Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mangsa yang Menjadi Pemburu
"Mati kau, Cacat!" teriak salah satu pembunuh dari arah belakang.
Zian memutar tubuhnya perlahan. Matanya menatap tajam ketiga mata pedang yang hampir menyentuh kulit pahanya. Dia tidak menghindar sama sekali. Dia hanya menarik tangan kanannya dan melayangkan satu pukulan lurus ke udara kosong di antara ketiga pembunuh itu.
"Pukulan bodoh! Kau memukul angin!" ejek pembunuh yang lain sambil tertawa.
Namun, tawa itu hanya bertahan setengah detik.
Buum!
Udara di depan kepalan tangan Zian meledak sangat keras. Tekanan angin yang sangat padat melesat seperti meriam tak terlihat. Angin itu menghantam tubuh ketiga pembunuh tersebut sebelum pedang mereka sempat menggores celana Zian.
"Arghhh!"
Tiga pedang baja hancur berkeping-keping di udara. Tubuh ketiga pembunuh itu terlempar ke belakang dengan kecepatan mengerikan. Mereka menabrak batang pohon raksasa hingga pohon itu tumbang. Terdengar suara tulang dada yang remuk bersamaan. Mereka memuntahkan darah segar dan langsung tewas di tempat.
Pria brewok yang menjadi pemimpin kelompok itu membelalakkan matanya lebar-lebar. Rahangnya seakan mau lepas. "A-Apa yang baru saja terjadi?!"
"Hanya embusan angin kecil," jawab Zian santai. Dia mengibaskan tangan kanannya pelan. "Kalian menyebut diri kalian elit? Tulang kalian jauh lebih rapuh dari ranting kering."
"Mustahil!" teriak salah satu pembunuh berwajah codet. "Dia pasti menggunakan jimat pelindung tingkat tinggi! Orang cacat tidak mungkin punya tenaga fisik seperti itu!"
"Jangan panik, bodoh!" bentak pria brewok. Wajah kasarnya mulai dipenuhi keringat dingin. "Dia cuma sendirian! Serang dari segala arah! Gunakan sihir jarak jauh! Jangan biarkan dia mendekat!"
Enam pembunuh yang tersisa langsung melompat mundur. Mereka mengambil jarak aman dan menyatukan kedua tangan mereka. Energi kultivasi berwarna-warni langsung menerangi kegelapan Hutan Hitam.
"Tombak Api Membara!" teriak pembunuh pertama.
"Bilah Angin Pemotong Tulang!" seru pembunuh kedua.
"Jarum Es Beracun!" teriak dua pembunuh lainnya serentak.
Rentetan serangan sihir yang mematikan meluncur deras ke arah Zian. Udara di sekitarnya menjadi sangat panas dan dingin secara bersamaan.
Zian hanya berdiri diam. Dia tersenyum meremehkan. "Kalian suka main kembang api?"
Brak! Brak! Wush!
Semua sihir itu menghantam tubuh Zian telak. Ledakan besar terjadi, menerbangkan debu dan daun-daun kering ke udara. Asap tebal menutupi posisi Zian berdiri.
"Kena kau, Sampah!" pria brewok itu tertawa puas. "Tubuhnya pasti sudah hancur jadi abu sekarang. Tuan Muda Tian Ao mungkin sedikit kecewa karena kita tidak membawanya hidup-hidup, tapi setidaknya tugas kita selesai!"
"Tugas yang terlalu mudah," timpal pembunuh berwajah codet sambil menurunkan tangannya. "Aku bahkan belum mengeluarkan tenaga penuhk—"
Bugh!
Kata-kata pria codet itu terputus seketika. Sebuah tangan menembus kepulan asap dan langsung mencengkeram wajahnya dengan sangat keras.
"Tenaga penuhmu cuma segelitik ini?"
Suara dingin Zian terdengar tepat dari balik asap. Asap itu perlahan menghilang, menampakkan sosok Zian yang masih berdiri tegak. Bajunya memang sedikit hangus, tapi kulitnya bersih tanpa luka sedikit pun. Tidak ada darah. Tidak ada goresan memar. Tubuhnya memancarkan kilau samar seperti baja murni yang baru ditempa.
"I-Iblis..." pria codet itu tergagap ketakutan dari balik cengkeraman tangan Zian. "Tolong... lepaskan aku..."
"Tentu," bisik Zian.
Krak!
