NovelToon NovelToon
Tahta Darah Sembilan Cakrawala

Tahta Darah Sembilan Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".

Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembah Jurang Seribu Tulang

Cahaya fajar menembus badai salju dengan warna kelabu yang suram, tidak membawa kehangatan sedikit pun ke Ngarai Angin Membeku. Di dalam kurungan besi yang tertutup lapisan es setebal tiga inci, belasan pengelana fana menggigil hebat. Bibir mereka membiru, dan beberapa di antaranya bahkan telah menghembuskan napas terakhir, mati membeku sebelum pedang musuh sempat menyentuh mereka.

Hanya Shen Yuan yang duduk dengan tenang di sudut kurungan. Jubah abu-abunya tampak lusuh, tubuhnya gemetar seolah menahan dingin, namun di balik kulitnya, Tubuh Emas Gelap dan Nadi Iblis Penelan Surga bekerja dalam harmoni yang sempurna, menjaga darahnya tetap mendidih layaknya tungku perapian.

Klaaang!

Suara logam yang dipukul dengan keras memecahkan keheningan pagi. Pintu kurungan besi itu ditarik terbuka oleh dua murid Sekte Pedang Langit.

"Bangun, dasar babi-babi pemalas! Keluar sekarang juga!" bentak salah satu murid, mengayunkan cambuk kulit yang ujungnya dilapisi serpihan besi.

Cambuk itu menghantam punggung seorang pria paruh baya di dekat pintu, merobek kulitnya hingga darah segar memercik ke atas salju. Pria itu menjerit kesakitan, terhuyung-huyung keluar dari kurungan. Tawanan lain, termasuk Shen Yuan, ikut merangkak keluar dengan wajah penuh ketakutan—sebuah ketakutan yang sengaja dipalsukan oleh sang Iblis Penelan Surga dengan sangat apik.

Pemimpin kelompok bermarga Han berdiri di luar dengan tangan terlipat di depan dada. Jubah putih peraknya berkibar anggun, sangat kontras dengan pemandangan menyedihkan para tawanan.

"Ikat leher mereka satu per satu dengan Rantai Penekan Hawa Murni. Kita akan berangkat ke Lembah Jurang Seribu Tulang sekarang. Tuan Muda Pertama membenci keterlambatan," perintah Han dengan nada datar.

Sebuah rantai besi hitam yang tebal dikalungkan ke leher belasan tawanan itu, menyambungkan mereka layaknya barisan ternak yang akan dibawa ke rumah jagal. Saat rantai itu menyentuh kulit Shen Yuan, ia bisa merasakan sebuah hawa dingin yang berusaha mengunci pusaran Dantian-nya.

Namun, di hadapan Sutra Penelan Surga, rantai penekan tingkat rendah ini tak lebih dari sekadar mainan anak-anak. Shen Yuan hanya perlu membiarkan Nadi Iblisnya berputar pelan untuk menelan hawa penekan tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan. Ia menundukkan kepalanya, berjalan terseok-seok mengikuti tarikan rantai.

Rombongan itu bergerak menembus ngarai. Semakin jauh mereka berjalan ke utara, suhu udara tidak lagi hanya membekukan tubuh, tetapi mulai membekukan jiwa. Angin yang berhembus membawa suara lolongan yang menyeramkan, seolah jutaan arwah penasaran sedang menangis di balik tirai salju.

Setelah berjalan selama empat jam tanpa henti, badai salju tiba-tiba mereda secara tidak wajar. Dinding tebing es di kiri dan kanan mereka terbuka lebar, menampakkan sebuah cekungan raksasa yang besarnya sanggup menelan sepuluh Kota Debu Merah sekaligus.

Langkah kaki para tawanan terhenti. Mata mereka terbelalak memancarkan kengerian yang tak terlukiskan. Bahkan Shen Yuan pun harus sedikit menyipitkan matanya di balik tudung jubahnya.

Cekungan raksasa itu... sepenuhnya tertutup oleh lautan tulang belulang!

