Dalam kehidupan sebelumnya, Vanylla Anderson adalah legenda di dunia teknologi. Ia seorang jenius yang berdiri di puncak, ditakuti sekaligus dihormati oleh banyak orang.
Namun ketika membuka mata untuk kedua kalinya, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis yang dianggap tidak berguna.
Namanya Vanylla Kennedy. Putri keluarga konglomerat yang dikenal bodoh, malas belajar, dan sering menjadi bahan ejekan di kalangan keluarga kaya.
Lebih buruk lagi, sebuah rahasia besar baru saja terungkap. Vanylla Kennedy ternyata bukan anak kandung keluarga Kennedy. Bayi yang tertukar delapan belas tahun lalu akhirnya ditemukan.
Putri asli keluarga itu, Emilly, kembali dengan kecantikan, kecerdasan, dan reputasi yang sempurna.
Sementara Vanylla hanya dianggap sebagai putri pengganti palsu yang memalukan. Ia dihina, diusir, dan dibuang dari keluarga yang dulu ia sebut rumah.
Namun sayangnya. Gadis yang mereka hina itu bukan lagi Vanylla yang dulu.
Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkrutan Damascus
Om Masimmo segera memimpin anak buahnya meminta maaf.
Vanylla tidak memperpanjang masalah. Dia hanya menoleh ke arah Easton. “Ayo pulang, Paman.”
“Baik.”
Easton langsung mengikuti Vanylla.
Om Masimmo dan yang lain hanya bisa menatap punggung mereka dengan bingung.
Tadi jelas Vanylla yang memanggil Easton sebagai paman. Namun entah kenapa, justru Easton yang terlihat seperti bawahan yang mengikuti Vanylla.
Mereka berjalan di jalan yang sepi.
Tiba-tiba Vanylla menoleh. “Paman, malam ini kamu menang berapa?”
“Ada di sini semua.”
Easton langsung mengeluarkan uang dari sakunya dan menyerahkannya pada Vanylla.
Dia bahkan tidak sadar betapa patuhnya dia sekarang. Seolah-olah itu terjadi secara alami. Vanylla menghitung uang itu dengan cepat.
Totalnya lima belas ribu dolar.
Gerakan tangannya begitu cepat hingga Easton hanya melihat bayangan tangan saja.
Dalam sekejap, uang itu sudah selesai dihitung.
“Ini buat Paman.”
Vanylla mengambil sebagian uang lalu menyerahkannya padanya.
Easton sedikit bingung.
Bukankah semua uang ini miliknya?
Vanylla langsung tahu apa yang dipikirkannya. “Paman, jangan lupa. Semua uang ini aku yang menangkan. Kalau aku nggak ikut, sekarang kamu sudah kalah sampai pulang tanpa celana.”
Artinya jelas.
Lima ribu Dolar yang dia terima sudah termasuk banyak.
Easton tersenyum.
“Kamu masih anak kecil. Buat apa pegang uang sebanyak itu? Serahkan saja ke Paman buat disimpan.”
Vanylla menjawab tenang. “Mamaku sakit. Aku mau bawa dia ke rumah sakit dan beli obat.”
Easton langsung terdiam. Ternyata uang itu untuk mengobati Lisa. Selama ini kesehatan Lisa memang sangat buruk.
Tiba-tiba Easton merasa bahwa keponakannya ini benar-benar anak yang baik.
Saat itu lampu mobil menyorot mereka dengan cahaya putih yang terang. Easton langsung menutup mata dengan tangannya.
Sebaliknya, Vanylla berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Dia bahkan tidak menoleh. Di dalam mobil, seorang pria duduk di kursi belakang. Tasbih ada di tangannya. Matanya tertutup.
Namun ketika mobil melewati mereka, matanya terbuka sedikit. Sudut matanya yang panjang terangkat. Sepasang mata hitam pekat terlihat di baliknya. Dalam. Tak terbaca. Seolah tinta hitam yang pekat.
Kemudian sudut bibirnya sedikit terangkat. Senyum tipis. Jay Brandon hampir menjatuhkan rahangnya saat melihat dari kaca spion.
Sial.
Dia tersenyum?
Selama bertahun-tahun bekerja dengan Waats Damascus, dia tidak pernah melihat pria itu tersenyum.
Apa dia salah lihat?
Jay Brandon menggosok matanya.
Ketika melihat lagi ke kaca spion, wajah Waats Damascus sudah kembali seperti biasa.
Dingin. Tanpa ekspresi. Mungkin dia memang salah lihat. Jay Brandon berpikir dalam hati.
Bagaimana mungkin bongkahan es seperti itu bisa tersenyum?
Saat itu Waats Damascus memijat pelipisnya. Kemudian dia berkata dengan nada santai.
“Sebarkan kabar bahwa keluarga Damascus kembali ke Newyork karena krisis keuangan. Katakan juga bahwa perusahaan mereka hampir bangkrut.”
Jay Brandon menoleh bingung.
Sejak kapan keluarga Damascus mengalami krisis?
Sejak kapan perusahaan mereka hampir bangkrut?
Namun beberapa detik kemudian dia mengerti.
Jika kabar bangkrut tersebar, semua orang yang bermuka dua pasti akan menunjukkan sifat asli mereka.
Jay Brandon tersenyum. “Baik.” Lalu dia berkata lagi. “Bro, besok pagi Bibi Emma dan madam Vonia akan datang ke rumah Kel. Kennedy . kamu ikut?”
“Berkunjung?”
Waats Damascus mengangkat alis sedikit. Tatapannya mengandung sedikit ejekan.
Jay Brandon langsung mengerti maksudnya. “Tenang saja, Bro. Putri keluarga Kennedy itu sangat baik. Bahkan saudara palsunya saja dia masih mau terima. Dia pasti mau menemani kamu melewati masa sulit.”
