NovelToon NovelToon
PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.

Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.

Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.

Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.

Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14. TAMPARAN ELARA

Setelah keluar dari ruang Kepala Akademi, Profesor Garrick Thorne langsung berjalan menyusuri lorong panjang tanpa banyak bicara.

Elara mengikuti di belakangnya dengan tenang.

Lorong-lorong akademi dipenuhi murid yang lalu-lalang. Banyak di antara mereka yang melirik Elara dengan rasa penasaran.

Beberapa berbisik.

"Dia murid baru itu?"

"Katanya dari kerajaan Aurelius."

"Kerajaan para kesatria?"

Elara pura-pura tidak mendengar..Ia sudah terbiasa dengan hal semacam ini.

Tidak lama kemudian Garrick berhenti di depan sebuah pintu kelas besar. Ia membuka pintu tanpa mengetuk.

Suara percakapan di dalam kelas langsung terhenti.

Puluhan pasang mata menoleh.

Ruangan kelas itu sangat luas. Kursi-kursi tersusun bertingkat seperti aula kecil, dan di depan terdapat papan besar yang dipenuhi rune sihir serta diagram lingkaran sihir yang rumit.

Profesor Garrick berjalan masuk.

Semua murid langsung berdiri.

"Selamat pagi, Profesor!" sapa mereka.

"Duduk," perintah Profesor Garrick. Suara Garrick singkat dan tegas.

Semua murid langsung duduk kembali.

Baru saat itu mereka menyadari seseorang berdiri di belakang Garrick.

Seorang gadis berambut hitam panjang dengan mata tajam yang tenang.

Garrick menoleh sedikit. "Masuk."

Elara melangkah ke depan.

Bisikan langsung memenuhi ruangan.

"Dia anak baru?"

"Cantik juga."

"Apakah bangsawan?"

"Katanya dia dari Aurelius."

Garrick mengetuk meja dengan jari..Suara kelas langsung hening.

"Perhatian. Mulai hari ini dia akan menjadi bagian dari kelas ini. Namanya Elara Ravens. Murid pindahan dari Kerajaan Aurelius. Bertemanlah dengannya," umum sang profesor.

Beberapa murid langsung menunjukkan berbagai reaksi.

Ada yang penasaran.

Ada yang terlihat tidak suka.

Ada yang memandang rendah.

Dan tentu saja ada yang hanya menonton dengan ekspresi bosan.

Seorang murid laki-laki berambut cokelat berbisik cukup keras.

“Aurelius? Bukankah mereka hanya pandai bertarung dengan pedang?”

Temannya tertawa kecil. "Ya, tidak mungkin dia bisa sihir."

Elara tetap berdiri tenang..Ia tidak menunjukkan emosi sedikit pun.

Garrick menatap kelas dengan tajam. "Jika ada yang keberatan dengan kehadiran murid baru ini, silakan keluar dari kelas."

Semua murid langsung diam. Tidak ada yang berani menantang Garrick.

"Bagus." Profesor Garrick lalu menunjuk kursi kosong di barisan tengah. "Duduk di sana."

Elara mengangguk. "Terima kasih, Profesor."

Ia berjalan menuju kursi itu.

Namun ketika ia duduk, tidak ada satu pun murid yang menyapanya. Mereka hanya melirik lalu kembali ke buku mereka.

Hari pertama kelas dimulai.

Profesor Garrick menulis sebuah rune besar di papan.

Pelajaran hari ini: Dasar Teori Aliran Energi Sihir.

Elara memerhatikan dengan sangat serius. Baginya semua ini adalah dunia baru. Ia tidak pernah belajar sihir sebelumnya.

Garrick menjelaskan tentang mana, inti sihir, dan bagaimana energi sihir mengalir melalui tubuh penyihir.

Elara mencatat semuanya dengan teliti.

Ketika kelas berakhir, murid-murid langsung keluar berkelompok.

Namun Elara berjalan sendirian.

Hari-hari berikutnya berjalan hampir sama.

Elara menghadiri berbagai kelas teori.

Kelas Rapalan Dasar.

Kelas Sejarah Sihir.

Kelas Struktur Mantra.

Semua hal itu sangat berguna baginya.

Elara belajar tentang jenis-jenis sihir, elemen-elemen, serta hubungan antara energi sihir dan tubuh manusia.

Namun meskipun ia selalu duduk di kelas yang sama dengan puluhan murid lain ...

