"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He! Pokoknya Papa tidak mau tahu, setuju atau tidak kamu tetap harus menikah dengannya." Zhu Guan
"Tidak! Lian tidak mau Pa. Sampai kapanpun Lian tidak mau menikah dengan lelaki lumpuh itu. Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki itu, jangan aku Pa!" Zhu Lian
"Kenapa harus aku? Bukankah kakak yang harus menikah, tapi kenapa semua orang menumbalkanku untuk menggantikannya?" Zhu Yiyue
Seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang, tak ada opsi lain selain menuruti keinginan keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat. Dengan teganya dia menumbalkan salah satu putrinya sebagai penebus hutangnya. Tanpa memikirkan perasaan putrinya, dia justru mendorong putrinya ke sebuah jurang keputusasaan.
Mampukah Yiyue menerima takdirnya sebagai alat penebus hutang? Menikah dengan seorang lelaki yang tak dia kenal, terlebih lelaki itu adalah Tuan Muda lumpuh yang terkenal sangat dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMDTML 20
'Kenapa dia menatapku seperti itu? Atau jangan-jangan ada yang salah dengan ucapanku. Gawat kalau dia marah,' batin Yiyue melirik sekilas suaminya.
"Jangan menatapku seperti itu Tuan, aku takut kau jatuh cinta padaku. Nanti siapa yang mau tanggung jawab?" sindir Yiyue membuka suara. Gadis cantik itu berusaha mencairkan suasana agar terasa tenang tidak seperti tadi, suasana begitu pengap saat kehadiran dua laki-laki berbeda generasi itu.
Pasalnya sedari tadi suami kulkasnya itu menatap dirinya terus. Sampai-sampai membuat Yiyue ketar-ketir, takut jika suaminya akan murka lagi. Mengingat suaminya yang suka hobby marah dadakan jika tak sesuai dengan keinginannya.
Kedua netra Qiaoyan masih setia menatap wajah cantik istri kecilnya seolah hal itu sudah menjadi candu bagi dirinya sendiri.
"Sebaiknya kau pergi dan tinggalkan aku, aku hanya lelaki lumpuh yang tidak akan bisa membahagiakanmu. Kau berhak bahagia dan mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik juga pantas untukmu. Kau tenang saja, aku akan memberimu sebagian hartaku tapi segeralah pergi dari villa ini. Aku tidak ingin kau bernasib sama denganku, dihina dan dicaci maki itu sangat menyakitkan. Oleh karena itu, pergi dan tinggalkan aku secepatnya. Aku tidak ingin melihatmu lagi," pinta Qiaoyan. Secepat mungkin Qiaoyan memalingkan wajahnya menatap ke arah lain.
Jujur saja, saat ini hatinya begitu sakit saat dia berkata seperti itu pada istri kecilnya. Hati dan mulut seakan tidak sinkron, namun faktanya dia harus melakukan itu karena tak ingin melihat istrinya bernasib sama sepertinya, yang selalu direndahkan oleh keluarganya.
Yiyue berkerut alis dalam menatap suaminya, tapi lelaki itu tetap saja membuang wajah. "Kau menginginkan aku pergi dari sini?" Tanpa ijin Yiyue membawa rahang tegas suaminya menatap ke arahnya.
Pandangan mereka pun bertemu seolah keduanya berbicara lewat tatapan itu. Hingga akhirnya Qiaoyan yang terlebih dahulu memutus kontak mata dari istri nya, mengalihkan pandangan ke arah lain. Namun, bukan Yiyue namanya jika dia hanya diam membiarkan suaminya mengusir dirinya dari villa mewah itu. Terlebih, itu bukan keinginan suaminya sepenuhnya.
Yiyue kembali membawa rahang suaminya menatap wajah cantiknya. "Kau yakin menyuruhku pergi dari villa ini? Jika aku benar pergi, lalu bagaimana dengan dirimu yang sudah terbiasa dengan kehadiranku? Bahkan kau saja tak mau makan jika bukan aku yang memasak dan menyuapimu. Apa kau yakin bisa hidup tanpa ku, hm?" tanya Yiyue sambil menaik turunkan alisnya, menggoda suami kulkasnya.
Saat Qiaoyan hendak membuang muka, secepat kilat Yiyue menahannya. Kedua netra Qiaoyan menatap lurus ke arahnya, begitu juga dengan Yiyue yang melakukan hal sama dengannya.
"Seharusnya kau tak perlu mendengarkan ucapan mereka. Anggap saja mereka itu radio rusak dan perlu dibuang pada tempatnya, bereskan?" celetuk Yiyue.
