Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.
Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.
Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.
Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intrik dan Putra Tersembunyi
Malam di Ibukota Yan tidak lagi sama.
Angin malam yang biasanya membawa aroma bunga persik dan anggur spiritual dari distrik hiburan, kini terasa berat, dipenuhi oleh sisa-sisa tekanan kosmik yang belum sepenuhnya pudar. Retakan ruang yang diciptakan oleh Wu Xuan di kediaman Lin telah tertutup, namun riaknya menyebar ke seluruh penjuru kekaisaran, membangunkan monster-monster tua yang telah tertidur selama berabad-abad.
Di dalam paviliun-paviliun rahasia yang tersembunyi di balik kabut formasi, siluet-siluet para pejabat tingkat atas kekaisaran, jenderal militer, dan leluhur sekte berdiri dalam diam. Pesan telepati melesat membelah malam, saling bersilangan membentuk jaring kepanikan dan kalkulasi baru.
"Seorang Primordial Suci... dan itu adalah Duke Tua Wu Xuan? Bukankah umurnya sudah di ujung tanduk?"
"Rencana faksi Pangeran Mahkota untuk memakan Keluarga Wu dari dalam telah hancur lebur. Sang Serigala Tua tidak hanya menolak mati, dia bahkan berubah menjadi harimau muda."
"Ubah arah angin. Kirimkan hadiah ucapan selamat ke kediaman Wu besok pagi. Siapa pun yang berani menyinggung Keluarga Wu mulai malam ini, anggap mereka pengkhianat faksi kita."
Sementara kepanikan melanda faksi-faksi bangsawan, di puncak tertinggi Ibukota—di dalam Istana Kekaisaran Yan yang megah dan menyentuh awan—seorang pria berdiri dengan tangan di belakang punggung, menatap lautan bintang. Pakaian naganya memancarkan cahaya keemasan redup. Dia adalah eksistensi tertinggi di kekaisaran, sang Kaisar.
Mata sang Kaisar yang setajam pedang menyipit, mengamati garis-garis konstelasi spiritual yang berubah arah tepat di arah kediaman Keluarga Wu.
"Takdir sedang berubah," gumam siluet sang Kaisar, suaranya menggetarkan udara di sekitarnya. "Sebuah bidak yang seharusnya mati sebentar lagi, kini telah berubah. Wu Xuan... yang selalu menjadi anjing penjaga yang setia, di malam ini, telah berevolusi menjadi naga yang bahkan surga pun tak bisa menebak arahnya. Sangat Menarik."
Sementara seluruh Ibukota Yan dilanda gempa politik, pusat dari segala badai itu, Kediaman Utama Keluarga Wu, justru diselimuti oleh keheningan yang mencekam.
Di dalam Aula Singgasana Patriark, cahaya dari kristal roh tingkat tinggi memancarkan pendar kebiruan yang dingin. Ruangan itu sangat luas, ditopang oleh pilar-pilar batu obsidian yang diukir dengan naga dan harimau.
Di atas singgasana giok hitam, Wu Xuan duduk dengan postur santai namun memancarkan otoritas absolut. Jubah esensi spiritualnya telah memudar, digantikan oleh jubah kebesaran Patriark berwarna putih pekat dengan sulaman emas yang elegan. Dia menopang dagunya dengan satu tangan, matanya yang berwarna emas kristal menatap tajam ke arah wanita yang berdiri di bawah undakan singgasana.
Yan Melin.
Istri sahnya. Ibunda dari Wu Shan. Wanita yang mewarisi darah permaisuri terdahulu.
Malam ini, Yan Melin tidak lagi memancarkan kemarahan atau kesombongan seperti di kediaman Lin. Wanita yang secara teknis berusia lebih dari tiga abad namun memiliki fisik dan kecantikan seorang wanita matang berusia tiga puluhan itu, kini menunjukkan sisi yang sangat berbeda.