Tidak ada yang benar-benar berbicara dengannya.

Mereka menjaga jarak.

Seolah-olah Elara adalah sesuatu yang asing.

Namun Elara tidak terlalu memedulikannya. Ia sudah pernah merasakan hal yang sama sebelumnya ketika ia belajar di akademi kesatria di Aurelius.

Sebagai putri Duke, ia juga sering dijauhi.

Bagi Elara, selama ia bisa belajar maka itu sudah cukup.

Waktu senggangnya ia habiskan di perpustakaan.

Perpustakaan Akademi Oberyn adalah tempat yang luar biasa.

Ruangannya besar seperti istana kecil.

Rak-rak buku tinggi menjulang hingga hampir menyentuh langit-langit.

Buku tentang sihir dari berbagai era memenuhi ruangan.

Elara sering duduk berjam-jam membaca.

Tentang teori elemen.

Tentang rapalan kuno.

Tentang sejarah penyihir legendaris.

Kadang-kadang ia bahkan lupa waktu.

Namun satu kebiasaan Elara membuat beberapa profesor mulai memerhatikannya.

Elara sering bertanya.

Bukan hanya di kelas.

Namun juga setelah kelas selesai.

Bahkan Elara tidak segan mendatangi ruangan para profesor.

"Profesor, saya ingin bertanya tentang hubungan antara sihir dan senjata."

"Profesor, apakah mungkin energi sihir dialirkan melalui pedang?"

"Profesor, bagaimana cara menstabilkan mana yang tidak terkendali?"

Sebagian profesor merasa terkesan.

Sebagian lagi merasa lelah dengan banyaknya pertanyaan Elara yang tiada habisnya.

Namun satu orang yang paling sering gadis itu datangi adalah Profesor Garrick Thorne.

Karena ia adalah wali Divisi Vanguard.

Divisi yang menggabungkan kemampuan kesatria dan sihir.

Suatu sore setelah kelas selesai, Elara berjalan menuju ruangan Garrick. Ia membawa beberapa buku dari perpustakaan.

Namun saat ia berjalan melewati koridor ... seseorang menyandung kakinya.

Elara hampir jatuh.

Buku-bukunya terlepas dari tangannya dan jatuh berserakan.

Suara tawa langsung terdengar.

Elara menoleh.

Dan melihat wajah yang sangat familiar.

Sabrina. Putri seorang Count dari Oberyn. Perempuan yang pernah bertengkar dengannya di hari pertama.

Di samping Sabrina berdiri dua temannya. Mereka tertawa sinis.

"Ups." Sabrina berkata dengan nada mengejek. "Sepertinya kakimu terlalu lemah untuk berjalan."

Elara menarik napas pelan. Rasanya seperti deja vu.

Elara membungkuk mengambil buku-bukunya tanpa menjawab.

Namun Sabrina tidak berhenti. "Jadi kau masih di sini? Gadis barbar dari Aurelius."

Beberapa murid mulai berhenti berjalan dan menonton.

Elara tetap diam. Ia tidak ingin membuat masalah. Ini bukan kerajaannya.

Namun Sabrina justru semakin kesal melihat sikap tenang itu.

"Kenapa diam? Apakah kau tidak punya sopan santun? Beraninya kau bersikap sombong di hadapanku," kata Sabrina.

Elara tetap tidak menjawab. Ia hanya berdiri sambil memegang buku-bukunya.

Sabrina mencibir. "Dasar barbar." Ia mengangkat tangannya.

Lingkaran sihir biru muncul di telapak tangan Sabrina

Sihir air.

Air tiba-tiba muncul seperti semburan.

SPLASH!

Air itu menyiram tubuh Elara.

Gaun akademinya langsung basah kuyup.

Air juga mengenai buku-buku di tangannya. Halaman-halaman buku mulai basah dan mengeriting.

Beberapa murid terkejut.

Namun sebagian hanya menonton.

Sabrina tertawa.."Lihat itu. Barbar basah."

Namun kali ini Elara tidak diam. Ia menatap buku-buku di tangannya. Halaman-halamannya basah. Itu buku perpustakaan yang ia pinjam dengan hati-hati.

Tangan Elara perlahan mengepal. Bukan karena dirinya basah. Namun karena buku-buku itu rusak.

Elara melangkah maju.

Sabrina masih tertawa.

Namun tiba-tiba ...

PLAK!

Tamparan keras mendarat di wajah Sabrina.

