NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Pagi itu, sinar matahari menembus kaca jendela mobil yang membawa mereka menuju rumah sakit.

Aisyah tidak sedetik pun melepaskan pandangannya dari Rizal, yang tampak sedikit tegang namun penuh harap.

Setibanya di sana, aroma khas rumah sakit menyambut mereka, namun kecemasan itu perlahan sirna oleh ketenangan yang dibawa Aisyah.

Di ruang tunggu yang tenang, Aisyah menggenggam tangan suaminya dengan sangat erat.

Jemarinya bertautan dengan jemari Rizal, memberikan kekuatan tanpa perlu banyak kata.

Ia bisa merasakan telapak tangan Rizal sedikit dingin, sebuah reaksi alami dari penantian panjang untuk bisa kembali berdiri tegak.

"Tenang, Mas. Semua akan baik-baik saja," bisik Aisyah lembut.

Rizal menatap istrinya, lalu tersenyum tipis. "Aku hanya tidak sabar ingin bisa berjalan di sampingmu tanpa beban kayu ini, Sayang."

Tak lama kemudian, seorang perawat dengan seragam biru muda muncul dari balik pintu kayu jati yang kokoh.

"Tuan Rizal Baskoro, silakan masuk. Dokter sudah menunggu," panggilan perawat itu menggema di lorong, memutus lamunan mereka.

Rizal menarik napas panjang. Dengan bantuan Aisyah di sisi kirinya dan tongkat di sisi kanannya, ia mulai melangkah masuk ke ruang dokter.

Di dalam ruangan, Dokter Gunawan sudah menyiapkan alat pemotong gips khusus yang suaranya terdengar mendengung pelan.

"Sudah siap, Pak Rizal? Hari ini kita lepaskan 'beban' ini," ujar dokter dengan nada ramah.

Aisyah berdiri tepat di samping kepala tempat tidur, terus menggenggam tangan Rizal saat alat pemotong mulai bekerja membelah gips putih yang keras itu.

Debu halus gips beterbangan, dan sedikit demi sedikit, kulit kaki Rizal yang sudah berbulan-bulan tersembunyi mulai terlihat.

Saat gips itu akhirnya terbelah menjadi dua dan diangkat, Rizal merasakan sensasi dingin yang luar biasa menerpa kulit kakinya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kakinya merasa bebas.

"Coba gerakkan jari-jarimu, Mas," pinta Aisyah dengan suara bergetar karena haru.

Dokter Gunawan memberikan aba-aba agar Rizal mencoba berdiri dari ranjang pemeriksaan. Dengan perlahan, Rizal menurunkan kakinya yang kini terasa sangat ringan namun masih terasa kaku. Begitu telapak kakinya menyentuh lantai yang dingin, Rizal merasakan sensasi kesemutan yang menjalar hingga ke lutut.

"Mas, pelan-pelan," bisik Aisyah siaga di sampingnya.

Rizal mencoba memindahkan tumpuan berat badannya ke kaki yang baru saja bebas itu. Namun, karena otot-ototnya sudah lama tidak digunakan secara maksimal, keseimbangannya sempat goyah.

Tubuhnya oleng ke depan, dan secara refleks ia hampir jatuh ke pelukan Aisyah.

Aisyah dengan sigap menahan dada dan lengan suaminya, membiarkan Rizal bersandar sepenuhnya pada tubuhnya yang jauh lebih mungil.

"Pelan-pelan saja, Mas. Jangan dipaksa. Kita punya banyak waktu," ucap Aisyah sambil menatap mata Rizal dengan penuh perhatian.

Rizal tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat lega sekaligus sedikit menertawakan kekakuannya sendiri.

"Rasanya aneh sekali, Sayang. Seperti baru belajar berjalan lagi. Tapi, rasanya sangat menyenangkan tidak ada beban seberat semen di kakiku."

Setelah beberapa menit latihan keseimbangan di bawah pengawasan Dokter, Rizal akhirnya diizinkan pulang dengan catatan harus rutin melakukan fisioterapi mandiri di rumah.

Setelah itu, mereka keluar dari ruang dokter. Di lorong rumah sakit, Rizal tampak jauh lebih percaya diri meski langkahnya masih pelan.

Tak disangka, di ujung lorong dekat ruang tunggu, mereka melihat seorang gadis yang gelisah berdiri di pojok ruangan.

Ternyata, rasa khawatirnya mengalahkan rasa takutnya; ia menyusul ke rumah sakit menggunakan taksi online karena tak sabar ingin tahu kondisi papanya.

Rizal tersenyum melihat kehadiran putrinya. "Lho, Intan? Kamu sampai ke sini?"

"Intan ingin melihat Kaki Papa yang sudah tidak memakai gips," jawab Intan hanya bisa menunduk malu namun wajahnya terlihat lega melihat kaki Rizal yang sudah bersih tanpa gips.

Kemudian menoleh ke arah Aisyah dan Intan. Perutnya mulai terasa keroncongan karena ketegangan tadi.

