"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Curhat ke Ibu Mertua
...GAMON...
...Bab 28: Curhat ke Ibu Mertua...
...POV Rina...
---
Selasa – 02.30 WITA
Villa di Umalas – Kamar Tidur
Rina nggak bisa tidur.
Udah tiga jam dia rebahan. Mata pejam. Tapi bayangan itu nggak mau pergi.
Foto cewek di ponsel Bima. Cewek dengan rambut panjang, senyum lebar, pegang es krim. Foto lama. Tapi Bima liat kayak itu barang paling berharga di dunia.
Rina buka mata. Gelap. Di samping, Bima tidur. Napasnya pelan. Tangannya—tanpa sadar—ngelindur di atas selimut. Jari-jarinya terbuka. Kayak nyari sesuatu. Atau mungkin nunggu sesuatu.
Atau mungkin... dia lagi mimpiin cewek itu.
Rina tutup mata lagi. Kenceng. Air mata panas nyempil di pelupuk. Dia tahan. Nggak mau bunyi.
Kenapa aku nggak bisa marah?
Kenapa aku nggak bangunin dia? Kenapa aku nggak teriak, "Siapa dia?!"
Karena aku takut jawabannya.
Rina balik badan. Membelakangi Bima. Punggungnya nempel selimut. Dingin.
Cincin di jari manis—dari tadi dia gerak-gerakin. Muter-muter. Emas putih. Ukiran dedaunan. Cincin yang kemarin dia pamer ke semua orang. Cincin yang bikin dia nangis bahagia.
Sekarang? Berat. Kayak beban.
---
06.00 WITA
Villa – Dapur Kecil
Bima belum bangun. Rina udah di dapur.
Air mendidih di kompor. Uap panas naik ke wajahnya. Dia pegang cangkir kosong. Tangan gemetar.
Panggil Ibu.
Pikiran itu muncul tiba-tiba. Ibu mertua. Ibu Bima. Satu-satunya orang yang mungkin ngerti.
Rina ambil ponsel. Buka kontak. Nama: Ibu Bima.
Jari di atas tombol. Ragu.
Nanti Ibu ngira aku ngadu? Nanti Ibu marah? Nanti Ibu belain anaknya?
Tapi Ibu baik. Ibu selalu baik. Dari pertama ketemu, Ibu terima Rina kayak anak sendiri.
Rina tekan tombol hijau.
Tutup mata. Dengar nada sambung.
---
Satu. Dua. Tiga.
"Halo, Rin?"
Suara Ibu. Masih serak—mungkin baru bangun.
Rina nggak bisa ngomong. Tenggorokannya sakit.
"Rin?" Ibu mulai khawatir. "Ada apa, Nak?"
"Bu..." Suara Rina pecah. "Bu, aku... aku nggak tahu harus ngomong apa."
Ibu diem sebentar. Rina dengar suara Ibu tarik napas.
"Lo di mana? Sama Bima?"
"Di Bali. Lagi... bulan madu."
"Ada apa sama Bima?"
Rina nangis. Air mata jatuh nggak bisa ditahan. Tangan yang pegang cangkir turun. Cangkir kosong di meja.
"Bu, aku... aku liat Bima buka foto cewek. Di ponselnya. Pas kita lagi makan malem."
Diam.
"Foto cewek. Rambut panjang. Senyum lebar. Foto lama." Rina napas pendek-pendek. "Aku tahu itu... itu dia, kan, Bu? Mantannya."
Ibu nggak jawab.
"Bu?"
"Iya." Suara Ibu pelan. Tapi berat. "Itu Keana."
Rina tutup mulut. Tangan di dada. Jantung kayak mau copot.
"Rin, lo di mana sekarang?"
"Di villa. Bima masih tidur."
"Dengerin Ibu." Suara Ibu tegas. Tapi lembut. "Lo boleh nangis. Lo boleh marah. Tapi dengerin Ibu dulu."
Rina coba tenang. Napas dalam.
"Anak Ibu... Bima... dia orang baik. Tapi dia punya luka. Luka yang nggak keliatan. Dan luka itu... belum sembuh."
Rina diem.
"Dulu, pas dia sama Keana, dia hancur. Hancur banget. Sampai Ibu dateng ke Jakarta, liat dia kurus, mata kosong, kost kayak kapal pecah. Ibu nangis liat anak Ibu kayak gitu."
Rina inget. Bima pernah cerita. Tapi nggak sedetail ini.
