Ada apa?”
Petugas itu terlihat gugup.
“Kami menemukan rekaman tambahan dari kamera gudang.”
Semua orang langsung menoleh.
“Apa isinya?” tanya Rendra.
Petugas itu menelan ludah.
“Rekaman menunjukkan seseorang keluar dari proyek lima menit setelah kamera utama mati.”
Arkan langsung bertanya,
“Wajahnya terlihat?”
Petugas itu mengangguk pelan.
“Cukup jelas.”
“Siapa?”
Petugas itu ragu beberapa detik.
Lalu berkata,
“Orang itu… salah satu manajer proyek di perusahaan Anda.”
Arkan terdiam.
“Namanya?”
Petugas itu menatap Arkan dengan wajah tegang.
“Dimas Pradana.”
Nama itu membuat mata Arkan menyempit.
Karena Dimas bukan hanya manajer proyek.
Ia juga orang kepercayaan ayahnya.
Di sampingnya, Aluna merasakan jantungnya berdegup kencang.
Namun sesuatu yang lebih mengejutkan masih menunggu.
Petugas itu melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Dan… ada satu orang lagi di rekaman itu.”
Arkan menoleh tajam.
“Siapa?”
Petugas itu menatap Aluna.
Ekspresinya ragu.
Lalu ia berkata,
“Seorang wanita.”
Angin berhenti.
Waktu seolah membeku.
“Wanita?” tanya Arkan.
Petugas itu mengangguk.
“Wajahnya terlihat jelas.”
“Siapa dia?”
Petugas itu membuka tablet yang berisi rekaman.
Ia memutar video itu.
Beberapa detik kemudian, gambar seorang wanita muncul di layar.
Wanita itu keluar dari gudang bersama Dimas.
Rambut panjang.
Gaun elegan.
Wajahnya sangat familiar.
Aluna membeku.
Karena ia mengenali wanita itu.
Arkan juga mengenalinya.
Rahangan Arkan menegang.
Nama itu keluar dari bibirnya dengan suara rendah.
“…Cemalia.”
Aluna merasa seluruh dunia seperti runtuh dalam satu detik.
Cemalia.
Mantan tunangan Arkan.
Wanita yang sejak awal menunjukkan kebencian padanya.
Dan sekarang—
Wanita itu muncul di lokasi kematian ayahnya.
Rendra menutup rekaman.
“Sepertinya kasus ini jauh lebih besar dari yang kita kira.”
Angin bertiup lebih kencang.
Langit mulai gelap.
Di tengah proyek yang sunyi itu, satu kebenaran mulai muncul ke permukaan.
Namun semakin dekat mereka pada jawaban—
Semakin berbahaya permainan ini menjadi.
Dan Aluna belum tahu satu hal.
Bahwa rahasia terbesar dalam kematian ayahnya…
Belum sepenuhnya terungkap.
End Bab 30🔥
di bab 2 dijelaskan klo ayah Aluna tidak bisa hadir di pernikahan Aluna karena kesehatan yang belum stabil, tapi di bab ini menjelaskan klo ayah Aluna meninggal di tempat proyek? yang benar mana nih?