NovelToon NovelToon
Suami Untuk Shanum

Suami Untuk Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.

Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menantu Ibu Datang!

Shanum melangkah menaiki tangga kayu jati yang mengkilap dengan perasaan yang campur aduk. Ia mengatur napasnya dan mencoba membuang sisa sesak akibat sikap dingin Bunda Rina di bawah tadi. ia tidak ingin Abi melihat gurat kesedihan di wajahnya, apalagi di pagi pertama mereka sebagai suami istri.

​Sesampainya di depan pintu kamar, Shanum mengetuk pelan. "Mas Abi," panggil Shanum lembut.

​Shanum membuka pintu dan mendapati suaminya masih dalam posisi yang sama, berkutat dengan laptop. Namun, kali ini kacamata bertulang hitam bertengger di hidung tegasnya dan menambah kesan intelektual yang sempat membuat Shanum merasa minder sesaat.

"Ayo, Mas. Sarapan di bawah," ajak Shanum.

​Abi mendongak dan menatap istrinya yang tampak segar dengan jilbab instan berwarna cokelat muda.

"Kamu tadi bantu-bantu di bawah?" tanya Abi.

​"Iya, Mas. Tadi bantu potong buah sama lihat Bunda masak sup," jawab Shanum.

"Mas mau turun sekarang atau mau aku bawakan sarapannya ke sini?" tanya Shanum.

​"Kita turun saja, nggak enak kalau Eyang menunggu," jawab Abi dan menutup laptopnya lalu berdiri.

​Di ruang makan, meja besar sudah dipenuhi dengan hidangan lezat. Mbah Wira sudah duduk di kursi utama, disusul oleh anggota keluarga lainnya. Suasana riuh dengan obrolan ringan tentang rencana kepulangan keluarga besar ke kota masing-masing.

​Shanum duduk di samping Abi, dengan cekatan dan tanpa diminta, ia mengambilkan piring untuk suaminya. Ia menyendokkan nasi putih lalu dengan telaten mengambil potongan ayam dan sayuran dari sup buatan Bunda Rina.

​"Cukup, Mas? tanya Shanum setengah berbisik.

​"Cukup," jawab Abi singkat.

"Kamu nggak makan?" tanya Abi saat melihat Shanum yang tidak mengambil nasi.

"Nanti aja, Mas," jawab Shanum.

"Makan sekarang," ucap Bunda Rina.

"I-iya, Bunda," ucap Shanum.

Shanum tersentak pelan mendengar teguran Bunda Rina yang singkat namun tegas dan ia segera mengambil piring untuk dirinya sendiri, meski porsinya sangat sedikit karena rasa gugup yang masih mengganjal di ulu hati.

"Jadi, Abi, kapan rencana kalian berangkat ke Bandung? Barang-barang Shanum sudah siap?" tanya Mbah Wira sambil menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain.

​Abi meletakkan sendoknya dengan tenang, "Rencananya besok pagi-pagi sekali, Eyang. Supaya tidak terlalu malam sampai di Bandung dan untuk barang Shanum, nanti sore kami mau ke rumahnya Shanum untuk berpamitan sekaligus mengambil apa yang perlu dibawa," jawab Abi dan diangguki Mbah Wira.

"Kamu kan bawa mobil satu, memangnya muat?" tanya Om Damar.

"Iya, apa nanti kamu sama Shanum pakai mobil Eyang aja?" saran Mbah Wira.

"Muat kok, Om, Eyang. Kan Abi pakai mobilnya Ayah, jadi muat," jawab Abi.

.

Sore harinya, langit Klaten nampak jingga keemasan. Sesuai rencana, Abi mengajak Shanum untuk berpamitan ke rumah orang tua istrinya itu. Namun, alih-alih menggunakan mobil, Abi memilih meminjam sepeda motor milik Om Panji.

​"Kita naik motor aja ya, biar lebih santai dan bisa masuk ke gang rumah kamu dengan mudah," ucap Abi sambil menyodorkan helm kepada Shanum.