Gaun sutra merahnya entah bagaimana terlihat lebih longgar dari sebelumnya, memperlihatkan lengkung lehernya yang putih dan belahan dada yang provokatif setiap kali ia bernapas. Wajah cantiknya memerah, matanya yang biasanya menatap suaminya dengan penuh tuntutan kini dipenuhi oleh kabut gairah dan penyesalan yang mendalam.
Yan Melin menatap pria di atas singgasana itu seolah-olah dia baru pertama kali melihatnya. Dan dalam arti tertentu, itu memang benar. Suaminya yang dulu adalah pria tua yang rela mengorbankan segalanya demi seulas senyum darinya—pria yang pada akhirnya membuatnya muak karena terlalu penurut dan lemah secara emosional. Itulah sebabnya dia mencari gairah pada Duke Wilayah Utara, pria yang memberinya ilusi dominasi.
Tapi pria di hadapannya sekarang?
Rambut putih panjangnya, fitur wajahnya yang terpahat tanpa cela, garis rahangnya yang tajam, dan mata emas yang memancarkan kekejaman penguasa. Ketampanan Wu Xuan saat ini bahkan membuat pria tertampan di ibukota terlihat seperti pengemis jalanan. Ditambah dengan aura Primordial Suci yang menekan setiap sel di tubuhnya, nafsu kewanitaan Yan Melin terbangun dengan cara yang paling primitif.
Penyesalannya tidak lahir dari rasa bersalah karena telah mengkhianati suaminya. Dia menyesal karena telah membuang permata surgawi demi seonggok batu kali.
"Suamiku..." suara Yan Melin keluar seperti bisikan yang basah dan serak. Dia melangkah menaiki satu anak tangga, pinggulnya bergoyang dengan keanggunan seorang permaisuri. "Apa yang terjadi malam ini... biarlah berlalu. Kau tahu aku hanya mengkhawatirkan masa depan putra kita. Tidakkah kau merindukanku setelah sekian lama berada di pengasingan? Mari kita kembali ke kamar utama... aku akan melayanimu dengan cara yang... belum pernah kulakukan sebelumnya."
Tatapan Wu Xuan tidak goyah sedikit pun. Dingin. Menembus hingga ke dasar jiwa wanita itu.
"Melayanimu," ulang Wu Xuan perlahan, nada suaranya datar. "Seperti kau melayani selingkuhanmu selama aku tidak ada?"
Yan Melin membeku. Wajah cantiknya seketika pias, namun dia dengan cepat mencoba menutupi kepanikannya dengan senyum yang dipaksakan dan mata yang berkaca-kaca.
"Itu... itu adalah sebuah kesalahan, Suamiku, aku tidak seperti yang kau pikirkan," isaknya pelan, air mata buaya mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku kesepian. Kau meninggalkanku dalam pengasingan, menua tanpa kepastian. Jika kau kembali padaku seperti ini, dengan kekuatan dan keagungan ini... aku bersumpah, aku tidak akan pernah melirik pria lain lagi. Pikirkan lagi Kita tidak membutuhkan gadis rendahan dari keluarga Qin itu. Aku istrimu kini akan melayanimu, sesuai keinginanmu."
Wu Xuan tersenyum tipis. Sebuah senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.
"Simpan bualan manismu itu Melin," ucap Wu Xuan dengan nada sedingin es. "Jika saja kau tidak berkhianat, dan jika saja kau bisa mendidik putramu menjadi sesuatu yang lebih berguna daripada tumpukan kotoran yang berjalan, aku mungkin tidak akan repot-repot mencari Istri baru."
Setiap kata adalah tamparan mental yang telak. Yan Melin menggigit bibir bawahnya, tubuhnya gemetar. Dia mencoba melangkah maju lagi, mengabaikan kata-kata kasar itu, menggunakan pesona fisiknya sebagai senjata terakhir. Tubuhnya mencondong ke depan, memberikan pemandangan sempurna dari asetnya yang paling berharga.
