SEQUEL JODOH SHAKIRA PERNIKAHAN KEDUA.
Kisah ARYA PRATAMA & RAKA BAGASKARA
Arya Pratama baru saja mengalami patah hati, di tengah kesedihannya dia mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan pengendara lain meninggal dunia.
Kecelakaan itu pula membuatnya harus bertanggungjawab atas bocah kecil, anak dari korban kecelakaan.
"Rawat dia seperti anakmu sendiri, sayangi dia sepenuh hati, dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap seorang ibu meminta Arya menjaga putranya.
Secara tidak terduga Arya bertemu perempuan yang berhasil membuat dadanya berdebar, sayangnya perempuan itu istri orang. Eh secara tidak disangka-sangka Arya malah berjodoh sama janda.
"Jodoh ketemu di jalan."
Sementara Raka Bagaskara, dia juga sama-sama terjebak dalam situasi sulit, ia juga menyukai istri orang.
"Janda dan gadis terlalu biasa, tapi bini orang, luar biasa, Mak. Raka suka sama bini orang Makkk!"
Akankah Raka menemukan jodohnya? Atau malah berusaha menjadi perebut istri orang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 - Permintaan Syakir
Kediaman Arya.
Di dalam sebuah kamar bercat putih abu identik dengan khas laki-laki, Arya melamun menatap langit-langit kamarnya. Tentu saja yang dia lamunkan soal wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya. Pikirannya menerawang kembali ke waktu dua Minggu yang lalu, dimana dia kembali dipertemukan lagi dengan Galuh setelah pertemuan mereka di jalan.
"Permisi, A boleh minta tolong gak?" ucap seseorang wanita ketika Arya sedang berkunjung ke kebun teh nya melihat cara para pekerja memetik teh segar.
Arya menoleh, dahinya mengernyit. "Loh, kamu kan yang waktu itu?"
Nampak raut wajah wanita itupun sama kagetnya. "Oh aa yang waktu itu nolongin aku, kebetulan banget ya. Hmmm boleh minta tolong lagi gak?" wajahnya terlihat tidak enak tapi mau bagaimana lagi, ia harus meminta bantuan sebab terjebak di tengah jalan.
Mendengar nama panggilan untuknya hati Arya berdesir, jantungnya berdebar, ia juga menatap lekat wajah cantik Galuh. "Mau minta tolong apa? Terus kamu ngapain di tengah perkebunan gini?"
"Motor saya mogok tiba-tiba banget mogok dan saya berniat ke desa sebelah menemui seseorang," ucapnya lesu.
Dia Galuh, tujuannya tentu untuk bertemu suaminya yang ada di pabrik tak jauh dari perkebunan yang letaknya tentu di desa sebelah.
"Oh gitu, mana saya lihat motornya?"
Galuh pun menunjukan motor yang ia pakai, kendaraan itu berada dipinggir jalan tak jauh dari mereka berhenti. Kemudian Arya mengecek apa saja masalah yang terjadi pada motor Galuh.
"Oh ini mah bahan bakarnya habis, emangnya kamu gak cek dulu sebelum memakai?" tanya Arya setelah menemukan masalahnya.
Galuh tersenyum malu, dia lupa akan soal itu. "Hehe, Galuh lupa A, saking buru-buru malah lupa isi bensin."
Arya mengangguk sambil mencuri pandang. "Oh namanya Galuh," gumamnya masih bisa didengar Galuh.
"Ya sudah, kamu tunggu saja disini biar aku beli bensinnya dulu."
"Aduh a, gak usah, Galuh aja yang dorong motornya." Dia makin tidak enak hati selalu merepotkan pria di depannya.
"Gak papa, jaraknya lumayan jauh dari sini, saya ambil motor dulu, kamu bisa duduk saja dulu di saung sana." Arya menunjukan saung yang terletak di dekat kebun, tempat orang-orang istirahat.
"Gak merepotkan?"
"Enggak atuh, makanya saya nawarin kamu."
Mengingat hal itu Arya menghela nafas panjang, sejak saat itu pikirannya terus tertuju pada Galuh, wanita yang ia kira gadis manis berlesung pipi yang sangat cantik jelita dari kecamatan sebelah.
"Papa, lagi cedih, ya? Mukanya kucut cepelti baju belum di cetlika," celetuk Syakir belepotan menyusun kata. Balita yang baru belajar bicara itu tengah memperhatikan papanya sedari tadi.