​Shanum mengangguk patuh, ada rasa lega sekaligus haru karena Abi seolah mengerti bahwa membawa mobil mewah ke lingkungannya yang sempit hanya akan mengundang lebih banyak gunjingan tetangga.

Selama perjalanan, Shanum duduk dengan jarak yang cukup jauh. Namun, saat motor melewati jalanan yang berlubang, Shanum tak sengaja memegang ujung jaket Abi untuk menjaga keseimbangan, Abi tidak keberatan dan sesekali melirik dari spion untuk memastikan istrinya baik-baik saja.

​Sesampainya di depan rumah, suasana nampak kontras dengan rumah Mbah Wira. Rumah Shanum terlihat lebih sederhana, di mana beberapa kursi plastik pinjaman masih berjejer di teras, sisa-sisa pesta kecil yang diadakan Ibu Laila semalam.

​"Assalamualaikum," ucap Abi saat melangkah masuk.

​"Waalaikumussalam! Eh, menantu Ibu datang!" seru Ibu Laila yang langsung berlari keluar dengan daster motif bunga.

Wajahnya berseri-seri, seolah melihat tumpukan uang berjalan masuk ke rumahnya. "Masuk, Abi... masuk! Aduh, maaf ya rumahnya berantakan begini," lanjut Ibu Laila.

​Bapak Tono juga keluar dan menyalami Abi dengan penuh hormat yang terasa agak berlebihan. Shanum hanya bisa menunduk, ia segera menuju kamar sempitnya untuk mulai mengemas barang.

​Di dalam kamar yang pengap itu, Shanum menatap sekeliling. Tidak banyak yang ia miliki, pakaiannya hanya memenuhi separuh lemari kayu yang pintunya sudah tidak bisa menutup rapat. Shanum melipat beberapa potong baju, daster, gamis dan hijabnya dengan rapi lalu memasukkannya ke dalam tas kain besar.

Di ruang tamu, suasana terasa canggung bagi Shanum, namun tidak bagi Ibu Laila. Sang Ibu terus saja berceloteh tentang betapa bangganya ia memiliki menantu seorang Dosen, sementara Bapak Tono lebih banyak diam, sesekali mengangguk saat Abi berbicara.

​"Pak, Bu," suara berat Abi memecah obrolan, ia meletakkan gelas teh yang hanya diminumnya sedikit.

"Maksud kedatangan kami sore ini, selain untuk mengambil barang-barang Shanum, kami juga ingin berpamitan. Besok pagi-pagi sekali kami akan berangkat ke Bandung," pamit Abi.

​Ibu Laila langsung berubah raut wajahnya, antara sedih yang dibuat-buat dan rasa kehilangan sumber kebanggaan yang baru saja ia miliki.

"Loh, cepat sekali, Abi?" tanya Ibu Laila.

​"Jadwal mengajar saya sudah mepet, Bu. Dan Shanum juga harus segera beradaptasi di sana," jawab Abi dengan nada bicara yang sopan namun tetap menjaga jarak.

​Bapak Tono berdehem, ia menatap putri sulungnya yang berdiri kaku di ambang pintu kamar. "Ya sudah kalau begitu, Bapak titip Shanum ya, Nak Abi. Dia anak yang rajin, kalau ada kurang-kurangnya, tolong diingatkan dengan sabar," pesan Bapak Tono.

​Abi berdiri, diikuti oleh Shanum. "Insyaallah, Pak. Saya akan menjaga Shanum sebagaimana tanggung jawab saya sebagai suaminya," jawab Abi.

​Saat Shanum hendak melangkah mendekat untuk mencium tangan ibunya, Ibu Laila menariknya sedikit menjauh ke sudut ruangan dan membelakangi Abi.

​"Ingat Shanum, hidup kamu itu sudah enak. Jangan bikin masalah, jangan mengeluh dan kalau kamu dikasih uang bulanan, ingat adik-adikmu di sini. Kirim ke Ibu, jangan dihabiskan sendiri," bisik Ibu Laila, tajam dan penuh penekanan.