Namun, di balik wajah sedingin es dan postur layaknya dewa kematian itu, pikiran internal Wu Xuan sedang mengalami peperangan yang sangat absurd.
‘Sialan...’ jerit Wu Xuan di dalam kepalanya, mempertahankan ekspresi kakunya dengan usaha luar biasa. ‘Tante ini benar-benar tahu cara membangkitkan gairah. Tubuh fisikku mungkin bisa menghancurkan gunung dan usianya ratusan tahun, tapi jiwaku ini baru dua puluh empat tahun! Aku hanyalah pemuda normal yang mati karena kelelahan membaca novel, bukan biksu suci! Pemandangan ini terlalu brutal untuk pertahanan mentalku!’
'Sialan ini sangat menggoda!!'
Secara rasional, Wu Xuan tahu wanita di depannya adalah ular berbisa yang bisa mengkhianatinya. Namun secara biologis, insting lelakinya meraung-raung melihat wanita secantik dan sesemok Yan Melin menawarkan diri secara sukarela di depannya. Aroma parfum spiritual yang menguar dari tubuh istrinya membuat insting purba di tubuhnya bergejolak.
‘Tahan dirimu, Wu Xuan,’ dia memarahi dirinya sendiri dalam diam. ‘Kau adalah Patriark Primordial Suci yang kini memerankan pria kejam dan penuh perhitungan. Jangan sampai kau menjadi lelucon karena tidak bisa mengendalikan hormonmu di depan rubah betina bertopeng ini. Jika aku menyentuhnya sekarang, dia akan merasa memiliki kendali lagi atas diriku. Politik membutuhkan kejam, dan tubuh matang ini adalah medan perang yang harus kuhindari untuk saat ini.’
Tepat ketika Yan Melin hendak melangkah ke anak tangga terakhir untuk meraih tangan Wu Xuan, sebuah suara dari balik pintu aula singgasana menyelamatkan kewarasan batin sang Patriark.
Tok. Tok. Tok.
Langkah Yan Melin terhenti. Wajahnya yang tadinya memelas dan menggoda seketika berubah bengis. Dia menoleh ke arah pintu kayu giok raksasa di ujung aula, mendesis kesal seperti ular yang mangsanya baru saja direbut.
"Siapa yang berani mengganggu Patriark di saat seperti ini?!" desis Yan Melin tajam. Dan Gaun bangsawan Yan Melin seketika terpasang sempurna.
Di atas singgasana, Wu Xuan yang tadinya bersandar langsung duduk tegak, memanfaatkan momen itu untuk membuang semua pikiran 'berbahaya' dari otaknya. Matanya kembali menajam, aura dominasinya menyapu seluruh ruangan.
"Masuk," perintah Wu Xuan, mengabaikan kemarahan istrinya.
Pintu giok yang berat itu terbuka perlahan, tidak mengeluarkan suara decitan sedikit pun. Dari balik kegelapan lorong, dua sosok melangkah masuk ke dalam cahaya terang Aula Singgasana.
Mereka adalah dua orang pria muda. Keduanya memiliki postur tubuh yang luar biasa tegap, dengan tinggi sekitar 1,8 meter. Pakaian mereka adalah jubah bangsawan Keluarga Wu, namun terbuat dari bahan sutra kualitas menengah, bukan kualitas tertinggi seperti yang dikenakan oleh Wu Shan.
Wajah mereka tampan, dengan garis rahang yang keras dan mata yang menyiratkan ketangguhan yang ditempa oleh penolakan. Berbeda jauh dengan Wu Shan yang memancarkan arogansi kosong, dua pemuda ini memancarkan aura pedang yang disembunyikan dalam sarungnya.
Begitu melihat mereka, wajah Yan Melin seketika menggelap. Rasa jijik dan kebencian terpancar jelas dari tatapannya.
Kedua pemuda itu mengabaikan tatapan membunuh Nyonya Utama. Mereka berjalan hingga ke tengah aula, lalu berlutut serentak dengan gerakan yang sangat disiplin dan sinkron.
