Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diusir
Sinar matahari terasa membakar kulit Mama Ratih yang biasanya selalu terlindungi AC mobil mewah. Ia berdiri di pinggir trotoar, menjinjing tas tangan kecil yang untungnya luput dari sitaan karena ia sembunyikan di balik punggungnya tadi. Napasnya memburu, wajahnya merah padam antara kepanasan dan amarah yang meledak-ledak.
"Gion! Kamu dengar Mama tidak?!" teriak Mama Ratih sambil menyikut lengan putranya yang masih mematung menatap gerbang rumah mereka yang baru saja tertutup rapat.
Gion tidak bergeming. Tatapannya kosong, persis seperti orang yang baru saja kehilangan jiwanya.
"Ini tidak masuk akal, Gion! Laila itu cuma anak bawang! Dia itu cuma perempuan rumahan yang kerjaannya cuma masak dan dengerin omelan Mama. Bagaimana bisa dia jadi 'Ibu Direktur'? Bagaimana bisa dia kenal Tuan Zayn Malik yang sombong itu?" Mama Ratih terus mengoceh, suaranya melengking menarik perhatian beberapa orang yang lewat.
"Ma, diamlah..." bisik Gion parau.
"Diam bagaimana? Kita diusir! Mama disuruh meninggalkan koper-koper Mama! Itu baju-baju sutra, Gion! Itu barang-barang branded!" Mama Ratih menghentakkan kakinya ke aspal. "Laila pasti pakai pelet! Ya, benar! Dia pasti menggoda Tuan Zayn itu. Mana mungkin pria sekelas Zayn Malik mau menoleh ke perempuan yang seleranya cuma daster pasar kalau bukan karena digoda? Dia sengaja mempermainkan kita, Gion. Dia pura-pura miskin supaya kita kelihatan jahat!"
Gion akhirnya menoleh, menatap ibunya dengan tatapan miris. "Dia tidak pura-pura miskin, Ma. Kita yang membuatnya terlihat miskin. Mama yang melarangnya belanja, dan aku... aku yang tidak pernah memberinya uang karena aku habiskan untuk Sarah."
"Tapi tetap saja! Dia itu penipu!" Mama Ratih tidak mau kalah. "Kalau dia kaya, kenapa dia diam saja saat Mama suruh cuci piring? Kenapa dia diam saja saat Mama suruh bersihkan WC? Dia itu licik, Gion. Dia menikmati melihat kita sekarang mengemis begini!"
Gion tertawa getir. "Dia bukan menikmati, Ma. Dia hanya sedang menunjukkan siapa dia sebenarnya. Dan kita... kita ini cuma butiran debu di depan keluarganya."
Gion mengajak ibunya berteduh di sebuah halte bus yang kusam. Ia merogoh saku celananya, menemukan dompet yang isinya hanya beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Ironis. Seorang pria yang kemarin masih memimpin rapat direksi, kini harus menghitung uang untuk sekadar makan siang di warteg.
Pikirannya kembali pada sosok Zayn Malik. Pria itu bukan sembarang orang. Zayn adalah pewaris tunggal Sinar Pradipta Corporation, raksasa properti yang bahkan perusahaan Gion saja tidak berani menyapa. Bagaimana mungkin Laila, istrinya yang selama lima tahun ini hanya ia anggap sebagai 'pajangan' di rumah, bisa berdiri sejajar dengan Zayn? Bahkan terlihat sangat akrab, seolah mereka sudah berbagi rahasia selama bertahun-tahun.
"Ma, Laila bilang tadi dia anak Tuan Pradipta, kan? Sinar Pradipta?" tanya Gion tiba-tiba.
"Halah, paling itu cuma karangan dia supaya keren di depan Zayn Malik," cibir Mama Ratih sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
"Tidak, Ma. Ingat tidak setiap kali perusahaanku hampir bangkrut, tiba-tiba ada dana masuk dari pihak ketiga yang anonim? Atau saat bank tiba-tiba membatalkan sitaan kantor tahun lalu?" Gion memijat pelipisnya. "Aku selalu berpikir itu keberuntunganku. Tapi sekarang aku sadar... itu tangan Laila. Itu pengaruh Sinar Pradipta."
Gion mengingat betapa seringnya ia memaki Laila karena masakan yang kurang garam atau karena Laila lupa menyetrika kemeja favoritnya. Ia mengingat saat Laila menangis tersedu-sedu di pojok kamar karena Mama Ratih menuduhnya mandul, sementara Gion hanya menonton sambil asyik bertukar pesan mesra dengan Sarah.
"Kesalahanku terlalu besar, Ma," gumam Gion. "Aku tidak hanya mengkhianatinya dengan Sarah, tapi aku menghancurkan harga dirinya setiap hari."
