bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kedatangan yang tiba tiba
Hari ini Bella bekerja seperti hari biasanya di kafe melayani pelanggan dan membereskan yang berantakan seperti pelayan pelayan kafe di sana
Ting!
Suara pintu terbuka Bella menoleh ternyata itu adalah sahabatnya Althea
Beruntung kafe saat ini tidak terlalu ramai jadi bella bisa leluasa bicara dengan sahabat nya
Bos nya di kafe juga tidak terlalu mengekang karyawan nya dengan harus bekerja di jam nya,bosnya memperbolehkan pelayan nya ngobrol dengan tamu nya selagi kafe tidak terlalu ramai dan semua tamu dapat pelayanan yang baik.
Bella dengan cepat melepaskan celemek kerja nya dan menghampiri sang sahabat yang duduk
Sebelum menghampiri Thea Bella lebih dulu menyiapkan jus jeruk ke sukaa sahabatnya
Bella duduk di hadapan Thea
"minuman kesukaan mu...jus jeruk"
menyodorkan minuman ke hadapan sang sahabat.
"terimakasih Bella kau tau saja keinginan ku"
ucap Thea senang
"tentu aku hapal jika kau kesini pasti kau sedang mentingin kan sesuatu"
"oh iya bagai mana kencan pura pura mu kemarin berjalan dengan lancar?"
arabella melirik Althea sebentar,
"lancar tidak,buruk juga tidak"
Althea mengerutkan keningnya
"kenapa begitu apakah klien mu buruk?"
"kau tau siapa klien ku?" Althea menggeleng
"dia adalah pria yang hampir menabrak ku kemarin"
Althea terkejut "apa?!,serius terus bagaimana"
"awalnya dia ingin membatalkan nya,sebenarnya jika dia membatalkan nya aku juga tak apa,tapi waktu nya kurang ayah nya sudah datang dan mengharuskan kami berpura pura sebagai pasangan romantis, "
"kau bayangkan saja siangnya kau berdebat dengan itu cowo ,dan malamnya kalian harus berpura pura sebagai pasangan yang romantis"
Althea mengangguk
"se tidak nya ini sudah bereskan kau-"
"siapa bilang ini beres ibunya malah menyuruhku datang ke rumahnya,dan ini akan semakin rumit" ucap Arabella memijat keningnya pusing
"tapi kau tetap akan mendapat bayaran kan?"
Arabella mengangguk
"ia tapi-"
Ting!
Belum sempat Arabella melanjutkan bicara nya pintu kafe terbuka dan memperlihat kan dua pria tampan berjalan memasuki kafe
"dia! kenapa dia kesini dan tau tempat kerjaku?"
Althea mengikuti arah pandang Bella ke dua lelaki tersebut
"siapa?"
"pria menyebalkan yang ku kenal seumur hidupku"
"yoga?pacar sewaan mu itu " Thea
Tanpa melirik Althea Arabella mengangguk sembari menatap Rafi dan yoga yang berjalan ke arah mereka
YOGA:
“Kita perlu bicara.”
Arabella langsung menyilangkan tangan.
“Kenapa kamu datang ke sini?”
Rafi yang berdiri di belakang Yoga tersenyum kecil.
“Sepertinya kami datang di waktu yang kurang tepat.”
Althea menatap Yoga dengan rasa ingin tahu.
“Jadi kamu yang bernama Yoga?”
Yoga sedikit terkejut.
“Iya.”
Jawab yoga dengan wajah sinis nya
Althea lalu menatap Arabella.
“Sekarang aku mengerti kenapa kamu bilang dia menyebalkan.”
Arabella mengangguk setuju.
Yoga menghela napas panjang.
“Bisakah kita bicara dengan tenang?”
Namun Arabella langsung membalas dengan kesal.
“Sejak awal kita tidak pernah bicara dengan tenang.”
Rafi langsung menepuk bahu Yoga.
“Bro, mungkin kita harus mulai dengan kopi dulu.
Mereka pun akhirnya beranjak ke arah tempat duduk di pojok yang kosong.
...----------------...
Beberapa detik berlalu dalam diam.
“Kita perlu bicara.”
