Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: DOKTER BILANG CIDERA, IBU LEGA
---
Mahesa melihat nomor di tangan. Empat puluh lima. Ditulis dengan spidol di kertas bekas. Angka yang mulai kabur. Yang mungkin terhapus keringat. Atau air hujan. Atau harapan yang pudar.
Jam enam pagi. Mereka sudah sampai. Setelah berjalan dua jam dari rumah. Setelah berhenti berkali-kali karena kaki kanannya tidak bisa diajak kompromi. Setelah Bima mengeluh haus, panas, capek, dan segalanya. Setelah ayah berhenti di setiap warung untuk membelikan Bima air, untuk menenangkan Bima, untuk... Bima.
Untuknya, tidak ada. Tidak pernah ada.
Puskesmas. Bangunan putih yang terlihat besar dari jauh. Yang terlihat kecil dari dekat. Yang penuh dengan orang-orang yang sama-sama menunggu. Yang sama-sama berharap.
Mahesa duduk di lantai. Di tangga. Di tempat yang tidak mengganggu lalu-lalang pasien. Kaki kanannya—yang menjadi alasan semua ini—diletakkan di depannya. Terlihat. Terbuka. Tidak bisa disembunyikan lagi.
Terasa seperti batu. Berat. Panas. Seperti ada api di dalam yang tidak terlihat. Seperti ada sesuatu yang menggerakkan, tumbuh, membesar... tanpa izin.
Ibu duduk di sebelahnya. Ayah berdiri di antrean, menunggu nomor dipanggil. Bima di pangkuan ibu. Tidur. Akhirnya. Setelah semua keluhan. Setelah semua rengekan. Setelah semua perhatian yang hanya untuknya.
"Sebentar lagi." Ibu berkata. Bukan ke Mahesa. Ke diri sendiri. Ke Bima yang tidur. Ke waktu yang berjalan terlalu lambat.
Mahesa tidak menjawab. Hanya mengangguk. Hanya menatap kakinya. Yang batu. Yang panas. Yang salah. Yang akan menentukan segalanya hari ini.
---
Nomor dipanggil satu per satu. Satu. Dua. Tiga. Empat puluh lima terasa seperti gunung. Seperti hari yang tidak akan pernah tiba.
Orang-orang masuk dan keluar dari ruang periksa. Wajah-wajah yang berbeda. Ada yang lega. Ada yang cemas. Ada yang menangis. Ada yang diam seribu bahasa.
Mahesa mengamati mereka. Mencoba menebak apa yang mereka rasakan. Apakah ada yang sama sepertinya? Yang kakinya membengkak tanpa sebab? Yang tubuhnya berubah menjadi sesuatu yang asing?
Seorang ibu keluar dengan anak kecil. Anak itu kakinya dibalut perban. Mungkin jatuh. Mungkin terkilir. Ibu itu tersenyum. Lega.
Seorang bapak tua keluar dengan kertas resep. Wajahnya datar. Mungkin sakit biasa. Mungkin tekanan darah. Sesuatu yang bisa diobati.
Tidak ada yang seperti dia. Tidak ada kaki yang membengkak aneh. Tidak ada yang kulitnya mengkilap seperti miliknya.
Dua jam berlalu. Tiga jam. Empat jam.
Bima bangun. Mulai rewel. Lapar. Haus. Panas. Ibu membelikannya makan dari warung kecil di depan puskesmas. Uang yang tersisa. Uang yang seharusnya...
Mahesa tidak diberi. Tidak minta. Tidak berhak.
Jam sebelas. Lima jam menunggu. Lima jam duduk di lantai. Lima jam dengan kaki yang terasa seperti batu.
"Empat puluh lima!"
Suara petugas dari dalam ruangan. Putih. Bersih. Dingin.
Ayah melambai. Ibu bangun, menggendong Bima yang sudah segar setelah makan. Mahesa berdiri. Perlahan. Kaki kanan protes. Nyeri tajam menjalar dari pergelangan hingga ke punggung. Ia menahan. Harus. Ini saatnya.
Dokter muda. Dengan jas putih bersih. Dengan wajah yang belum lelah oleh waktu. Yang masih percaya pada kata-kata. Pada diagnosis. Pada kemudahan.
"Silakan duduk." Dokter itu menunjuk bangku periksa. Matanya jatuh ke kaki Mahesa. Sebentar. Lalu beralih ke ibu. Ke ayah. Ke Bima yang merengek di gendongan.
Mahesa duduk. Bangku dingin. Kaki kanan diangkat sesuai instruksi. Dokter memegang. Memutar. Menekan di beberapa tempat.
"Sakit?" tanya dokter.
Mahesa mengangguk. "Sakit, Dok."
Di mana? Sudah berapa lama? Jatuh? Terbentur?
