Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Mata Valerie kembali terbelalak. Rasa terkejutnya seketika mengalahkan rasa takut yang tadi sempat melumpuhkannya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Menjadi tawanan di tempat ini? Itu gila.
"Apa?!" Valerie langsung melayangkan protes dengan nada suara yang meninggi. "Tinggal di sini? Kau tidak waras! Itu permintaan yang sama sekali tidak masuk akal. Aku punya kehidupan, dan aku... aku tidak akan pernah menuruti keinginan gilamu!"
Suasana ruangan yang tadinya dingin seketika memanas. Senyum tipis di wajah Damian lenyap, digantikan oleh ekspresi datar yang jauh lebih menakutkan.
Tanpa memberi ruang untuk bernapas, Damian kembali mencengkeram wajah Valerie. Kali ini lebih kuat, hingga Valerie bisa merasakan tekanan jemari pria itu di tulang pipinya.
"Dengar baik-baik, Gadis Kecil," ucap Damian dengan suara dingin dan datar yang menusuk tulang. "Kau tidak sedang berada di posisi untuk tawar-menawar denganku. Aku tidak memberikan pilihan, aku memberikan perintah. Dan satu hal yang perlu kau tahu... aku sangat tidak suka dengan penolakan."
Napas Valerie memburu. Meski tubuhnya gemetar, sifat keras kepalanya muncul ke permukaan. Ia mencoba menantang sorot mata mematikan itu, menolak untuk tunduk begitu saja.
"Bagaimana kalau aku tetap menolak?" tantang Valerie dengan suara yang dipaksakan agar tetap stabil. "Kau tidak bisa menahanku di sini selamanya. Orang-orang akan mencariku!"
Damian tidak berkedip. Ia justru mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Tatapannya berubah menjadi sangat mengerikan, sebuah tatapan yang hanya dimiliki oleh seseorang yang biasa berurusan dengan nyawa manusia.
"Jangan mencoba menguji kesabaranku, Valerie Aurora," desis Damian, membuat bulu kuduk Valerie meremang hebat. "Aku bisa melakukan hal-hal yang bahkan tidak bisa kau bayangkan dalam mimpi burukmu sekalipun. Jika kau mencoba melarikan diri atau melawanku, bukan hanya kau yang akan menanggung akibatnya, tapi semua orang yang kau sayangi."
Valerie tertegun. Kata-kata Damian barusan terdengar seperti vonis mati. Bayangan Aiden dan keluarganya langsung terlintas di benaknya. Ia sadar, pria di depannya ini tidak akan segan-segan menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya.
Valerie menatap jauh ke dalam manik mata Damian yang gelap dan dingin. Di sana, ia menemukan kenyataan pahit bahwa pria ini sama sekali tidak main-main. Damian bukan sekadar pria kaya yang tersesat di hotel semalam; dia adalah predator yang nyata.
Valerie sadar betul, melawan secara frontal sekarang sama saja dengan bunuh diri. Jika ia ingin selamat dan melindungi orang-orang di sekitarnya, ia harus bermain cantik.
Perlahan, Valerie mengatur napasnya. Ketegangan di bahunya ia turunkan. Tangannya yang mungil terangkat, menyentuh punggung tangan Damian yang masih mencengkeram wajahnya.
Ia mengelusnya dengan sangat lembut, sebuah gerakan persuasif untuk meredam kemarahan sang predator.
"Oke... oke... aku akan menuruti keinginanmu," bujuk Valerie dengan suara yang kini melunak dan terdengar pasrah. "Tapi, bisakah kau melepaskanku dulu? Ini sakit."
Mendapat sentuhan lembut yang tak terduga dan melihat kepatuhan di mata Valerie, Damian perlahan melonggarkan jemarinya hingga cengkeramannya terlepas sepenuhnya. Namun, ia tidak menjauh. Ia masih mengunci posisi Valerie dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.
"Apa persyaratanmu, Valerie?" tanya Damian dengan suara rendah. "Untuk penipu kecil sepertimu, aku tahu kau tidak akan semudah itu menuruti perkataanku tanpa meminta imbalan."
Jantung Valerie mencelos. Sial, pria ini terlalu cerdas. Damian bahkan bisa membaca niat terselubung yang ia sembunyikan di balik sikap lunaknya tadi.
Valerie menelan ludah, mencoba memberanikan diri. "Aku akan mematuhimu dan tinggal di sini sesuai keinginanmu. Tapi, aku punya satu syarat: aku diperbolehkan kuliah dan beraktivitas seperti biasa."
Valerie menatap Damian penuh harap, mencoba memberikan janji yang paling meyakinkan. "Aku berjanji... aku tidak akan menipumu lagi. Aku tidak akan lari. Asalkan kau tidak mengurungku seperti tawanan."
Damian menatap dalam ke manik mata Valerie, seolah ingin menelanjangi setiap pikiran dan niat yang tersembunyi di balik mata indah itu. Suasana kamar menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan deru napas mereka yang saling memburu.
"Apa kata-katamu bisa dipercaya?" tanya Damian dengan nada curiga yang kental.
Valerie menelan ludah, berusaha menjaga agar sorot matanya tidak goyah. "Tentu saja, Aku tahu kau punya kuasa untuk melakukan apa pun, jadi tidak ada alasan bagiku untuk berbohong lagi."
Damian kembali menangkap wajah Valerie, namun kali ini gerakannya lebih pelan, seolah sedang mengklaim miliknya. Ia mendekat hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Valerie.
"Baiklah, aku akan memegang kata-katamu. Tapi ingat satu hal," bisik Damian dengan suara serak yang mengintimidasi, "jangan pernah sekali pun berniat untuk menipuku lagi, atau kau akan menyesal telah dilahirkan ke dunia ini."
Valerie tidak mampu menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa mengangguk pasrah dalam cengkeraman halus pria itu. Dadanya berdebar kencang, bukan hanya karena rasa takut, tapi juga karena jarak di antara mereka yang terlalu intim.
Wajah tampan di depannya ini terlihat begitu sempurna sekaligus berbahaya di bawah cahaya lampu kamar.
Dengan sisa keberaniannya, Valerie bertanya dengan suara gugup, "Kau... kau sudah tahu namaku Jadi, aku harus memanggilmu apa?"
Pria itu terdiam sejenak, menatap bibir Valerie yang sedikit terbuka. "Panggil aku Damian," jawabnya rendah. Ia lalu menuntut dengan nada memerintah, "Sebut namaku, Valerie."
Bibir Valerie sedikit bergetar. Dengan suara yang nyaris berbisik, ia menyebut nama itu untuk pertama kalinya. "Damian..."
Mendengar namanya disebut oleh Valerie, sebuah seringai kepuasan muncul di wajah Damian. Entah mengapa, suara lembut gadis itu saat menyebut namanya memberikan sensasi yang berbeda di telinganya.
Tanpa peringatan lebih lanjut, Damian semakin mendekatkan wajahnya, memangkas sisa jarak yang ada, dan langsung melumat bibir manis Valerie dengan ciuman yang dalam dan menuntut.