Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 11
Aku mengisi penuh teko yang ayah bawa.
"Mau makan cemilan? Kata tante Melda ada toko kue yang sangat enak di dekat sini."
Sepertinya ayah menyadari apa yang aku pikirkan malam itu.
"Tidak perlu ayah. Ayah kan lelah. Kita bisa pergi lain waktu."
"Ini masih jam 7.40. Ayah pikir ini belum terlalu larut. Ayok kita pergi. Sekalian kita cek toko olahraga yang ingin kamu kunjungi itu."
Mataku sudah berkaca-kaca. Aku benar-benar menahan air mata yang sudah mau keluar. Ayah manaruh teko yang sedari tadi aku pegang lalu memelukku dan mengelus lembut rambutku.
"Anak ayah."
Aku menangis di pelukan ayah.
Setelah aku merasa tenang, ayah mengajakku keluar untuk membeli cemilan. Ayah pun tidak bertanya apapun tentang aku yang menangis. Dengan mengendarai sepeda baru, ayah membawaku pergi berjalan-jalan ke sekitar tempat tinggalku. Sebelum ke toko kue kami berdua mampir ke toko olahraga yang sudah hampir tutup. Dan untungnya penjual masih mau melayani kami. Dan aku mendapatkan perlengkapan memanah yang aku inginkan. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju toko kue. Sepanjang perjalanan kami mengobrol sedikit. Mengenang masa lalu sambil tertawa kecil. Rasanya bersama ayah, aku sangat tenang. Rasa lelah yang kurasakan sebelumnya sedikit demi sedikit tergantikan dengan rasa bahagia.
Aku dan ayah akhirnya sampai di toko kue. Dan toko kue itu memang hampir tutup juga.
"Pak, apa masih ada kue yang dijual?"
Tanya ayahku.
Aku memperhatikan bapak penjual kue itu. Aku merasakan aura aneh lagi. Namun aura yang aku rasakan ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Kemudian aku mencoba melihat ke arah dalam toko kue itu. Ayah masih membujuk bapak penjual kue itu agar menjual beberapa kue yang tersisa di tokonya. Tepat dibelakang etalase kue itu, aku melihat sosok seorang wanita cantik yang tengah berdiri dan terus menatap bapak penjual sekaligus pemilik toko itu.
"Pak? Kau memiliki seorang putri?"
Tanyaku tiba-tiba.
Seketika perdebatan antara ayahku dan bapak penjual itu terhenti.
"Pak, kalau gitu boleh saya pinjam kamar mandi sebentar? Saya sudah tidak bisa menahannya."
Ucap ayah sambil memperlihatkan jari kelingkingnya.
"Kamu bisa masuk. Kamar mandinya ada dipojok dapur."
Penjual itu mengizinkan ayahku tanpa berdebat lagi. kemudian penjual yang berusia hampir 60 tahun itu mempersilahkanku masuk ke toko yang hendak ia tutup. Aku duduk di kursi toko itu. Ia pun memberikan cheese cake yang tersisa di etalase padaku.
"Aku bukannya tidak mau menjualnya. Hanya saja ini barang sisa. Aku hanya takut rasanya berubah."
"Putrimu sangat cantik ya pak. Dan dia sangat menyayangimu"
Ucapku melenceng dari topik yang dibicarakan. Bapak penjual itu mulai merasa bingung.
"Putriku sudah meninggal."
"Aku tahu. Dan putrimu bilang kalau bapak tidak boleh bersedih akan kepergiannya. Itu bukan salah bapak."
"Bagaimana kau..."
"Ssttt... Rahasiakan ini dari ayahku." Bisikku.
Sekeras apapun aku berusaha menjauhi roh-roh itu, rasa simpatiku akan orang-orang yang ditinggalkan lebih besar. Dan aku tak dapat mengendalikan perasaan itu.
"A-apa putriku mengatakan sesuatu? Dimana putriku sekarang?"
Roh itu kemudian berpindah tempat dan duduk disampingku.
"Dia sedang duduk disampingku dan sedang memandangi bapak saat ini. Dia mengatakan dia senang bahwa bapak melanjutkan toko miliknya dan meninggalkan pekerjaan bapak sebelumnya. Ada satu kalimat yang selalu ingin dia katakan namun selalu tidak sempat di ucapkan olehnya ketika ia masih hidup."
"Apa itu?"