"Papa tidak sedih, sayang. Papa lagi memikirkan kerjaan papa, makanya wajah papa terlihat murung." Arya menoleh kesamping, memperhatikan wajah serta tatapan polos anak adopsinya.
"Matanya jangan bekelja teyus, capek tan? Cecekali papa halus leplecing, cuci mata juga boyeh, cali istli balu."
"Heh, kenapa sih kamu suka ngomong soal istri? Siapa yang ngajarin hayo?"
"Nenek."
Arya menghela nafas, bundanya kadang-kadang suka mempengaruhi anaknya tentang istri.
"Daripada mikirin papa cari istri baru mendingan Syakir bobo ya, sini papa peluk." Lalu Arya memeluk Syakir mengusap-usap punggungnya.
"Papa." Mata anak itu mulai mengerjap sayu, usapan di punggungnya membuat dia terasa mengantuk dan sesekali menguap.
"Iya."
"Boyeh Cakil minta cecuatu?"
"Boleh dong, selama itu bisa papa kabulkan akan papa kasih buat kamu."
"Cakil mau mama balu, Cakil mau melacakan peyukan mama kayak dimana, kata oyang peuukan mama dan papa belbeda, Cakil belum melacakannya papa. Kata meleka Cakil ndak punya mama."
Deg.
Arya terhenyak atas permintaan putranya. Ini di luar dugaannya, entah siapa yang mengajari? dia bertanya-tanya.
"Kenapa bicara seperti itu? Mama kamu sudah di surga, siapa bilang kamu gak punya mama? Kamu punya kok."
"Tapi ndak ada di cini, papa."
"Sayang, dengerin Papa! Kamu terus berdoa semoga cepat dapat Mama baru yang sayang kita semua. Nanti, kalau Syakir udah bertemu dengannya bilang sama Papa, ya!" Tanpa sadar Arya memberikan sebuah harapan pada putranya jikalau dirinya akan menerima wanita pilihan Syakir.
"Cakil celalu beldoa kok, Papa. Tiap hali, ciang, malam, kapanpun itu Cakil celalu minta cama Allah 'ya Allah, tolong kilimkan Mama balu yang cayang cama Cakil, cayang Papa, dan juga cayang cemuanya, aamiin.' Cakil celalu minta cepelti itu."
Arya memeluk tubuh mungil sang anak, mengaminkan doa balita itu. Dia berharap di pertemukan dengan orang yang tepat yang bisa menerima keduanya. Arya juga berharap jodohnya kelak adalah orang yang ia inginkan.
"Semoga doa kamu di kabulkan, aamiin. Papa berharap dia menjadi Mama mu. Eh, mana mungkin? Diakan istri orang. Tapi, tidak ada hal yang tidak mungkin kalau Allah sudah berkehendak. Siapa tahu nanti dia jadi janda. Ihhh jahat sekali doaku ini," ucap Arya dalam hati berharap dapat memiliki wanita perebut hatinya.
******
Kediaman Roki.
Jika Arya sedang memikirkan perasaannya maka Galuh dan Roki sedang bertengkar.
"Sudah aku bilang bukan aku yang mandul! Kamu lama-lama makin kurang ajar ya sama suami." Roki kesal ketika Galuh menyuruhnya tes kesuburan.
"Aku juga tidak Mas, terus kenapa kamu gak mau mengabulkan keinginannya ibu? Kamu gak mau lihat ibu bahagia? Aku terima kok kamu punya wanita idaman lain tapi aku juga istri kamu Mas, aku mau berbakti sama kamu."
"Tapi tidak dengan melayaniku diatas ranjang, aku belum siap!"
"Kenapa? Karena pelakor itu? Karena cewek murahan itu kamu jadi seperti ini? Siapa dia? Berani banget goda suami orang, gak ada harga dirinya sekali dia." Emosi Galuh terpancing, dia jadi ingin tahu seperti apa bentukan orang yang sudah membuat Roki menolaknya.
"Jelas dia lebih segalanya, paham! Sekarang siapkan beberapa baju buatku, besok aku akan pergi keluar kota untuk waktu satu Minggu. Aku males berdebat sama kamu, mending aku keluar saja nongkrong sama teman-temanku." Lalu Roki pergi dari kamarnya meninggalkan Galuh.
Tubuh Galuh terasa lemas, dia duduk ditepi ranjang merasakan sesak di dada. "Kenapa jadi begini sih? Siapa dia? Darimana mas Roki mengenalnya? Apa dia mantan kekasihnya? Kata ibu mas Roki tidak punya mantan pacar."
*******