Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Gedung Vasillo Group tampak megah menjulang saat mobil yang membawa Tasya berhenti di depan pintu utama. Beberapa karyawan yang sedang keluar masuk gedung sempat melirik heran saat melihat Mario turun bersama seorang wanita. Namun, tidak ada yang berani bertanya Mario berjalan lebih dulu.
“Tolong ikut saya, Nona Tasya.”
Tasya tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengikuti langkah pria itu dengan wajah tenang, meskipun pikirannya dipenuhi kekhawatiran tentang Kenzo dan Kenzi. Mereka masuk ke dalam lift pribadi yang langsung menuju lantai keamanan perusahaan.
Beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka. Begitu keluar, Tasya langsung melihat sebuah ruangan besar yang dipenuhi layar monitor.
Puluhan komputer menyala. Grafik, kode program, dan sistem keamanan digital terpampang di berbagai layar.
Beberapa karyawan Vasillo terlihat sibuk mengetik, berdiskusi, bahkan ada yang terlihat frustasi karena sistem belum juga pulih. Mario berjalan masuk bersama Tasya.
“Semuanya, beri jalan sebentar.”
Beberapa staf IT menoleh. Tatapan mereka langsung tertuju pada wanita yang dibawa Mario.
“Ini Nona Tasya,” kata Mario singkat.
“Dia akan membantu memulihkan sistem.”
Beberapa karyawan tampak sedikit terkejut. Namun, tidak ada yang berani membantah keputusan Mario. Tasya melangkah mendekati salah satu komputer. Ia melihat layar penuh kode yang berantakan akibat serangan peretasan. Beberapa detik ia hanya mengamati. Sementara itu Mario berdiri di sampingnya.
“Nona Tasya.”
Tasya menoleh, Mario berkata dengan nada lebih tenang,
“Anda tidak perlu khawatir.”
Tasya mengerutkan kening sedikit, Mario melanjutkan,
“Tuan Alex tidak akan menyakiti anak-anak Anda.”
Ia menatap Tasya dengan serius.
“Beliau akan menepati janjinya.”
Beberapa detik Tasya hanya menatap Mario. Ia bisa merasakan bahwa pria ini tidak berbohong. Akhirnya ia mengangguk pelan.
“Baik.”
Tanpa membuang waktu lagi, Tasya langsung duduk di depan komputer. Tangannya mulai bergerak cepat di keyboard. Beberapa staf IT di sekitar bahkan mulai memperhatikan layar yang sedang ia kerjakan.
Baris-baris kode mulai berubah. Sistem yang tadi kacau perlahan mulai tersusun kembali. Sementara itu, ponsel Mario tiba-tiba berdering. Ia melihat layar panggilan.
Mario segera menjawab. “Ya, Tuan.”
Suara Alex terdengar dingin dari seberang telepon.
[Apakah Wanita itu sudah memperbaiki sistemnya?]
Mario melirik ke arah Tasya yang sedang fokus bekerja.
“Dia sedang bekerja sekarang, Tuan.”
Beberapa detik hening di telepon, kemudian Alex berkata lagi,
[Jika sudah selesai…] Suaranya tetap tenang namun tegas.
[Minta dia segera menghubungiku!]
Mario mengangguk meskipun Alex tidak bisa melihatnya.
“Baik, Tuan.”
Alex melanjutkan dengan nada datar,
[Aku akan mengirim anak-anaknya kembali ke rumah sakit.]
Panggilan terputus, Mario menurunkan ponselnya perlahan. Ia menatap Tasya yang masih fokus pada layar komputer. Wanita itu terlihat sangat serius, seolah dunia di sekitarnya menghilang saat ia bekerja.
Dalam hati Mario bergumam pelan, 'Wanita ini … benar-benar tidak sederhana.'
Sementara itu, di lantai paling atas penthouse, Alex baru saja menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya. Tatapannya dingin seperti biasa, beberapa detik ia berdiri di dekat jendela besar penthouse yang menghadap langsung ke seluruh kota. Kemudian ia berbalik dan berjalan menuju salah satu ruangan di dalam penthouse pribadinya.
Di depan pintu itu berdiri dua pengawal berpakaian hitam. Begitu melihat Alex datang, mereka langsung menunduk hormat.
