NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25 - Terasa Seperti Rumah

...“Tidak semua lelah butuh tidur. Sebagian hanya butuh tempat pulang.”...

Happy Reading!

...----------------...

Sore itu datang tanpa rencana besar. Tidak ada janji resmi, tidak ada ajakan panjang di grup. Hanya satu pesan singkat dari Keno yang muncul di ponsel, seperti kebiasaan yang tak pernah benar-benar berubah.

"Ke rumah gue aja."

Tidak pakai embel-embel apa pun. Tapi entah bagaimana, semua orang paham maksudnya.

Rumah Keno memang selalu begitu. Titik temu yang paling netral, paling aman, dan paling sering jadi tempat pulang bagi kami semua—meski masing-masing punya rumah sendiri. Ada rasa familiar yang tak pernah menuntut apa pun. Datang kalau mau, pulang kalau ingat.

Aku tiba agak sore. Langit masih biru pucat dengan sisa matahari yang menggantung malas. Pagar rumah Keno terbuka setengah, seperti biasa. Aku menurunkan motor perlahan, menepuk stang sebentar sebelum melangkah masuk. Dari dalam, suara tawa sudah terdengar lebih dulu, membuat pipiku tersenyum otomatis sebelum aku benar-benar masuk.

“Woy,” sapa Arkan dari teras, duduk selonjoran sambil main ponsel. Tangannya lincah menekan layar, kaki menyilang santai.

“Woy apaan,” balasku sambil nyengir, bahu ikut bergoyang kecil saat tersenyum.

Di ruang tengah, Nara duduk bersila di lantai, punggungnya bersandar ke sofa, kaki naik turun sedikit saat ia ikut tertawa. Fadly ada di dekat jendela, membongkar cemilan dari kantong plastik, alisnya mengerut ringan saat memilih-milih, bibir tersenyum tipis. Keno sendiri mondar-mandir dari dapur ke ruang tengah, sesekali menepuk pinggul, mata melirik sekeliling, tampak sibuk tapi santai.

“Raven belum nyampe?” tanyaku, mencondongkan tubuh ke depan sedikit, jari-jari memeluk bantal kecil yang kugendong di pangkuan.

“Belum,” jawab Keno singkat, menepuk tangan sekali di paha. “Katanya nyusul.”

Aku mengangguk, lalu ikut duduk di sofa. Menempelkan punggung ke sandaran, menarik napas pelan, memeluk bantal dengan nyaman. Mata sesekali menatap ke arah jendela, mengamati cahaya sore yang masuk.

Obrolan mengalir tanpa arah yang jelas. Tentang sekolah, tugas yang menumpuk, guru yang ribet, sampai rencana absurd yang selalu berhenti di tengah jalan. Suara tawa berselingan dengan langkah ringan mereka di lantai kayu, tangan bergerak spontan saat menekankan cerita, wajah ceria tanpa beban.

“Eh, kalian sadar nggak sih,” Fadly tiba-tiba buka suara, tangannya menunjuk ke arah kami sambil tersenyum lebar, “kita tuh kalau di sini kayak nggak pernah capek ngobrol.”

“Karena nggak ada yang ngejar waktu,” jawab Keno, tangan bersilang di dada, bahu rileks, senyum tipis menempel di bibir. “Nggak ada yang nyuruh pulang.”

“Atau karena nggak ada orang tua,” celetuk Arkan sambil mengangkat alis, bibir menyeringai nakal.

Nara mendengus ringan, tangan menepuk lutut. “Yang penting nggak ada drama.”

Aku tersenyum kecil, bahu ikut mengendur. Kata drama terdengar ringan di ruangan ini—seolah semua yang berat sengaja ditinggal di luar pagar. Mata menatap ke arah mereka, senyum tipis tetap menempel, alis sedikit terangkat, merasakan hangatnya suasana.

Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Raven masuk dengan jaket hitamnya, rambut sedikit berantakan, wajahnya terlihat lelah tapi santai. Mata sesekali menyapu ruangan sebelum berhenti padaku, bibir menekuk tipis.

