NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelatihan Dimulai

Pagi datang dengan sinar matahari yang terlalu terang. Aku terbangun masih di pelukan Damian. Tangannya melingkari pinggangku. Napasnya teratur di tengkukku. Hangat.

Untuk sesaat, hanya sesaat, aku lupa pada semua kengerian. Hanya merasakan kehangatan tubuh di belakangku. Detak jantung yang teratur di punggungku.

Tapi kemudian semuanya kembali.

Ayah yang membunuh ibu Damian dengan cara mengerikan. Bayi yang dibuang ke api. Damian yang jatuh cinta padaku sambil membenciku pada waktu bersamaan.

Dan aku yang mulai merasakan sesuatu untuknya. Sesuatu yang tidak seharusnya aku rasakan.

"Kau sudah bangun," suara Damian pelan di belakangku.

Aku menegang. "Sudah."

Tangannya mengeratkan pelukan. Menarikku lebih dekat.

"Hari ini kita akan mulai," katanya.

"Mulai apa?"

"Pelatihanmu."

Jantungku berdegup kencang. "Pelatihan?"

Damian melepaskan pelukannya. Berbalik untuk menatapku. Mata gelapnya serius.

"Kau harus belajar melindungi diri," katanya. "Dunia ini berbahaya. Dan aku tidak bisa selalu di sampingmu."

Tangannya menyentuh pipiku. Lembut.

"Aku ingin kau kuat," bisiknya. "Cukup kuat untuk bertahan. Cukup kuat untuk membunuh kalau perlu."

Membunuh. Kata itu menggantung di udara seperti pisau.

"A-aku tidak bisa membunuh," bisikku.

Damian tersenyum tipis. Senyum yang membuat bulu kudukku berdiri.

"Semua orang bisa membunuh, Alexa," katanya. "Hanya butuh motivasi yang tepat. Dan pelatihan yang benar."

***

Satu jam kemudian, kami berdiri di ruang bawah tanah yang berbeda. Bukan ruang penyiksaan yang dulu. Tapi ruang yang lebih luas. Dinding kedap suara. Lampu terang menerangi setiap sudut.

Dan di ujung ruangan, ada target-target berbentuk manusia. Kertas putih dengan lingkaran-lingkaran hitam menandai bagian vital. Kepala. Jantung. Perut.

Di meja panjang di samping kami, ada berbagai senjata. Pistol. Senapan. Pisau berbagai ukuran. Aku merasakan mual naik ke tenggorokan.

"Ini adalah tempat latihanku," kata Damian sambil berjalan ke meja. Mengambil pistol hitam. Memeriksa peluru di dalamnya. "Sejak usia sepuluh tahun, aku datang ke sini setiap hari untuk berlatih. Sampai aku bisa menembak target dari jarak seratus meter dengan mata tertutup."

Dia memutar pistol di tangannya dengan gerakan terlatih. Seperti bagian dari tubuhnya.

"Sekarang giliranmu untuk belajar semua ini," katanya sambil menyodorkan pistol itu padaku.

Aku menatap pistol itu. Hitam, dingin, dan mengkilat di bawah lampu.

"Ambillah," perintah Damian.

Dengan tangan gemetar, aku meraih pistol itu. Berat. Lebih berat dari yang kukira. Logam dingin di telapak tanganku.

"Bagus," kata Damian. Dia berdiri di belakangku. Sangat dekat. Dadanya hampir menyentuh punggungku. "Sekarang pegang dengan kedua tangan."

Tangannya membimbing tanganku. Mengatur posisi jari-jariku di pelatuk. Ibu jari mengunci pegangan.

"Rasakan beratnya," bisiknya di telingaku. "Rasakan kekuatan yang kau pegang sekarang. Kekuatan untuk mengambil nyawa."

Napasnya hangat di leherku. Membuat bulu kuduk berdiri.

"Arahkan ke target," lanjutnya. Tangannya membimbing tanganku mengangkat pistol. Mengarahkannya ke target paling dekat. Sekitar sepuluh meter.

Aku bisa merasakan detak jantungku sendiri. Cepat. Tidak teratur.

"Bernapas," perintah Damian. "Tarik napas dalam. Buang perlahan. Di tengah-tengah hembusan napas, tekan pelatuknya."

Aku menarik napas. Seperti yang dia ajarkan. Dalam. Lalu mulai membuang.

"Sekarang," bisiknya.

Aku menekan pelatuk.

DUAR!

Pistol itu menendang di tanganku. Keras. Hampir terlempar. Tapi tangan Damian menahan untuk menstabilkan. Suara tembakan menggelegar di ruangan kedap suara itu. Gema memenuhi telingaku.