Alex membuka pintu ruangan itu. Pintu terbuka perlahan, di dalam ruangan itu duduk dua anak laki-laki kecil yang wajahnya hampir sama.
Begitu pintu terbuka, Kenzo langsung berdiri.
Tatapannya tajam menatap Alex.
“Kamu ini benar-benar singa hutan yang haus darah, ya!” Nada suaranya penuh kemarahan.
“Bahkan anak kecil juga kamu culik!”
Kenzi yang duduk di sampingnya langsung panik.
“Kak…” dia menarik sedikit lengan kakaknya.
“Jangan begitu.” Kenzi menoleh ke arah Alex dengan wajah cemas. Ia takut kakaknya benar-benar membuat pria itu marah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Alex sama sekali tidak terlihat marah.
Sebaliknya, ia menatap mereka beberapa detik dengan ekspresi datar. Lalu berkata santai,
“Ayo!”
Kenzo mengerutkan kening, Alex melanjutkan,
“Ke ruang makan.”
Ia berjalan masuk ke dalam ruangan.
“Aku akan meminta pelayan menyiapkan cake untuk kalian.”
Begitu mendengar kata cake, mata Kenzi langsung berbinar.
“Cake?”
Suaranya terdengar sangat senang, Kenzi memang sangat menyukai cake. Persis seperti Tasya, tanpa ragu ia langsung berdiri.
“Aku ikut!” Ia berlari kecil mengikuti langkah Alex keluar ruangan.
Kenzo menatap adiknya dengan wajah tidak percaya.
“Kenzi!” Namun, melihat adiknya sudah berjalan bersama Alex, ia langsung berdiri juga. Dengan wajah kesal ia berjalan mengikuti mereka.
Lorong penthouse itu luas dan mewah. Lampu kristal menggantung di langit-langit tinggi. Ketika mereka sampai di ruang makan besar, beberapa pelayan yang ada di sana langsung menunduk hormat.
“Selamat datang, Tuan Alex.”
Kenzo melihat itu lalu mencibir pelan.
“Dasar gila hormat.”
Kenzi langsung berbisik cepat di sampingnya.
“Huss … jangan begitu.” Ia melirik Alex dengan gugup.
“Nanti dia marah.”
Namun, tanpa mereka sadari Alex mendengar semua percakapan kecil itu. Sudut bibirnya sedikit terangkat, sebuah seringai tipis muncul di wajahnya. Entah kenapa dari dua anak itu Alex justru merasa tertarik pada Kenzo yang begitu menantang baginya. Anak kecil keras kepala yang berani memakinya tanpa takut sedikit pun.
Alex berjalan masuk ke ruang makan penthouse yang luas dan elegan itu. Meja makan panjang dari kayu gelap sudah tertata rapi, lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut di seluruh ruangan.
Beberapa pelayan yang sudah menunggu langsung menundukkan kepala.
“Selamat sore, Tuan Alex.” Alex berhenti di dekat meja makan, lalu berkata dengan nada tenang,
“Hidangkan cake yang saya beli tadi.”
Salah satu pelayan segera mengangguk.
“Baik, Tuan.”
Beberapa menit kemudian, seorang pelayan datang membawa sebuah kotak kue besar. Kotak itu dibuka dengan hati-hati di atas meja makan.
Di dalamnya terlihat cake strawberry besar yang dihias dengan krim putih lembut dan potongan stroberi segar di atasnya.
Begitu melihatnya, mata Kenzi langsung berbinar.
“Cake strawberry!”
Wajah kecilnya langsung dipenuhi senyum lebar. Ia bahkan tanpa sadar melangkah lebih dekat ke meja.
“Kak, lihat!”
Kenzo yang berdiri di sampingnya melirik sekilas ke arah kue itu.
“Biasa saja.” Tetapi jelas terlihat Kenzi sangat senang. Ia menoleh ke arah Alex dengan mata berbinar.
“Ini untuk kami?”
Alex bersandar santai di kursinya. Tatapannya tertuju pada ekspresi Kenzi yang polos.
“Bukankah tadi kamu yang ingin cake?”
Kenzi langsung mengangguk cepat.
“Iya!”
Pelayan mulai memotong cake itu menjadi beberapa bagian kecil dan menaruhnya di piring. Begitu piring itu diletakkan di depan Kenzi, anak kecil itu langsung tersenyum bahagia.