“Aneh. Kamu selalu bilang begitu.”
Nada suaranya datar, tapi penuh sindiran. Pria di hadapannya menarik napas pelan, berusaha menahan emosi.
“Karena kamu selalu menghindar.”
“Aku tidak menghindar,” balasnya cepat. “Aku hanya tidak mau terlibat lebih jauh.”
Kalimat itu membuat suasana semakin menegang. Pria itu menatapnya sejenak, lalu berbicara lagi dengan nada lebih serius.
“Soal kemarin—”
“Sudah selesai.” potong Arabella
“Belum.”
Jawaban singkat itu langsung disambut tatapan tajam. Gadis itu mengangkat alisnya, jelas tidak menyukai arah pembicaraan ini.
“Apa lagi sekarang?”
Pria itu sedikit mendekat, menurunkan suaranya, seolah tidak ingin percakapan mereka didengar orang lain.
“Ibuku ingin kamu datang lagi ke rumah.”
Beberapa detik hening. Lalu gadis itu tertawa kecil, tapi tanpa rasa humor.
“Kamu bercanda?”
“Aku serius.”
Senyumnya langsung menghilang. Ia menggeleng pelan.
“Tidak. Aku tidak akan datang.”
“Kamu bahkan belum memikirkan—”
“Aku tidak perlu memikirkan!”
Suaranya sedikit meninggi tanpa ia sadari. Beberapa pengunjung mulai melirik ke arah mereka, tertarik dengan ketegangan yang tiba-tiba muncul di sudut kafe itu.
“Ini hanya sekali lagi,” pria itu mencoba menahan nada suaranya tetap rendah.
“Tidak ada ‘sekali lagi’ dalam hal seperti ini.”
“Kamu dibayar untuk itu.”
Kalimat itu seperti menyulut api. Wajah gadis itu langsung berubah.
“Aku bukan boneka yang bisa kamu panggil kapan saja.”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi itu maksudmu.”
Ketegangan di antara mereka semakin terasa. Suasana yang awalnya hangat kini berubah canggung bagi siapa pun yang berada di dekat mereka.
Di meja tak jauh dari sana, dua orang yang sejak tadi memperhatikan akhirnya tak bisa diam lagi.
“Sudah, sudah,” salah satunya bangkit, mencoba menengahi.
“Hey, ini kafe,” tambah yang lain sambil menahan tawa tipis. “Banyak yang lihat.”
Gadis itu menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Sementara pria di depannya memijat pelipisnya, jelas sama lelahnya dengan situasi ini.
“Coba dengar dulu,” ucap Althea dengan suara lembut mencoba menenangkan Arabella
“Dan kamu,” rafi menambahkan santai, “jangan langsung memaksa.”
Beberapa detik hening kembali tercipta.
Kali ini pria itu berbicara dengan nada yang lebih rendah.
“Ibuku benar-benar menyukaimu.”
Gadis itu menatapnya, ekspresinya sedikit berubah, tapi tetap bertahan pada sikapnya.
“Itu bukan salahku.”
“Aku tahu. Tapi sekarang dia berharap kamu datang lagi.”
Keraguan sempat muncul di wajahnya, meski hanya sebentar. Ia mengalihkan pandangan, seolah mencoba menghindari keputusan yang mulai terasa berat.
“Aku tidak mau terjebak dalam kebohongan yang lebih besar.”
“Tapi kamu juga butuh uang, kan?” ucap althea
Kalimat itu membuatnya terdiam.
“Ini cuma satu acara lagi,” suara rafi menambahkan dengan santai. “Tidak harus jadi sesuatu yang serius.”
yoga langsung memanfaatkan momen tersebut.
“Aku akan bayar lebih.”
Tatapan gadis itu kembali tajam.
“Kamu pikir semuanya bisa diselesaikan dengan uang?”
Untuk pertama kalinya, pria itu tidak langsung membalas.
“Tidak.”
Jawaban itu keluar pelan, tanpa nada memaksa. Justru terdengar lebih jujur dari sebelumnya.
Keheningan kembali menggantung di antara mereka.
Namun sebelum ia sempat memberikan jawaban—
Bunyi lonceng kecil di pintu kafe terdengar.