Di target, ada lubang. Tidak di tengah, tapi di bahu kiri.

"Tidak buruk untuk pertama kali," kata Damian. "Tapi tidak cukup untuk membunuh."

Dia mengatur posisiku lagi. Tubuhnya lebih dekat sekarang. Aku bisa merasakan setiap lekuk ototnya di punggungku.

"Lagi," perintahnya.

Aku menarik napas. Membidik. Menekan pelatuk.

DUAR!

Lubang baru. Kali ini di perut.

"Lebih baik," kata Damian. "Tapi masih belum mematikan. Lagi."

Kami terus berlatih. Tembakan demi tembakan. Sampai lenganku pegal. Sampai telingaku berdenging walau memakai pelindung. Sampai target pertama penuh lubang seperti saringan.

"Ganti target," kata Damian.

Marco yang berdiri di sudut ruangan menekan tombol. Target lama turun. Target baru naik. Kertas putih yang masih bersih. Menunggu untuk dilubangi.

"Kali ini," kata Damian sambil melepaskan tangannya dari tanganku, "sendiri. Tanpa bantuan."

Aku menelan ludah. Mengangkat pistol dengan tangan yang masih gemetar. Tapi kali ini gemetar bukan karena takut. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat darahku panas.

Kekuasaan. Aku mengingat semua yang Damian ajarkan, posisi kaki, posisi tangan, bahkan caranya bernapas saat akan menembak.

DUAR!

Lubang tepat di dada, dekat dengan jantung.

"Bagus," kata Damian. Aku bisa mendengar senyum di suaranya. "Sangat bagus."

Aku menembak lagi, lagi, dan lagi. Setiap tembakan makin akurat. Setiap lubang makin dekat dengan pusat target.

Dan setiap tembakan membuat sesuatu di dadaku makin panas. Makin kuat. Aku menyukai ini, aku menyukai sensasi ini.

Kekuatan untuk mengendalikan hidup dan mati dengan tarikan jari. Pikiran itu membuatku takut. Tapi tidak cukup untuk berhenti.

"Target terakhir," kata Damian. "Kali ini, aku ingin kau bayangkan seseorang yang ingin menyakitimu. Seseorang yang ingin membunuhmu. Dan kau harus bertahan."

Aku menatap target baru. Kertas putih dengan lingkaran hitam di tengah dada.

Siapa yang ingin menyakitiku?

Dimitrov yang menyerang mansion. Lorenzo yang mungkin punya rencana tersembunyi. Atau...

Wajah ayah muncul di pikiranku. Ayah yang ternyata pembunuh. Yang membunuh ibu hamil Damian dengan cara paling sadis.

Kemarahan tiba-tiba meledak di dadaku. Kemarahan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

Kenapa ayah? Kenapa kau melakukan itu?

Kenapa kau membuatku harus menanggung semua ini?

Kenapa kau meninggalkanku dengan kebohongan dan darah?

Aku mengangkat pistol, tanganku tidak gemetar lagi, terkihat stabil dan kuat.

Tarik napas. Buang.

DUAR!

Lubang tepat di jantung target. Sempurna.

"Ya," kata Damian dari belakangku. Suaranya rendah. Penuh dengan sesuatu yang gelap. "Seperti itu. Tepat seperti itu."

Dia berbalik memutariku. Menatapku dengan mata yang berkilat intens.

"Kau merasakannya, kan?" tanyanya. Tangannya menyentuh pipiku yang panas. "Kekuatan itu. Sensasi itu."

Aku tidak menjawab. Tapi dia sudah tahu jawabannya dari mataku.

"Itu yang kurasakan setiap hari," bisiknya. Wajahnya semakin dekat. "Setiap kali aku membunuh. Setiap kali aku mengambil nyawa. Bukan karena aku menikmati kematian. Tapi karena aku menikmati kekuatan untuk mengendalikannya."

Bibirnya hampir menyentuh bibirku.

"Dan sekarang kau juga merasakannya," katanya. "Sekarang kau mengerti kan."

Lalu dia menciumku.

Kasar. Menuntut. Tangannya meraih pinggangku, menarikku ke tubuhnya yang keras. Pistol di tanganku jatuh ke lantai dengan bunyi logam berderak.

Tapi aku tidak peduli. Aku membalas ciumannya dengan intensitas yang sama. Dengan kemarahan yang sama. Dengan kegilaan yang sama.

Karena dia benar. Aku merasakannya. Kekuatan itu. Sensasi itu. Dan aku menginginkan lebih. Ketika dia melepaskan bibirku, kami berdua napas terengah-engah. Matanya menatapku dengan tatapan yang membuat lututku lemas.