“Terima kasih!” Ia langsung mengambil sendok kecil dan mulai mencicipi cake itu.
Begitu krim strawberry masuk ke mulutnya, wajahnya semakin cerah.
“Enak sekali…”
Kenzo yang duduk di kursi sebelahnya hanya melipat tangan di dada sambil menatap Alex dengan waspada.
“Jangan kira aku akan berubah pikiran hanya karena cake.”
Alex menatap anak itu sebentar. Lalu sudut bibirnya kembali terangkat sedikit.
“Tenang saja.” Suaranya tenang, bahkan sedikit mengejek.
“Aku juga tidak tertarik mengubah pikiranmu.”
Kenzo mendengus pelan.
Sementara itu Kenzi masih sibuk menikmati cake-nya dengan senang, sesekali tersenyum puas seperti menemukan harta karun kecil.
Alex memperhatikan mereka dari seberang meja. Tatapannya kembali tertuju pada Kenzo. Anak itu duduk dengan wajah keras kepala, sama sekali tidak terlihat takut berada di hadapannya.
Dan entah kenapa, Alex justru merasa situasi ini menarik.
Di ruang makan penthouse yang luas itu, suasana sempat terasa tenang.
Kenzi masih duduk di kursinya sambil menikmati cake strawberry dengan wajah bahagia. Sementara itu, Alex berdiri sedikit menjauh dari meja makan. Ia sedang memperhatikan layar iPad di tangannya.
Beberapa rekaman CCTV kantor terpampang di sana. Alex sedang mengecek beberapa sudut gedung perusahaan untuk memastikan tidak ada gangguan lain pada sistem keamanan.
Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara sendok kecil Kenzi yang sesekali menyentuh piring. Namun, beberapa menit kemudian Alex mendengar suara napas yang tidak biasa.
“Ugh…”
Ia mengangkat kepalanya sedikit, suara itu terdengar lagi.
“Akh…” Kenzi tiba-tiba memegang dadanya, wajah kecilnya berubah pucat. Napasnya terdengar tersendat. Kenzo yang duduk di sampingnya langsung menoleh.
“Kenzi?”
Namun, detik berikutnya Kenzo langsung berdiri dengan panik.
“Kenzi!”
Kenzi mulai batuk keras, napasnya terdengar semakin sulit. Kenzo menatap piring cake di depan adiknya lalu tiba-tiba berteriak,
“Apa cakenya mengandung keju?!”
Pertanyaan itu membuat Alex langsung tertegun. Ia menurunkan iPad di tangannya.
“Apa?”
Alex menatap Kenzo dengan kening berkerut.
“Ada apa?”
Kenzo menatapnya dengan mata penuh kemarahan.
“Kenzi alergi keju!”
Alex membeku, dia benar-benar tidak menyangka. Karena, dia sendiri juga alergi keju. Itulah alasan mengapa tadi ia tidak ikut memakan cake itu. Ia mengira dua anak itu tidak memiliki masalah. Namun, sekarang Kenzi terlihat semakin kesulitan bernapas.
Kenzo langsung membentak Alex dengan panik.
“Bawa dia ke rumah sakit sekarang!”
Alex mencoba tetap tenang.
“Aku bisa memanggil dokter ke sini.”
Namun Kenzo langsung menolak keras.
“Tidak!”
Matanya merah menahan ketakutan.
“Kita harus ke rumah sakit sekarang sebelum terjadi sesuatu yang lebih parah!”
Ia menunjuk Kenzi yang sudah mulai gemetar. Lalu Kenzo berkata dengan suara yang penuh emosi,
“Kalau Kenzi sampai berhenti bernapas…” Tatapannya menusuk langsung ke arah Alex.
“Aku akan menghancurkan hidupmu!”
Ucapan itu tidak terdengar seperti ancaman anak kecil, nada suaranya terlalu serius. Alex langsung melangkah cepat ke arah Kenzi. Tanpa ragu ia mengangkat tubuh kecil anak itu ke dalam gendongannya.
“Kita pergi sekarang.” Ia menoleh ke arah salah satu pengawal.
“Siapkan mobilnya!” Perintahnya tegas.
“Sekarang!”
Pengawal itu langsung berlari keluar Sementara Kenzo mengikuti di belakang dengan wajah panik. Alex berjalan cepat keluar dari ruang makan, menggendong Kenzi yang napasnya semakin berat.
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal