Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.
Semua orang mengira ia telah mati.
Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.
Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Ucapan ini membuat raut wajah seluruh anggota keluarga berubah drastis. Bisik-bisik kian terdengar. Jati Wijaya pun segera mengangguk. “Benar! Tuan Muda Darma sungguh tajam pengamatannya. Setelah mengetahui obat itu dicuri, aku juga menduga bahwa pelakunya berasal dari dalam. Pak Gusti di ruang pengobatan sudah tua dan tak tertarik pada urusan dunia. Ia tidak mungkin menginginkannya. Jadi, selain dia, semua orang patut dicurigai.”
“Hmph! Keluarga Wijaya yang sepele ini sama sekali tak layak diperhitungkan di mata Perguruan Wijaya pusat kami! Kali ini, kami sudi datang jauh-jauh ke sini. Itu adalah kehormatan besar… namun kalian justru memberiku kejutan sebesar ini! Ini sama saja dengan menampar wajah perguruan pusat!”
Menampar wajah perguruan pusat—tuduhan yang begitu besar dan mengerikan itu membuat wajah Jati Wijaya seketika pucat pasi.
Tatapan Darma, laksana ular berbisa, menyapu satu per satu wajah yang ada. Siapa pun yang terkena pandangannya segera menundukkan kepala, seolah takut disambar petir. Tak seorang pun berani menatap balik. Hal ini semata-mata karena ia didukung oleh kekuatan perguruan pusat yang mahabesar.
Pandangan Arka beralih ke wajah Jati Wijaya, rautnya semakin muram. Ia berbisik pelan, hanya terdengar oleh dirinya sendiri, “Sikap Kepala Keluarga ini pun terasa palsu… Sebenarnya apa yang ingin mereka lakukan?”
Dalam dua kehidupan yang ia miliki, Arka telah mengalami tak terhitung skema kebaikan dan kejahatan. Ketajaman penilaiannya jauh melampaui orang biasa.
Darma kembali menyapu pandangan. Nada suaranya tiba-tiba melunak. “Sudahlah. Meski sangat disayangkan, aku tak ingin berlama-lama marah kepada orang-orang dari tempat kecil ini. Orang yang mencuri Bubuk Pembuka Nadi, aku beri kalian waktu lima belas detik untuk keluar dengan patuh dan menyerahkannya. Jika tetap keras kepala, jangan salahkan aku bertindak kejam.”
“Budi, mulai menghitung!”
Setelah berkata demikian, Darma mendengus dingin dan duduk kembali. Salah satu pemuda pengawal berpakaian hitam di sisi kirinya melangkah maju dan mulai menghitung mundur dengan suara rendah.
Jati Wijaya segera berbalik dan berseru keras, “Si bajingan pencuri, apa kau mendengarnya?! Tuan Muda Darma berbesar hati memberimu jalan keluar. Segera bertobat dan maju meminta maaf! Jika tidak, seluruh Keluarga Wijaya tak akan pernah memaafkanmu!!”
“… Dua belas… sebelas… sepuluh… sembilan…” suara pengawal itu terus menghitung.
Seluruh anggota keluarga saling memandang, menebak-nebak siapa yang begitu nekat. Meski Darma menyebut “belas kasihan”, tak seorang pun percaya itu benar-benar akan berujung pada ampunan.
“… Empat… tiga… dua… satu… waktu habis!”
Suara pengawal terhenti, lalu ia mundur. Darma kembali berdiri, tatapannya gelap dan kejam. “Aku sudah memberi kesempatan. Karena kau tak tahu diri, jangan salahkan aku bersikap tanpa ampun setelah menangkapmu! Indra!”
“Siap!”
Seiring teriakan Darma, pengawal lainnya melangkah maju dan mengangkat telapak tangannya. Sebuah pusaran tenaga dalam mulai terkumpul di telapak itu.
“Kepala Keluarga, Bubuk Pembuka Nadi dicuri bersama kotak hitamnya, bukan?”
“Benar, keduanya dicuri bersama,” jawab Jati sambil mengangguk.
“Sangat baik… Pada kotak hitam itu terdapat tanda tenaga dalam khas perguruan pusat kami—Tanda Elang! Selama menggunakan teknik khusus kami, kami dapat dengan cepat menentukan keberadaan Tanda Elang di sekitar.”
Begitu Darma selesai berbicara, tangan pengawal bernama Indra tiba-tiba bergerak. Sebuah gumaman “di sana” keluar dari bibirnya. Tubuhnya lalu berubah menjadi hembusan angin, melesat ke kanan secepat kilat.
“Heh, tampaknya kita sudah menemukannya,” cibir Darma. Kilatan kepuasan diri tampak jelas di matanya.
“Luar biasa. Sesuai dugaan, tak ada yang bisa lolos dari perguruan pusat,” kata Jati Wijaya dengan ekspresi lega yang dibuat-buat. Ia berkata dengan serius, “Tuan Muda Darma, siapa pun pencurinya, mohon jatuhkan hukuman seberat-beratnya!”
Pada saat itu, angin kencang berembus. Pengawal tadi telah kembali dengan cepat, di tangannya tergenggam sebuah kotak kayu. Tanda Elang di kotak itu masih memancarkan cahaya samar. Kotak kayu tersebut benar-benar kotak yang berisi Bubuk Pembuka Nadi yang diberikan kemarin.
Semua bisikan terhenti. Sekeliling menjadi sunyi senyap. Suasana membeku sepenuhnya. Semua orang menahan napas, menunggu untuk mengetahui siapa yang memiliki keberanian sedemikian besar.
“Indra, di mana kau menemukan kotak ini?” tanya Darma dengan senyum mengejek.
“Di paviliun nomor enam puluh enam, di bawah bantal pemiliknya,” jawab pengawal itu dengan wajah tanpa ekspresi.
Paviliun nomor enam puluh enam…
Tatapan semua orang seketika terpusat ke satu arah, menatap tak percaya kepada gadis yang tampak seolah membatu.
Begitu mendengar kata “paviliun nomor enam puluh enam”, Lili terpaku di tempat. Melihat sepasang demi sepasang mata tertuju padanya, ia mundur selangkah dan menggelengkan kepala dengan panik, berteriak tanpa sadar, “Bukan aku… bukan aku!”
Paviliun nomor 66 adalah kediaman tempat tinggal Lili Wijaya. Seluruh anggota Keluarga Wijaya tahu persis karena nomor itu sangat mudah diingat. Ketika pengawal bernama Indra menyebut “paviliun nomor 66”, hal pertama yang terlintas di benak semua orang adalah pemilik paviliun tersebut.
Kerumunan terbelah, membuat Lili tak punya tempat lagi untuk bersembunyi dari sorotan mata semua orang. Wajah Nata Wijaya berubah drastis, sementara alis Arka mengerut tajam. Ekspresi Arka seketika menjadi kelam ketika ia melangkah maju dan berdiri di depan Lili. Gelombang kemarahan menggelegak di dadanya, seolah hendak meledak.
Baru ketika pengawal itu menyebut “paviliun nomor 66”, Arka benar-benar mengerti apa gerangan perasaan tidak beres yang selama ini mengganjal di hatinya!
Sebelumnya banyak orang menghalangi pandangan karena posisi yang rapat. Akibatnya, Darma tak dapat memastikan dengan jelas di mana Lili berada. Namun sekarang semuanya tampak jelas. Seketika, mata Darma menyala, memancarkan kilau seperti serigala buas. Gadis ini mungkin tidak sebeku Ratna Pradana, tetapi dia adalah gadis yang memikat—mata cerah alami, sikap menawan, serta paras yang lembut dan rupawan. Terutama matanya; meski kini penuh panik, matanya tetap jernih dan menyentuh hati.
Darma menelan ludah dengan kasar, hatinya terguncang. Ternyata Sandi tidak berbohong. Meski kecantikannya sedikit di bawah Ratna, pesonanya tidak kalah memikat. Dan bila ia tumbuh dewasa kelak, bukan mustahil ia akan menyamai—bahkan melampaui—Ratna Pradana.
Datang ke kota terpencil seperti ini, aku justru bertemu dua kecantikan kelas dunia... Sungguh, perjalanan ini adalah anugerah dari langit.
Darma sempat menyesal karena awalnya malas datang; keputusan itu hampir saja menjadi kesalahan besar.
“Lili... bagaimana ini bisa terjadi?!” teriak Jati, ekspresinya berganti dari terkejut menjadi sangat terguncang, lalu pura-pura tidak percaya.
“Bukan aku! Kepala Keluarga... sungguh bukan aku!” Lili menggeleng hebat, wajahnya pucat pasi ketakutan. Memang benar ia sempat berniat mencuri Bubuk Pembuka Nadi semalam, tetapi setelah dicegah oleh Nata, ia sudah menurut dan tidur di kamarnya. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana kotak itu bisa ada di sana.