NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Pagi itu, suasana di pondok Alpen sedikit berbeda. Setelah berbulan-bulan menjalani kehidupan yang terisolasi dan dipantau secara ketat oleh dokter pribadi di rumah, Alya akhirnya mengajukan satu permintaan yang membuat Rangga sempat terdiam selama sepuluh menit: Alya ingin pergi ke rumah sakit pusat di Zurich untuk melakukan pemeriksaan rutin.

​"Aku hanya ingin melihat suasana kota, Mas. Aku ingin merasa seperti ibu-ibu hamil lainnya yang pergi ke klinik, menunggu antrean, dan melihat perlengkapan bayi di jalanan," pinta Alya dengan mata yang memohon.

​Rangga, yang memiliki trauma mendalam akan keselamatan Alya di dunia luar, awalnya menolak keras. Namun, melihat raut bosan di wajah istrinya, sang mantan predator akhirnya luluh. Ia setuju, namun tentu saja, dengan syarat dan protokol keamanan khas Rangga Dirgantara.

​Persiapan untuk sekadar pergi ke rumah sakit dilakukan Rangga seolah-olah ia sedang mempersiapkan pemindahan aset negara. Sehari sebelum keberangkatan, Rangga sudah menyewa satu lantai khusus di rumah sakit tersebut agar Alya tidak perlu berdesakan dengan pasien lain. Ia juga memeriksa riwayat hidup dokter kandungan cadangan yang akan mendampingi Dokter Hans nanti.

​Pagi harinya, Rangga membantu Alya mengenakan gaun hamil yang hangat, sepatu antislip yang sudah ia semprot dengan cairan pembersih kuman, dan sebuah mantel bulu tebal.

​"Mas, kita cuma mau periksa kandungan, bukan mau pindah negara," tawa Alya saat melihat Rangga sibuk memeriksa isi tas darurat yang berisi mulai dari oksigen portabel hingga pakaian ganti steril.

​"Dunia luar itu penuh dengan kuman, polusi, dan orang-orang yang tidak hati-hati, Alya. Aku harus memastikan jalur kita bersih," jawab Rangga dengan wajah sangat serius.

​Mereka berangkat dengan iring-iringan tiga mobil SUV lapis baja. Rangga duduk di samping Alya, menggenggam tangannya dengan sangat erat, matanya terus waspada memperhatikan setiap kendaraan yang menyalip mobil mereka. Keposesifannya meningkat berkali-kali lipat saat mereka mulai memasuki wilayah perkotaan Zurich yang ramai.

​Di Rumah Sakit: Sang Penguasa dan Istrinya

​Setibanya di rumah sakit, suasana berubah menjadi kaku. Begitu Rangga melangkah keluar dari mobil, aura dominasinya langsung menyebar. Para pengawal berbaju hitam segera membentuk perimeter di sekitar Alya. Rangga merangkul bahu Alya dengan protektif, seolah-olah udara yang dihirup Alya pun harus melalui persetujuannya terlebih dahulu.

​Saat berjalan di koridor rumah sakit, setiap ada orang yang berjalan berlawanan arah, Rangga akan menatap orang tersebut dengan tatapan yang sangat tajam, membuat mereka refleks menepi.

​"Mas, jangan menakut-nakuti orang," bisik Alya sambil mencubit pelan pinggang Rangga.

​"Mereka berjalan terlalu dekat denganmu, Alya. Jarak aman adalah dua meter," jawab Rangga tanpa mengalihkan pandangan.

​Mereka tiba di ruang radiologi untuk melakukan USG empat dimensi. Ini adalah momen yang paling ditunggu. Rangga memaksa masuk ke dalam ruangan, bahkan ia berdiri tepat di samping dokter, memperhatikan layar monitor dengan intensitas yang lebih tinggi daripada saat ia memantau pergerakan bursa saham.

​"Lihat, Tuan Rangga, ini kepala bayinya, ini tangannya..." tunjuk sang dokter.

​Rangga terpaku. Matanya yang biasanya dingin kini berkaca-kaca. Ia melihat siluet kehidupan yang ia ciptakan sedang bergerak di dalam rahim Alya. Tangannya yang bebas meraba perut Alya, sementara tangan lainnya tetap menggenggam tangan istrinya.

