NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Fajar menyingsing di Lembah Kematian tidak membawa secercah pun harapan, melainkan sekadar menyingkap tabir kengerian alam yang sesungguhnya. Saat matahari pucat merangkak naik ke atas cakrawala, sinarnya yang dingin menerangi formasi bebatuan karst raksasa yang menjulang mengapit jalan setapak. Bebatuan itu berlubang-lubang dan terkikis oleh angin gurun selama ribuan tahun, menciptakan siluet wajah-wajah tengkorak raksasa yang seolah sedang menatap kelaparan ke arah iring-iringan Keraton Amarta.

Malam penuh air mata dan pengakuan pedih di bawah cahaya bulan telah berakhir, dikubur kembali ke dalam peti mati formalitas keraton.

Dewi Pregiwa kembali duduk di dalam sangkar emasnya, tersembunyi di balik tirai sutra yang tertutup rapat. Matanya bengkak, sisa tangisan semalam yang menguras habis kelembapan jiwanya. Ia memeluk kedua lututnya di atas dipan kereta yang berguncang keras setiap kali melindas bebatuan tajam. Di kepalanya, kata-kata Gatotkaca terus berdengung layaknya mantera penebusan dosa: *"...mencintaimu dalam penderitaan yang diam ini, dan memastikan kau tetap menjadi ratu yang bersinar, meski itu membakar diriku sendiri hingga menjadi abu."*

Di luar kereta, rutinitas penyiksaan itu kembali bergulir.

Gatotkaca telah kembali ke langit. Sang Senopati Pringgandani itu terbang membentangkan jubah dan sayap bajanya, kembali menjadi payung hidup yang menelan seluruh terik matahari siang demi mendinginkan atap kereta kencana. Pelat zirahnya yang semalam sempat mendingin, kini kembali memanas hingga batas didih. Namun, tidak ada satu pun keluhan yang keluar dari bibir rapatnya. Setelah menyentuh pipi Pregiwa semalam, setelah merasakan air mata wanita itu membasahi tangannya, Gatotkaca merasa bahwa setiap detik rasa sakit yang membakar punggungnya ini adalah sebuah anugerah. Ini adalah satu-satunya bentuk pelukan yang bisa ia berikan tanpa harus merusak kehormatan sang putri.

Iring-iringan seribu prajurit elit Amarta merayap perlahan memasuki celah tersempit di Lembah Kematian. Jalur ini dinamakan Celah Sungsang—sebuah koridor batu sepanjang dua pal yang diapit oleh tebing vertikal setinggi ratusan kaki di sisi kiri dan kanan. Jalan tanahnya begitu sempit hingga kereta kencana Pregiwa hanya menyisakan jarak sejengkal dari dinding tebing di kedua sisinya. Pasukan terpaksa memanjangkan barisan mereka menjadi formasi dua-dua, membuat pertahanan mereka melemah jika diserang dari arah mengapit.

Udara di dalam celah itu terasa sangat mati. Angin bahkan enggan berhembus masuk. Suara derit roda kereta kayu jati dan entakan sepatu bot prajurit bergema memantul-mantul di dinding tebing, menciptakan keriuhan yang membuat bulu kuduk berdiri.

Di atas angkasa, berpatroli tepat di atas mulut celah, pendengaran Gatotkaca yang setajam insting dewa tiba-tiba menangkap sebuah anomali.

Ia menghentikan lajunya di udara. Mata elangnya menyipit, memindai puncak-puncak tebing karst di sisi kiri dan kanan celah yang sedari tadi tampak kosong melompong. Suara gema roda kereta di bawah sana memang berisik, namun telinga Gatotkaca mampu menyaring suara-suara tersebut, mencari frekuensi yang tidak wajar.

*Kres.* Sebuah suara kerikil kecil yang terinjak. Sangat pelan. Sangat jauh di atas puncak tebing utara.

