NovelToon NovelToon
Sugar Duda Terjerat Cinta

Sugar Duda Terjerat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Balas Dendam / Penyesalan Keluarga
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang anak kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, anak itu merupakan anak kesayangan seorang duda bangsawan.

Sebelumnya, Jenna selalu tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.

Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.

Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.

Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seorang Anak

Lima tahun kemudian.

Di bar Dalton, di koridor lantai paling atas yang sepi.

Sepanjang malam Jenna minum bersama beberapa investor. Kepalanya terasa seperti akan pecah. Ia ingin mencari tempat yang bersih dan tenang untuk menyadarkan diri, tetapi ia tidak menyangka Luna akan mengikutinya.

Ia hanya bisa memaksakan diri menegakkan tubuh dan menghadapinya. “Kak Luna, ada yang mau kamu omongin?”

“Jenna, aku mau nanya. Kamu daftar audisi buat peran utama wanita di FTV Idols, ya?”

“Iya. Kenapa?”

“Besok kamu gak boleh datang!”

Walaupun Luna adalah manajernya, wanita itu justru melarangnya mengikuti audisi untuk peran yang sedang diperebutkan hampir semua perusahaan hiburan besar.

Jenna sama sekali tidak terkejut. Ia hanya mengangkat alis. “Alasannya?”

“Kamu berani-beraninya bertindak di belakang aku, terus masih nanya alasan? kamu gak tahu perusahaan udah ngatur Maoy buat audisi?”

“Sepertinya itu gak bentrok sama rencana perusahaan.” Jenna tersenyum tipis. “Maoy yang nyuruh kamu datang cari aku? Masa dia takut sama aku, aktris kecil yang bahkan gak dikenal orang, bakal rebut perannya?”

“Kamu pikir kamu punya kemampuan buat ngerebut peran Maoy? Ngigau, ya!” Luna mencibir. “Aku kasih tahu, jangan buang-buang tenaga. Keluarga Adiputra udah investasi 70 miliar buat film ini. Maoy udah duduk aman di posisi itu!”

“Kalau begitu, kenapa kamu kelihatan panik?”

“Karena kamu artis di bawah naungan aku! Jadi kamu harus nurut sama aturan aku!” kata Luna seolah itu hal yang paling wajar.

Jenna terkekeh pelan. “Wah, ternyata Kak Luna masih ingat aku artis kamu.”

“Jenna, aku gak punya waktu buat debat sama kamu. Kalau kamu tetap gak mau nurut, jangan salahin aku kalau aku pakai cara kasar.”

Begitu selesai berbicara, Jenna merasakan dorongan keras dari belakang. Tanpa sempat bersiap, tubuhnya terhuyung dan terdorong masuk ke gudang di sudut koridor. HPnya juga dirampas.

Brak.

Pintu ditutup keras dari luar.

Langkah kaki di luar perlahan menjauh.

Jenna tahu percuma berteriak. Ia tetap diam. Bersandar di pintu, ia perlahan meluncur turun hingga duduk di lantai dengan wajah datar.

Saat pertama masuk perusahaan itu, Maoy masih cukup menahan diri. Paling-paling hanya menyuruh Luna memberinya peran-peran kecil sebagai tokoh jahat.

Namun belakangan wanita itu semakin berani dan semakin keterlaluan. Sampai-sampai memakai cara murahan seperti ini.

Kalau kali ini ia gagal mendapatkan peran itu, ia harus mencari cara untuk keluar dari Royal Entertainment.

Di tengah pikirannya yang berantakan, terdengar suara kecil.

Apa ada tikus?

Jenna mengikuti arah suara itu. Lalu ia terpaku.

Di balik tumpukan kotak, ada seorang anak kecil. Bocah itu tampak berusia sekitar empat atau lima tahun. Wajahnya halus seperti ukiran batu giok, putih lembut seperti bakpau mini.

Ia sedang bersembunyi di sudut ruangan, tubuhnya gemetar. Mata hitamnya penuh kewaspadaan dan ketakutan.

Eh?

Kenapa ada anak kecil di gudang bar?

Masa ada tamu gila yang bawa anak ke bar?

“Hei, bakpau kecil, kamu siapa? Gimana kamu bisa masuk ke sini?”

“Kamu nyelonong masuk?”

“Atau kamu juga dikurung orang?”

“kamu mau permen?”

Jenna bertanya berkali-kali, tetapi anak itu tetap diam.

Tubuh kecilnya malah semakin gemetar, seperti binatang kecil yang ketakutan. Akhirnya Jenna malas melanjutkan. Lagi pula itu bukan urusannya.

Satu orang dewasa dan satu anak kecil pun menempati sudut masing-masing dalam diam.

Saat itu, lampu di atas mereka berkedip terang sekali, lalu tiba-tiba mati. Dalam kegelapan, Jenna samar-samar mendengar suara gemeretak.

Ia mendengarkan lebih saksama dan baru sadar suara itu mirip gigi yang saling beradu. Jenna tak bisa menahan tawa.

