NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan dalam Gerak

​Gedung Opera Sydney berdiri megah dengan arsitektur cangkang putihnya yang ikonik, menantang langit biru Australia yang cerah. Namun, bagi Laras, kemegahan luar gedung itu berbanding terbalik dengan sesaknya atmosfer di dalam ruang latihan utama. Ruangan itu luas, berdinding cermin setinggi langit-langit, dan memiliki lantai kayu sprung yang sempurna untuk menari. Namun, di setiap sudut pintu keluar, dua pria berjas hitam berdiri seperti arca, sementara Amy duduk di kursi lipat tepat di samping tas latihan Laras, matanya tak pernah lepas dari setiap tarikan napas sang penari.

​Laras sedang melakukan pemanasan saat pintu besar ruangan itu terbuka. Julian, sang kurator internasional yang memiliki reputasi tajam dan selera seni yang tinggi, melangkah masuk. Ia mengenakan syal kasmir abu-abu dan membawa buku catatan kecil. Langkahnya terhenti sejenak saat matanya menyapu barisan pengawal yang menjaga ruangan itu.

​Julian mengerutkan kening, tampak terganggu namun mencoba tetap profesional. Ia berjalan menghampiri Laras yang baru saja menyelesaikan satu putaran pirouette.

​"Laras," sapa Julian dengan aksen Inggrisnya yang kental. "Senang melihatmu sudah mulai beradaptasi. Tapi aku harus bertanya... apakah semua 'pasukan' ini benar-benar diperlukan untuk sebuah sesi latihan teknis?"

​Laras menyeka keringat di lehernya, matanya sempat melirik ke arah Amy yang kini sudah berdiri tegak. "Ini prosedur keamanan dari tunangan saya, Julian. Saya harap ini tidak mengganggu jalannya latihan."

​Julian menatap Amy sejenak, lalu kembali pada Laras. Sebagai pria yang telah berpuluh-puluh tahun berkecimpung di dunia seni, ia bisa mencium aroma penindasan di balik kemewahan. Ia melihat cara Laras melirik pengawalnya sebelum menjawab—sebuah gestur ketakutan yang disamarkan sebagai kepatuhan.

​"Seni membutuhkan kebebasan, Laras. Jika jiwamu terkurung oleh mata-mata berjas ini, bagaimana kamu bisa membawakan tarian 'Cakrawala' yang seharusnya melambangkan lepasnya belenggu?" Julian bicara dengan nada provokatif yang disengaja.

​"Tuan Julian," Amy menyela dengan suara datar namun tajam. "Tugas kami adalah memastikan Nona Laras aman. Silakan lanjutkan instruksi latihan Anda tanpa perlu mencampuri urusan keamanan kami."

​Julian mengangkat alisnya, memberikan senyum tipis yang meremehkan pada Amy. "Tentu saja. Mari kita mulai."

​***

​Latihan dimulai dengan intensitas tinggi. Julian meminta Laras melakukan rangkaian gerakan yang sangat emosional. Musik piano yang mendayu memenuhi ruangan. Julian berkali-kali mendekat untuk memperbaiki posisi tangan atau kaki Laras, namun setiap kali jarak Julian kurang dari satu meter, Amy akan berdeham atau melangkah satu langkah lebih maju.

​Julian menyadari bahwa ia sedang diawasi dengan ketat. Ia tahu bahwa setiap kata yang ia ucapkan kemungkinan besar akan dilaporkan kepada Elang di Jakarta. Maka, ia menggunakan cara lain.

​"Laras, perhatikan transisi dari gerakan arabesque ke floor work ini," ucap Julian sambil menunjukkan gerakan dengan tangannya. "Kamu harus merasa seolah-olah sedang mencari jalan keluar dari kabut. Fokuskan matamu pada satu titik di luar jendela itu."

​Julian memberikan koreksi fisik pada posisi telapak tangan Laras. Saat ia memegang jemari Laras untuk membetulkan sudutnya, ia merasakan tangan wanita itu gemetar. Julian menatap mata Laras dalam-dalam, mencoba mencari sisa-sisa jiwa pejuang yang ia lihat saat pementasan pertama di Jakarta.

​Saat Amy sedikit teralih karena sebuah pesan masuk di perangkat komunikasinya, Julian bergerak cepat. Ia mengambil selembar kertas kecil yang sudah ia lipat sangat tipis dari saku syalnya. Saat ia membetulkan posisi selendang yang melingkar di pinggang Laras, ia menyelipkan kertas itu ke dalam lipatan kain sutra tersebut dengan gerakan pesulap yang sangat rapi.

​Laras merasakannya. Sentuhan kertas yang kaku di balik kain lembut selendangnya mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuhnya. Ia nyaris kehilangan keseimbangan, namun Julian segera menahan sikunya.

​"Tetap fokus, Laras. Jangan biarkan lingkungan sekitarmu memecah konsentrasimu," bisik Julian, suaranya mengandung makna ganda yang hanya bisa dimengerti oleh Laras.

​Laras mengangguk pelan, jantungnya berdegup kencang hingga ia takut Amy bisa mendengarnya melalui keheningan ruangan itu. Ia melanjutkan tariannya, namun pikirannya kini terbagi. Ada sebuah pesan rahasia di pinggangnya, dan ia tidak tahu kapan ia punya kesempatan untuk membacanya tanpa sepengetahuan Amy.

​***

​Setelah tiga jam latihan yang menguras tenaga, Julian berpamitan. "Sampai jumpa besok, Laras. Ingat, tarian ini milikmu, bukan milik penontonmu. Apalagi milik penjagamu."

​Julian melirik Amy terakhir kali sebelum melangkah keluar dengan gaya angkuhnya.

​"Nona Laras, mari kembali ke apartemen. Anda harus istirahat," ajak Amy sambil menyodorkan handuk.

​"Aku... aku ingin ke kamar mandi sebentar, Amy. Tolong tunggu di luar," ucap Laras, mencoba bersikap senormal mungkin.

​"Saya akan ikut masuk dan menunggu di area wastafel," sahut Amy tanpa kompromi.

​Laras merasa ingin berteriak. Benar-benar tidak ada privasi, bahkan untuk sekadar ke kamar mandi. Di dalam area wastafel yang mewah itu, Amy berdiri mematung di depan cermin besar, sementara Laras masuk ke dalam bilik toilet dan mengunci pintunya.

​Dengan tangan gemetar, Laras merogoh lipatan selendangnya. Ia menarik kertas kecil itu dan membukanya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara gemerisik yang mencurigakan.

​Pesan itu ditulis dengan tangan, singkat dan padat:

​"Aku tahu kamu tidak baik-baik saja. Julian melihat sangkarnya, tapi dunia ingin melihat sayapmu. Jika kamu ingin bicara tanpa penyadap, pergilah ke kafe di lantai dasar Opera House pukul 8 pagi besok sebelum latihan dimulai. Aku akan mengatur agar pengawalmu tidak bisa masuk ke area privat staf. Ini kesempatanmu untuk tetap menjadi seniman, bukan sekadar properti."

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!