NovelToon NovelToon
OWNED BY AZEUS

OWNED BY AZEUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / CEO
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Andara Wulan

"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."

Karya ini berisi Novel dalam Novel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Azeus Junior? dan Roti Sobek

Suasana apartemen yang biasanya sunyi berubah menjadi arena pesta yang riuh. Aluna mendekat ke arah Azeus dengan wajah penuh rasa bersalah.

"Kak, maaf ya... aku benar-benar nggak tahu kalau hari ini Kakak ulang tahun," bisiknya pelan di tengah kebisingan.

Azeus menarik pinggang Aluna, mengecup keningnya dengan posesif di depan semua orang. "Nggak masalah, Sayang. Kamu ada di sini aja udah jadi kado paling mewah seumur hidup aku," jawab Azeus dengan gaya narsis andalannya.

Meja makan apartemen kini penuh dengan kiriman makanan dari rumah utama dan tambahan dari Dion. Ada buah-buahan segar, jus, hingga camilan pedas yang membuat Raka dan Dion berebut. Ruang tamu disulap menjadi tempat karaoke dadakan. Yang mengejutkan, dr. Gathan tampak lebih santai. ia sesekali tersenyum menatap ponselnya, seolah ada seseorang di sana yang berhasil mencairkan gunung es di hatinya.

"Woy, Gath! Senyum-senyum mulu, pasien lo ada yang bening ya?" goda Dion sambil menyodorkan mikrofon. Gathan hanya mendengus, namun tak membantah.

Aluna tertawa melihat tingkah mereka, namun tiba-tiba dunianya terasa berayun. Pandangannya mengabur, dan kepalanya terasa berputar hebat. Mungkin cuma kecapekan, pikirnya sambil menggelengkan kepala pelan, mencoba menetralkan tubuhnya yang limbung.

Ia pamit ke dapur dengan langkah gontai untuk menyelesaikan cuciannya. Namun, rasa pusing itu justru semakin mencekik. Perutnya mendadak bergejolak hebat, rasa mual yang tak tertahankan naik ke kerongkongan.

BRAKK!

Tubuh Aluna terhuyung dan menyenggol deretan gelas di atas meja bar dapur hingga jatuh berserakan. Suara pecahan kaca itu seketika menghentikan nyanyian sumbang Raka dan Dion.

"Nana?!" teriak Azeus spontan.

Aluna tak sempat menjawab. Ia berlari ke arah wastafel dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membanjiri pelipisnya.

Azeus melesat ke dapur, menangkap tubuh Aluna yang hampir merosot ke lantai. Wajah Azeus yang tadi ceria langsung berubah pucat pasi, penuh ketakutan.

"Na! Kamu kenapa? Gath! Gathan, TOLONGINN!"

Gathan segera bangkit, insting dokternya mengambil alih. Ia mendekat, memegang denyut nadi Aluna yang terasa cepat namun lemah. Gathan menatap Azeus, lalu beralih menatap Aluna yang masih lemas di pelukan Azeus.

"Mual? Pusing banget?" tanya Gathan singkat sambil memeriksa pupil mata Aluna.

Aluna hanya bisa mengangguk lemah, air mata menetes karena rasa sakit di kepalanya. Di tengah kepanikan itu, Raka dan Dion saling lirik. Mereka ingat kejadian penyekapan seminggu yang dilakukan Azeus.

"Eh... jangan-jangan..." gumam Dion pelan, menatap perut Aluna.

Gathan meletakkan jemarinya di pergelangan tangan Aluna, menghitung denyut nadinya dengan saksama. Suasana lobi apartemen yang tadinya bising oleh suara karaoke mendadak senyap, menyisakan deru napas Azeus yang memburu karena kekhawatiran yang luar biasa. Azeus berlutut di lantai, mendekap pinggang Aluna yang lemas di atas kursi dapur.

"Gimana, Gath? Dia kenapa? Jangan diem aja!" bentak Azeus dengan suara serak, sifat obsesif dan protektifnya langsung meledak melihat Aluna yang pucat pasi dan berkeringat dingin.