Lalu, disusul oleh aroma yang tiba-tiba terbawa oleh embusan angin panas dari arah atas. Itu bukan bau debu kering Lembah Kematian. Itu adalah bau minyak pelumas pedang, bau keringat manusia yang tegang, dan... bau getah pohon upas—racun mematikan yang biasa dioleskan pada ujung anak panah para pembunuh bayaran.

Jantung Gatotkaca seketika berdegup kencang, memompa lahar Candradimuka kembali ke dalam nadinya. Mode melankolis dan keputusasaan di kepalanya padam dalam seperseribu detik, digantikan oleh mode pembantai murni dari Pringgandani.

"BERHENTI! FORMASI PERISAI KURA-KURA!"

Raungan Gatotkaca menggelegar dari atas langit, suaranya menghantam dinding tebing hingga menciptakan gempa kecil yang merontokkan debu-debu dari bebatuan. Baritonnya dipenuhi oleh kemurkaan purba yang sanggup membuat jantung siapa pun yang mendengarnya berhenti berdetak sesaat.

Para komandan Amarta di bawah yang sangat terlatih langsung bereaksi tanpa perlu bertanya. "HENTIKAN KERETA! PERISAI KE ATAS!"

Namun, seruan peringatan itu hanya mendahului maut sepersekian detik.

Sebelum barisan prajurit Amarta sempat mengangkat perisai baja mereka secara sempurna untuk menutupi atap kereta kencana, neraka bocor dari langit Lembah Kematian. Dari bibir tebing kiri dan kanan yang menjulang tinggi, ratusan sosok berpakaian hitam pekat tiba-tiba muncul dari balik kamuflase bebatuan. Mereka adalah para jagal telik sandi dari Astina—pasukan pembunuh bayaran elit yang disewa khusus oleh Lesmana Mandrakumara untuk menyabotase pernikahan politik ini.

Suara desingan mengerikan membelah udara. Ratusan anak panah berujung hitam pekat yang telah direndam dalam racun upas meluncur deras ke bawah, menghujani celah sempit itu layaknya badai belalang besi.

Rentetan pertama anak panah itu menghantam barisan depan prajurit Amarta. Jeritan kesakitan seketika menggema memantul di dinding tebing saat ujung-ujung beracun itu menembus celah zirah, membakar aliran darah para prajurit dalam hitungan detik. Kuda-kuda meringkik panik, mengangkat kaki depannya ke udara, membuat formasi barisan semakin kacau balau.

Di dalam keretanya, Pregiwa terlempar ke depan saat kereta berhenti mendadak. Kedua embannya menjerit histeris, meringkuk berpelukan di lantai kereta kayu jati tersebut. Suara hujan anak panah yang menancap di atap kereta terdengar seperti rentetan pukulan palu maut.

"Kanda!" pekik Pregiwa tanpa sadar, bukan memanggil ayahnya, bukan memanggil dewa, melainkan memanggil satu-satunya nama yang menjadi jangkar kewarasannya.

Di udara, Gatotkaca melihat segalanya bergerak dalam gerak lambat. Fokusnya hanya satu: kereta kencana emas di dasar celah.

Mata elangnya menangkap ancaman yang jauh lebih mematikan daripada sekadar hujan panah. Di atas tebing sebelah kiri, sepuluh orang pembunuh bayaran Astina bertubuh kekar sedang menggunakan tuas besi untuk mendorong sebuah bongkahan batu karang raksasa sebesar gajah dewasa. Batu itu sengaja digelindingkan tepat ke arah kereta kencana Pregiwa yang terjebak di jalur sempit. Jika batu itu menghantam kereta, kayu jati berlapis emas itu akan rata dengan tanah, menghancurkan tubuh siapa pun yang ada di dalamnya menjadi bubur darah.

Batu raksasa itu terlepas dari bibir tebing. Jatuh meluncur deras, membawa bayangan kematian yang pekat ke atas atap kereta.

"TIDAAAAAK!"