Zian meremas wajah pria itu sampai tulang tengkoraknya retak parah. Pria itu mati seketika. Zian melempar mayatnya ke tanah seperti membuang karung beras yang sudah membusuk.
"Lari! Dia bukan manusia! Dia monster!" teriak pembunuh lainnya dengan suara pecah. Mental mereka hancur total melihat pertahanan sihir tingkat Perwira tidak berguna sama sekali di depan tubuh Zian.
Kelima pembunuh yang tersisa berbalik arah dan berlari kocar-kacir menembus semak belukar. Mereka saling dorong karena panik luar biasa.
"Siapa yang bilang kalian boleh pergi?" tegur Zian datar.
Zian menekuk lututnya sedikit. Tanah di bawah kakinya langsung amblas sedalam setengah meter. Dia melesat maju. Kecepatannya kini seratus kali lebih gila setelah melewati Kebangkitan Brutal semalam. Matanya menangkap gerakan musuh seperti melihat siput yang sedang merangkak.
Wush!
Dalam satu tarikan napas, Zian sudah berdiri menyilang tepat di depan dua pembunuh yang sedang berlari.
"Minggir!" teriak kedua pembunuh itu panik sambil mengayunkan pedang mereka dengan putus asa ke leher Zian.
Zian tidak menangkis. Dia hanya berjalan maju dan menabrakkan bahunya yang sekeras gunung ke arah dada mereka berdua.
Brak!
Tubuh kedua pembunuh itu meledak di udara. Tabrakan fisik murni itu menghancurkan organ dalam mereka seketika. Darah menyembur mewarnai batang pohon di sekitar mereka.
"Tiga tersisa," Zian menghitung pelan.
Dia menoleh ke samping. Tiga pembunuh terakhir berlari ke arah yang berbeda. Zian mengepalkan kedua tangannya dan memukul udara kosong ke arah kiri dan kanan.
Buum! Buum!
Dua tembakan meriam angin yang sangat padat meluncur ganas membelah hutan. Angin itu langsung menghantam telak punggung dua pembunuh yang sedang kabur. Mereka jatuh tersungkur dengan tulang belakang yang patah total.
Kini, hanya tersisa pria brewok yang menjadi pemimpin kelompok pengecut itu.
Pria itu tersandung akar pohon dan jatuh telentang. Kapaknya terlempar entah ke mana. Dia merangkak mundur dengan gemetar hebat. Wajah kasarnya kini pucat pasi penuh air mata ketakutan.
"Jangan bunuh aku! Tolong! Aku punya banyak emas di rumah!" pria brewok itu menangis histeris. Dia memeluk kaki Zian yang kini berdiri menjulang di depannya layaknya malaikat maut. "Aku bersumpah akan menjadi pelayanmu! Aku akan membunuh Tian Ao untukmu!"
Zian menendang dada pria itu pelan, cukup untuk membuatnya terpental dan melepaskan pelukannya. "Anjing yang menggigit tuannya sendiri tidak pantas dipelihara."
"Aku mohon, Tuan Muda Zian! Ampuni nyawaku!" pria itu segera bersujud dan membenturkan kepalanya ke tanah berulang kali. "Ambil semua poin turnamenku! Kau butuh ini untuk menang, kan?!"
Pria itu melempar sekantong penuh kepingan kayu poin ke depan kaki Zian.
Zian melirik kantong itu dengan tatapan jijik. "Poin turnamen? Kau pikir aku datang ke sini untuk bermain lomba mencari kayu? Aku datang ke sini murni untuk membantai."
Melihat Zian tidak tertarik dengan suapannya, pria brewok itu menggertakkan giginya keras-keras. Matanya memancarkan keputusasaan yang berubah menjadi nekat.
"Kalau begitu matilah bersamaku!" teriaknya buas.
Dia menyatukan kedua tangannya. Sisa energi kultivasinya meledak maksimal. Sebuah perisai batu yang sangat tebal berlapis paku tajam muncul mengelilingi tubuhnya. "Perisai Inti Bumi Tingkat Perwira! Coba saja tembus pertahanan mutlak ini dengan tangan kosongmu, Bocah Cacat!"
Zian tersenyum dingin. "Pertahanan mutlak? Kosakata kalian benar-benar sempit."
Zian menarik tangan kanannya perlahan ke belakang pinggang. Otot lengannya mengembang dan mengeras hingga lengan bajunya robek. Urat-urat menonjol memerah. Dia memusatkan bobot Tulang Asuranya ke ujung kepalan tangannya.
"Hancurlah bersama kesombonganmu," ucap Zian pelan.
