NovelToon NovelToon
Tentang Dinginmu Dan Luka Yang Tak Bertepi

Tentang Dinginmu Dan Luka Yang Tak Bertepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Romantis / Selingkuh
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."

Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.

Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Tahun 2012

Bau rumput basah setelah hujan sore itu bercampur dengan aroma keringat di pinggir lapangan bola SMA-ku. Riuh sorak-sorai siswi lain seolah menjadi latar belakang suara yang tak kupedulikan. Mataku hanya terkunci pada satu titik: laki-laki dengan jersey nomor punggung sepuluh yang sedang menggiring bola dengan lincah.

Guntur. Namanya sekuat getarannya di hatiku, tapi kepribadiannya jauh lebih tenang—bahkan terlalu tenang hingga terasa dingin.

"Ganteng banget ya, Fis? Si Guntur kalau lagi dribbling bola gitu karismanya keluar banget," celetuk Kaila, sepupuku, yang duduk di sebelahku sambil sesekali melambaikan tangan ke arah lapangan.

Aku hanya mengangguk pelan, tak berani bersuara karena takut degup jantungku terdengar. Di lapangan itu, Guntur tidak sendiri. Ada pacar Kaila yang juga sedang bermain bersama Alif—teman dekat Guntur sekaligus jembatan informasiku selama ini.

"Tapi lo tahu sendiri kan, Na? Dia itu kutub utara berjalan. Gue aja yang sering kumpul bareng pacar gue dan temen-temennya, jarang banget denger dia ngomong lebih dari dua kalimat," lanjut Kaila lagi, nada bicaranya berubah menjadi peringatan.

Aku menghela napas. Aku tahu. Sangat tahu. Selama berminggu-minggu aku mencoba mencari celah untuk masuk ke dunianya. Lewat Kaila, lewat pacarnya, hingga lewat Alif. Tapi Guntur seperti benteng yang tak punya pintu. Dia hanya bicara seperlunya, menatap seadanya, dan bersikap seolah-olah seluruh dunia ini adalah gangguan bagi ketenangannya.

"Lo yakin masih mau maju? Gue denger dari pacar gue, Guntur itu orangnya kaku banget kalau urusan cewek. Jangan-jangan nanti lo malah dikacangin," Kaila menatapku sangsi.

"Es batu sesulit apa pun pasti bisa cair kalau kena api, Kai," jawabku pelan, mencoba menyemangati diriku sendiri yang sebenarnya juga ragu.

Tepat saat itu, peluit panjang dibunyikan. Pertandingan berakhir. Guntur berjalan ke pinggir lapangan sambil menyeka keringat dengan ujung jerseynya. Rambutnya yang basah dan napasnya yang terengah membuat jantungku kembali berulah.

"Tur! Sini!" panggil pacar Kaila dengan keras.

Guntur menoleh, lalu melangkah ke arah kami. Jantungku serasa ingin melompat keluar. Ini dia. Momen yang kupersiapkan dengan ribuan skenario di kepala. Dia berdiri tepat beberapa langkah di depanku, meneguk air mineral tanpa ekspresi, seolah keberadaanku di sana tak lebih dari sekadar angin lalu.

"Tur, kenalin. Ini sepupu Kaila, yang tempo hari nanyain lo," ujar Alif sambil menyenggol bahu Guntur dengan maksud bercanda.

Waktu seakan berhenti. Guntur menurunkan botol minumnya, matanya yang tajam dan sedingin es itu kini menatap lurus ke mataku. Tidak ada senyum, tidak ada binar ramah.

"Guntur," ucapnya singkat. Hanya satu kata, datar, tanpa mengulurkan tangan.

Aku membeku. Suaranya rendah, namun sanggup menciptakan gema di kepalaku. Itulah pertama kalinya aku mendengar suaranya secara langsung, dan itulah awal dari labirin rasa sakit yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

"Aff___afisa " ucapku gugup

Guntur tidak membalas. Dia hanya mengangguk sekali—begitu singkat hingga aku ragu apakah itu sebuah sapaan atau sekadar refleks mekanis. Ia kemudian beralih ke Alif, membicarakan strategi permainan yang baru saja usai, seolah-olah kehadiranku yang baru saja memperkenalkan diri dengan gugup itu sudah terhapus dari memorinya dalam hitungan detik.

"Gue balik duluan," katanya kemudian. Tanpa pamit pada Kaila, tanpa menoleh lagi padaku. Ia menyampirkan handuk kecil di lehernya dan berjalan menjauh menuju ruang ganti. Punggungnya yang tegap dengan jersey nomor sepuluh itu perlahan mengecil, meninggalkan aku yang masih mematung dengan jantung yang berpacu tidak keruan.