Gatotkaca meraung hingga pita suaranya nyaris robek. Ledakan prana berwarna keemasan menyembur dari sekujur tubuhnya, menciptakan gelombang kejut yang mencerai-beraikan awan debu di udara. Ia melipat sayap bajanya dan menukik turun dengan kecepatan yang jauh melampaui batas hukum alam, membelah hujan ratusan anak panah racun yang memantul tak berguna dari zirah Antakusumanya.

Saat bongkahan batu raksasa itu hanya berjarak kurang dari tiga tombak dari atap kereta kencana, sebuah meteor hitam berlapis emas menghantamnya dari arah samping.

*BUMMMMMMM!*

Ledakan dahsyat memekakkan telinga. Batu karang sebesar gajah itu meledak di udara, hancur berkeping-keping menjadi ribuan serpihan kerikil dan debu tajam, dihancurkan hanya oleh satu hantaman bahu dan kepalan tangan sang raksasa Pringgandani. Serpihan batu itu menghujani atap kereta dan prajurit di sekitarnya, namun tidak ada satu pun serpihan besar yang sanggup menembus kayu solid kereta tersebut.

Gatotkaca mendarat dengan lututnya di atas tanah berdebu, tepat di depan kuda-kuda putih penarik kereta yang meronta ketakutan. Tanah di bawah kakinya amblas membentuk kawah dangkal. Uap panas mengepul dari kepalan tangannya yang baru saja meremukkan batu gunung.

Ia perlahan mendongakkan kepalanya. Mata elangnya yang kini menyala semerah lahar Candradimuka menatap tajam ke arah puncak tebing.

Di atas sana, para pembunuh bayaran Astina sejenak menghentikan tembakan panah mereka. Tangan mereka yang memegang busur bergetar hebat melihat kemustahilan yang baru saja terjadi. Rencana penyergapan sempurna mereka—mengubur sang putri dengan batu raksasa—hancur berantakan dalam kedipan mata.

Di saat itulah, mereka menyadari satu kesalahan fatal yang akan mengakhiri silsilah keluarga mereka hari itu juga. Mereka tidak sedang berhadapan dengan pasukan pengawal Amarta. Mereka baru saja membangunkan iblis penjaga dari tidur panjangnya, dan parahnya lagi, mereka baru saja mencoba membunuh satu-satunya wanita yang memegang kewarasan iblis tersebut.

"Amankan kereta Gusti Putri! Bentuk barisan pelindung berlapis!" perintah Gatotkaca kepada para komandan di bawah, suaranya tak lagi terdengar seperti manusia, melainkan geraman monster purba yang haus darah. "Biar tikus-tikus di atas sana... aku yang mengulitinya."

Tanpa menunggu jawaban, Gatotkaca mengentakkan kakinya ke tanah. Celah Sungsang bergetar hebat. Tubuhnya melesat melompat tegak lurus ke udara, menaiki tebing vertikal setinggi ratusan kaki itu hanya dengan satu tolakan kaki.

Apa yang terjadi selanjutnya di puncak tebing bukanlah sebuah pertempuran. Itu adalah sebuah pembantaian mutlak.

Begitu Gatotkaca mendarat di antara barisan pemanah Astina di tebing utara, jeritan kengerian yang sesungguhnya baru dimulai. Ia tidak menggunakan senjata apa pun. Pedang dan tombak terlalu beradab untuk melampiaskan murka yang kini mendidihkan otaknya.

Seorang pembunuh bayaran menebaskan pedang besarnya tepat ke leher Gatotkaca. Pedang baja berkualitas tinggi itu menghantam kulit sang ksatria, dan seketika patah menjadi dua bagian dengan suara derak logam yang memilukan. Sebelum pria itu sempat memproses apa yang terjadi, tangan raksasa Gatotkaca telah mencengkeram kepalanya, mengangkatnya dari tanah, dan membanting tubuh pria itu ke tebing batu hingga tulang punggungnya remuk berkeping-keping.