Sekelompok wanita masuk sambil tertawa ringan, membawa suasana baru yang kontras dengan ketegangan di sudut ruangan itu.
Langkah mereka terhenti sesaat.
Seseorang di antara mereka menatap lurus ke arah kasir.
Dan dalam sekejap—
wajah yoga berubah kaku.
begitu Arabella di depannya ikut membeku.
"kenapa bisa ada ibu di sini"yoga kaget dengan kedatangan ibu dan temen teman nya di kafe tempat Arabella bekerja.
"aku juga tidak tau" jawab Rafi santai.
"lihatkan masalah jadi semakin rumit " ucap bela bingung
"memangnya kenapa siapa ibu ibu itu?"tanya Althea bingung
"salah satu dari mereka adalah ibu yoga" jawab Ara pelan
"oh'jawab thea santai
Namun
Beberapa menit kemudian mata thea membesar kaget
"APA!!! IBU YOGAA GA-"teriakan Thea berhenti karna Arabella menutup mulutnya dengan tangannya sendiri
Bisa gawat kali ibu yoga mendengar.
Di ambang pintu, Bu Ratna—ibu Yoga—masih berdiri bersama teman-teman arisannya. Wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan
saat mendengar teriakan yang menyebut nama anak nya.
Bu Ratna langsung menoleh ke asal suara dan mendapati anak nya di sana.
“Yoga?” panggil Bu Ratna sekali lagi, memastikan apa yang ia lihat bukan salah.
Yoga menarik napas pelan sebelum menjawab, “Iya, Bu… ini Yoga.”
Ia lalu mendekat beberapa langkah, masih terlihat bingung.
“Kenapa Ibu di sini?”
Bu Ratna menghela napas kecil, lalu menjawab dengan nada lebih santai, meski matanya masih sesekali melirik Arabella.
“Ibu ke sini mau bertemu teman Ibu. Katanya tempatnya di kafe ini.”
Arabella menelan ludah pelan, sementara Althea yang berdiri tak jauh darinya memperhatikan situasi dengan penuh rasa penasaran.
Rafi di sisi lain hanya mengangkat alis, seolah sudah menebak akan ada sesuatu yang lebih besar terjadi.
Belum sempat suasana benar-benar tenang, seorang wanita elegan berjalan mendekat dari arah dalam kafe. Ia tersenyum ramah saat melihat Bu Ratna.
“Ratna! Kamu sudah sampai rupanya.”
Bu Ratna langsung menoleh dan tersenyum.
“Dian! Iya, aku baru saja sampai.”
Wanita itu—Bu Dian—adalah pemilik kafe tersebut. Ia kemudian mengikuti arah pandang Bu Ratna dan melihat ke arah Yoga dan Arabella.
Senyumnya berubah sedikit penuh arti.
“Ada apa? Sepertinya kamu menemukan sesuatu yang menarik.”
Bu Ratna tertawa kecil.
“Iya, aku tidak menyangka bertemu anakku di sini… dan juga pacarnya.”
Ucapan itu langsung membuat Arabella menegang.
Yoga menutup mata sejenak, jelas tidak nyaman dengan situasi ini.
Bu Dian mengalihkan pandangannya pada Arabella. Ia memperhatikan beberapa detik, lalu alisnya terangkat seolah baru menyadari sesuatu.
“Oh?”
Ia tersenyum tipis.
“Arabella bekerja di sini.”
Suasana mendadak hening.
Bu Ratna menoleh cepat ke arah Bu Dian.
“Bekerja… di sini?”
“Iya,” jawab Bu Dian santai. “Dia salah satu pegawai saya.”
Arabella langsung menundukkan sedikit kepalanya, merasa canggung.
“Iya, Bu…”
Yoga ikut terdiam. Ia melirik Arabella sekilas, lalu kembali menatap ibunya.
Ekspresi Bu Ratna berubah. Bukan lagi sekadar kaget, tapi juga penasaran.
“Jadi… selama ini kamu bekerja di sini, Arabella?”
Pertanyaan itu membuat Arabella mengangkat kepalanya perlahan.
“Iya, Bu… saya bekerja di sini.”