"Sudahlah Gion, berhenti menyalahkan diri sendiri! Sekarang yang penting itu bagaimana cara kita masuk lagi ke rumah itu. Kamu harus cari tahu hubungan Laila dengan Zayn Malik. Kalau perlu, kamu tuntut Laila karena penipuan identitas! Dia kan istrimu, harta dia ya harta kamu juga!"
Gion menatap ibunya dengan tidak percaya. "Ma, kita baru saja diceraikan secara hukum dan diusir secara fisik. Tidak ada lagi 'harta kamu harta aku'. Yang ada sekarang adalah Laila yang berkuasa, dan kita yang tamat."
Rasa penasaran Gion membuncah. Ia tidak bisa tinggal diam. Ia harus tahu bagaimana "Laila-nya" bisa menjadi "Queen-nya" Zayn Malik. Dengan sisa baterai ponselnya, Gion mencoba menghubungi seorang mantan rekan bisnisnya yang dulu sangat memuja Sinar Pradipta.
"Halo, Pak Andi? Ini Gion."
"Oh, Gion? Ada apa? Saya dengar perusahaanmu baru saja dilikuidasi total ya? Wah, cepat sekali beritanya menyebar," suara di seberang terdengar dingin, tidak sehangat biasanya.
"Iya, Pak. Saya cuma mau tanya... Bapak tahu soal putri tunggal Pak Pradipta yang kabarnya menghilang lima tahun lalu?"
"Tentu tahu! Seluruh kalangan pebisnis kelas atas tahu. Namanya Laila Aradhea Pradipta. Kabarnya dia kabur karena ingin menikah dengan pria biasa yang dia cintai di kampus. Pak Pradipta marah besar dan memutus aksesnya, tapi tetap menjaganya dari jauh. Kenapa tanya soal dia?"
Tangan Gion gemetar hebat. "Lalu... apa hubungannya dengan Zayn Malik?"
Pak Andi tertawa kecil. "Zayn itu tunangan yang dijodohkan Pak Pradipta untuk Laila sejak mereka masih kecil. Tuan Pradipta dan Ibu Zayn Malik bersaudara kandung. Zayn sangat mencintai Laila, makanya dia rela menunggu Laila kembali meski Laila memilih pria lain. Kabarnya, Zayn yang selama ini mengawasi 'pria biasa' itu atas perintah Pak Pradipta. Dia menunggu si pria itu berbuat salah supaya dia punya alasan untuk menjemput Laila kembali."
Gion mematikan teleponnya dengan lemas. Ponselnya merosot dari genggaman.
Jadi, selama lima tahun ini, ia hidup di bawah mikroskop seorang Zayn Malik. Setiap kali ia menyakiti Laila, Zayn mencatatnya. Setiap kali ia berselingkuh dengan Sarah, Zayn mengetahuinya. Zayn tidak merobohkan bisnisnya dalam hitungan jam karena sihir; Zayn melakukannya karena dia sudah memegang semua "kartu mati" Gion selama bertahun-tahun, menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan palu godamnya.
"Gion! Kenapa mukamu pucat begitu?" tanya Mama Ratih panik.
"Laila... dia bukan hanya sekadar kaya, Ma," suara Gion nyaris tak terdengar. "Dia adalah ratu yang sedang menyamar, dan kita adalah rakyat jelata yang baru saja mencoba mengkhianati tahtanya. Zayn Malik tidak merebutnya dariku, Ma. Aku yang melemparkan Laila tepat ke pelukan pria yang memang seharusnya memilikinya dari dulu."
Mama Ratih terdiam sejenak, namun egonya masih terlalu tinggi. "Ah, masa bodoh! Pokoknya Mama tidak terima! Mama mau ke kantor Sinar Pradipta sekarang! Mama mau minta ganti rugi atas waktu Mama mendidik Laila jadi menantu!"
"Mama mau ke sana dengan baju lusuh dan keringat begini?" Gion menunjuk penampilan ibunya. "Keamanan di sana akan mengusir Mama bahkan sebelum Mama sampai di lobi. Laila sudah bukan Laila yang bisa Mama perintah untuk bikin kopi lagi."
Gion menatap langit yang mulai mendung, seolah alam pun ikut meratapi kebodohannya. Ia ingin meminta maaf, ia ingin bersimpuh di kaki Laila sekali lagi, tapi ia tahu... pintu itu sudah tertutup rapat. Bahkan mungkin, ia sudah dianggap mati dalam memori Laila.
"Ayo Ma, kita pergi dari sini," ajak Gion lemas.
"Ke mana?!"
"Ke mana saja. Ke tempat di mana tidak ada yang kenal Gion Wijaya yang malang."
Di kejauhan, ia melihat mobil Rolls-Royce tadi melintas lagi. Dari balik kaca film yang gelap, Gion seolah bisa merasakan tatapan kemenangan Laila. Laila tidak perlu mengotori tangannya untuk membalas dendam; melihat Gion hancur karena pilihannya sendiri sudah cukup menjadi hukuman yang paling menyiksa.