"Dari situ dia bangkit. Pelan-pelan. Ibu lihat dia berubah. Tapi Ibu juga lihat, luka itu nggak ilang. Cuma... ditutup. Dibungkus rapi. Tapi masih ada."
Ibu berhenti sebentar.
"Dan sekarang, lo yang jadi istrinya. Lo yang ngalamin jadi orang yang paling deket sama dia."
"Tapi Bu..." Rina suara pecah. "Aku... aku nggak bisa terus-terusan jadi nomor dua. Aku sayang dia. Tapi aku juga punya perasaan."
"Ibu tahu, Nak." Suara Ibu melembut. "Ibu tahu lo sakit. Ibu tahu lo takut. Dan lo berhak ngerasa kayak gitu."
Rina nangis lagi.
"Tapi Ibu minta satu hal."
"Apa, Bu?"
"Sabar. Lo nggak perlu sabar selamanya. Tapi kasih dia waktu. Karena Bima itu... dia butuh waktu lebih lama buat sadar. Dia bukan cowok yang gampang move on. Dan itu salah satu alasan lo sayang dia, kan?"
Rina diem. Ibu bener. Salah satu alasan dia sayang Bima adalah karena Bima setia. Karena Bima kalau sayang, beneran sayang. Dan sekarang, kesetiaan itu... buat orang lain.
"Tapi Bu, kalau dia nggak pernah bisa lupain dia?"
Ibu diem lama.
"Kalau sampai lo ngerasa dia nggak akan pernah bisa lupain masa lalu, dan lo nggak bisa terima itu... lo punya hak buat pergi."
Rina kaget. "Bu—"
"Ibu sayang lo, Rin. Ibu juga sayang Bima. Tapi Ibu nggak akan maksa lo bertahan di tempat yang bikin lo sakit." Ibu napas panjang. "Tapi sebelum lo ambil keputusan, coba omongin sama dia. Buka. Jangan dipendam. Karena yang paling bahaya dalam rumah tangga itu bukan masalahnya, tapi diem-dieman."
Rina dengerin. Setiap kata nyangkut di hati.
"Ibu... makasih."
"Sama-sama, Nak. Ibu doain yang terbaik buat kalian."
---
07.30 WITA
Villa – Dapur Kecil
Telepon udah ditutup. Rina masih duduk di meja. Kopi dingin di depan. Nggak diminum.
Dia liat ke luar jendela. Sawah. Hijau. Damai. Tapi hatinya nggak damai.
Sabarin.
Kasih waktu.
Buka omongin.
Rina tarik napas. Berdiri. Cuci muka. Rapihin rambut. Pake senyum—senyum yang dia pake buat Bima tiap pagi.
---
08.00 WITA
Kamar Tidur
Bima masih tidur. Posisi sama kayak tadi malem. Tangannya masih di atas selimut. Jari terbuka.
Rina duduk di pinggir ranjang. Liat wajah Bima. Tidur. Damai. Alisnya nggak berkerut.
Kenapa kalau tidur, lo kayak anak kecil, Bim? Kenapa kalau bangun, lo jadi sejauh itu?
Rina elus rambut Bima. Pelan.
Bima bergerak. Matanya buka dikit.
"Rin?" Suaranya serak.
"Pagi."
Bima senyum tipis. "Pagi."
Rina balas senyum. Tapi kali ini, senyum yang beda. Ada sesak di dada.
"Bim, aku buatin kopi. Udah di meja."
Bima duduk. Rambut acak-acakan. Dia pegang tangan Rina.
"Makasih."
Rina tatap dia. Ingin nanya. Ingin teriak. Tapi dia inget kata Ibu: buka omongin, tapi pelan-pelan.
"Bim."
"Hmm?"
"Kita... ngobrol nanti, ya. Malem. Yang serius."
Bima kaget. Matanya berubah. Dari kantuk jadi waspada.
"Ngobrol apa?"
Rina senyum. Tipis.
"Nanti. Kita nikmatin hari ini dulu."
---
Bersambung ke Bab 29: Rina dan Bima Berdua
---
📝 Preview Bab 29:
Hari itu mereka jalan-jalan kayak nggak ada apa-apa. Ke pantai. Makan enak. Foto bareng.
Tapi di sela-sela senyum dan tawa, ada jarak yang makin terasa.
Malemnya, di villa, Rina mulai buka suara.
"Bim, aku mau tanya sesuatu. Jujur."
Bab 29: Rina dan Bima Berdua—segera!
---