Bu Ratna mengangguk pelan, masih memproses informasi itu. Sementara itu, teman-teman arisannya mulai berbisik pelan satu sama lain.
Di sisi lain, Althea mendekat sedikit ke Arabella dan berbisik,
“Bela… ini makin rumit.”
Arabella hanya bisa menarik napas panjang.
Rafi, yang berdiri di dekat Yoga, menepuk bahunya pelan.
“Gue bilang juga… ini baru permulaan.”
Yoga menghela napas panjang, lalu menatap ke arah Arabella lagi.
Suasana kafe yang tadi sempat tegang perlahan berubah menjadi lebih tenang, meski perasaan canggung masih menggantung di udara.
Bu Ratna menatap Arabella dengan saksama setelah mendengar penjelasan dari Bu Dian. Ekspresinya yang tadi penuh keterkejutan kini perlahan berubah… menjadi senyum hangat.
“Jadi kamu bekerja di sini?”
Arabella mengangguk pelan.
“Iya, Bu…”
Beberapa detik hening.
Yoga yang berdiri di sampingnya mulai merasa tidak nyaman. Ia melirik ibunya, bersiap jika sewaktu-waktu akan ada penolakan atau pertanyaan yang sulit.
Arabella juga menahan napas tanpa sadar.
Di pikirannya, hanya ada satu kemungkinan—
semuanya akan berakhir di sini.
Namun—
Bu Ratna justru tersenyum lebih lebar.
“Bagus sekali.”
Kalimat itu membuat Arabella dan Yoga langsung menoleh bersamaan, sama-sama terkejut.
“Hah?” reaksi mereka hampir bersamaan, meski tertahan.
Bu Ratna melanjutkan dengan nada senang.
“Ibu malah semakin senang.”
Ia menatap Bu Dian sebentar.
“Tempatnya jelas, lingkungannya juga bagus. Kamu bekerja di tempat teman Ibu sendiri.”
Bu Dian tersenyum kecil, mengangguk.
“Tentu saja. Arabella anak yang rajin.”
Arabella langsung semakin canggung mendengar pujian itu.
Sementara itu, Yoga benar-benar tidak menyangka arah pembicaraan ini.
Ia mendekat sedikit ke Arabella dan berbisik pelan,
“Ini… tidak sesuai rencana.”
Arabella membalas tanpa menoleh,
“Harusnya sekarang sudah selesai.”
Yoga mengangguk tipis, masih tidak percaya.
Namun kenyataannya justru sebaliknya.
Bu Ratna kembali menatap mereka berdua dengan wajah puas.
“Ibu jadi tidak khawatir lagi.”
Kalimat itu membuat keduanya makin bingung.
“Tidak khawatir?” tanya Yoga.
“Iya,” jawab Bu Ratna ringan. “Kalau kamu dekat dengan Arabella, Ibu malah senang.”
Arabella langsung membeku.
Yoga juga terdiam.
Mereka saling melirik sekilas.
Di kepala mereka berdua, skenario yang sama terlintas—
seharusnya hubungan ini ditentang… lalu berakhir.
Tapi yang terjadi justru…
didukung.
Bu Ratna melanjutkan dengan nada santai namun penuh arti,
“Kapan-kapan kamu harus datang lagi ke rumah, Arabella.”
Arabella langsung tersenyum kaku.
“I-iya, Bu…”
Di sampingnya, Yoga menutup mata sebentar, jelas mulai merasa pusing dengan situasi ini.
Rafi yang melihat itu hanya menahan tawa.
“Gue bilang juga… ini bakal makin panjang.”
Althea menepuk pelan tangan Arabella.
“Bela… sepertinya kamu tidak bisa kabur sekarang.”
Arabella menghela napas panjang.
Ia kembali menatap Bu Ratna yang masih terlihat senang.
Di dalam hatinya, ia hanya bisa berpikir satu hal—
semua yang ia harapkan untuk segera berakhir…
justru baru saja dimulai.
Sementara di sampingnya, Yoga berdiri diam, menyadari hal yang sama.
Perjanjian yang awalnya sederhana…
sekarang berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit dari yang mereka bayangkan.