"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berharap 26
Tuk tuk tuk
"Kenapa ih si Bos dari tadi tak tuk tak tuk ngetukin meja. Apa yang sekarang mengganggu pikiran Anda wahai Tuan saya yang terhormat."
Beni benar-benar cari masalah. Bisa-bisanya dia menganggu Adyaksa yang tengah serius berpikir.
Namun ini bukan kali pertama Beni melakukan hal tersebut. Terkadang jiwa isengnya memang keluar. Meski tak jarang akhirnya ia mendapat pekerjaan yang berar. Tapi tetap saja Beni akan melakukannya lagi.
"Brisik kamu, Ben. Ganggu konsentrasi ku tahu nggak. Ah iya, kira-kira siapa ya yang nyebarin foto-foto ini. Kalau Arun sih kayaknya nggak mungkin. Bener, tugas kamu sekarang cari tahu orang dibalik semua foto dan video ini. Jangan lupa cari juga apa alasannya dia melakukan itu."
Ya?
Beni sontak langsung terkejut dengan perintah tiba-tiba dari sang bos. Bos nya ini memang ajaib. Tak ada angin tak ada hujan seketika bisa memberi perintah yang tidak ada dalam job desk miliknya.
"Sekarang banget nih?" tanya Beni, dia masih berusaha untuk negosiasi rupanya.
"Waktumu setengah jam. Kalau dalam waktu setengah jam nggak ada hasil, maka kamu akan ku kirim ke ujung pulau Kalimantan yang sekarang sedang ada pembangunan di sana. Kamu bakalan jadi pengawas yang ngawasi proyek itu."
APA??
Sekarang tanpa bertanya lagi, Beni langsung pergi. Dia tahu bahwa ucapan Adyaksa bukan hanya main-main belaka. Tuannya itu sangat serius dengan apa yang diucapkannya.
"Dasar, diacem dulu baru gerak,"gerutu Adyaksa.
Dia kembali fokus dengan ponselnya dimana ia melihat foto dan video tentang Heri dan Jelita yang menyebar dengan cepat. Lalu Adyaksa kembali dikejutkan saat melihat video terbaru yang ia yakini itu adalah Jelita dan Arundari.
Meski wajah mereka di blur akan tetapi Adyaksa yakin bahwa itu adalah mereka. Terlebih isi pembicaraan yang terekam juga.
Video yang diunggah belum ada satu jam itu sudah mendapat banyak respon. Terlebih komentar yang memenuhi kolom komentar, semua kebanyakan menghujat si pelakor. Dan seperti Adyaksa, meski wajah kedua wanita dalam video itu diblur, namun netizen tahu siapa mereka.
"Bener-bener panas. Seru ini, layak dijadikan tontonan. Wanita itu emang harus dapat sanksi sosial yang kejam pun dengan si prianya. Haaah, kawal aja dulu. Baik Jelita maupun Heri masih aman dan nggak ganggu Arundari yang sampai gimana-gimana. Kalau mereka bergerak melebihi itu, barulah waktunya turun tangan. Tapi, kenapa aku jadi tertarik banget sih sama urusan orang?"
Agaknya Adyaksa merasa heran dengan dirinya sendiri. Dia yang selama ini selalu bersikap acuh tak acuh terhadap orang lain, seketika menjadi lebih perhatian dan bahkan selalu penasaran dengan satu orang itu.
Haaah
Pria tersebut mengusap wajahnya kasar. Dia meletakkan ponselnya dalam kondisi terbalik lalu melanjutkan pekerjaannya.
Ya Adyaksa mencoba untuk tidak memikirkan apa yang sejak tadi dipikirkannya. Seumur-umur dia tidak pernah tertarik oleh suatu hal dan baru kali ini pria tersebut merasa tertarik bahkan penasaran terhadap seseorang.
"Aku beneran udah gila kayaknya,"ucapnya lirih. Bukan tanpa alasan Adyaksa berkata demikian. Setelah mengingat-ingat bahwa dia sampai mengirim Mirza dan Anton kepada Arundari, itu sungguh cukup membuatnya untuk menyebut dirinya sendiri gila.
Apalagi Adyaksa selalu meminta dua orang itu memberikan laporan atas pekerjaan mereka.
"Ah tak tahu lah. Kerja aja,"ucapnya lagi.
Adyaksa yang merasa bingung dengan dirinya sendiri segera menyibukkan dengan pekerjaan. Hanya dalam hitungan detik, pria tersebut sudah larut dengan pekerjaan yang menumpuk di mejanya.
