Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Ada apa satpam?" Tanya wanita paruh baya yakni pemilik kost yang kebetulan sedang berkunjung ke tempat itu.
"Tuan ini ingin mencari istrinya yang bernama Sekar, Nyonya. Sebentar, saya panggilkan dulu," satpam meninggalkan pemilik kost yang tengah berbicara dengan Ilham, tapi ia tidak mendengar. Tidak lama kemudian satpam kembali.
"Menurut pengurus kost, Sekar sudah pindah seminggu yang lalu Tuan," kata satpam. Ilham hanya mengangguk sembari pamit meninggalkan kost.
Ilham menjalankan mobilnya ke rumah yang tak kalah mewah dari rumah mama Pratiwi. Rumah yang dulu ia jadikan tempat untuk bermalam indah bersama Sekar. Namun, dada Ilham sesak karena hanya ia lakukan malam pertama saja selebihnya tidak pernah ia sentuh lagi.
Ting tung ting tung.
Ilham menekan bel, lalu berdiri di depan pintu dengan harapan Sekar mengikuti permintaannya tinggal di rumah ini walau kemungkinan itu kecil.
"Tuan..." ibu yang seusia mama Pratiwi membuka pintu dengan rambut acak-acakkan khas bangun tidur. Jelas sudah tidur karena waktu sudah larut.
"Sekar ke rumah ini tidak, Bi?" Tanya Ilham, sembari melangkah ke dalam rumah setelah melepas sepatu dan meninggalkan di depan pintu.
"Sekar?" Bibi tentu saja kaget, setelah pulang dari rumah sakit tiga tahun lebih Sekar hanya pulang ambil pakaian saja, selanjutnya bibi tidak mendengar kabar. "Tidak ada Tuan, memang Tuan bertemu Sekar di mana?" Bibi justru bertanya.
"Buatkan saya kopi antar ke kamar, Bi," titah Ilham tanpa menjawab pertanyaan bibi.
"Baik Tuan," Bibi berjalan ke dapur dengan hati bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan wanita malang itu? Ingatannya tentang Sekar tiga tahun lebih muncul di benaknya, air mata Sekar yang setiap hari menetes karena ulah Ilham membuat dada bibi sesak. Ia sudah mengganggap Sekar seperti anaknya sendiri.
Gadis lugu, dan polos itu akhirnya menjadi janda muda setelah resmi bercerai karena keangkuhan Ilham suaminya. "Semoga Sekar menjadi wanita kuat," bibi berdoa sembari mengaduk teh hangat untuk sang majikan lalu mengantar ke kamar.
Sementara itu Ilham melangkah ke kamar tidur yang menjadi saksi bisu bagaimana perlakuannya kepada Sekar. Kasur besar yang pernah mereka tempati masih tertata rapi. Hanya bahan dan motif seprai tersebut yang berbeda dengan dulu.
Seprai satin putih bernoda merah berasal dari kesucian Sekar yang ia ambil dengan keterpaksaan muncul di ingatannya. "Maafkan aku Sekar," Ilham meneteskan air mata ketika ingat perbuatannya kepada Sekar yang tidak punya perasaan hanya karena wajah Sekar tidak cantik, bahkan Ilham campakkan setelah malam pertama.
Malam itu ia meninggalkan tubuh Sekar yang kesakitan setelah menyerahkan kewajibannya sebagai istri. Namun, Ilham justru pergi dari rumah itu hanya meninggalkan pesan kepada bibi hendak ke rumah sakit karena ada pasien yang harus ia tangani malam ini juga. Padahal Ilham hanya berbohong, yang benar, dia pulang ke rumah dan pindah tidur bersama Luna istrinya yang ia cintai.
Flashback On.
"Mas Ilham kok pulang?" Tanya Luna ketika Ilham melempar jaket ke sembarang arah dengan wajah marah. Bukan menjawab pertanyaan Luna ia justru masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan hati kesal. Setelah mandi ia kembali ke kamar.
"Mas, ditanya kok malah diam saja, bagaimana? Kamu sudah berhasil meniduri perawat kamu yang dekil itu?" desak Luna, berharap suaminya mengikuti permainannya.
"Sudah! Puas kamu?! Gara-gara ide gila kamu itu, aku melakukan dengan kasar, tahu tidak!" Ilham sebenarnya tidak mau menikah dengan perawat itu, tapi dipaksa Luna karena ingin mempunyai anak.
"Tolong lah, Mas. Lakukan terus sampai perawat dekilmu itu hamil, aku yakin tidak akan lama. Begitu melahirkan, kita ambil anaknya terus ceraikan dia," Luna tersenyum penuh rencana.
"Aku tidak akan tidur lagi bersama Sekar, sebaiknya kamu berusaha lagi supaya punya anak dari rahim kamu sendiri, Luna!" Tegas Ilham. Namun, bukan Luna jika tidak bisa membujuk sang suami.
"Hayo lah Mas, jangan tunjukkan kecurigaan Sekar."