Gathan tidak langsung menjawab. Ia menatap Aluna, lalu beralih menatap Azeus dengan pandangan yang sulit diartikan. campuran antara ingin tertawa dan merasa ngeri. Gathan mengingat kembali bahwa selama seminggu ini Azeus mengurung Aluna, ditambah kejadian malam pertama mereka setelah tiga tahun berpisah yang dilakukan tanpa pengaman sama sekali waktu itu.

Gathan menjauhkan tangannya, lalu bersedekap. "Terakhir kalian 'main' kapan?" tanya Gathan datar, tanpa sensor di depan Raka dan Dion.

Wajah Aluna yang pucat mendadak memerah padam, ia menyembunyikan wajahnya di dada Azeus. Sementara Azeus melongo.

 "Maksud lo? Ya... Hampir tiap hari, Gath. Kenapa emangnya?" jawab Azeus narsis tanpa rasa berdosa.

Gathan menghela napas panjang, menatap langit-langit dapur.

"Bukan lambung, Ze. Nadi Aluna kuat, tapi ada ritme yang beda. Dia mual bukan karena salah makan," ucap Gathan dingin.

"Selamat ya, Bos Posesif. Kayaknya 'tembakan' lo akurat. Aluna kemungkinan besar hamil."

DEG!

Azeus terbelalak sempurna, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Ia menatap perut rata Aluna, lalu menatap Gathan dengan wajah konyol yang jarang terlihat.

"H-hamil? Jadi... di dalem sini ada Azeus junior?"

Raka dan Dion yang mendengar itu langsung bersorak heboh.

"GOOOOLLLL! Gila si Bos, baru sembuh langsung jadi!" teriak Dion sambil memukul bahu Raka.

Aluna hanya bisa memejamkan mata, merasa dunianya berputar antara rasa bahagia, malu, dan takut. Sementara Azeus, sang CEO muda yang biasanya selalu punya jawaban, kini hanya bisa memeluk Aluna erat-erat sambil menangis haru di bahu gadis itu.

"Nana... makasih... makasih sayang," bisiknya parau, benar-benar tidak peduli lagi pada teman-temannya yang sedang menertawakan kebucinannya yang naik ke level maksimal.

Azeus seolah kehilangan kewarasannya sejenak karena rasa bahagia yang meluap, karena mendapat kado terindah dari jantung hatinya.

Senyum narsisnya yang sempat hilang kini kembali, bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Tanpa mempedulikan godaan Raka dan Dion, ia langsung menyusupkan lengannya di bawah tubuh Aluna dan menggendongnya ala bridal style dengan sangat hati-hati, seolah Aluna adalah porselen retak yang paling berharga di dunia.

"Pelan-pelan, Kak... " bisik Aluna dengan wajah semerah tomat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Azeus.

Azeus tidak peduli. Ia membawa Aluna masuk ke kamar, merebahkannya di atas ranjang empuk, lalu menyelimutinya hingga sebatas dada. Azeus membungkuk, memberikan kecupan lama di kening Aluna, lalu turun ke perut rata Aluna yang kini menjadi tempat bersemayam Azeus Junior.

"Makasih ya, Sayang. Kamu bener-bener keajaiban buat aku," gumam Azeus parau, matanya berkaca-kaca karena obsesi dan cintanya kini telah membuahkan hasil nyata.

Sementara itu, di ruang tamu, suasana yang tadinya kacau balau mendadak jadi ajang kerja bakti. Raka dan Dion yang biasanya pemalas, kini tampak sibuk membereskan kekacauan pesta dadakan tadi. Mereka memunguti cangkang plastik, piring kotor, dan sisa-sisa kue ultah yang berceceran di meja.

"Gila ya, si Bos gercep banget. Baru juga sembuh dari kritis, eh udah 'nyetak' gol aja," gerutu Dion sambil memasukkan sampah ke kantong plastik besar.

Raka terkekeh, mengelap sisa krim cokelat di meja. "Namanya juga Azeus, Yon. Apa sih yang dia nggak bisa? Tapi gue seneng sih, seenggaknya sekarang dia punya alasan buat bener-bener sembuh dan jagain kesehatannya. Kasihan Aluna kalau dapet duda sebelum nikah."

dr. Gathan hanya bersandar di pilar dapur sambil memantau mereka kerja. Ia sesekali melirik ke arah kamar yang pintunya tertutup rapat, memastikan tidak ada kegiatan berat yang dilakukan pasiennya yang baru siuman itu.