Tengkorak manusia, rusuk binatang buas raksasa yang besarnya menyerupai bukit, hingga kerangka siluman purba bertanduk membusuk di dasar lembah. Kabut berwarna kelabu pekat menguar dari tumpukan tulang tersebut, membawa hawa beracun tingkat tinggi yang jauh lebih mematikan daripada kabut ungu di Pegunungan Kabut Beracun.

Inilah Lembah Jurang Seribu Tulang. Tempat peristirahatan terakhir sang Tuan Tanah Hantu.

Di tepi lembah raksasa itu, ratusan tenda mewah didirikan. Ribuan murid pilihan Sekte Pedang Langit berjaga dengan pedang terhunus. Di tengah-tengah perkemahan tersebut, sebuah paviliun melayang yang ditopang oleh empat pilar batu giok berdiri dengan megah.

Di dalam paviliun melayang itu, duduk seorang pemuda berpakaian sutra putih bersih. Wajahnya setampan dewa fana, matanya setajam ujung pedang pusaka, dan di pangkuannya tergeletak sebilah pedang perak yang tidak bersarung. Pemuda ini memancarkan aura yang sangat mengerikan, menekan seluruh kehidupan di sekitarnya.

Ia adalah Jian Wushuang, Tuan Muda Pertama Sekte Pedang Langit. Seorang jenius mutlak yang telah menginjak Ranah Pembentukan Inti Emas di usianya yang baru menginjak dua belas tahun!

"Kakak Seperguruan Han melapor kepada Tuan Muda Pertama! Pasukan pos penjagaan Ngarai Angin Membeku telah membawa lima belas pengelana untuk dijadikan umpan pembuka jalan!" teriak Han sambil menangkupkan kedua tangannya dari bawah paviliun melayang.

Jian Wushuang tidak membuka matanya. Ia hanya mengayunkan dua jarinya dengan santai. "Bawa mereka ke Gerbang Kutukan di dasar lembah. Jangan buang waktuku."

"Laksanakan!"

Han dan para murid lainnya segera menarik rantai besi itu dengan kasar, menyeret para tawanan menuruni jalan setapak berbatu menuju dasar lembah yang tertutup lautan tulang.

Bau busuk kematian menyengat hidung. Setiap langkah yang mereka ambil menghancurkan tengkorak-tengkorak purba yang rapuh menjadi serbuk putih. Semakin dekat mereka ke pusat lembah, hawa beracun kelabu semakin tebal. Tiga orang tawanan fana di barisan belakang mulai muntah darah hitam dan jatuh ambruk, nyawa mereka melayang direnggut oleh racun udara.

Han hanya mendengus, memotong rantai yang mengikat mayat-mayat itu agar tidak menghambat sisa tawanan yang masih hidup.

Akhirnya, mereka tiba di pusat lembah. Di hadapan mereka, berdiri sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari tulang hitam legam, menjulang setinggi sepuluh tombak. Pintu gerbang itu tertutup rapat, dihiasi oleh ratusan ukiran aksara darah yang memancarkan pendaran merah redup.

Inilah pintu masuk utama menuju Makam Tuan Tanah Hantu.

Seorang Penatua Sekte Pedang Langit yang berjaga di depan gerbang menoleh ke arah Han. Penatua ini berada di Puncak Ranah Pengumpulan Lautan Qi.

"Bagus. Lemparkan mereka ke atas Altar Darah di depan gerbang. Segel aksara ini membutuhkan vitalitas segar untuk melemahkan fondasinya sebelum kita membedahnya dengan formasi pedang," perintah sang Penatua dengan kejam.

"Jalan, anjing-anjing kotor!"

Para penjaga menendang tawanan yang tersisa, memaksa mereka melangkah ke sebuah pelataran batu melingkar tepat di depan gerbang tulang hitam tersebut. Shen Yuan berjalan di tengah-tengah kelompok itu, tubuhnya sengaja ia buat gemetar, namun matanya yang tertutup tudung dengan tenang menelaah setiap susunan aksara di pelataran tersebut.