“Telat,” kata Arkan tanpa menoleh, kaki bersilang, tangan di belakang kepala santai.

“Gue nggak bilang jam berapa kesini,” jawab Raven ringan, bahu mengangkat sebentar, senyum tipis di bibirnya.

Raven langsung menjatuhkan diri di ujung sofa, kaki direbahkan sebentar, tangan mengusap wajah, jari-jari menyisir rambut sebentar, lalu ia menghela napas panjang, seperti orang yang akhirnya boleh berhenti. Mata menutup sebentar, kemudian membuka lagi, menatap ke depan dengan ekspresi lega.

“Capek?” tanyaku refleks, tubuh mencondong sedikit ke depan, mata menatapnya, alis sedikit terangkat.

“Iya,” jawabnya jujur, bahu rileks tapi masih menegakkan postur di sofa. “Seharian sibuk.”

Aku mengangguk perlahan, menatapnya sebentar, bibir menekuk tipis. Di antara kami, kelelahan tidak perlu penjelasan panjang—cukup dilihat dan dirasakan lewat gerakan kecil dan tatapan hangat.

Obrolan berlanjut—tentang rencana liburan yang entah kapan jadi, game yang lagi ramai, dan kenangan lama yang selalu muncul tanpa diundang. Tangan mereka kadang menggerakkan gelas atau cemilan, kaki menendang ringan lantai, kepala sesekali menoleh saat lawan bicara tertawa.

“Masih inget nggak waktu listrik mati seharian di sini?” kata Keno sambil bersandar santai, tangan menekuk di belakang kepala.

“Yang kita main kartu sampai malam,” sahut Nara, tersenyum, tangan menumpu lutut sambil sedikit mengangkat bahu.

“Yang Fadly ketiduran duluan,” tambah Arkan, menyeringai nakal, kaki menyilang santai di lantai.

“Gue capek,” bela Fadly sambil mengangkat tangan, wajahnya sedikit merah karena tertawa dan grogi.

Raven cuma tersenyum kecil. Bahunya perlahan merosot ke sandaran sofa, kepala sedikit menunduk. Matanya terpejam sesaat, lalu terbuka lagi, pandangan sayup, seolah ragu antara ikut ngobrol atau menyerah pada lelahnya sendiri. Jari-jari tangannya tergenggam ringan di pangkuan.

Beberapa menit kemudian, tanpa aba-aba, Raven bergeser. Tubuhnya miring perlahan, menyesuaikan posisi, lalu—seperti refleks—kepalanya jatuh tepat di pahaku.

Aku refleks menegang, mata melebar, tangan kaku menempel di bantal yang kugendong. Napasku sedikit tertahan.

“Hah—” aku terkejut, menahan tawa dan rasa canggung.

“Bentar,” gumam Raven pelan, suaranya lirih, matanya sudah terpejam. “Pusing dikit.” Kepala sedikit menekan pahaku, hangatnya terasa nyata.

Ruangan langsung hening sepersekian detik. Hanya suara napas dan detak jam yang terdengar.

“Anjir,” Arkan menurunkan suara, menunduk sebentar sambil menahan senyum.

“Cepet banget nyamannya,” tambah Fadly, menepuk lutut, menahan tawa.

Keno pura-pura batuk keras, menutupi senyumnya yang lebar. Nara menatapku, mata melebar, bibir menekuk setengah tersenyum, antara kaget dan geli.

“Lo aman?” bisiknya, mencondongkan tubuh sedikit ke arahku, alis terangkat.

Aku mengangguk cepat, mata menatap lurus ke arah lain untuk menenangkan diri, tapi jantung tetap berdetak kencang. “Aman.”

Raven tidak bergerak. Napasnya pelan dan teratur. Kepala hangatnya menempel di pahaku. Beratnya terasa nyata, membuat tubuhku sedikit menegang tanpa sadar.

Tanganku kaku di sisi tubuh. Jari-jari menggenggam bantal sebentar, lalu perlahan menepuk paha sendiri, ragu harus meletakkan di mana. Terlalu dekat untuk dihindari, terlalu tenang untuk ditolak.

