Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Ujian Sebuah Ketulusan
Siang itu, matahari Jakarta seolah tak memiliki belas kasihan, memancarkan terik yang membuat aspal jalanan tampak bergelombang. Di salah satu sudut kota, Kathryn sedang bergelut dengan tumpukan diktat kuliah di perpustakaan kampus. Fokusnya sesekali terpecah, membayangkan wajah Sean yang saat ini sedang dititipkan pada Bu marni, tetangga sebelah rumah yang sudah mereka anggap seperti keluarga sendiri. Sejak Paul semakin sibuk dengan proyek barunya dan Dimas mulai sering muncul, hidup Kathryn terasa seperti komidi putar penuh warna namun memusingkan.
Di tempat lain, suasana jauh lebih tenang dan sejuk. Di sebuah cafe eksklusif yang terletak di lantai atas sebuah gedung pencakar langit, Dimas Alvaro duduk bersandar di kursi kulit yang nyaman. Ia mengenakan setelan jas formal berwarna abu-abu arang yang dipadukan dengan kemeja putih bersih tanpa dasi. Aura kepemimpinannya terpancar kuat, sangat berbeda dengan sosok suami penurut yang biasanya dilihat Reina.
Di hadapannya, Adrian sahabat sekaligus tangan kanannya menyesap espresso dengan perlahan. Adrian menatap Dimas yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk kopi di cangkirnya tanpa meminumnya sedikit pun.
"Dimas, kau sudah mengaduk kopi itu selama sepuluh menit. Jika kau ingin membuat badai di dalam cangkir, kurasa kau sudah berhasil," goda Adrian dengan nada bicara yang kali ini lebih serius dari biasanya.
Dimas menghentikan gerakan tangannya. Ia menghela napas panjang, menatap pemandangan kota di balik dinding kaca raksasa. "Pikiranku sedang tidak di sini, Adrian. Aku terus memikirkan perkataan Kathryn kemarin di taman."
Adrian meletakkan cangkirnya. "Soal dia yang tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang? Itu wajar, Dimas. Itu tandanya dia wanita baik-baik. Dia punya prinsip. Justru kau harus bersyukur karena dia tidak langsung melompat ke pelukanmu saat tahu kau pria kaya."
"Itu masalahnya," sela Dimas cepat. "Dia tidak tahu siapa aku sebenarnya. Dia hanya tahu aku adalah dokter yang tertindas oleh istrinya sendiri. Dia melihatku sebagai pria yang tidak punya apa-apa selain stetoskop dan rasa sabar."
Adrian terdiam sejenak, lalu sebuah ide melintas di benaknya. Ia memajukan posisi duduknya, menatap Dimas dengan tajam. "Dimas, kita sudah bersahabat lama. Aku tahu kau sangat mencintainya karena dia berbeda dari Reina. Tapi, apa kau tidak takut? Bagaimana jika setelah kau bercerai dan menunjukkan kekuasaanmu, dia berubah? Bagaimana jika ternyata semua orang sama saja saat melihat tumpukan uang di depan mata?"
Dimas menggeleng tegas. "Kathryn tidak seperti itu."
"Jangan terlalu yakin dulu," potong Adrian. "Dunia ini keras. Mengapa kau tidak mengujinya saja? Mumpung statusmu sekarang masih 'suami yang terusir' dan di matanya kau hanyalah dokter dengan gaji pas-pasan."
Dimas mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Katakan padanya bahwa kau sudah benar-benar keluar dari rumah Reina. Katakan bahwa kau sekarang tidak punya tempat tinggal tetap dan hanya mengandalkan gaji bulananmu sebagai dokter umum untuk bertahan hidup. Katakan bahwa hidupmu akan sulit ke depannya. Uji dia, Dimas. Jika dia tetap menerimamu, tetap menghargaimu saat kau tidak memiliki 'mahkota' Medika Group di kepalamu, maka dialah wanita yang selama ini kau cari."
Dimas terdiam. Ia menatap butiran gula yang mengendap di dasar cangkirnya. Ide Adrian terdengar sangat masuk akal, namun di sisi lain, ia merasa tidak enak jika harus berbohong lebih jauh kepada Kathryn.
"Jika dia menolakku karena aku miskin, setidaknya aku tahu bahwa aku tidak perlu membuang waktu lebih lama," gumam Dimas pelan.
"Tepat sekali," sahut Adrian. "Dan sebaliknya, jika dia menerimamu apa adanya, kau bisa memberikan seluruh dunia padanya nanti sebagai kejutan. Itu jauh lebih romantis dan adil bagi hatimu yang sudah terlalu sering terluka."
Dimas mengangguk pelan. "Aku akan mencobanya. Aku ingin tahu, apakah masih ada cinta yang tidak memiliki label harga di dunia ini."
Sore harinya, Dimas melajukan mobilnya menuju Dharmawangsa. Kali ini ia sengaja memarkir mobilnya agak jauh dari rumah keluarga Danola. Ia berjalan kaki menuju pagar putih itu dengan langkah yang sengaja dibuat sedikit lesu. Kemejanya sengaja ia lepas kancing paling atasnya, dan jasnya ia sampirkan di lengan.
Di teras rumah, ia melihat Kathryn sedang duduk bersama Sean yang sedang asyik bermain mobil-mobilan. Kathryn tampak terkejut melihat kedatangan Dimas yang tidak terduga, apalagi melihat penampilan Dimas yang tampak lebih berantakan dari biasanya.
"Dokter Dimas?" Kathryn berdiri, merapikan gaun rumahan yang ia kenakan. "Ada apa? Anda tampak... tidak baik-baik saja."