"Ini adalah Susunan Aksara Penghisap Kehidupan tingkat tinggi," suara Leluhur Darah bergema dalam lautan kesadaran Shen Yuan. "Segel ini dirancang untuk menyedot habis darah dan hawa murni siapa pun yang menginjaknya untuk memperkuat pintu gerbang, bukan melemahkannya! Penatua sekte bodoh itu salah paham! Jika mereka melemparkan daging fana ke sini, gerbang ini hanya akan semakin tak tertembus!"

"Jika gerbangnya semakin kuat, lalu bagaimana cara memasukinya?" tanya Shen Yuan dalam batinnya.

"Gunakan otakmu, Bocah! Kau memiliki potongan petanya! Peta itu bukan sekadar penunjuk arah, melainkan kunci penghubung! Saat susunan aksara ini aktif dan sibuk menghisap nyawa fana di sekitarmu, celah pada pusat susunan aksaranya akan terbuka. Saat itulah kau harus meneteskan intisari darahmu yang memiliki ikatan gaib dengan aura peta itu ke tengah pelataran!"

Tepat saat Leluhur Darah selesai menjelaskan, sang Penatua Sekte Pedang Langit melemparkan sebuah jimat peledak ke tengah pelataran batu.

Wussshhh!

Seketika itu juga, ratusan aksara darah di pelataran itu menyala terang benderang. Susunan Aksara Penghisap Kehidupan aktif!

"Aaarrrghhh!"

Jeritan memilukan yang menyayat hati meledak dari para tawanan. Tubuh mereka mendadak kaku, terangkat satu jengkal dari tanah. Kulit mereka melepuh, dan darah segar merembes keluar dari seluruh pori-pori mereka, ditarik paksa oleh daya hisap tak kasat mata menuju ke tengah pelataran.

Daging dan tulang mereka menyusut dengan kecepatan mengerikan. Dalam tiga tarikan napas, sepuluh manusia fana telah berubah menjadi kabut darah yang berputar-putar di udara, lalu terserap ke dalam ukiran gerbang tulang hitam. Gerbang raksasa itu mendengung puas, auranya menjadi semakin pekat dan mematikan.

"Ada yang salah! Mengapa segelnya justru menjadi lebih kuat?!" Penatua sekte itu memucat saat merasakan tekanan balik dari gerbang yang nyaris meremukkan tulang rusuknya.

Namun, di tengah badai kabut darah dan kebingungan para ahli sekte, satu sosok tawanan masih berdiri tegak di tengah pelataran.

Shen Yuan.

Jubah abu-abunya telah robek oleh hisapan susunan aksara, namun kulitnya memancarkan kilau emas gelap yang tak tergoyahkan. Nadi Iblis Penelan Surga di dalam tubuhnya berputar berlawanan arah dengan daya tarik altar tersebut, menciptakan sebuah titik kehampaan di mana hisapan mematikan itu sama sekali tidak bisa menyentuhnya.

"Tunggu! Siapa anak itu?! Mengapa Susunan Aksara Darah tidak mempengaruhinya?!" teriak Han dari luar pelataran, matanya membelalak tak percaya.

Di atas paviliun melayang yang berjarak jauh di atas mereka, Jian Wushuang tiba-tiba membuka matanya. Sepasang matanya yang sedingin es menyipit tajam, langsung mengunci sosok berjubah abu-abu di dasar lembah. "Aura penelanan yang sangat kuat... Dia menyembunyikan kekuatannya. Tangkap dia!"

Namun, Shen Yuan tidak memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk bertindak.

Ia mendongak, melemparkan tudung jubahnya ke belakang. Sepasang matanya yang menyala semerah darah menatap lurus ke arah ribuan murid Sekte Pedang Langit dengan senyum mengejek yang membuat darah mereka membeku.

"Kalian menyebut diri kalian pilar keadilan? Hari ini, biarkan 'umpan daging' ini yang membuka jalan menuju neraka untuk kalian!"