Gatotkaca menerjang maju layaknya angin puyuh yang terbuat dari bilah pisau. Ia meninju dada seorang musuh hingga tulang rusuknya menembus paru-paru. Ia menyambar dua orang prajurit yang mencoba lari, membenturkan kepala mereka berdua hingga helm besi mereka penyok ke dalam. Anak panah beracun yang terus ditembakkan dari tebing seberang hanya menancap sia-sia di zirah emasnya, atau patah saat mengenai kulit tembaganya yang kebal.

Bagi Gatotkaca, para prajurit pembunuh ini bukanlah musuh dalam peperangan politik. Mereka adalah ancaman yang berani mencoba menggores pualam miliknya. Mereka mencoba menghancurkan sangkar yang berisi Dewi Pregiwa. Setiap jeritan musuh yang ia patahkan lehernya, tidak sedikit pun meredakan kemarahannya. Ia terus membantai, merobek barisan musuh dengan tangan kosong, melemparkan tubuh-tubuh tak bernyawa mereka dari atas tebing hingga berjatuhan ke dasar celah layaknya hujan boneka kain yang rusak.

Dalam waktu kurang dari seperempat jam waktu berpasir, seratus lima puluh pembunuh bayaran elit di tebing utara dan selatan telah berubah menjadi genangan darah dan potongan daging yang tak bisa dikenali.

Di dasar celah, para prajurit Amarta hanya bisa berdiri mematung sambil berlindung di balik perisai mereka. Hujan anak panah telah berhenti sama sekali. Namun, keheningan yang menggantikannya justru jauh lebih mengerikan. Mereka mendengar jeritan-jeritan kematian dari atas tebing, suara tulang yang dipatahkan, dan auman mengerikan sang Senopati yang memantul-mantul di dinding Celah Sungsang.

Di dalam kereta kencana, Pregiwa meremas dadanya yang berdegup kencang. Ia mendengar semuanya. Ia mendengar auman buas Gatotkaca. Ia tahu bahwa pria yang semalam menangis tersedu-sedu sambil mencium punggung tangannya itu, kini sedang bermandi darah musuh di atas sana demi memastikan napasnya tetap berhembus. Paradoks yang gila ini—cinta yang begitu lembut yang dilindungi oleh kekerasan yang begitu absolut—membuat Pregiwa menyadari betapa dalam dan berbahayanya pengabdian pria itu.

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar tepat di depan kereta kencana.

*BUM.*

Gatotkaca melompat turun dari puncak tebing, kembali mendarat di dasar celah. Tubuh besarnya bangkit perlahan dari posisi berlutut. Napasnya menderu berat, memompa uap panas dari balik celah helm bajanya. Zirah emas Antakusuma yang pagi tadi bersinar cemerlang, kini diwarnai oleh bercak-bercak darah merah pekat dan serpihan otak musuh. Sarung tangannya basah oleh cairan anyir. Ia berdiri di tengah lautan mayat pembunuh bayaran yang tadi ia lemparkan dari atas tebing, terlihat seperti dewa kematian yang baru saja menyelesaikan ritual panen nyawanya.

Para prajurit Amarta tanpa sadar mundur selangkah, menelan ludah ketakutan melihat wujud sang panglima. Aura pembunuh yang memancar dari tubuh Gatotkaca begitu pekat hingga membuat udara di Celah Sungsang terasa menyesakkan dada.

Namun, mengabaikan tatapan ngeri seluruh pasukannya, Gatotkaca melangkah maju. Sepatu besarnya menginjak genangan darah dan sisa-sisa kayu anak panah. Ia berjalan lurus menuju kereta kencana emas tersebut.

Para komandan pengawal buru-buru menyingkir, memberikan jalan bagi raksasa yang masih diselimuti murka itu.