"Kau sempurna," bisiknya. "Benar-benar sempurna."

Marco berdehem pelan dari sudut ruangan. Mengingatkan kami dia masih di sana. Damian melepaskanku dengan enggan. Membungkuk mengambil pistol yang jatuh. Memeriksa apakah ada kerusakan.

"Cukup untuk hari ini," katanya sambil meletakkan pistol di meja. "Besok kita lanjutkan dengan pisau."

Pisau. Senjata yang lebih personal. Lebih dekat, lebih berdarah. Bagian dariku yang masih waras seharusnya takut. Seharusnya menolak. Tapi bagian yang baru terbangun, bagian gelap yang baru kusadari ada di dalam diriku malah menantikan.

***

Kami kembali ke kamar dengan tangan bergandengan. Seperti pasangan normal. Bukan seperti monster dan calon monster.

Pelayan sudah menyiapkan makan siang di kamar. Steak. Sayuran. Wine merah. Aku baru menyadari betapa laparnya aku. Berlatih tembak selama tiga jam ternyata menguras tenaga.

Kami makan dalam diam. Tapi bukan diam yang tidak nyaman. Diam yang damai?

Bisa aku sebut damai?

"Kau berbakat," kata Damian tiba-tiba. "Dengan latihan yang tepat, kau bisa jadi penembak yang sangat baik."

"Kenapa?" tanyaku sambil memotong steak. "Kenapa kau melatihku?"

Damian meletakkan garpu dan pisaunya. Menatapku dengan serius.

"Karena musuh datang dari mana saja," jawabnya. "Lorenzo masih di luar sana. Dimitrov juga. Dan masih banyak lagi yang mengincar posisiku. Yang ingin menghancurkanku."

Tangannya meraih tanganku di atas meja.

"Dan cara tercepat untuk menghancurkanku adalah melalui kau," lanjutnya. "Jadi aku harus memastikan kau bisa melindungi diri. Kalau aku tidak ada di dekatmu."

Ada ketakutan di matanya. Ketakutan yang nyata.

"Aku tidak akan biarkan siapa pun menyakitimu," bisiknya. "Tapi aku juga harus realistis. Aku tidak bisa melindungimu dua puluh empat jam sehari. Jadi kau harus bisa melindungi dirimu sendiri."

Dia mengangkat tanganku. Menciumnya.

"Dan aku ingin kau kuat," katanya. "Cukup kuat untuk berdiri di sampingku. Bukan di belakangku, tapi di sampingku, sebagai seorang ratu."

Ratu. Dia ingin aku jadi ratu di kerajaan berdarahnya.

"Tapi aku bukan sepertimu."

"Belum," potongnya. "Tapi kau akan jadi. Aku sudah melihat percikannya hari ini. Ketika kau menembak target terakhir. Api di matamu. Kemarahan di wajahmu. Itu yang kubutuhkan."

Dia berdiri. Berjalan ke arahku. Menarikku berdiri juga.

"Kau pikir kau gadis baik yang tidak bisa menyakiti siapa pun," bisiknya sambil memelukku. "Tapi kau salah. Di dalam dirimu ada kegelapan yang sama denganku. Warisan dari ayahmu. Dan aku akan membantumu melepaskan kegelapan itu."

Tangannya mengelus rambutku.

"Karena hanya dengan begitu kau bisa bertahan," bisiknya. "Hanya dengan begitu kita bisa bersama selamanya."

Entah kenapa aku percaya, mungkin karena aku mulai melihat kebenaran di kata-katanya. Mungkin karena aku sudah berubah tanpa sadar. Atau mungkin karena aku sudah jatuh terlalu dalam ke dalam kegelapan bersamanya sampai tidak bisa kembali lagi.

Tapi satu yang pasti, aku tidak lagi takut seperti dulu. Ada sesuatu yang berubah di dalam diriku hari ini. Sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang mungkin tidak bisa dikembalikan lagi.

Dan ketika aku menatap pantulanku di cermin malam itu, aku melihat sesuatu yang berbeda di mataku. Bukan lagi ketakutan, bukan lagi keputusasaan. Tapi sesuatu yang lebih gelap, lebih berbahaya.

Dan pertanyaan yang terus menghantuiku adalah, apakah Damian melatihku untuk melindungiku, atau dia sedang mengubahku menjadi senjata, yang akan dia gunakan untuk perang yang akan datang?

Dan yang lebih menakutkan, kenapa sebagian diriku tidak peduli lagi dengan jawabannya?

1
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Leoruna: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Leoruna: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Leoruna: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Leoruna: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Leoruna: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!