“Kalau lo ngiler, harus tanggung jawab,” celetuk Fadly sambil tertawa pelan, menunduk ke depan.

“Berisik,” gumam Raven tanpa membuka mata, bibir mengerut tipis, bahu sedikit mengangkat sebelum merosot kembali.

Tawa kecil pecah. Tegangan mencair. Aku menahan senyum, kepala menunduk sebentar, pipi sedikit memerah.

Pelan-pelan, hampir tanpa sadar, ujung jariku menyentuh rambut Raven. Sekilas saja, jari-jari menelusuri helai rambut hitamnya yang lembut. Lalu berhenti, menahan diri. Rambutnya hangat di ujung jariku, sedikit bergeser saat ia menarik napas panjang.

Aku menarik napas pelan, dada naik turun, lalu membiarkan tanganku diam di sana, merasakan hangatnya tanpa suara. Mataku menatap ke arah lantai sebentar, jantung berdetak cepat tapi tenang di bawah berat kepala Raven.

Waktu berjalan lebih lambat setelah itu. Obrolan tetap ada, tapi nadanya turun. Keno dan Arkan berdebat pelan, tangan mereka menggerakkan gelas atau cemilan, kaki menendang ringan lantai, Nara sesekali tertawa kecil sambil menepuk lutut, Fadly sibuk men-scroll ponselnya.

Aku lebih banyak diam, duduk dengan punggung sedikit menempel ke sofa, memeluk bantal kecil. Fokusku terpecah antara suara di sekeliling dan rasa hangat di pangkuanku. Ada gugup, ada nyaman, ada perasaan aneh yang tidak meminta izin.

Raven bergeser sedikit. Kepala dan bahunya makin pas menempel di pahaku. Aku refleks menahan napas, tangan menegang di sisi bantal, dada naik turun sedikit lebih cepat.

“Dia pura-pura tidur nggak sih?” bisik Nara, mencondongkan tubuh, alis terangkat, bibir menekuk setengah tersenyum.

Aku mengangkat bahu ringan. “Nggak tau,” jawabku sambil menatap lantai sebentar.

Raven membuka mata sedikit, setengah menguap, matanya menatapku sekilas. “Gue denger.”

“Dasar,” gumam Fadly, sambil menyeringai nakal.

Lampu ruang tengah dinyalakan saat sore benar-benar pergi, cahaya hangat memenuhi sudut ruangan. Keno memesan makanan. Bau hangat masakan mengalir di udara, mencampur aroma sofa dan bantal.

Raven bangun saat makanan datang. Ia duduk tegak sebentar, mengusap wajah dengan punggung tangan, lalu menoleh ke arahku. “Makasih,” katanya pelan, matanya menyorotku sekejap, bibir melengkung tipis.

“Kenapa?” tanyaku sambil menepuk pahanya ringan, tersenyum nakal.

“Bantalnya enak.” Suaranya lirih, bahu sedikit mengangkat sebelum santai kembali.

Aku menepuk pahanya pelan lagi, tersenyum geli. “Kurang ajar.”

Kami tertawa kecil bersama. Raven tetap duduk bersandar di sofa, kepala menunduk sebentar seperti sedang menata pikirannya sendiri. Tangan kanannya mengusap tengkuk, kiri menumpu di lutut.

“Lo beneran tidur?” tanya Keno sambil menyerahkan minuman, mencondongkan badan sedikit ke depan, alis terangkat.

“Enggak,” jawab Raven jujur, menegakkan sedikit badan, menatap ke arah Keno sebentar. “Merem doang.”

“Dih,” sahut Arkan dari arah pintu, tersenyum nakal. “Gue kira udah mimpi indah.”

Raven cuma nyengir kecil, kepala sedikit menoleh ke arahku, tatapan sebentar tapi cukup membuat dadaku terasa hangat dan sedikit sesak. Aku menoleh lebih dulu, menahan pipi memerah.