Gatotkaca berhenti tepat di samping jendela kereta kencana yang tirainya masih tertutup rapat. Ia tidak berani membuka tirai itu. Ia tidak ingin Pregiwa melihat tangannya yang berlumuran darah musuh. Ia tidak ingin mata teduh itu melihat iblis yang baru saja ia lepaskan dari dalam dirinya. Ia menundukkan kepalanya, menyandarkan kening helm bajanya yang berlumur debu pada dinding kayu jati kereta, tepat di sebelah jendela.

Napasnya yang tadinya menderu buas layaknya monster, perlahan-lahan mulai melunak, berubah menjadi hembusan napas yang bergetar. Hawa panas pembunuhnya mereda, tersapu habis oleh kepanikan seorang pria yang nyaris kehilangan seluruh dunianya.

"Gusti... Putri..." panggil Gatotkaca. Suaranya serak, parau, dan bergetar hebat. Ini bukan suara seorang dewa perang yang baru saja membantai ratusan musuh. Ini adalah suara seorang anak kecil yang ketakutan. "Apakah... apakah Gusti Putri terluka? Apakah ada segores debu pun yang menyentuh kulit Gusti Putri?"

Di dalam kabin, mendengar getaran suara yang dipenuhi keputusasaan itu, pertahanan Pregiwa kembali runtuh. Ia tidak memedulikan darah yang mungkin menempel di dinding keretanya. Dengan gerakan cepat, sang putri menggeser tirai sutra jendela tersebut.

Melalui celah jendela, ia melihat wajah Gatotkaca dari samping. Helm baja pria itu telah didorong sedikit ke atas, memperlihatkan rahangnya yang kotor oleh cipratan darah dan keringat. Ia terlihat begitu mengerikan bagi dunia, namun bagi Pregiwa, ia adalah perlindungan yang paling indah.

Tanpa mempedulikan peringatan emban-embannya, Pregiwa mengulurkan tangan pualamnya keluar dari jendela. Ia tidak menyentuh pelat dada pria itu. Kali ini, ia menyentuh rahang Gatotkaca, membiarkan ujung jemarinya mengusap noda darah musuh yang menempel di sana.

Gatotkaca tersentak kaku. Ia memejamkan mata rapat-rapat saat sentuhan dingin nan lembut itu mendarat di rahangnya yang kaku.

"Kanda terluka?" bisik Pregiwa sambil terisak, mengusap rahang pria itu dengan ibu jarinya, mengabaikan bau anyir kematian yang menguar dari tubuh sang ksatria.

"Darah ini... bukan milik hamba, Tuan Putri," jawab Gatotkaca parau, sama sekali tidak bergerak, takut jika ia bernapas terlalu keras, ia akan menakuti wanita itu. "Kulit hamba tidak bisa ditembus oleh besi murah mereka. Hamba... hamba hanya takut mereka berhasil menyentuh keretamu."

"Aku aman, Kanda. Berkat perlindunganmu, aku tidak kurang suatu apa pun," Pregiwa membelai pelan ujung bibir Gatotkaca yang terkatup rapat, menyalurkan kelegaan dan rasa syukurnya yang teramat dalam. "Tidurlah sejenak, Kanda. Kembalilah menjadi manusia. Iblis di tebing itu sudah mati. Kau telah menyelamatkanku... lagi."

Di tengah celah tebing yang dipenuhi mayat dan bau anyir darah itu, dengan disaksikan oleh ribuan prajurit yang masih gemetar ketakutan, sang Senopati pembantai itu meneteskan air mata. Gatotkaca memiringkan wajahnya sedikit, membiarkan pipinya bersandar lebih dalam pada telapak tangan mungil Pregiwa.

Di dunia yang gila ini, di atas jalan yang membawanya menuju hari pernikahan wanita yang dicintainya, Gatotkaca menemukan satu-satunya tempat di mana jiwanya bisa beristirahat. Ia tidak peduli jika besok ia harus membunuh seribu orang lagi. Selama tangan pualam ini masih sudi menyentuh rahangnya yang berlumur darah, Gatotkaca bersedia menantang seluruh dewa di kahyangan untuk berperang melawannya sendirian.

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!