Pertanyaan-pertanyaan cepat. Seperti kuis. Seperti tidak sabar. Seperti ada pasien lain yang menunggu.
Mahesa menjawab sebisanya. Tentang gigitan nyamuk. Tentang bengkak yang makin besar. Tentang obat dari puskesmas kampung yang tidak mempan. Tentang...
Dokter mengangguk-angguk. Tapi matanya... matanya tidak benar-benar melihat. Tidak benar-benar memeriksa. Hanya... prosedur. Hanya... rutinitas.
"Cidera." Dokter berkata. Cepat. Mudah. Seperti mengucapkan "pagi". Seperti mengucapkan "baik". "Mungkin terbentur waktu main. Atau keseleo. Kompres air hangat. Obat ini diminum tiga kali sehari. Nanti sembuh."
Ibu lega.
Terlihat jelas. Di wajah lelah. Di mata berkaca. Lega yang mengalir seperti air. Seperti beban puluhan tahun yang tiba-tiba diangkat.
"Alhamdulillah." Ibu berkata. Tersenyum. Pertama kalinya dalam berhari-hari. Dalam berminggu-minggu. Mungkin dalam... bertahun-tahun. "Alhamdulillah, Ya Allah. Cidera saja. Bukan apa-apa."
Bukan apa-apa.
Mahesa mendengar kata-kata itu. Menyimpannya di dalam dada. Di tempat yang sama dengan semua luka yang tidak terlihat.
Bukan apa-apa. Padahal ia tidak bisa tidur semalaman karena nyeri. Padahal ia harus berhenti setiap lima langkah karena sakit. Padahal ia tahu—tahu dengan pasti—ini bukan cidera biasa.
Tapi ibu lega. Dan lega ibu lebih penting dari kebenaran. Dari rasa sakitnya. Dari apa pun.
"Terima kasih, Dok." Ayah menggenggam tangan dokter. Genggaman kuat. Penuh syukur. "Terima kasih banyak."
Mahesa melihat tangan ayah. Kasar. Pecah-pecah. Penuh kapalan. Tangan yang bekerja di tambang. Tangan yang memanggul beban. Tangan yang sekarang menggenggam tangan dokter dengan lega yang sama seperti ibu.
Ia tidak bisa berkata apa-apa. Tidak bisa bilang, "Dok, ini bukan cidera. Ini sesuatu yang lain. Tolong periksa lagi."
Karena ibu sudah lega. Ayah sudah percaya. Dan mereka sudah cukup lelah.
---
Pulang. Jalan lima kilometer lagi.
Kaki kanan semakin sakit. Setiap langkah seperti menginjak pecahan kaca. Setiap langkah seperti dihukum. Setiap langkah seperti berjalan di atas api.
Bima di gendong ayah. Tidur lagi. Pulas. Seolah perjalanan ini mudah. Seolah lima kilometer adalah lima langkah. Seolah dunia ini adil.
Ibu berjalan di samping ayah. Kadang-kadang menengok ke belakang. Ke Mahesa yang tertinggal. "Kuat, Nak?"
Mahesa mengangguk. Mengangguk. Selalu mengangguk.
Kuat. Harus kuat. Karena tidak ada pilihan lain. Karena ibu sudah lega. Karena tidak boleh merusak lega itu.
Sesampai di rumah, matahari sudah condong. Bima bangun. Segar. Seolah baru tidur di kasur empuk. Seolah baru saja makan besar. "Aku lapar!" teriaknya. Seperti biasa. Seperti selalu. Seperti yang berhak.
Ibu masak. Cepat. Dengan tenaga yang tiba-tiba ada. Karena lega. Karena cidera. Karena tidak ada yang salah.
Bima makan. Lahap. Seperti tidak pernah makan sebelumnya. Seolah perjalanan lima kilometer adalah lomba. Adalah permainan. Adalah petualangan seru.
Mahesa tidak makan. Tidak bisa. Terlalu sakit. Terlalu lelah. Terlalu... kecewa.
Ia berbaring di tikar. Di pojok. Menatap atap bocor. Memikirkan dokter yang bilang cidera. Memikirkan ibu yang lega. Memikirkan... kebenaran yang tidak ada yang mau dengar.
Karena ia hanya anak. Karena dokter bilang cidera. Karena ibu sudah lega. Dan lega ibu lebih penting dari rasa sakitnya.
---
Malam turun. Gelap. Sunyi. Hanya suara jangkrik dan dengkur Bima.
Mahesa tidak tidur. Masih terjaga. Masih merasakan nyeri yang menjalar dari kaki hingga ke kepala. Masih memikirkan... apa yang salah di dalam tubuhnya.
Tiba-tiba, suara. Dari luar. Dari belakang rumah.
Suara ayah. Berbicara dengan seseorang. Suara rendah. Berusaha tidak terdengar. Tapi malam terlalu sunyi.