​"Dia... dia terlihat sangat kuat," suara Rangga bergetar. "Apakah detak jantungnya normal? Mengapa dia tidak banyak bergerak sekarang? Apa dia kedinginan?"

​Dokter itu tersenyum sabar. "Semuanya sangat sempurna, Tuan. Bayi Anda sangat sehat, begitu juga Nyonya Alya."

​Rangga menghela napas lega yang sangat panjang. Baginya, setiap angka yang ditunjukkan di monitor adalah bukti bahwa ia berhasil melindungi harta paling berharganya.

​Setelah pemeriksaan selesai, Alya meminta satu hal lagi: ia ingin makan di kantin rumah sakit atau kafe di lobi. Ia ingin merasakan "kehidupan normal". Rangga sempat ragu, namun akhirnya ia menyetujui sebuah kafe kelas atas yang berada di area privat rumah sakit.

​Saat Alya sedang menikmati sup hangatnya, seorang pelayan pria mendekat untuk mengantarkan minuman. Pelayan itu, yang mungkin hanya ingin bersikap ramah, tersenyum pada Alya dan berkata, "Anda terlihat sangat cantik hari ini dengan kehamilan itu, Nyonya."

​Seketika, suhu di meja itu turun menjadi nol derajat.

​Rangga meletakkan sendoknya dengan suara denting yang tajam. Ia berdiri perlahan, matanya menatap pelayan itu dengan kilatan yang membuat pria malang itu langsung gemetar.

​"Kau... baru saja mengatakan apa?" suara Rangga sangat rendah, nada yang biasanya ia gunakan sebelum menghabisi musuhnya.

​"Mas! Dia cuma memuji!" Alya mencoba menenangkan, namun Rangga sudah terlanjur "terpancing".

​"Tugasmu adalah mengantar minuman, bukan menilai fisik istriku," ucap Rangga sambil melangkah maju satu langkah. "Jangan pernah menatapnya lagi, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah bekerja di rumah sakit mana pun di negara ini."

​Pelayan itu meminta maaf berkali-kali dan lari ketakutan. Alya memijat pelipisnya, pusing dengan kelakuan suaminya yang benar-benar tidak bisa dikontrol jika menyangkut interaksi dengan orang lain.

​"Mas Rangga, kamu keterlaluan. Dia cuma memuji!" protes Alya.

​Rangga kembali duduk, ia mengambil tisu dan mengusap tangan Alya yang baru saja tersentuh udara luar. "Pujian dari pria lain adalah sebuah ancaman, Alya. Kau tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Aku tidak suka ada mata lain yang memandangmu, apalagi saat kau sedang mengandung anakku."

​Setelah insiden di kafe, Rangga langsung memutuskan untuk pulang. Perjalanan pulang terasa lebih cepat karena Rangga memerintahkan supirnya untuk tidak berhenti di lampu merah (dengan bantuan pengawalan motor pribadi).

​Sesampainya di pondok kayu mereka di Alpen, Rangga tampak jauh lebih rileks. Ia segera membantu Alya melepas mantelnya dan menyuruhnya berbaring.

​"Lihat? Dunia luar terlalu berisik dan tidak teratur," ujar Rangga sambil memasangkan bantal di punggung Alya. "Di sini lebih aman. Hanya ada aku, kau, dan anak kita."

​Alya menghela napas, meskipun ia pusing dengan keposesifan gila suaminya, ia tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa sangat dihargai.

Rangga memperlakukannya seolah-olah ia adalah permata paling langka di jagat raya yang tidak boleh terkena debu sedikit pun.

​Alya menarik tangan Rangga, membawanya untuk duduk di tepi tempat tidur. "Mas, terima kasih sudah mau membawaku pergi tadi. Aku senang melihat bayinya di layar besar tadi."

​Rangga mencium telapak tangan Alya. "Aku akan melakukan apa pun untukmu, Alya. Tapi ingat satu hal... kau adalah milikku. Dan aku akan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenanganmu."

Bersambung.....

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!