"Salam, Patriark," ucap keduanya bersamaan, suara mereka tegas namun membawa jarak yang sangat jauh.
Mata emas Wu Xuan menatap kedua pemuda itu. Ingatan dari novel yang ia baca dan memori dari pemilik tubuh asli bergabung di dalam kepalanya, memberikan gambaran lengkap tentang siapa dua sosok ini.
Wu Guan dan Wu Ling.
Mereka berdua adalah anak haramnya. Dihasilkan dari malam di mana Wu Xuan yang asli mabuk berat karena frustrasi akan sikap dingin Yan Melin di masa lalu, dan berakhir tidur dengan dua pelayan wanita yang memiliki bakat kultivasi rendah. Kedua pelayan itu meninggal saat melahirkan mereka, karena dibunuh oleh Wu Xuan asli.
Karena teror dan ketakutan yang luar biasa terhadap kemarahan Yan Melin serta koneksi politik kekaisarannya, pemilik tubuh asli tidak pernah meresmikan mereka sebagai keturunan Keluarga Wu secara terang-terangan. Dia mengasuh mereka dalam bayang-bayang, memberikan sumber daya secara sembunyi-sembunyi, membiarkan mereka hidup dengan status canggung di dalam klan—setengah tuan muda, setengah pelayan.
Dalam alur novel aslinya, nasib kedua anak ini adalah tragedi klasik. Tumbuh dengan kebencian terhadap ayah yang tidak mengakui mereka, dan siksaan mental dari Nyonya Utama Yan Melin serta Wu Shan, mereka akhirnya membelot. Saat Tokoh Utama (MC) memulai perangnya melawan Keluarga Wu, Wu Guan dan Wu Ling bertindak sebagai mata-mata dan pengkhianat dari dalam.
Wu Guan gugur secara tragis sebagai tameng daging demi melindungi MC dalam pertempuran terakhir, sementara Wu Ling selamat, memenggal kepala Wu Shan, dan diangkat menjadi Patriark Keluarga Wu yang baru—sebuah keluarga yang pada akhirnya menjadi anjing penjaga setia di bawah kaki MC.
‘Dua serigala muda yang dibiarkan kelaparan dan disiksa oleh pemilik asli,’ pikir Wu Xuan, menganalisis mereka dengan dingin. ‘Mereka membenci keluarga ini karena mereka tidak pernah dianggap bagian darinya. Tapi berbeda dengan anak sialan Wu Shan yang manja, mereka tumbuh dengan menghadapi kerasnya dunia. Fondasi mereka solid. Tatapan mereka tidak goyah. Mereka adalah pion yang jauh lebih tajam dan berguna daripada si bodoh itu.’
"Berdirilah," ucap Wu Xuan, suaranya memecah keheningan.
Kedua pemuda itu bangkit berdiri. Saat mereka mengangkat kepala untuk menatap ayah mereka, ekspresi datar yang selama ini mereka pertahankan akhirnya retak.
Mata Wu Guan dan Wu Ling melebar. Mereka telah mendengar keributan dan rumor dari para pelayan yang baru saja kembali dari kediaman Lin, tapi melihatnya dengan mata kepala sendiri adalah hal yang sama sekali berbeda.
Pria tua yang selalu tampak lelah, pria pengecut yang selalu menundukkan kepala saat istrinya membentaknya, pria yang mereka panggil 'Patriark takut istri' dengan rasa jijik yang tersembunyi... kini telah lenyap.
Di hadapan mereka duduk seorang pria muda dengan rambut seputih bulan, wajah tampan bak dewa yang melampaui logika, dan mata yang memancarkan dominasi mutlak. Aura tekanan yang menyelimuti aula ini sangat jelas; ini adalah Ranah Primordial Suci.
Ayah mereka... merekonstruksi tubuhnya dan mencapai ranah yang jarang dicapai olah banyak orang?