Mahesa merangkak. Perlahan. Ke jendela belakang. Yang papan kayunya longgar. Ia mengintip.
Ayah dengan Pak Tarno. Tetangga yang punya toko sayur. Yang kemarin kasih daun singkong. Yang selalu baik padanya.
"Mahesa kakinya beneran cuma cidera?" tanya Pak Tarno. Suara berat. Seperti tidak percaya.
Ayah diam. Lama. Lama sekali.
Lalu berkata: "Dokter bilang gitu."
"Tapi..." Pak Tarno berhenti. Seolah mencari kata yang tepat. Seolah takut. "Kampung sebelah ada yang begitu. Kaki gajah namanya. Penyakit. Bukan cidera. Anaknya Pak Darman. Dulu kecil kakinya bengkak. Lama-lama makin besar. Sekarang sudah tidak bisa jalan."
Ayah diam lagi. Lebih lama. Lebih berat.
Mahesa bisa melihat punggung ayah dari jendela. Bahu yang turun naik. Napas yang tertahan.
Lalu ayah berkata: "Saya tahu."
Dua kata. Dua kata yang menggantung di udara malam. Dua kata yang Mahesa tangkap. Yang Mahesa simpan dalam-dalam.
Saya tahu.
Ayah tahu. Ayah tahu ini bukan cidera. Ayah tahu ada sesuatu yang salah. Tapi ayah diam. Ayah mengikuti kata dokter. Mengikuti yang lebih mudah.
Mahesa tidak marah. Tidak bisa. Karena ia mengerti. Mengerti dengan cara anak yang terpaksa dewasa—ayah tidak punya pilihan. Tidak ada uang untuk periksa ke rumah sakit besar. Tidak ada uang untuk obat mahal. Tidak ada uang untuk... apa pun.
Bukan karena tidak sayang. Bukan. Tapi karena dunia tidak adil.
Tapi kemudian, ayah berkata lagi. Suara lebih rendah. Hampir bisik. Tapi Mahesa mendengar.
"Besok saya cari tahu. Ke kampung sebelah. Ke dukun. Ke siapa pun. Yang bisa bantu."
Pak Tarno mengangguk. "Saya bantu. Saya tanya-tanya ke orang-orang. Siapa tahu ada yang tahu obatnya."
Ayah mengangguk. Menggenggam tangan Pak Tarno. Seperti menggenggam tangan dokter tadi. Tapi kali ini berbeda. Kali ini bukan syukur atas kemudahan. Tapi pegangan untuk... perjuangan.
---
Mahesa kembali ke tikar. Ke pojok. Ke tempat yang basah.
Tapi kali ini ada yang berbeda. Ada sesuatu yang hangat di dada. Sesuatu yang tidak ia rasakan sejak lama.
Harapan.
Bukan harapan besar. Bukan harapan yang bisa mengubah segalanya. Tapi harapan kecil. Harapan yang hanya cukup untuk membuatnya bertahan.
Ayah tahu. Ayah tidak percaya dokter. Ayah akan mencari tahu. Ayah tidak menyerah.
Dan ada Pak Tarno. Yang mau bantu. Yang mau tanya-tanya. Yang peduli pada anak yang bukan siapa-siapa baginya.
Mahesa menutup mata. Nyeri masih ada. Kaki masih panas. Masih berat. Masih salah.
Tapi besok, ayah akan mencari tahu. Besok, ada yang akan dilakukan. Besok, tidak sama dengan hari ini.
Ia meraih kaki kanannya. Memegang pergelangan yang bengkak. Hangat. Terlalu hangat.
"Kamu," bisiknya pada kaki itu. "Kamu tidak akan menang. Aku tidak akan menyerah."
Di luar, suara ayah dan Pak Tarno mulai menjauh. Langkah kaki. Pintu ditutup pelan. Malam kembali sunyi.
Mahesa berbaring. Memandangi atap bocor. Tapi malam ini, atap itu tidak terasa menekan. Tidak terasa seperti penjara.
Karena di luar sana, ayah sedang berjalan pulang dengan rencana di kepala. Dengan tekad di hati. Dengan... perjuangan untuknya.
Ibu lega dengan cidera. Tapi ayah tidak. Ayah tahu. Ayah akan berusaha.
Dan itu cukup. Untuk malam ini. Untuk kecewa yang ditahan. Untuk rasa sakit yang disembunyikan.
Itu cukup.
Karena ada yang tahu. Ada yang akan berusaha. Ada yang tidak menyerah.
Malam ini, itu cukup.
---
Mahesa memejamkan mata. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, ia tidur tanpa mimpi buruk. Tanpa membayangkan kakinya membesar tanpa henti. Tanpa membayangkan dirinya sendirian di dunia.
Karena di dalam tidurnya, ia mendengar suara ayah: "Besok saya cari tahu."
Dan itu lebih dari cukup.
---