Shen Yuan menggigit ujung jarinya. Dengan kekuatan penuh dari Puncak Ranah Penempaan Raga Lapisan Kedelapan, ia menghantamkan telapak tangannya yang berlumuran intisari darah—darah yang telah memiliki ikatan gaib dengan Peta Makam Tuan Tanah Hantu—tepat ke jantung Susunan Aksara di bawah kakinya.

Bummmmm!

Sebuah ledakan cahaya merah darah dan abu-abu kematian meletus dari pelataran batu tersebut, menyapu ke segala arah layaknya tsunami. Penatua di Puncak Lautan Qi dan puluhan murid pilihan di barisan depan terhempas ke udara memuntahkan darah, tulang-tulang mereka remuk dihantam gelombang kejut dari getaran kuno tersebut.

Gerbang tulang hitam legam yang tadinya menjulang kokoh, kini bergetar hebat. Di bawah pengaruh kunci darah Shen Yuan dan ikatan patahan peta di dalam Kantong Qiankun-nya, ukiran aksara di gerbang itu perlahan memudar.

Kreeeaaak...

Dengan suara gesekan yang mengerikan dan memekakkan telinga, gerbang raksasa itu perlahan terbuka dari tengah, menampakkan sebuah lorong panjang yang gelap gulita menuju kedalaman perut bumi. Hawa murni yang luar biasa purba dan kental menyembur keluar, membawa aroma harta karun dan kematian yang telah terkubur ribuan tahun.

Gerbang Makam Tuan Tanah Hantu telah terbuka!

"Gerbangnya terbuka! Anak itu memiliki kunci makam! Jangan biarkan dia masuk!" raung Jian Wushuang dari atas paviliunnya. Sang Tuan Muda Pertama melesat turun bagaikan pedang dewa yang membelah langit, membawa tekanan mutlak dari Ranah Pembentukan Inti Emas.

Namun, jarak di antara mereka terlalu jauh.

Shen Yuan menoleh ke belakang, menatap sosok Jian Wushuang yang turun dengan kecepatan kilat. Alih-alih melarikan diri dengan panik, Iblis Penelan Surga itu justru tertawa keras. Ia mengacungkan telunjuknya ke bawah dengan meremehkan ke arah sang Tuan Muda yang dipuja ribuan orang tersebut.

"Jika kau menginginkan warisan ini, turunlah ke liang kubur dan rebut dariku, Tuan Muda!"

Tanpa ragu sedetik pun, Shen Yuan melompat mundur, menelan dirinya sendiri ke dalam kegelapan lorong Makam Tuan Tanah Hantu. Tepat setelah tubuhnya melewati ambang batas, gerbang tulang raksasa itu mulai bergetar dan menutup kembali dengan sangat cepat.

Baaam!

Pedang perak Jian Wushuang menghantam gerbang yang baru saja menutup rapat itu, menciptakan percikan api yang menyilaukan. Namun, gerbang itu tidak bergeming sedikit pun. Ahli Inti Emas itu mendarat di depan gerbang dengan wajah yang sangat gelap dan murka. Ia, seorang jenius alam menengah, baru saja dipermainkan di depan ribuan muridnya oleh seorang pengelana fana!

"Susun Formasi Pedang Penghancur Langit! Hancurkan gerbang ini paksa!" raung Jian Wushuang, suaranya dipenuhi niat membunuh yang sanggup meruntuhkan gunung. "Begitu kita masuk, aku ingin pemuda itu ditangkap hidup-hidup. Aku akan mencabut jiwa dan menguliti dagingnya dengan tanganku sendiri!"

Di saat yang sama, jauh di dalam kegelapan makam purbakala, langkah kaki Shen Yuan menggema pelan. Ia telah memasuki sarang dari penguasa jiwa ribuan tahun yang lalu, sendirian, dengan ribuan musuh yang sedang berusaha menjebol pintu di belakangnya. Perlombaan maut untuk memperebutkan warisan agung akhirnya dimulai.

1
Bucek John
kiankun kepala keluarga Lin disio siokan, gak ditoleh, padahal harta sdh jelas byk sekali n harta klan lin gak diambil, sia sia harta menang prang..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!