Suara itu bergema di koridor.

Semua murid terlonjak kaget.

Sabrina terpaku. Wajahnya merah karena tamparan itu. Beberapa detik ia bahkan tidak bergerak.

Lalu ...

"Apa kau baru saja menamparku?!" Sabrina menjerit marah.

Elara berdiri tenang. Matanya dingin. "Kau merusak buku perpustakaan karena ulahmu. Mengataiku barbar padahal sendirinya."

Sabrina murka. Lingkaran sihir merah muncul di tangannya. "Beraninya kau!"

Sabrina mengangkat tangannya. Gelombang tekanan sihir meluncur menuju Elara.

Namun ...

Energi itu tiba-tiba pecah. Seolah menghantam dinding tak terlihat.

Sabrina membeku. "Apa?"

Semua murid terkejut.

Bagaimana mungkin?

Elara adalah murid baru..Ia bahkan belum belajar sihir.

Namun sihir Sabrina hancur begitu saja.

Sabrina semakin marah. "Kau curang! Apa yang kau lakukan!"

Sabrina mengangkat tangannya lagi. Kali ini lingkaran sihir merah menyala terang.

Api muncul.

Api kecil mulai membentuk bola.

Namun sebelum ia melemparkannya ...

"CUKUP!"

Suara keras menggema di koridor.

Semua murid langsung membeku.

Profesor Garrick berdiri di ujung koridor. Tatapannya dingin seperti es.

"Berani sekali kalian menggunakan sihir di luar jam praktik," kata sang profesor marah.

Profesor Garrick berjalan mendekat. Langkahnya berat.

Sabrina langsung menunjuk Elara. "Profesor! Dia yang memulai! Dia menyerang saya!"

Sabrina menoleh ke murid lain mencari pembelaan. "Benar kan?!"

Beberapa murid ragu.

Elara tidak berbicara. Ia hanya menatap dingin. Lalu membungkuk mengambil buku-buku basah di lantai.

Garrick menatap Elara. "Apakah itu benar?"

Elara menggeleng. "Tidak, Profesor."

"Lalu?" tuntut Profesor Garrick.

"Saya sedang berjalan ke ruangan Profesor untuk bertanya tentang sihir dan senjata. Saat itu Lady Sabrina menyandung kaki saya," jawab Elara.

Garrick bertanya datar. "Apakah itu sebabnya kau bertengkar?"

Elara menggeleng lagi. "Bukan."

Elara mengangkat buku-buku basah itu dan melanjutkan, "Saya marah karena buku perpustakaan ini basah akibat sihir air Lady Sabrina."

Sabrina langsung berteriak. "Itu bohong! Buku itu basah karena dia sendiri tidak becus menggunakan sihir!"

Garrick menatap Sabrina dengan sangat tajam. "Berani sekali memotong ucapan orang. Apakah itu yang kau pelajari sebagai bangsawan?"

Sabrina terdiam.

Garrick menunjuk koridor yang basah. "Dan jelas siapa yang benar di sini. Kau bilang Elara membuat koridor ini basah karena ia bisa menggunakan sihir?"

Sabrina menjawab dengan gugup. "I-ya ...."

Garrick berkata datar. "Kalau begitu kau akan mendapat skors. Karena telah berbohong, membuat keributan, dan melanggar aturan akademi."

Sabrina memucat. "Apa?! Kenapa saya yang dihukum?! Dia yang salah!"

Garrick melangkah mendekat. "Karena bagaimana mungkin murid baru ini membuat sihir air yang buruk, jika dia bahkan belum bisa mengeluarkan sihirnya sama sekali."

Koridor langsung hening.

"Lagipula dia murid Divisi Vanguard. Fokusnya senjata, bukan sihir," tambah Profesor Garrick.

Sabrina benar-benar pucat.

Beberapa murid mulai berbisik.

Saat itu seorang siswi berambut cokelat mengangkat tangan. "Profesor, maaf menyela," katanya.

Garrick menoleh.

"Saya melihat dari awal. Yang memulai keributan adalah Lady Sabrina. Bahkan yang menggunakan sihir sedangkan murid baru itu hanya diam dan marah karena bukunya basah akibat sihir elemen Lady Sabrina," beritahu siswi itu.

Garrick mengangguk. "Baik.".Ia menatap Sabrina. "Dengan demikian jelas. Kau diskors selama satu minggu."

Sabrina menggertakkan gigi..Namun tidak bisa membantah.

