"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Tahun 2012
Bau rumput basah setelah hujan sore itu bercampur dengan aroma keringat di pinggir lapangan bola SMA-ku. Riuh sorak-sorai siswi lain seolah menjadi latar belakang suara yang tak kupedulikan. Mataku hanya terkunci pada satu titik: laki-laki dengan jersey nomor punggung sepuluh yang sedang menggiring bola dengan lincah.
Guntur. Namanya sekuat getarannya di hatiku, tapi kepribadiannya jauh lebih tenang—bahkan terlalu tenang hingga terasa dingin.
"Ganteng banget ya, Fis? Si Guntur kalau lagi dribbling bola gitu karismanya keluar banget," celetuk Kaila, sepupuku, yang duduk di sebelahku sambil sesekali melambaikan tangan ke arah lapangan.
Aku hanya mengangguk pelan, tak berani bersuara karena takut degup jantungku terdengar. Di lapangan itu, Guntur tidak sendiri. Ada pacar Kaila yang juga sedang bermain bersama Alif—teman dekat Guntur sekaligus jembatan informasiku selama ini.
"Tapi lo tahu sendiri kan, Na? Dia itu kutub utara berjalan. Gue aja yang sering kumpul bareng pacar gue dan temen-temennya, jarang banget denger dia ngomong lebih dari dua kalimat," lanjut Kaila lagi, nada bicaranya berubah menjadi peringatan.
Aku menghela napas. Aku tahu. Sangat tahu. Selama berminggu-minggu aku mencoba mencari celah untuk masuk ke dunianya. Lewat Kaila, lewat pacarnya, hingga lewat Alif. Tapi Guntur seperti benteng yang tak punya pintu. Dia hanya bicara seperlunya, menatap seadanya, dan bersikap seolah-olah seluruh dunia ini adalah gangguan bagi ketenangannya.
"Lo yakin masih mau maju? Gue denger dari pacar gue, Guntur itu orangnya kaku banget kalau urusan cewek. Jangan-jangan nanti lo malah dikacangin," Kaila menatapku sangsi.
"Es batu sesulit apa pun pasti bisa cair kalau kena api, Kai," jawabku pelan, mencoba menyemangati diriku sendiri yang sebenarnya juga ragu.
Tepat saat itu, peluit panjang dibunyikan. Pertandingan berakhir. Guntur berjalan ke pinggir lapangan sambil menyeka keringat dengan ujung jerseynya. Rambutnya yang basah dan napasnya yang terengah membuat jantungku kembali berulah.
"Tur! Sini!" panggil pacar Kaila dengan keras.
Guntur menoleh, lalu melangkah ke arah kami. Jantungku serasa ingin melompat keluar. Ini dia. Momen yang kupersiapkan dengan ribuan skenario di kepala. Dia berdiri tepat beberapa langkah di depanku, meneguk air mineral tanpa ekspresi, seolah keberadaanku di sana tak lebih dari sekadar angin lalu.
"Tur, kenalin. Ini sepupu Kaila, yang tempo hari nanyain lo," ujar Alif sambil menyenggol bahu Guntur dengan maksud bercanda.
Waktu seakan berhenti. Guntur menurunkan botol minumnya, matanya yang tajam dan sedingin es itu kini menatap lurus ke mataku. Tidak ada senyum, tidak ada binar ramah.
"Guntur," ucapnya singkat. Hanya satu kata, datar, tanpa mengulurkan tangan.
Aku membeku. Suaranya rendah, namun sanggup menciptakan gema di kepalaku. Itulah pertama kalinya aku mendengar suaranya secara langsung, dan itulah awal dari labirin rasa sakit yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
"Aff___afisa " ucapku gugup
Guntur tidak membalas. Dia hanya mengangguk sekali—begitu singkat hingga aku ragu apakah itu sebuah sapaan atau sekadar refleks mekanis. Ia kemudian beralih ke Alif, membicarakan strategi permainan yang baru saja usai, seolah-olah kehadiranku yang baru saja memperkenalkan diri dengan gugup itu sudah terhapus dari memorinya dalam hitungan detik.
"Gue balik duluan," katanya kemudian. Tanpa pamit pada Kaila, tanpa menoleh lagi padaku. Ia menyampirkan handuk kecil di lehernya dan berjalan menjauh menuju ruang ganti. Punggungnya yang tegap dengan jersey nomor sepuluh itu perlahan mengecil, meninggalkan aku yang masih mematung dengan jantung yang berpacu tidak keruan.
Kaila menyenggol lenganku, membuyarkan lamunanku. "Tuh, kan? Apa gue bilang. Ngomong sama dia itu kayak ngomong sama kulkas. Dinginnya bikin merinding."
"Atau mungkin dia cuma capek?" aku mencoba membela diri, meski hatiku sendiri mencelos.
"Capek apa kaku? Udah ah, yuk cabut! Alif sama pacar gue mau langsung ke parkiran," ajak Kaila sambil menarik lenganku.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Bayangan sorot mata Guntur yang tajam namun kosong itu terus menghantuiku. Ada rasa penasaran yang membuncah, rasa ingin tahu yang besar tentang apa yang sebenarnya ada di balik tembok es itu. Dengan tangan gemetar, aku membuka aplikasi chatting di ponselku. Aku sudah mendapatkan nomornya dari Alif beberapa hari lalu, tapi baru malam ini aku punya keberanian—atau mungkin kegilaan—untuk menyapanya.
“Kak Guntur, ini Afisa yang tadi di lapangan.”
Aku melempar ponselku ke kasur, menutup wajah dengan bantal, dan merutuki kebodohanku. Dia pasti tidak akan membalas. Seorang Guntur yang kaku mana mungkin menanggapi chat dari adik kelas yang bahkan tidak dia lirik tadi sore.
Sepuluh menit berlalu. Setengah jam. Aku hampir menyerah dan memutuskan untuk tidur ketika ponselku bergetar. Satu notifikasi baru.
Guntur: “Ya. Ada apa?”
Jantungku serasa berhenti berdetak. Itu dia. Hanya tiga kata, tapi di mataku, itu adalah sebuah undangan masuk ke dalam dunianya yang tertutup. Aku tidak menyangka bahwa dari pesan singkat itulah, labirin emosi ini benar-benar dimulai. Di balik layar, Guntur bukan lagi laki-laki kaku yang kulihat di lapangan.
Dia mulai bertanya tentang sekolah, tentang kesibukanku, bahkan sesekali melemparkan lelucon kering yang anehnya sanggup membuatku tersenyum sendirian di kamar. Kami bicara banyak, sangat banyak, hingga waktu menunjukkan pukul dua pagi.
"Ternyata es batu ini bisa bicara juga ya kalau nggak saling tatap," batinku sambil tersenyum lebar, tidak menyadari bahwa kehangatannya di dunia maya hanyalah sebuah jebakan manis yang akan membuat kedinginannya di dunia nyata terasa sepuluh kali lebih menyakitkan.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2