NovelToon NovelToon
WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Dunia

Di bawah langit senja yang mulai memburam, aku berjalan cepat menyusuri jalan setapak menuju masjid kecil yang letaknya tak jauh dari klub malam tempat aku bekerja. Udara malam belum sepenuhnya dingin, tapi angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan harum kayu bakar dari dapur rumah tetangga. Masjid itu tampak tenang, sunyi dengan lampu kuning temaram yang memantul di lantai marmer bersih. Di sana, aku biasa berganti pakaian sebelum memasuki dunia lain, dunia malam yang jauh berbeda dari kehidupan sehari-hari.

Biasanya, aku lebih sering berganti di rumah Friska, sahabatku yang selalu menjadi tempat pelarian dan sandaran ketika lelah dan gelisah mendera. Tapi malam ini aku memilih masjid, mungkin karena hatiku sedang berat dan aku butuh menyendiri, mempersiapkan diri untuk menghadapi malam yang panjang dan penuh lika-liku.

Kupandangi wajahku di cermin kecil di dalam ruang ganti masjid. Jilbab putih yang melingkar rapi menutupi rambutku, memberi kesan suci dan damai. Tapi di balik itu semua, aku tahu ada sisi lain yang harus kusembunyikan.

Setelah berganti pakaian, aku keluar dan berjalan menuju klub. Malam mulai merekah, lampu-lampu neon klub yang berkelip-kelip menyambutku seperti gerbang ke dunia lain. Aku membuka loker, menyimpan tas kecil berisi barang-barang pribadi, lalu berdiri di depan cermin besar di ruang ganti klub. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku mulai memoles wajahku. Lipstik merah gelap yang kuoleskan membuat wajahku tampak lebih hidup, lebih terang dari biasanya.

Namun, ketika aku menatap pantulan diriku, sebuah pertanyaan menghantui. Wajah siapa yang ada di sana? Dulu, saat ayah masih ada, aku adalah gadis yang ceria, ringan, dan penuh harapan. Tapi sekarang, yang kulihat hanyalah sosok yang lelah, penuh luka, dan beban yang tampak di setiap garis wajah.

Mataku terasa panas, dan aku merasakan air mata mulai menggenang. Kupejamkan mata, mengatur nafas agar tidak jatuh ke pipi. Aku tidak boleh menangis. Tidak sekarang.

Ketika aku merasa cukup tenang, aku beranjak dari ruang ganti dan menyusul Friska yang sudah sibuk melayani para tamu. Suara dentuman musik keras menggema di seluruh ruangan, membuat udara bergetar. Namun, suasana klub belum terlalu ramai, baru pukul tujuh malam. Hanya beberapa tamu lama yang sudah datang, duduk santai dengan minuman di tangan.

Aku mengambil gelas berisi minuman dari meja bar, mengantarkannya kepada para tamu sambil sesekali melemparkan senyum dan bercanda ringan dengan Friska. Tawa kecil kami seperti oase di tengah padang gurun malam yang keras ini.

Setelah semua tugasku selesai, kami duduk bersama di mini bar, diapit oleh barista yang sibuk meracik minuman. Lampu redup dan aroma kopi yang harum menenangkan sejenak gelisah dalam dadaku.

"Simpen tenaga, Lun. Jam sepuluh nanti pasti rame banget." kata Friska sambil meneguk minumannya.

Aku mengangguk pelan, lalu mengeluarkan alasan kenapa aku tadi terlambat datang. “Iya… sorry yah, tadi aku nggak bisa jemput gara-gara Kak Sultan.”

Friska mengangkat alisnya. “It’s okay. Tapi tumben-tumbenan kakak kamu datang jam segitu.”

Aku mendesah. “Hmm… biasa dia mau ngutang lagi.”

Friska terkekeh. “Perasaan kakak kamu ngutang mulu deh sama kamu Lun.”

“Iya… parahnya tadi dia mau ngutang 20 juta." aku berkata tanpa semangat.

Friska menyemburkan minumannya, terkejut mendengar jumlah itu. “What??? Dua puluh juta? Buat apa?”

Kutatap meja, mencoba meredam amarah dan rasa sedih yang membuncah. “Katanya dia punya utang segitu dan malam ini jatuh temponya.”

“Jadi??” Friska semakin penasaran.

Aku menghela nafas. “Ya… aku nggak ada duit segitu, Fris. Lagian kalau ada pun aku nggak akan minjemin. Utang-utang Kak Sultan yang dulu-dulu aja belum dia bayar ke aku. Ini mau minjam dua puluh juta. Gila bener tuh kakak aku, nggak tau apa aku nyari duit sesusah apa. Hmmm…” aku terdiam, terasa pedih di dada.

Friska menatapku penuh empati. “Yang sabar yah. Tapi bukannya kakak lo PNS di perusahaan XX? Gaji disana lumayan besar, kan?”

Aku menggeleng. “Iya… tapi katanya nggak cukup. Makanya dia utang sana-sini sampai 20 juta. Huftt… padahal gaji tujuh juta per bulan menurutku itu banyak loh. Masa nggak cukup? Aku aja dulu waktu masih kerja di pabrik gaji 3 juta, masih bisa hidup sama ibu dan kuliahin Alika.”