"Dia bilang "Linda sangat menyayangi ayah." "
Sang penjual itu tiba-tiba saja menangis saat mendengar kalimat yang keluar dari mulutku. Setelah mengatakan itu semua, sebuah cahaya putih datang dari langit menyinari tubuhnya. Untuk kedua kalinya aku melihat cahaya itu.
"Terimakasih."
Ucap sosok itu sambil tersenyum kearahku. Ia pun menghilang bersama cahaya itu.
Ayahku pun datang dan terkejut saat melihat bapak penjual kue itu menangis. Ayah membantunya duduk karena sepertinya dia hampir tidak bisa menahan tubuhnya. Bapak penjual kue itu masih menangis. Dan aku masih menikmati cheese cake yang disediakan bapak itu. Wajah ayahku mulai terlihat cemas. Ayahku mengelus punggung bapak itu mencoba menenangkan.
"Mila, ada apa dengan bapak ini?"
"Dia merindukan putrinya ayah."
"Hiks. Hiks. Aku... Aku akan memberikan kue gratis pada kalian! Dikunjungan hari ini ataupun berikutnya aku akan memberikannya dengan gratis pada kalian."
Ucap bapak penjual itu yang masih dalam keadaan menangis.
"Benarkah?! Terimakasih."
Balas ayahku merasa senang.
"Gentayangan cuma karena ingin mengatakan hal itu ternyata masih ada ya."
Ucapku dalam hati.
"Wah itu putri bapak?"
Tanya ayahku saat melihat foto keluarga yang dipajang di dinding.
"Ya, mereka berdua adalah putriku. Sebelah kanan putri sulungku dan sebelah kiri putri bungsuku. Putri sulungku sudah tiada."
"Ah, Ma-maaf. Saya tidak bermaksud..."
Ayahku merasa tak enak.
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa."
Bapak penjual itu menghela napas panjang. Ada sedikit kelegaan yang tersirat dari tarikan napas itu.
"Dia meninggal karena kesalahanku. Karena aku yang terlalu sibuk bekerja dikantor dan tidak pernah pulang untuk menengok putri-putriku. Saat itu anak bungsuku yang usianya masih 4 tahun tidak bisa menolong kakaknya yang sakit. Aku merasa lega sekarang karena tahu ternyata putriku tidak menyalahkanku. Namun, walaupun begitu... Aku tetap menyesalinya."
"Bapak tidak perlu merasa bersalah lagi. Karena bapak sudah berusaha untuk berubah menjadi lebih baik sekarang."
Ucap ayahku.
"Yah, kau benar. Karena aku sudah mengetahui bahwa Linda tidak membenciku, aku bisa mulai bernapas lega. Aku akan menjaga putri semata wayangku dengan baik untuk menebus kesalahanku pada Linda."
"Linda itu nama putri sulung bapak?"
"Iya. Anak bungsuku sekarang tinggal dan bekerja di pusat kota. Sebenernya dia mengajakku untuk pergi bersamanya. Tetapi saat melihat buku resep yang Linda tinggalkan, aku benar-benar tidak bisa merelakannya."
Aku tidak ikut ambil bagian dari obrolan ayah dan bapak penjual kue itu dan hanya menikmati cheese cake yang ada dihadapanku.
"Bapak masih punya cheese cake utuh di kulkas. Mungkin rasanya sedikit berubah karena ditaruh berjam-jam di kulkas. Bapak selalu membuat kue lebih untuk di nikmati seorang diri bersama wine. Tapi kali ini bapak berikan untuk kalian bawa pulang saja."
"Terimakasih."
Malam itu pun berlalu. Dan ayah tidak bertanya apapun kepadaku bagaimana awal mulanya sampai bapak penjual toko kue itu menangis di depanku dan mengingat putrinya yang sudah meninggal itu.
Pagi pun tiba. Rutinitas seperti biasa tetap aku lakukan. Aku hanya menyiapkan roti panggang untuk sarapan kami berdua kali ini. Dan untuk bekal ayah, aku sudah menyiapkan sushi isi ayam mayones.
Aku berangkat lebih awal dari biasanya karena kini aku ingin mengendarai sepeda.
Dengan santai aku menggoes sepeda sambil menikmati pemandangan dan menghirup udara pagi di negara P yang sangat menyegarkan ini. Tak heran, karena tingkat pencemaran udara disini sangatlah rendah.
'Kring kring'
Suara bel sepeda terdengar dari arah belakang. Dan kini sepeda itu sudah berada disampingku.
Aku pun menoleh.
"Senior?!"
"Hai."