Dimas memaksakan sebuah senyum tipis yang terlihat getir. "Boleh kita bicara sebentar, Kathryn? Hanya sebentar saja."
Kathryn melirik Sean, lalu mengangguk. "Tentu. Mari duduk di teras saja, udaranya sedang sejuk."
Setelah memastikan Sean asyik dengan mainannya, Kathryn duduk di hadapan Dimas. Ia bisa melihat guratan kelelahan di wajah pria itu. Hati Kathryn berdenyut nyeri. Ia sangat ingin menggenggam tangan Dimas, namun ia tetap menahan diri.
"Aku sudah benar-benar pergi dari rumah itu, Kathryn," ujar Dimas memulai sandiwaranya. Suaranya terdengar berat. "Reina sudah mengusirku secara resmi. Aku hanya membawa satu tas pakaian. Semua aset, rumah, dan fasilitas yang selama ini aku nikmati... semuanya hilang karena secara hukum itu atas namanya."
Mata Kathryn membelalak. "Apa? Dia benar-benar melakukan itu? Tapi Anda adalah suaminya!"
Dimas menunduk, memperhatikan reaksi Kathryn dari sudut matanya. Ia ingin tahu, apakah status "miskin" ini akan membuat gadis itu menjauh.
Namun, Kathryn justru menarik napas panjang. Wajah cantiknya tidak menunjukkan rasa rendah diri ataupun kecewa. Sebagai adik dari Paul Danola yang seorang CEO, Kathryn tentu terbiasa dengan kemewahan, namun sifat dasarnya yang rendah hati justru terpanggil melihat kondisi Dimas yang ia anggap sedang terpuruk.
"Dokter Dimas, jangan bicara begitu," suara Kathryn terdengar sangat lembut namun penuh kekuatan. "Hidup itu bukan soal seberapa mewah hadiah yang bisa diberikan. Jika sekarang Dokter harus memulai dari awal di kamar kos, itu bukan hal yang memalukan. Dokter adalah pria jujur yang berdedikasi tinggi, saya yakin Dokter pasti bisa berdiri tegak lagi."
Dengan gerakan yang tenang, Kathryn merogoh tasnya. Ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dari sana.
"Ini... saya ada uang tabungan pribadi. Tolong jangan tersinggung, tapi pakailah dulu jika Dokter perlu untuk membayar sewa kos atau biaya hidup bulan ini," Kathryn menyodorkan uang itu dengan tulus ke arah Dimas. "Jangan dipikirkan bagaimana cara mengembalikannya, yang penting Dokter tidak kesulitan sekarang. Saya ingin Dokter tetap semangat."
Dimas terpaku menatap lembaran uang di depan matanya. Di dalam hati, ia merasa sangat tersentil. Laki-laki yang memiliki aset miliaran, pemilik jaringan rumah sakit, dan rumah mewah di berbagai tempat ini, kini sedang disodori uang tabungan oleh seorang gadis yang begitu mengkhawatirkan nasibnya. Ada rasa haru yang luar biasa besar membuncah di dadanya, ia merasa sangat dihargai sebagai manusia, bukan karena jabatannya.
"Kathryn, aku tidak bisa menerima ini..." Dimas berusaha bicara, namun suaranya sedikit tertahan oleh rasa emosional yang mendalam.
"Terima saja, Dokter. Saya tulus. Saya tidak mau melihat Dokter yang biasanya hebat jadi terlihat lesu begini. Kita bisa melewati ini, maksud saya... Dokter pasti bisa melewatinya. Saya akan selalu mendukung Dokter," Kathryn memberikan kepalan tangan kecil sebagai tanda semangat, matanya berbinar ceria menatap Dimas.
Dimas akhirnya hanya bisa tersenyum lebar, sebuah senyuman yang benar-benar lepas dan bahagia. Ia mengembalikan uang itu ke tangan Kathryn dengan sangat lembut, jemarinya sempat bersentuhan sebentar dengan kulit halus gadis itu.
"Simpan saja uang tabunganmu, Kathryn. Aku masih punya sedikit pegangan. Tapi tawaranmu ini... adalah hal terindah yang pernah aku terima seumur hidupku. Terima kasih banyak sudah peduli padaku," ujar Dimas dengan nada yang sangat dalam.
Kathryn tersipu malu, wajahnya merona merah karena merasa tindakannya mungkin terlalu berani. "Baiklah kalau Dokter tidak mau, tapi janji ya, kalau butuh apa-apa harus bilang pada saya atau Kak Paul."
Tepat saat itu, Sean berlari menghampiri mereka sambil membawa robot yang kakinya copot. "Onty Kath! Robot Sean lusak! Ayo benerin!" seru Sean sambil menarik-narik tangan Kathryn.
"Eh, iya Sayang, sini Onty lihat," Kathryn tertawa kecil. Ia segera bangkit dari duduknya dan kembali bermain di lantai teras bersama Sean. Ia tampak begitu telaten menyambungkan kembali kaki robot itu, sesekali tertawa mendengar celotehan cadel keponakannya yang lucu.
Dimas tetap duduk di kursi teras, bersandar sambil menatap pemandangan di depannya dengan perasaan damai. Melihat Kathryn yang begitu tulus, rendah hati, dan tetap ceria meskipun mengira dirinya jatuh miskin, membuat Dimas merasa telah menemukan rumah yang sesungguhnya. Ia tersenyum senang, menyadari bahwa cintanya pada Kathryn bukan lagi sekadar pelarian, melainkan sebuah tujuan.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