Tanpa sadar, jam pun bergerak dengan cepat. Bahkan tenggang waktu yang ia berikan kepada Beni pun terlupakan.
Adyaksa baru ingat dia memberi tugas kepada Beni saat asistennya itu masuk ke dalam ruangannya.
"Woah Ben, udah selesai tugas yang kuberikan?" tanya Adyaksa saat Beni masuk ke dalam ruangannya. Tapi tak lama kemudian alis pria itu berkerut ketika melihat apa yang dibawa oleh Beni.
"Apa itu?" tanyanya.
"Maksi Bos. Makan siang,"jawab Beni sembari tersenyum lebar.
"Lah, kan aku nyuruh kamu buat nyari orang yang upload video dan foto itu. Kok malah nyari makanan sih. Kerjain dulu tugas mu, Ben!" ucap Adyakasa dengan sedikit nada tinggi. Wajahnya seketika mengeras karena sedikit kesal.
Sedangkan Beni, asisten pribadi dari Adyaksa itu bukannya takut malah senyum-senyum tidak jelas. Yang mana membuat Adyaksa semakin kesal.
"Kamu beneran mau aku kirim ke luar pulau ya, Ben,"ancam Adyaksa dengan wajah yang sangat serius.
"Eiiii jangan marah dulu napa Pak Bos. Nanti you punya wajah handsome jadi hilang tau tak. Ini beneran nih nggak mau makan siang dulu. Padahal kayaknya makanannya enak lho."
Ucapan Beni entah mengapa terasa seperti meledek Adyaksa. Dan itu cukup mengganggu pria tersebut.
"Ck, singkirin. Dan cepet kerjain apa yang jadi tugas kamu, Ben. Jangan sampai aku bilang untuk yang ketiga kalinya,"ucap Adyaksa dingin.
Kali ini Beni menciut. Dia pun menyerah dan tak ingin menggoda sang tuan lagi.
Beni berjalan mendekat lalu meletakkan paper bag yang ia bawa di atas meja tuannya.
"Udah aku bilang singkirin itu. Kamu bener-bener nggak dengerin aku ya!"
"Yakin mau disingkirin. Ini makanan yang dikirim dari Nyonya Arundari lho. tadi satpam lobi nganterin ini ke ruangan saya, katanya ada ojek online yang nganter ini makanan. Dan ojek itu bilang nama customernya adalah Arundari."
Hah?
Beni bicara dengan tersenyum. Tapi matanya jelas sekali tengah meledek Adyaksa, terlebih dia mengerling sepeti itu.
Sedangkan Adyaksa seketika terpaku. Wajahnya nampak bingung. Ia pun dengan cepat membuka paper bag yang diletakkan oleh Beni. Di dalamnya ada sebuah catatan.
Assalamualaikuam Mas Adysaksa.
terimakasih untuk semua bantuannya. Dan mohon diterima, sebuah masakan sederhana.
Semoga suka.
Wassalam
Arundari
Degh!
Dada Adyaksa berdebar tiba-tiba saat membaca catatan kecil itu. Beni rupanya tidak bohong bahwa makanan itu dari Arundari.
Tanpa disadari olehnya sendiri, kedua sudut bibirnya tertarik sehingga membuat sebuah lengkungan senyum.
"Ekhem, jadi mau disingkirin nggak nih. Dari pada disingkirin, mending aku makan aja sih bos.
"Keluar!"
Beni terkekeh kecil. Dengan cepat dia pun melenggang pergi meninggalkan sang tuan yang tengah tersenyum sendirian.
"Kayaknya dugaanku bener. Bos tertarik dengan wanita itu. Bagiku nggak masalah sih, malah bagus. Akhirnya pria dingin dan kaku itu bisa sedikit lumer," gumam Beni lirih.
Jika Adyaksa memiliki pendamping, Beni menganggap bahwa itu sebuah keajaiban. Selama ini Beni selalu melihat tuannya sendirian. Meski terlihat kuat, tapi sebenarnya Adyaksa cukup rapuh.
Dan menurut Beni, tuannya itu memang membutuhkan kasih sayang yang tulus dari orang lain. Bukan karena melihat kekayaan dan juga pamornya. Cinta yang hanya melihat kepribadiannya.
TBC
Ada maksud tersembunyi nih dari Adyaksa😄
Apakah Anis nanti nya akan berjodoh sama Beni yaa..? hhmmm... 🤣🤣