"Ada apa kalian menatapku seperti itu?" tanya Wu Xuan santai, sebuah senyum tipis yang tak terbaca terukir di bibirnya. "Apakah penampilanku yang sekarang membuat kalian lupa cara berbicara?"
"Maafkan ketidaksopanan kami, Patriark," ucap Wu Ling dengan cepat, menundukkan pandangannya kembali. Meski mencoba menyembunyikannya, nada suaranya sedikit bergetar karena campuran antara rasa hormat paksaan dan teror murni. Dia tidak lagi bisa membaca pria yang duduk di singgasana itu.
Wu Xuan tidak mempedulikan ketakutan mereka. Dia sudah selesai dengan satu masalah internal, dan sekarang saatnya membersihkan halaman belakang rumahnya sebelum menyambut istri barunya, Qin Wuyan.
"Kalian datang tepat waktu," ucap Wu Xuan, mengabaikan Yan Melin yang masih berdiri kaku dengan wajah tidak senang.
Wu Xuan menggeser posisinya, mengangkat tangan kanannya. Jari telunjuknya mengetuk pelan sandaran tangan singgasana yang terbuat dari giok hitam.
Tuk.
Sebuah gelombang energi spiritual yang sangat halus melesat dari ujung jarinya, menembus dinding Aula Singgasana, dan melesat ke atas menuju Lonceng Jiwa yang terletak di puncak menara kediaman Wu.
TENGGG!
TENGGG!
TENGGG!
Suara lonceng yang berat dan bergema itu menggetarkan seluruh kompleks kediaman Keluarga Wu. Itu bukan panggilan biasa. Tiga kali deringan Lonceng Jiwa adalah panggilan darurat tertinggi; sebuah perintah mutlak yang mengharuskan setiap Tetua Klan—tanpa memandang status pengasingan mereka—untuk segera berkumpul di Aula Singgasana.
"Panggil semua tetua klan Wu," gumam Wu Xuan pelan, meski suaranya tertutup oleh gema lonceng, perintah itu tetap merasuk ke dalam jiwa semua orang di ruangan itu.
Reaksi atas panggilan pemimpin keluarga sangatlah mutlak. Dunia kultivasi tidak mengenal alasan.
Belum sampai dua menit sejak lonceng berhenti berbunyi, udara di dalam Aula Singgasana mulai terdistorsi. Satu per satu, siluet-siluet tua muncul dari kehampaan. Beberapa masuk melalui pintu utama dengan langkah bergegas, sementara yang lain menggunakan teknik pergerakan instan, memadatkan diri dari angin dan bayangan.
Ada dua belas Tetua Agung Klan yang hadir. Semuanya adalah kultivator tua di tahap Ranah Kuno tahap menengah dan akhir. Beberapa dari mereka memiliki rambut dan jenggot yang menjuntai hingga ke lantai, wajah mereka dipenuhi keriput dari ratusan tahun meditasi. Mereka adalah monster-monster tua yang menopang Keluarga Wu selama Wu Xuan berada dalam pengasingan.
Namun, saat kedua belas tetua itu melihat sosok yang duduk di atas singgasana, reaksi mereka jauh lebih dramatis daripada siapapun.
Para tetua yang tadinya masuk dengan raut wajah kebingungan atau sedikit kesal karena pengasingan mereka diganggu, seketika membeku. Mata tua mereka terbelalak nyaris melompat keluar dari rongganya. Mereka bisa merasakan tekanan itu. Tekanan alam semesta yang menundukkan energi di dantian mereka secara paksa.
"P... Patriark?!" suara Tetua Pertama, seorang pria tua di Ranah Kuno Akhir yang usianya hampir mencapai lima ratus tahun, bergetar hebat. Dia jatuh berlutut hingga lututnya menghantam lantai giok dengan keras. "Langit di atas! Energi ini... peremajaan fisik ini... Patriark telah menembus batasan fana!"