Makanan dibagi seadanya. Duduk melingkar lagi, tapi posisinya sudah berubah. Raven kini duduk di sampingku, tidak sedekat sebelumnya, tapi cukup untuk membuat bahu kami sesekali bersentuhan tanpa sengaja. Tangan kami kadang berdekatan, kaki hampir bersentuhan saat duduk menyilang.

“Eh,” kata Fadly sambil mengunyah, menatap ke arah kami, “lo sadar nggak sih?”

“Apa?” jawabku, menoleh sebentar, mengernyit ringan.

“Sekarang tuh vibes-nya beda.” Fadly tersenyum tipis.

Nara terkekeh kecil, tangan menutupi mulut. “Iya ya.”

Keno mengangkat bahu santai. “Mungkin karena udah capek.”

Raven menatap lurus ke depan, bahu rileks, tangan bertumpu di lutut. “Atau karena udah nyaman.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tapi rasanya tinggal, memenuhi ruang di antara kami. Aku menggenggam gelas plastik lebih erat, jari-jari sedikit menekan permukaan.

Obrolan kembali mengalir, tapi lebih pelan. Tidak ada tawa yang meledak-ledak, tidak ada celetukan kasar. Semua orang sepakat malam ini cukup tenang. Aku menyukai itu.

Aku menyukai bagaimana Raven duduk santai di sampingku. Tidak banyak bicara, tidak banyak bergerak. Hanya ada. Lutut kami sesekali bersentuhan. Lengannya kadang menyenggol lenganku ringan. Tidak ada yang ditarik menjauh.

Ketika Keno berdiri untuk membereskan sisa makanan, Raven ikut bangun membantunya, gerakannya santai, seperti sudah biasa melakukan hal kecil bersama. Aku menatap punggungnya sebentar, bahu bergerak halus saat memindahkan kantong. Untuk sesaat, aku lupa kalau kami masih di rumah orang lain.

Setelah semuanya rapi, kami kembali duduk lebih dekat ke pintu. Tanda-tanda pulang mulai terasa, meski tidak ada yang mengatakannya. Satu per satu mulai pamit—Arkan, Fadly, Nara terakhir.

“Kalian bentar lagi pulang, ya?” tanya Keno akhirnya.

“Iya,” jawab Raven, menatapku sekilas, bahu santai. “Biar nggak kemaleman.”

Aku mengangguk setuju, tubuh sedikit menegak, tangan menutup bantal.

Saat kami berdiri dan mengambil barang masing-masing, Raven menunggu. Tidak mendahului. Tidak berjalan duluan. Ia berdiri di sampingku, tatapannya menenangkan, memastikan aku siap.

“Udah?” tanyanya pelan, tangan menggenggam tas kecil.

“Udah.” Aku menatap lurus ke depan, langkah menyesuaikan.

Kami melangkah keluar bareng, napas kami sinkron dengan dinginnya malam. Udara tipis menusuk wajah, rambut tertiup lembut.

Sebelum benar-benar pergi, aku menoleh lagi ke ruang tengah rumah Keno—melihat sofa yang sama, tempatku duduk sore tadi, dan momen tak terencana yang terasa tertinggal lama di ingatan.

Raven berjalan di sampingku, jaraknya pas, bahu sesekali nyaris menyentuh. Kami mendekati motor Raven.

“Aku tadi beneran capek,” katanya tiba-tiba, tangannya meraba sedikit jaketnya sendiri.

“Iya,” jawabku, menoleh sekilas.

“Tapi anehnya… enakan di situ.” Suaranya lembut, menunduk sedikit.

“Di mana?” tanyaku.

“Di sebelah kamu.” Matanya menatap lurus ke depan, tapi bahunya rileks, langkahnya santai.

Aku tidak menjawab, tapi langkahku melambat sedikit. Raven menyesuaikan, bahu kami hampir bersentuhan. Kami berjalan seperti itu—tenang, tanpa banyak kata, seperti tidak perlu menjelaskan apa pun.

 

“Raven — akhirnya punya senderan pribadi.”

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!