Bugh!
Tinju Zian meluncur lurus. Kecepatannya merobek udara hingga menghasilkan suara ledakan sonik yang memekakkan telinga.
KRAK! BOOM!
Bahkan sebelum kepalan tangan Zian benar-benar menyentuh perisai batu itu, tekanan angin dari pukulannya sudah meretakkan permukaan perisai tersebut. Begitu tinjunya mendarat, Perisai Inti Bumi yang dibanggakan itu hancur lebur seperti kerupuk tipis.
Tinju Zian terus melaju tanpa hambatan, menembus serpihan perisai dan menghantam telak dada pria brewok itu.
Dada pria itu amblas ke dalam hingga menyentuh tulang punggungnya. Matanya mendelik putih. Dia memuntahkan darah yang bercampur dengan pecahan paru-parunya. Pria itu tewas seketika tanpa sempat mengeluarkan suara rintihan terakhir.
Hutan Hitam kembali sunyi. Hanya terdengar suara napas Zian yang mengalir tenang.
Dia berdiri di tengah sepuluh mayat elit tingkat Perwira. Pertarungan itu bahkan tidak memakan waktu lebih dari tiga menit.
Zian tidak segera pergi. Dia memungut kerah baju mayat-mayat itu satu per satu, lalu menyeret dan menumpuknya tepat di tengah jalan setapak utama hutan. Dia menyusun kesepuluh mayat itu membentuk sebuah gunungan daging yang sangat mengerikan untuk dilihat.
"Pesan sambutan yang lumayan bagus," gumam Zian datar sambil membersihkan sisa darah di tangannya menggunakan daun kering.
Tiba-tiba, dari saku mayat pria brewok di tumpukan teratas, terdengar suara dengungan pelan. Sebuah giok komunikasi berwarna hijau memancarkan cahaya redup.
Zian mengambil giok itu. Dia memutar energi suaranya, membiarkan giok itu terhubung.
"Hei, Brewok!" Suara Tian Ao yang sombong dan tidak sabar langsung terdengar dari dalam giok. "Kau sudah memotong kaki si cacat itu belum? Lama sekali kau mengurus satu lalat! Bawa tubuhnya ke Air Terjun Hitam sekarang. Aku sedang bersantai di sini menunggu untuk menginjak wajahnya."
Senyum mematikan Zian kembali terkembang. Dia mendekatkan giok itu ke mulutnya.
"Dia sedang dalam perjalanan menemuimu, Tian Ao," bisik Zian dengan nada sedingin es abadi. "Tapi dalam bentuk potongan daging cincang."
Hening sejenak dari seberang sana.
"Z-Zian?!" Suara Tian Ao langsung berubah menjadi pekikan kaget dan marah. "Beraninya kau membunuh anjing-anjingku! Dasar sampah keparat! Aku sendiri yang akan merobek nyawamu!"
"Jangan repot-repot lari ke mana-mana," potong Zian santai. "Tetaplah duduk manis di Air Terjun Hitam. Tunggu aku datang untuk mencabut nyawamu dan tetua tuamu itu."
Prang!
Zian meremas giok komunikasi itu hingga hancur berkeping-keping.
Dia mengangkat wajahnya, menatap ke arah utara hutan tempat suara gemuruh air terjun terdengar sayup-sayup. Niat membunuhnya mendidih hebat.
Namun, baru saja Zian melangkah maju, tanah di bawah pijakannya tiba-tiba bergetar sangat kuat. Bukan getaran dari langkah manusia, melainkan langkah makhluk raksasa.
Pohon-pohon besar di depan Zian tumbang satu per satu seperti disapu badai. Sebuah bayangan hitam setinggi sepuluh meter melangkah keluar dari kegelapan hutan. Mata merahnya yang menyala menatap lapar ke arah tumpukan mayat yang baru saja Zian susun. Makhluk itu memancarkan aura buas tingkat Jenderal yang jauh lebih mematikan dari semua pembunuh tadi.
Makhluk itu menunduk, lalu mengalihkan tatapan merahnya tepat ke arah Zian. Liur beracunnya menetes membakar rumput di sekitarnya.
Zian tidak mundur selangkah pun. Dia justru meregangkan otot lehernya hingga berbunyi nyaring.
"Bagus," bisik Zian sambil mengepalkan kedua tangannya yang kembali mengeras seperti baja. "Pemanasan sesungguhnya baru saja datang."
cuma tinju asal ajaaa