​Shanum merasakan perih yang menusuk dadanya. Di saat ia akan pergi ke tempat yang sangat jauh, Ibunya masih saja membahas tentang materi.

"Iya, Bu," jawabnya nyaris tanpa suara.

​Shanum kemudian menyalami Bapak Tono dan menepuk bahu putrinya pelan, ada sedikit binar haru di matanya yang mulai mengeruh.

"Hati-hati di jalan, Nduk. Jadi istri yang berbakti," pesan Bapak Tono.

​"Iya, Pak. Shanum pamit," ucap Shanum, air matanya mulai menggenang.

​Abi kemudian berpamitan dengan sopan dan sebelum benar-benar keluar, Abi merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih tebal yang sudah ia siapkan, ia menyelipkannya ke tangan Bapak Tono.

​"Pak, ini ada sedikit titipan untuk keperluan Bapak sekeluarga, mohon diterima," ucap Abi.

​Ibu Laila yang melihat amplop itu langsung berseri-seri, tangannya seolah ingin segera menyambar dari tangan suaminya.

"Aduh, Abi ini repot-repot sekali. Terima kasih banyak ya, menantu idaman memang beda!" ucap Ibu Laila.

​Abi hanya tersenyum tipis, lalu mengajak Shanum menuju motor. Saat motor mulai bergerak meninggalkan gang sempit itu, Shanum menoleh ke belakang. Ia melihat rumahnya semakin mengecil dan melihat Ibunya yang sibuk mengintip isi amplop lalu Bapak Tono yang melambai kearah Shanum.

.

.

.

Bersambung.....

1
Eva Tigan
Hukumannya enak kok..Shanum malah jadi pengen lebih itu..dan sebaiknya dilakukan di rumah saja😄
Asni Kenedy
ahhh ikut baperr
mamayasna
shanum ooo shanumm
Eva Tigan
Kasi ponsel baru buat istrinya Mas Abi..😄
Eva Tigan
Pak Dosen dan shanum sama sama baru buka segel.
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊
mamayasna
😍
Eva Tigan
mesra nya sepiring berdua..isi energi dulu nanti selesai makan dilanjutkan kegiatan romantis nya tadi 😊
mamayasna
😍😍
gemar baca
luar biasa alur ceritanya bagus, penokohan nya keren gak berlebihan, bahasa yang digunakan juga Bagus,keren pokok'e
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
mamayasna
😍😍😍
Valen Angelina
baper gak tuh🤭🤭😄😄
Valen Angelina
belajar terbuka sama suamimu ....jgn apa2 terpendam sndiri ya....
Eva Tigan
segera kasi makan itu istrinya Abi..kasihan seharian gak makan..padahal udah lebaran ini..istrinya malah puasa😊
diaul_5
love you thorrr😍
diaul_5
suka banget sama cerita author satu ini dan lebih suka lagi ttp up meskipun lebaran jan josss polll, soalnya novel yang lain g up lebaran😭😭😭
elaretaa: Terima kasih Kak🥰 Pas lebaran .asih ada draf buat up, nah habis lebaran ini belum ada draf buat up soalnya sibuk lebaran, jadi belum sempat nulis🙏🙏🙏🙏🤭
total 1 replies
dika edsel
hai assalamualaikum bestieeeee... selamat lebaran .minal'aidzin walfaidzin mohon maaf lahir batin ya...😊
elaretaa: Waalaikumsalam bestieeeee!!! selamat lebaran yaaaaaaaaa. Minal aidin wal faizin, semoga kita dipertemukan dengan Ramadan selanjutnya🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
mamayasna
semangat berkarya/Kiss/
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
dika edsel
/Heart/
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Valen Angelina
pasti tidak seindah itu pernikahan shanum kan thor...jgn kejam2 kasian dia...Uda ortua gtu masa dpat suami gtu lagi wkwkkwke🤭
mamayasna
lanjut kakaaaa
elaretaa: Siap Kakkk👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!