Ia menoleh ke arah si bakpau kecil.

“Kamu takut gelap?”

Suara gemeretak itu berhenti sebentar. Lalu terdengar lagi, bahkan lebih keras.

Ya ampun.

Penakut banget sih.

Jenna menepuk debu di celananya lalu berdiri. Ia berjalan ke arah bocah kecil itu.

Bocah kecil itu begitu takut padanya sampai wajahnya memucat.

Namun Jenna hanya duduk di sampingnya tanpa melakukan apa pun. Ia langsung memejamkan mata dan tertidur.

Sepanjang malam ia dipaksa Luna menemani orang minum. Sekarang kepalanya terasa seperti mau pecah.

Beberapa waktu kemudian, ketika Jenna terbangun, ia merasa ada sesuatu yang hangat di sisi kakinya.

Ia menunduk.

Entah sejak kapan si bakpau kecil sudah menyandarkan tubuhnya di samping kakinya. Tangan kecilnya bahkan memegang ujung baju Jenna.

Jenna tidak bisa menahan tawa. Dulu, saat masih tinggal di desa, ia pernah memelihara seekor kucing.

Kucing itu sangat penakut dan selalu lari jika melihat orang. Namun selama seseorang tidak memperhatikannya, ia akan merasa aman dan menganggap orang itu tidak berbahaya.

Begitu merasa aman, kucing itu akan diam-diam mendekat sendiri. Bahkan sering memanjat ke pangkuannya untuk tidur.

Bocah kecil ini juga sama. Bahkan matanya pun mirip. Sepertinya bocah itu merasakan tatapannya. Wajah kecilnya sedikit memerah, tetapi kali ini tidak ada lagi kepanikan di matanya. Mata besarnya justru dipenuhi rasa ingin tahu.

Jenna tersenyum. Tangannya terasa gatal ingin mengelusnya. Ia akhirnya menyerah dan mengulurkan tangan untuk mengusap kepala kecil yang lembut itu.

Begitu tangannya menyentuhnya, ekspresinya langsung berubah. Kenapa dahinya panas sekali?

“Kamu demam?”

Luna pasti akan mengurungnya di sini setidaknya sampai audisi besok selesai.

Kalau anak ini terus demam selama itu, keadaannya bisa berbahaya. Saat Jenna mulai cemas, ia tiba-tiba menyadari sesuatu.

Lampunya sudah mati, tapi kenapa ruangan ini masih ada cahaya?

Ia mengangkat kepala.

Ternyata ada jendela kecil di langit-langit, dan cahaya samar masuk dari sana.

Jenna melihat sekeliling gudang, lalu memindahkan sebuah tangga ke bawah jendela itu.

“Bakpau kecil, sini. Aku bantu kamu keluar!”

Bocah itu akhirnya bereaksi terhadap kata-katanya. Namun ia justru menggeleng tegas.

Jenna langsung mengerti maksudnya. Ia tersenyum lalu mencubit pipinya. “Ternyata kamu setia juga. Mau sengsara bareng aku, ya? Udah, naik aja. Jendelanya kecil banget, aku gak bisa keluar. Kalau kamu keluar dulu, kamu bisa cari orang buat nolong aku.”

Melihat bocah itu masih ragu, Jenna langsung mengangkatnya dan menaruhnya di tangga.

“Cepetan. Kalau kamu laki-laki, jangan ragu. aku jagain dari bawah!”

Akhirnya, setelah susah payah, ia berhasil membantu bocah itu keluar.

Namun begitu selesai, Jenna merasakan pusing hebat. Kakinya tiba-tiba kehilangan tenaga. Tubuhnya jatuh dari tangga. Dari tepi jendela, si bakpau kecil melihat semuanya.

Wajah kecilnya yang sebelumnya kosong langsung dipenuhi kepanikan.

Jenna mengumpulkan sisa tenaga terakhirnya dan mengucapkan satu kata. “Pergi…”

Di bawah cahaya bintang, wajah wanita itu tampak pucat dan rapuh. Namun itu tidak bisa menyembunyikan kecantikannya yang mencolok.

Terutama sepasang matanya yang lembap dan hidup, seperti lautan penuh bintang. Ia bukan lagi gadis desa bodoh yang dulu dipandang rendah. Bukan lagi si itik buruk rupa.

Namun sekarang semua itu sudah tidak ada artinya. Jenna tersenyum pahit. Sebelum sempat membalas dendam, sepertinya ia akan mati di tempat ini.

Tapi setidaknya, sebelum mati ia sudah melakukan satu kebaikan dengan menyelamatkan bocah kecil itu.

Kalau saja anaknya dulu tidak meninggal ... Mungkin sekarang usianya juga sekitar itu.

1
@Reeartha1231
lanjutin trus kak
@Reeartha1231
awal cerita yang bagus
ᴹᴵᴹᴵ a ʙᴊɴ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Pesona Jenna tak terkalahkan apalagi seorang Moy yang penuh tipu muslihat pasti kebusukannya segera terbongkar
tutiana
menarik
Piw Piw: terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!