Reaksi berantai terjadi. Kesebelas tetua agung lainnya langsung menjatuhkan diri, membenturkan dahi mereka ke lantai giok yang dingin. Bukan karena ketakutan, melainkan karena rasa hormat yang mendalam, kekaguman absolut, dan kebahagiaan yang meluap-luap.
"Selamat atas terobosan Patriark menuju Ranah Primordial Suci!" seru para tetua serempak, suara mereka menggema menggetarkan dinding aula. "Keluarga Wu akan berjaya melintasi generasi!"
Bagi para tetua ini, melihat Patriark mereka yang dirumorkan akan mati karena luka dantian justru kembali dengan wujud dewa muda, adalah mukjizat surga. Dengan eksistensi seorang Primordial Suci, Keluarga Wu tidak lagi perlu tunduk pada tekanan faksi mana pun di kekaisaran, bahkan Faksi Kaisar Agung sekalipun.
Wu Xuan menatap para pria tua yang bersujud di hadapannya dengan ekspresi datar. "Bangunlah."
Para tetua bangkit berdiri, tubuh tua mereka sedikit gemetar karena sisa-sisa kegembiraan. Namun, saat mereka mengangkat pandangan, mereka akhirnya menyadari komposisi aneh di dalam ruangan tersebut.
Nyonya Utama, Yan Melin, berdiri di pinggir dengan wajah pucat dan tubuh kaku. Tapi yang paling membuat para tetua mengernyitkan dahi dalam kebingungan adalah keberadaan dua pemuda yang berdiri tegak di tengah aula.
Wu Guan dan Wu Ling.
Dua anak haram yang keberadaannya selama ini hanya menjadi rahasia umum yang diabaikan. Tuan muda klan yang tidak diakui, yang seharusnya tidak pernah diizinkan menginjakkan kaki di Aula Singgasana Utama, apalagi pada saat pertemuan darurat para Tetua.
Tetua Ketiga, seorang pria dengan temperamen keras, melangkah maju. "Patriark, mohon ampun atas kelancangan saya. Kami semua hadir memenuhi panggilan suci Anda. Namun..." dia menunjuk ke arah Wu Guan dan Wu Ling dengan pandangan merendahkan. "...mengapa dua anggota rendahan ini berada di tempat suci ini? Mereka menodai udara di hadapan keagungan Anda."
Wu Guan mengepalkan tangannya di balik lengan jubahnya. Rahangnya mengeras, kemarahan yang tertahan selama puluhan tahun kembali mendidih. Dia sudah terbiasa dihina, tapi diusir seperti anjing di depan ayahnya sendiri selalu memberikan luka baru. Dia bersiap untuk menunduk dan keluar. Begitu pula Wu Ling, matanya menatap dingin ke arah lantai, siap menerima penghinaan rutin dari keluarga ini.
Namun, sebelum kedua pemuda itu sempat bergerak mundur, sebuah suara yang sangat tenang namun mengandung otoritas yang bisa menghancurkan langit bergema dari atas singgasana.
"Tetua Ketiga," panggil Wu Xuan, senyum mematikannya kembali mekar di wajah rupawannya. "Kau sepertinya terlalu tua hingga matamu rabun, atau kau sengaja mempertanyakan keputusanku di dalam rumahku sendiri?"
Suhu di dalam ruangan seketika anjlok. Para tetua menahan napas. Tetua Ketiga langsung berkeringat dingin, menyadari dia baru saja memicu kemarahan eksistensi yang bisa membunuhnya hanya dengan satu lirikan.
Wu Xuan menopang tubuhnya ke depan, menatap tajam ke arah para tetua, lalu ke arah dua pemuda yang berdiri di tengah aula, dan terakhir melirik sinis ke arah istrinya yang masih terdiam dalam ketakutan.
"Aku memanggil kalian semua kemari," ucap Wu Xuan, suaranya pelan namun terdengar seperti guntur di telinga mereka, "karena akan ada perubahan struktur di dalam Keluarga Wu yang akan aku berlakukan malam ini juga. Mulai dari yang terbesar... hingga sampah terkecil."
Bersambung...