“Hmm… mungkin kebutuhan orang yang sudah berumah tangga beda, Lun. Apalagi kak Sultan sudah punya dua anak,” kata Friska mencoba menenangkan.

Aku mengangguk pelan, tapi tetap tak habis pikir. “Iya aku ngerti kalau kakak Sultan sudah berkeluarga. Tapi masa dia nggak bisa atur keuangannya selama sebulan? Hufttt, parahnya tadi dia mau jual gelang emas ibu, peninggalan ayah.”

Friska terkejut. “Hah? Serius? Jadinya gimana?”

“Aku marah lah, nggak setuju. Itu kan peninggalan ayah untuk ibu. Masa mau dijual. Abis itu aku langsung berangkat kerja, saking kesalnya. Nggak tau deh kak Sultan dan ibu di rumah tadi gimana setelah aku pergi,” jawabku dengan nada getir.

Friska mengangguk pelan. “Hm… kakak kamu rada lain memang.”

Tiba-tiba manajer datang menghampiri kami. “Friska, Pak Daniel sedang nunggu kamu di ujung ruangan. Kamu kesana ya, bawain dia minum.”

“Pak Daniel? Siapa tuh bos?” tanya Friska penasaran.

“Dia pengusaha tambang batu bara di Kalimantan. Kebetulan dia ada urusan di Semarang, jadi sekalian mampir di klub sini. Dia salah satu teman baik Pak Marko juga. Kamu pernah melayaninya waktu tahun lalu.” jelas manajer.

Friska mencoba mengingat-ingat, tapi ia tidak ingat sama sekali. “Aku nggak ingat bos.”

“Ya sudah, nggak penting juga. Sekarang kamu kesana temani Pak Daniel. Dan kamu, Aluna, siap-siap. Pak Marko mau datang. Kamu menunggu di ruangan kemarin.” kata manajer sambil menatapku.

Friska meledek, “Kayaknya Pak Marko demen kamu deh, Lun. Kemarin aja kamu temani dia kan? Oh iya, kemarin sampai lupa nanya, di ruangan itu kamu ngapain aja?”

Aku mencubit pinggangnya. “Apasih, Fris? Ya aku melayani Pak Marko seperti tamu-tamu lainnya. Tuangin minuman, denger dia curhat. Udah itu aja.” jawabku jujur.

Friska tertawa. “Ah yang bener kamu, Lun…”

“Ehemm! Fris, berhenti menggoda Aluna. Cepat ke ujung ruangan, Pak Daniel sudah lama menunggu kamu.” titah manajer.

“Siap, bos.” jawab Friska memberi hormat lalu beranjak.

Aku pun bangkit, bersiap menunggu kedatangan Pak Marko yang katanya sudah di jalan bersama asistennya.

Tak lama kemudian, Marko muncul bersama asistennya, Renaldi. Mereka naik ke ruang VIP dan langsung memanggil manajer masuk.

“Malam bos. Aluna sudah menunggu di ruangan kemarin.” lapor manajer.

Marko menatapku dari kejauhan. “Hm… saya mau tanya sama kamu. Aluna sudah berapa lama kerja di sini?”

“Sudah tiga bulan bos.” jawab manajer.

“Berarti masih baru. Bagaimana tanggapan pelanggan?”

“Sebenarnya mereka puas dengan pelayanan Aluna, hanya saja ada beberapa yang agak kesal dan greget sama Aluna juga bos.” jelas manajer.

“Kesal? Kenapa seperti itu?”

“Hm… karena Aluna menolak menjaj*kkan tubuhnya. Aluna berbeda dengan pelayan-pelayan lain\, bos. Dia tidak ingin berbuat lebih selain di gr*pe-gr*pe atas. Padahal banyak pelanggan yang ingin membayar lebih jika Aluna bersedia. Tapi dia tetap menolak.”

Marko mengangguk pelan. “Baiklah. Kamu boleh keluar.”

Manajer keluar meninggalkan kami Marko dan Renald berdua.

Marko menatapku tajam. “Renald, cari tahu semua tentang Aluna. Ada yang menarik dengan gadis itu.”

“Baik, bos.” jawab Renaldi.

Marko berdiri. “Aku akan menemui Aluna. Kamu boleh bersenang-senang di sini, tapi ingat jangan sampai mabuk.” katanya sebelum keluar.

Renaldi tetap di ruangan, menjalankan tugas yang baru saja diberikan. “Tapi kenapa bos tertarik sama Aluna? Aneh sekali.” gumamnya.

1
Ariany Sudjana
Aluna itu adik kamu sultan, dan Aluna itu keluarga inti, yang bukan keluarga itu si pelacur murahan Anisa, kamu bodoh percaya semua omongan si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
sabar yah Aluna, sultan ini bodoh,punya istri tapi pelacur murahan, dan masih percaya dengan semua omongan pelacur murahan itu
Boa
nama karakternya kok beda ya sama yg di sinopsis, apa aku yg salah baca? 🙏
Boa: semangat Thor, mana udah 14 episode 💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!