"Selesaiin itu semua, terus kita balik. Biarin mereka istirahat. Kondisi Aluna di awal Masa Kehamilan itu rentan, jangan sampe si Azeus malah bikin dia makin stres," instruksi Gathan dengan nada dingin namun penuh perhatian.

Setelah memastikan apartemen Aluna kembali rapi, ketiga sahabat itu bersiap pamit. Mereka tahu, malam ini adalah malam paling membahagiakan bagi sang CEO muda yang dulunya ugal-ugalan, yang kini sebentar lagi akan menjadi seorang ayah dan suami sah.

Setelah kepergian Raka, Dion, dan Gathan, suasana apartemen lantai 12 itu mendadak sunyi, hanya menyisakan aura kebahagiaan yang meluap dari wajah Azeus. Sang CEO muda itu tak henti-hentinya bersyukur; mimpinya memiliki Aluna seutuhnya dan kini bonus Azeus Junior membuat dadanya sesak oleh rasa haru. Ia berdoa dalam hati agar Rencana Pernikahan mereka dua minggu lagi berjalan mulus tanpa hambatan.

Azeus melangkah masuk ke kamar dengan senyum narsis yang masih bertengger. Ia melihat Aluna sedang berbaring miring, sangat fokus menatap layar ponselnya sampai tidak menyadari kehadiran singa yang baru saja masuk.

"Lagi liat apa sih, Sayang? Serius banget," gumam Azeus manja.

Karena diabaikan, sifat posesif Azeus kumat. Ia langsung merampas ponsel itu dari tangan Aluna. "Eits, dilarang main HP kalau ada calon suami ganteng di—"

Kalimat Azeus terhenti seketika. Matanya terbelalak sempurna melihat apa yang ada di beranda TikTok Aluna.

Di layar itu, sedang terputar video jedak-jeduk dengan transisi yang sangat halus. Seorang pria bule bertubuh kekar sedang berada di sebuah gym mewah. Musik remix yang menghentak keras sinkron dengan setiap gerakan ototnya. Pria itu baru saja mengangkat beban, keringatnya mengucur membasahi kaos singletnya yang ketat, lalu transisi berubah memperlihatkan pria itu membuka baju—memamerkan abs perut kotak-kotak (eight pack) yang sangat keras dan gagah, lengkap dengan urat-urat menonjol di lengan yang maskulin.

Setiap dentuman musik bass, video itu nge-zoom ke arah otot perut yang berguncang seksi. Aluna bahkan sempat memberikan tanda like (hati merah) pada video tersebut.

Azeus langsung merasa panas dingin. Harga dirinya sebagai pria yang baru saja sembuh dari sakit lambung merasa terhina. Ia menatap perutnya sendiri di balik kemeja, lalu menatap pria di video itu dengan tatapan membunuh.

"Nana! Jadi dari tadi kamu asyik liatin roti sobek orang lain?!" bentak Azeus dengan suara serak yang lucu, antara cemburu dan tidak terima.

"Aku emang lagi kurusan karena sakit kemarin, tapi perut aku juga bisa kotak-kotak kalau aku rajin Latihan Gym lagi nanti!"

Aluna yang kaget ponselnya direbut hanya bisa mengerjap polos, lalu meledak dalam tawa renyah. "Aduh Kak, itu cuma lewat di beranda! Lagian keren tahu, badannya bagus!"

"Keren apanya?! Itu editan! Pencahayaannya aja yang pinter!" protes Azeus narsis, wajahnya merah padam menahan malu. Ia langsung mematikan ponsel Aluna dan melemparnya ke ujung kasur. "Mulai sekarang, dilarang buka TikTok kalau isinya cowok kurang bahan kayak gitu. Cukup liat aku aja, aku lebih original!"

Azeus langsung merangkul Aluna dengan posesif, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aluna agar gadis itu tidak melihat wajah cemburunya yang sangat menggemaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!