Garrick lalu menoleh pada Elara. Namun agar adil. Kau juga akan dihukum karena membuat keributan."

Elara mengangguk. Ia sudah menduga. "Baik, Profesor."

Garrick berkata datar. "Kau akan berlari di lapangan akademi. Lima puluh putaran."

Koridor langsung heboh.

"LIMA PULUH?!"

"Itu mustahil!"

Lapangan akademi sangat besar. Tidak ada murid yang sanggup berlari sebanyak itu.

Namun Elara hanya menjawab tenang. "Baik, Profesor."

Garrick menatap Elara sebentar dan berkata, "Aku akan mengawasi dari ruanganku. Aku akan tahu jika kau tidak melakukannya."

Elara menjawab lagi. "Baik, Profesor."

Bagi Elara hukuman itu bukan apa-apa.

Sejak kecil ia sudah berlatih sebagai kesatria. Lari jarak jauh adalah latihan hariannya.

Sementara murid-murid lain menatapnya dengan penuh rasa iba.

Mereka tidak tahu.

Bagi Elara Ravens ... lima puluh putaran hanyalah pemanasan.

1
Miss Typo
main nyium aja tuh Aaron pinter bgt cari kesempatan 😁
Jelita S
Aron kesempatan dalam kesempitan lo🤣🤣🤣🤣
Jelita S
sama dong akan merindukan Lala kecil😍😍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐡 𝐜𝐢𝐮𝐦𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐩𝐢𝐩𝐢 𝐛𝐤𝐧 𝐛𝐚𝐤𝐩𝐚𝐨 𝐛𝐚𝐧𝐠 🤣🤣🤣

𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
Miss Typo
saat dah berubah dewasa lagi, Lala inget gak ya? pasti malu kalau inget semua 😁
Archiemorarty: bisa diliat di bab update jam 5 ini 🤣
total 1 replies
mimief
yah begitulah...ketika kita masih kecil semua akan terasa menyenangkan,ga ada beban dan hidup mengalir begitu aja.
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
Archiemorarty: Bener banget ini...😭
total 3 replies
Ir
kek nya penyihir hitam emang udah ngincer elara deh, karena pasti mereka punya ramalan masa depan bahwa akan ada anak perempuan yang membinasakan para penyihir hitam, nah makanya dia tau elara di Akademi Oberyn jadi mereka ngawasin terus monster itu cuma pancingan aja, mimpi elara pun cuma manipulasi biar elara gagal fokus mempelajari sihir nya
Archiemorarty: noooo
total 3 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
lala 😘😘😘
Selinah Albaid
setiap novel yang d tulis oleh Thor ini membuat kan kita ternanti2 bab demi bab dengan hati yang berdebar 2 n semangat..pokoknya the best
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak
total 1 replies
Anisa Muliana
thor,,aku baca sambil bayangin lucu bnget smpek ketawa" 🤣 gemes banget😬
Archiemorarty: Asli bocil paling hyper aktif perempuan tuh gemes banget 🤭
total 1 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Archiemorarty: otw 🤭
total 1 replies
mimief
kirain... keluarganya miara naga buat mainan
panik donk😜🤣🤣
mimief: lah iya🤣🤣🤣...
penyihir si penyihir ya
tapi ga Ampe miara naga juga 😜🤣
total 2 replies
Miss Typo
Elara yg cadel menggemaskan sekali 😍
Miss Typo: Aamiin 🤲
terimakasih 🙏🥰
total 9 replies
tqotqo
bagus banget ceritanya kayak ngehipnotis baca teruss
Archiemorarty: Wahh... terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
tqotqo
semangat Thor, aku juga kegemesan bacanya🤭
Archiemorarty: Gx kuat othor juga sama kegemasan Elara 😭
total 1 replies
Jelita S
jdi ingat mereka waktu kecil ( Rowan,epan,Lala dan Alon) 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Kan kan ... tengil banget mereka itu 🤣
total 1 replies
Jelita S
lucu banget Elara balik jdi bayik lagi🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Banget 😭
total 1 replies
Jelita S
uh terharu
mimief
imutnya si ok...
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜
mimief: heran ya..
mestinya dimana mana kaleman perempuan yaaa😜
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐰𝐚𝐡 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢 𝐛𝐚𝐫𝐛𝐢𝐞?? 😘😘😘
Archiemorarty: Cantikan Lala ya 😎
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!