Ilham tetap pulang ke rumah Sekar, walaupun kadang larut malam, menjadikan pasien sebagai alasan pulang terlambat. Padahal ia hanya betah di rumah Luna.
Jika tidak terjun langsung menangani pasien pun, sebagai anak satu-satunya Kaniago pemilik rumah sakit tersebut tidak akan ada masalah bagi Ilham. Cukup memantau dari rumah pun bisa ia lakukan.
Ketika Ilham tiba di rumah Sekar, tidak ada senyum, tidak ada ucapan yang membuat hati Sekar senang. Tanpa Ilham duga, benih yang ia tanam tanpa dia siram apa lagi dipupuk, tumbuh janin dan lahir anak laki-laki. Melihat anak tampan itu membuat Ilham bahagia tanpa ingat bagaimana wanita yang mengandung. Tidak ada yang memberi semangat ketika Sekar ngidam dan muntah-muntah. Pernah juga Sekar minta dibelikan mangga muda, jangankan Ilham beri, yang ada pria itu marah-marah.
Flashback Off.
Ilham duduk termenung, ingatannya satu persatu muncul.
"Mas Ilham pasti lapar, capek, makanannya aku bawa kesini saja ya," kata Sekar ketika itu penuh perhatian. Namun, Ilham hanya menggerakkan tangan sebagai penolakan. Ia memilih meninggalkan Sekar ke rumah Luna dan pulang larut setiap malam. Kerap kali ia masuk ke rumah dan memergoki Sekar yang tidur di kursi sofa kerena menunggu dirinya. Masakan yang Sekar buat dengan rasa cinta pun tidak pernah Ilham sentuh, dibiarkan dingin di meja makan.
"Maafkan aku, Sekar..." ucapnya pelan, matanya mulai berkaca-kaca.
Di sudut kamar, dia melihat sebuah kotak kardus yang tertutup rapat. Dia membukanya dengan hati-hati dan menemukan beberapa barang milik Sekar. Buku catatan kecil, beberapa baju pendek sebelum berjilbab, dan sebuah surat yang belum dibuka dengan nama Ilham di amplopnya.
Dengan tangan yang gemetar, Ilham membuka surat itu.
...*Dokter Ilham yang terhormat*...
Kalau kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada di sini lagi. Aku tidak bisa terus menerus menghadapi kata-katamu yang menusuk hati dan sikapmu yang selalu menyalahkan aku atas setiap kesalahanmu. Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, tapi aku menyesal karena ternyata hanya bertepuk sebelah tangan.
Terima kasih atas sakit yang kamu goreskan di hati ini karena justru membuat aku lebih dewasa. Walau bagaimana aku pernah bangga disunting dokter sepertimu, walau hanya terus kamu injak-injak seperti debu lantai.
Segera ceraikan aku, jika satu bulan kamu belum juga membebaskan aku dari belenggu pernikahan ini, aku sendiri yang akan menggugat kamu.
Untuk bayi yang aku lahirkan, aku sama sekali tidak percaya jika sudah meninggal, jika suatu saat nanti aku mengetahui kamu berbohong, kamu akan berhadapan dengan Sekar yang berbeda.
Semoga suatu hari kamu bisa mengerti apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidup ini. Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
...*Sekar*...
Air mata Ilham akhirnya menetes ke amplop kertas itu. Dia ingat setiap kali dia marah karena pekerjaan yang tidak berjalan lancar, lalu meneriakkan kata-kata kasar pada Sekar yang hanya menangis dalam diam. Dia ingat ketika Sekar menginginkannya untuk shalat, tapi semua kata-katanya ia anggap angin lalu.
"Teh nya, Tuan..." bibi pun masuk tanpa Ilham sadari. Secepatnya ia lipat surat tersebut dan memasukkan ke dalam saku celana.
"Terima kasih Bi..." Ilham minum teh tersebut. Malam itu ia tidak ada niat untuk pulang, tidur di kamar itu walau gelisah dan sebentar-sebentar bangun.
Waktu berganti pagi Ilham keluar dari kamar, mencium aroma masakan yang bibi masak. Namun, pria itu sama sekali tidak merasa lapar.
"Tolong buatkan saya kopi Bi," titahnya, ketika keluar ke halaman belakang. Kolam ikan hias yang dulunya Sekar rawat bersama bibi masih tampak jernih, dan banyak ikan hias di dalamnya. Pohon mangga yang Sekar tanam saat pertama kali tinggal di rumah itu. Sekarang sudah besar dan mulai berbuah.
Ilham duduk di atas gazebo yang dulu sering ia gunakan untuk duduk sambil menikmati matahari terbenam. Sekar selalu sibuk membuatkan minuman dan cemilan. Tetapi Alih-alih ia minum, tidak jarang justru ia tinggal pergi.
Tak tak tak.
Saat Ilham sedang mengingat semua hal tentang Sekar, suara sepatu berjalan cepat ke arahnya.
...~Bersambung~...
dan sial nya BP ank nakal itu bawahan nya Kake nya Arka....🤣🤣🤣🤣pcat lngsung aj....kek....biar GK sombong lagi