Jay Brandon sangat mengagumi Emilly. Menurutnya, gadis itu memiliki moral yang sangat baik.
Bahkan jika dia tahu keluarga Damascus hampir bangkrut, dia pasti tidak akan membatalkan pernikahan.
Namun Waats Damascus tidak menjawab. Dia hanya menggeser tasbih di tangannya perlahan.
...***...
Rumah judi itu cukup jauh dari ruang bawah tanah keluarga Anderson. Mereka berjalan sekitar dua puluh menit sebelum sampai rumah.
Saat itu sudah lewat jam tiga pagi.
“Tidur yang nyenyak, keponakan.”
“Paman juga.”
Keesokan paginya, Lisa bangun sangat pagi. Dia memasak bubur.
Karena khawatir Vanylla tidak terbiasa makan bubur polos, dia juga merebus dua butir telur.
Tak lama kemudian Easton masuk dari luar. “Kak! Sudah bangun? aku beli salad dan roti daging. Ayo sarapan!”
Lisa keluar dari dapur sambil mengelap tangannya di celemek.
“Kenapa kamu boros begitu? Bubur sudah aku masak.”
Easton tertawa.
“Bulan ini aku dapat bonus! Lagi pula keponakan aku masih masa pertumbuhan. Harus makan makanan bergizi.”
Lalu dia berkata lagi. “Oh iya, Kak. Keponakan aku belum keluar kan? aku panggil dia sarapan!”
Keponakan?
Lisa langsung bingung.
Siapa yang dia maksud?
Jangan-jangan Vanylla?
Padahal kemarin dia masih memanggilnya anak tidak tahu diri. Sekarang tiba-tiba jadi keponakan.
Apa dia sedang bermimpi?
Tiba-tiba Vanylla masuk dari luar.
“Selamat pagi, Ma. Paman.”
Lisa bertanya heran. “kamu dari mana, Vanylla?”
“Aku habis lari pagi.”
Tubuh pemilik asli tubuh ini sangat lemah. Baru beberapa putaran lari saja sudah terengah-engah.
Namun Vanylla tidak terburu-buru. Dia akan memperbaiki kondisi tubuh ini perlahan.
Easton langsung menarik Vanylla duduk. “Keponakan, sarapan! Ada roti daging, salad dan susu juga. kamu masih masa pertumbuhan, harus banyak kalsium!”
“Terima kasih, Paman.”
Keduanya terlihat seperti paman yang baik dan keponakan yang akrab.
Lisa sampai menggosok matanya. “Easton, kamu demam?”
Easton tertawa. “Kak, kamu ini berlebihan. Vanylla itu keponakan aku. Kalau bukan dia, siapa lagi yang harus aku sayangi?”
Lisa tidak tahu harus berkata apa. Dia merasa Easton sedang berpura-pura. Tapi dia tidak punya bukti. Sepanjang sarapan, dia tetap merasa bingung.
Setelah makan selesai, Vanylla meletakkan sendoknya. Dia menatap Lisa.
“Ma, aku lihat kondisi Mama kurang baik. Nanti kita ke rumah sakit buat periksa, ya?”
Lisa tersenyum. “Tidak perlu. Mama masih kuat.”
Pergi ke rumah sakit berarti harus mengeluarkan uang. Lisa terbiasa menahan sakit. Keuangan keluarga mereka tidak baik. Dia tidak ingin menjadi beban.
Namun Vanylla berkata lagi. “Kalau Mama tidak mau ke rumah sakit, biar aku saja yang periksa. Kebetulan dulu aku pernah belajar sedikit pengobatan tradisional.”
“Vanylla bisa pengobatan tradisional?”
Vanylla mengangkat tangannya sedikit. “Sedikit.”
Padahal sebenarnya Vanylla adalah dokter ajaib terkenal di dunia. Namun pemilik tubuh ini dulu berasal dari keluarga kaya. Anak-anak keluarga kaya sering mengikuti banyak kursus.
Jadi tidak aneh jika dia mengatakan pernah belajar pengobatan tradisional.
“Kalau begitu coba periksa Mama.”
Vanylla mengangguk. Dia mengulurkan tangan dan memeriksa nadi Lisa dengan serius.
Kondisi tubuh Lisa sangat lemah. Energi dan darahnya kurang. Tubuhnya juga kekurangan gizi. Ditambah lagi batuk kronis. Beberapa saat kemudian Vanylla melepaskan tangannya.
“Ma, apakah Ma baru-baru ini donor darah?”
Lisa tertegun. Kemudian dia mengangguk pelan. Easton langsung menyela dengan marah.
“Donor darah apa? Dia jual darah! Rumah sakit mana yang berani menerima darahnya dengan kondisi tubuh seperti ini?”
Biasanya sebelum donor darah harus ada pemeriksaan kesehatan.
Jika kondisi tubuh buruk, rumah sakit pasti menolak.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Vanylla.
Easton menjawab dengan kesal. “Dia lakukan itu supaya bisa beli iPhone buat Emilly!”
iPhone adalah ponsel mahal dari merek mewah. Orang biasa sulit membelinya. Setahun lalu Emilly memaksa Lisa membelikannya iPhone. Dia bahkan mengancam tidak akan makan jika tidak dibelikan.
Lisa sangat menyayangi putrinya. Dia takut Emilly benar-benar sakit jika tidak makan. Akhirnya dia pergi ke klinik ilegal untuk menjual darahnya.
Sejak kejadian itu, tubuh Lisa yang sudah lemah menjadi semakin buruk.
recommend bgt👍👍👍
aq suka kak ,,
byk pelajaran yg bisa qta ambil dr cerita ini ,,
dtggu next episode ny yx kak