"Cari makan dulu yuk? Papa yang traktir. Kita rayakan kaki Papa yang baru ini."

Intan menganggukkan kepalanya dengan cepat, seulas senyum tulus merekah di bibirnya.

"Iya, Pa. Intan tahu tempat makan bakso yang enak di dekat sini."

Aisyah merangkul lengan suaminya, merasa bahwa kebahagiaan mereka kini benar-benar telah pulih, selaras dengan kesehatan Rizal yang kembali pulih.

Warung bakso sederhana itu terasa sangat nyaman dengan angin sepoi-sepoi yang masuk dari jendela terbuka.

Di tengah kepulan uap kuah kaldu yang gurih, mereka duduk bertiga seperti sebuah keluarga utuh yang baru saja memenangkan pertempuran besar.

Rizal menikmati baksonya dengan lahap, sementara Aisyah sesekali mengelap keringat di dahi suaminya. Namun, Intan tampak tidak fokus pada makanannya.

Tangannya sibuk menggeser layar ponsel, matanya membelalak melihat rentetan pesan yang masuk ke akun Aisyah Cookies.

"Ma, Pa. Coba lihat ini," ucap Intan sambil meletakkan ponselnya di tengah meja.

Intan menunjukkan pesanan untuk mall terkemuka di pusat kota.

"Tadi ada manajer operasional dari sebuah department store mewah yang mengirim pesan. Mereka melihat foto nastar kita yang viral dan ingin memesan 500 toples untuk parsel eksklusif bulan depan!"

Aisyah yang sedang menyeruput teh hangat hampir tersedak.

"500 toples? Dalam waktu sesingkat itu?"

"Ma, sepertinya kita butuh karyawan lagi. Kalau cuma kita berdua dan Bi Inah, tangan kita bisa keriting parut nanas sebanyak itu. Belum lagi pengemasan dan pengirimannya."

Rizal meletakkan sendoknya, otaknya yang tajam dalam urusan bisnis langsung bekerja. Ia menatap istri dan anaknya bergantian.

"Intan benar, Sayang. Bisnis ini sudah bukan lagi sekadar hobi sampingan. Ini sudah jadi industri rumah tangga yang menjanjikan," ujar Rizal dengan nada serius namun bangga.

"Bagaimana kalau kita manfaatkan paviliun sebelah yang kosong untuk jadi dapur produksi? Dan untuk karyawan, kita bisa rekrut warga sekitar yang membutuhkan pekerjaan."

Aisyah terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar. "Aku setuju, Mas. Tapi aku ingin Intan yang jadi manajer operasionalnya. Dia yang cari orang, dia yang atur jadwal produksi. Bagaimana, Tan? Kamu siap?"

Intan tertegun. Ia tidak menyangka akan diberikan kepercayaan sebesar itu setelah semua kesalahannya. Ia menatap Rizal, seolah meminta izin.

"Papa percaya kamu bisa, selama kamu jujur dan disiplin."

"Siap, Ma! Siap, Pa!" jawab Intan semangat.

"Besok Intan akan mulai pasang lowongan di media sosial. Kita akan buat Aisyah Cookies jadi yang nomor satu!"

Suasana di warung bakso yang tadinya ceria mendadak berubah sedikit serius.

Rizal meletakkan gelas teh manisnya, menatap Intan dengan tatapan yang dalam—bukan tatapan menghakimi, melainkan tatapan seorang ayah yang ingin memastikan keamanan anaknya.

"Intan," panggil Rizal pelan.

"Apakah Hadi masih menghubungi kamu?"

Pertanyaan itu membuat Intan terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana lelaki itu telah menghancurkan hidupnya dan merampas semua yang ia punya.

"Sama sekali tidak, Pa. Intan sudah memblokir semua aksesnya," jawab Intan mantap.

Melihat keraguan yang mungkin masih tersisa di wajah Rizal dan Aisyah, Intan meraih ponselnya dari atas meja dan menyodorkannya ke arah mereka.

"Kalau Papa dan Mama tidak percaya, ini ponsel Intan. Silakan Papa cek semua riwayat panggilan dan pesan. Intan benar-benar sudah memutus hubungan dengan dia. Intan tidak mau lagi masuk ke lubang yang sama," ucap Intan dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan.

Aisyah mengusap bahu putrinya lembut. "Kami percaya, Sayang. Mama hanya takut dia datang lagi untuk memanfaatkanmu sekarang karena melihat kamu mulai bangkit."

Rizal hanya melirik sekilas ke arah ponsel itu tanpa menyentuhnya.

"Papa pegang janji kamu. Pria seperti dia hanya akan menjadi parasit. Fokuslah pada masa depanmu dan Aisyah Cookies sekarang."

Intan menarik kembali ponselnya, merasa lega karena kejujurannya diterima.

Ia tahu, kepercayaan orang tuanya adalah modal paling berharga yang ia miliki saat ini, jauh lebih besar daripada uang yang ada di sakunya.

"Intan janji, Pa. Kalau dia berani muncul lagi, Intan sendiri yang akan lapor polisi," tegas Intan.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!