Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Vania mendongak dan tercengang melihat anak perempuan yang memakai seragam sekolah itu. Sebagian orang di kedai juga terkejut saat nama Vania disebut. Karena mungkin di antara mereka ada penggemar Vania.
"Loh, kak Vania makan di sini?"
"Serius Vania? Selebgram itu kan? Low profile banget dia makan bubur ayam di kedai pinggir jalan gini."
"Eh, kak Vania aku fans kamu loh. Boleh minta foto sebent?"
"Ya ampun, ternyata aslinya lebih cantik ya."
Begitulah reaksi dan ucapan beberapa orang yang berada di kedai itu yang kebetulan merupakan penggemar Vania. Vania menunjukkan deretan giginya dan sungkan karena diketahui oleh penggemarnya, ia tidak keberatan untuk menyapa dan berfoto bersama para penggemarnya di sana.
" Oh, dia yang naman Vania," batin laki-laki itu.
"Ayah, itu tante Vania, orang yang udah selamatkan Cila. Cila seneng ayah bisa ketemu sama Tante Vania di sini."
Salah satu orang di sana menata Cila dengan seksama, kemudian dia berkata. "Loh, adik ini bukannya anaknya Mas Farel kan? Kamu Syakila kan?" Ujar Wanita itu begitu menyadari siapa anak gadis itu. Lalu tatapannya beralih pada laki-laki yang memakai masker serta topi itu.
"Maaf, mas ini Mas Farel kan?" tanya orang itu lagi dengan semangat.
Farel menghela napasnya, susah payah dia menyamar, tapi akhirnya malah ketauan juga. Farel menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ingin berbohong pun rasanya sudah tidak mungkin, akhirnya ia memilih untuk mengangguk saja.
"Tuh kan, dia ngangguk. Wah! Saya seneng banget pagi ini bisa ketemu dua idola saya sekaligus!"
Farel yang sedang naik daun karena sukses berperan sebagai tokoh utama di salah satu serial drama, tentunya banyak penggemar terutama perempuan yang terpana oleh pesona dan karakter Farel dalam serial drama itu.
Orang-orang yang tadinya antusias karena kehadiran Vania, kini mereka beralih pada areal untuk meminta foto atau sekedar tanda tangan. Mereka juga mengerubungi Cila, yang merupakan anak Farel apalagi gadis kecil itu sangat cantik dan imut.
Bubur ayam pesanan Vania sudah jadi, lalu bubur itu diantarkan ke meja Vania. Kini giliran ibu penjual setengah meracik bubur ayam milik Farel. Pagi ini, ibu pemilik kedai benar-benar kebanjiran rezeki karena kedatangan dua orang populer itu.
" Karena kalian sudah tau ini saya, saya akan traktir kalian semua," ujar Farel kemudian matanya menyorot tajam ke arah Vania. " Kecuali kamu!"
Vania yang mendelik." Lagian siapa juga yang mau ditraktir, saya minta aja gak," ujar Vania sinis.
Cila menarik ujung baju ayahnya." Tapi.. Yah, Tante Vania kan yang udah selamatkan Cila, ayah traktir aja ya,"pinta gadis kecil itu.
"Gak perlu sayang, dia udah dewasa jadi bisa bayar bubur ayamnya dengan uang sendiri."
Vania menatap tajam Farel kemudian tersenyum kecil ke arah Cila. " Gak apa-apa sayang, Tante bisa beli sendiri."
Bubur ayam pesanan Farel susah jadi, Farel lantas membayar pesanannya juga pesanan orang-orang yang ada di kedai itu kecuali Vania. Vania sendiri terlihat tidak peduli, dia sibuk menyantap bubur ayam miliknya.
Meski sudah keluar dari kedai, tatapan Farel masih tertuju pada Vania. Ia kemudian melangkah menuju modil bersama putrinya. Farel membukakan pintu untuk Cila, ekspresi wajahnya seperti tengah memikirkan sedang, lalu ia kembali menoleh ke arah Vania yang sepertinya sudah selesai menghabiskan sarapannya. Kemudian Farel masuk ke dalam mobil dns melakukannya menuju sekolah putrinya.
-----
Farel mengaduk bubur yang sudah dingin di hadapannya dengan lesu. Pagi itu, kejadian di kedai bubur masih terngiang di kepalanya. Ketika memesan bubur, Farel masih merasa kesal. Sekarang, di rumah yang sepi setelah mengantar putrinya ke sekolah, amarah itu masih membayang.
Asistennya, yang baru datang, segera menyadari ada yang tidak beres. "Pak Farel, ada masalah apa?" tanya asistennya dengan lembut, berusaha mengusik keheningan.
Farel hanya menghela napas panjang, matanya masih tertuju pada mangkuk bubur yang kini sudah tidak beraturan lagi. "Ah, tidak ada apa-apa," jawabnya singkat, berusaha menyembunyikan kekesalannya yang sebenarnya.
Asistennya, yang sudah mengenal Farel cukup lama, tahu bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. "Jika Bapak ingin berbicara, saya di sini, Pak," ujarnya, duduk di sisi meja yang berseberangan dengan Farel.
Farel akhirnya menatap asistennya, ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit lebih lembut. "Hanya kejadian kecil di kedai tadi. Sepele sih, tapi entah kenapa masih terus terpikirkan," cerita Farel sambil kembali mengaduk bubur yang kini semakin berantakan.