Kaila menyenggol lenganku, membuyarkan lamunanku. "Tuh, kan? Apa gue bilang. Ngomong sama dia itu kayak ngomong sama kulkas. Dinginnya bikin merinding."

"Atau mungkin dia cuma capek?" aku mencoba membela diri, meski hatiku sendiri mencelos.

"Capek apa kaku? Udah ah, yuk cabut! Alif sama pacar gue mau langsung ke parkiran," ajak Kaila sambil menarik lenganku.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Bayangan sorot mata Guntur yang tajam namun kosong itu terus menghantuiku. Ada rasa penasaran yang membuncah, rasa ingin tahu yang besar tentang apa yang sebenarnya ada di balik tembok es itu. Dengan tangan gemetar, aku membuka aplikasi chatting di ponselku. Aku sudah mendapatkan nomornya dari Alif beberapa hari lalu, tapi baru malam ini aku punya keberanian—atau mungkin kegilaan—untuk menyapanya.

“Kak Guntur, ini Afisa yang tadi di lapangan.”

Aku melempar ponselku ke kasur, menutup wajah dengan bantal, dan merutuki kebodohanku. Dia pasti tidak akan membalas. Seorang Guntur yang kaku mana mungkin menanggapi chat dari adik kelas yang bahkan tidak dia lirik tadi sore.

Sepuluh menit berlalu. Setengah jam. Aku hampir menyerah dan memutuskan untuk tidur ketika ponselku bergetar. Satu notifikasi baru.

Guntur: “Ya. Ada apa?”

Jantungku serasa berhenti berdetak. Itu dia. Hanya tiga kata, tapi di mataku, itu adalah sebuah undangan masuk ke dalam dunianya yang tertutup. Aku tidak menyangka bahwa dari pesan singkat itulah, labirin emosi ini benar-benar dimulai. Di balik layar, Guntur bukan lagi laki-laki kaku yang kulihat di lapangan.

Dia mulai bertanya tentang sekolah, tentang kesibukanku, bahkan sesekali melemparkan lelucon kering yang anehnya sanggup membuatku tersenyum sendirian di kamar. Kami bicara banyak, sangat banyak, hingga waktu menunjukkan pukul dua pagi.

"Ternyata es batu ini bisa bicara juga ya kalau nggak saling tatap," batinku sambil tersenyum lebar, tidak menyadari bahwa kehangatannya di dunia maya hanyalah sebuah jebakan manis yang akan membuat kedinginannya di dunia nyata terasa sepuluh kali lebih menyakitkan.

1
Aidil Kenzie Zie
tor jangan bikin mutar-mutar lagi ceritanya
Aidil Kenzie Zie
mantapkan hatimu Fis
byyyycaaaa
labil banget kan...,dia semuanya di pikiran bukannya nyoba buka hati ,di deketin semua cowok dia welcome banget 😭🙏
Aidil Kenzie Zie
Afisa Afisa🤔🤔🤔
Rea
nah gitu fis, jangan cengeng, semangat meraih masdep, jodoh gak usah dipikirin nanti datang sendiri
byyyycaaaa: iya kan kak,sapa tahu jodohnya sama oppa'' Korea 🤭😭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
semuanya berebut mau jadi pasangan Afisa
byyyycaaaa: nggak ada yang bisa gantiin posisi guntur 🤭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
bisa jadi yang dikatakan Radit bener tentang Arkan Fis
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
bikin temen Afisa yang dulu nyesal termasuk fita. trus Afisa jdian sama bintang
byyyycaaaa: jadi pengacara hebat dulu ,soal jodoh mau kayak in hyuk🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kemana aja lo selama ini Gun jangan ganggu Afisa lagi
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
Aidil Kenzie Zie
Radit jangan bawa-bawa masa lalu lagi
Aidil Kenzie Zie
si Arkan gercep juga
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
kpn blikan sama bintang
byyyycaaaa: nunggu Bintang jadi dokter di jakarta, tapi si Arkan oke juga kak! 🤭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Guntur mulai muncul kemana aja dari maren?? nggak usah gangguin Afis lagi
Aidil Kenzie Zie
semangat Fis jangan sampai goyah hanya karena notif dari Kaila
Aidil Kenzie Zie
apa temannya si Guntur nggak ada bahas Afis lagi apa gimana
Rea
heran aku sama afisa, kayake tipe pemikir dan baperan, hidup dibuat santai jangan terlalu memikirkan sikap orang lain, bisa masuk RSJ nanti🤭
mbuh
skip
muak Ama afis🤣
byyyycaaaa: si afisa mau guntur 🤣🙏
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Guntur cari penyakit sendiri dia nggak PD berdiri di samping Afisa
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
Aidil Kenzie Zie
kok si Fita bisa tau y🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
temannya kok pada ngrasa nggak punya salah sama sekali ke Afisa
main gabung aja orang lagi asik b2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!