Asistennya mengangguk paham, memberikan senyuman kecil. "Semua orang punya hari yang kurang menyenangkan, Pak. Mungkin secangkir teh hangat bisa membuat Bapak merasa lebih baik," saran sambil beranjak untuk menyeduhkan teh.
Farel menarik napas dalam, mencoba meredakan amarahnya. Ia tahu asisten benar, dan mungkin ia hanya perlu waktu untuk menenangkan diri sendiri. Dalam hati, Farel bersyukur memiliki asisten yang pengertian dan selalu ada di saat ia membutuhkan.
Asistennya kembali dengan secangkir teh dan meletakkannya di depan Farel. "Coba cerita sama saya, sebenarnya ada apa?"
"Ya begitu, sebenarnya tadi pagi saya sudah dibikin emosi," keluh Farel.
"Di bikin emosi? Sama siapa, pak?"
"Waktu di kedai bubur saya di buat emosi sama Vania, saya kan pesan bubur buru-buru karena mau antar Cila, eh dia gak terima dan dia malah marah sama saya. Terus, waktu di sekolah gurunya Cila genit banget, dasar wanita."
Asistennya terkesiap begitu mendengar bosnya sudah bertemu dengan Vania."Wow! Bapak udah ketemu sama Vania? Beruntung sekali, bapak!"
"Beruntung dari mananya? Yang ada dia malah buat saya kesal."
"Kenapa bapak kesal, memangnya waktu itu siapa yang pesan buburnya duluan?"
"Dia sih."
Asistennya tertawa." Ya jelas toh dia marah, pak. Saya juga kalau jadi Vania pasti kesal antriannya diserobot gitu sama bapak. Terus bapak udah berterima kasih sama Vania?"
"Belum, saya lagi kesal."
"Haduh, bapak udah kayak ABG aja."
Asistennya itu memperhatikan Farel yang terus-menerus mengaduk buburnya. Melihat bosnya yang tidak selera makan itu, membuat nya juga tidak berselera makan walau di hadapannya terhidang roti bakar yang sebenarnya sangat menggugah selera.
"Bapak kan pernah bilang, kalau ketemu Vania bapak akan berterima kasih sama dia,"ujarnya
"Memang saya pernah bilang gitu, sekarang momennya nggak pas."
"Loh kenapa,pak?"
Farel kemudian menyodorkan ponselnya pada asistennya. "Kamu lihat aja sendiri, Vania baru aja putus dari tunangannya. Saya juga baru aja stalking sosial medianya, di sana sudah benar-benar tidak ada foto dia bersama tunangannya itu. Beritanya juga sedang ramai, saya sebenarnya cukup ngeri membaca komentar netizen yang menyerang Vania. Sebagian dari mereka berkata alasannya adalah perempuan matre, tapi memang yang namanya juga netizen nggak bisa seratus persen dipercaya."
"Memang sih pak, tapi kalau menunggu momen yang pas apa sempat? Apalagi sebelum kita harus segera keluar kota, kita nggak bisa lama-lama di sini,pak. Masih banyak project lain yang menunggu."
"Saya tetap mau cari momen yang pas, kalau seandainya saya hanya sekedar bertemu apalagi dalam suasana hati yang buruk, bukannya berterima kasih nanti saya malah ribut sama dia."
"Bener juga sih, pak. Tapi saya pikir ada bagusnya loh Vania jadi jomblo."
Farel mengerutkan dahinya."Maksud kamu apa?"
"Bapak ini pura-pura tidak mengerti ya. Maksud saya Vania kan jomblo, bapak juga sekarang masih sendiri, kalian bisa saling dekat, lalu,,,bapak pasti ngerti kan maksud saya."
" Duh, gak dulu deh, saya masih nyaman sendiri."
"Tapi, bapak gak berpikir kalau Cila sangat membutuhkan sosok ibu?"
Farel menarik nafas dalam-dalam lantas menghembuskan dengan kasar. Indra penglihatannya tertuju pada tanaman hijau di halaman rumah, dia masih membayangkan mendiang istrinya yang selalu merawat tanaman itu ketika masih hidup.
"Pak?" Tegur asistennya seraya menepuk pundak Farel.
"Eh? Iya, saya sudah lama berpikir mengenai perasaan dan psikologis Cila. Tapi jujur saja, saya masih ragu. Mencari ibu sambung yang benar-benar tulus menyayangi anak saya itu tidak mudah. Apalagi di zaman sekarang, wanita-wanita pasti banyak yang bermanipulasi. Di depan saya seolah menyayangi Cila, di belakang dia malah menyakiti anak saya. Saya takut hal itu terjadi."
"Bapak jangan menyerah gitu aja dong! Bisa jadi perempuan yang bapak inginkan itu langka atau memang kita yang belum menemukan perempuan yang kita maksud."
Farel kembali menghembuskan nafasnya." Ya, kalau memang takdir saya menikah lagi, biarlah Cila yang menentukan perempuan mana yang tepat menjadi ibu sambungnya. Tapi buktinya sampai sekarang Cila dan saya sama-sama nyaman dengan keadaan kami yang sekarang. Sebenarnya saya juga merasa tidak tega menduakan istri pertama saya di alam sana, kalau saya menikah lagi."
"Sebenarnya boleh-boleh saja kalau bapak ingin menikah lagi, apalagi istri bapak sudah wafat."
"Iya, nanti saya pikirkan lagi."