"Ingat Tuan, sampai kapanpun aku akan tetap berdiri di sampingmu walau badai menerpa. Aku pastikan kau cepat sembuh dan bisa melawan mereka yang telah menghinamu. Aku yakin mereka semua iri dengan semua yang kau punya, karena kau terlalu sempurna untuk dimiliki. Jadi, berhentilah memintaku untuk pergi meninggalkanmu karena itu tidak akan pernah terjadi. Dan aku tidak butuh hartamu sepeser pun Tuan. Aku hanya ingin melihatmu bisa berjalan kembali layaknya seorang Tuan Muda yang disegani banyak orang dan menjadikanmu sebagai object satu-satunya yang mereka kagumi di dunia ini," terang Yiyue panjang lebar. Sekeras mungkin gadis cantik itu mengingatkan suami kulkasnya agar tidak berpikiran pendek.
Sungguh hati Qiaoyan terenyuh mendengar ucapan istri kecilnya. Baru kali ini dia mendengar seseorang yang membuat hatinya merasa memiliki. Detik itu juga Qiaoyan berjanji tidak akan pernah melepaskan istri kecilnya itu. Kini Qiaoyan bertekad ingin sembuh agar dapat melindungi sang istri dari orang seperti keluarganya yang selalu toxic mengusiknya. Dia tidak akan membiarkan istrinya disakiti, dihina ataupun dicaci maki seperti yang dia alami selama ini.
"Sudahlah Tuan jangan dimasukkan ke hati ucapan mereka. Lebih baik kita atur jadwal untuk pergi ke pengobatan TCM, bagaimana?" Yiyue mengelus lembut punggung suami kulkasnya itu agar rileks.
"Tidak!" tolak Qiaoyan tegas sambil menggelengkan kepalanya cepat.
"Ayolah Tuan, ini demi kesembuhan mu. Mau ya ... ya ....." Tak hentinya Yiyue terus membujuk suami kulkasnya itu yang begitu keras kepala. Tapi dia yakin jika sang suami cepat mencair dan mau melakukan pengobatan TCM.
🥕🥕🥕
"Qiaoran! Tunggu dulu Nak, kau harus tenang. Jangan gegabah seperti ini," ucap Daddy Jinmao mengingatkan putra bungsunya.
"Tenang? Daddy bilang aku tenang, bagaimana bisa aku tenang sedangkan mereka terlihat bahagia layaknya suami istri sungguhan?"
"Apa kau lupa jika mereka memang sudah menikah?" Daddy Jinmao kembali mengingatkan putranya perihal status hubungan antara Qiaoyan dan Yiyue.
Qiaoran meraup kasar wajahnya sebelum kemudian dia membalas ucapan Daddy nya. "Aku tahu Dad mereka sudah menikah. Tapi aku tidak ingin jika kakak hidup bahagia, berujung dia akan merebut semuanya dariku. Gadis itu tidak boleh menyukai kak Qiaoyan. Dia milikku, dan aku menginginkannya untuk jadi istriku Dad." Tandasnya dengan berapi-api.
Tampak dada Qiaoran naik turun, menandakan jika lelaki itu begitu murka melihat sang kakak yang tetap hidup bahagia meskipun kakinya lumpuh. Sungguh Qiaoran tidak menyukai hal itu, dia ingin membuat hidup kakaknya menderita seperti apa yang pernah dia rasakan dulu.
Daddy Jinmao terdiam membeku ketika tahu jika putra bungsunya menginginkan perempuan yang notabene nya kakak iparnya sendiri. Tentu saja lelaki itu tahu kenapa Qiaoran tiba-tiba mengatakan itu. Alasannya hanya satu,
Qiaoran tidak ingin melihat sang kakak hidup bahagia karena dia takut jika suasana hati kakaknya dapat mengembalikan semangatnya untuk sembuh.
"Apa yang harus kita lakukan Dad? Aku tidak ingin melihat dia hidup bahagia." Qiaoran kembali bersua sambil memegang tangan besar Daddy nya.
Seketika Daddy Jinmao pun tersadar dari lamunannya.
"Aaa ... i- iya Nak Daddy tahu itu. Tapi gadis itu istri kakakmu, itu artinya dia adalah kakak iparmu. Lebih baik kau cari gadis lain saja yang lebih dari gadis itu."
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya dia harus jadi istriku! Daddy harus usahakan itu!" tolak Qiaoran dengan tegas menolak opsi yang diberikan Daddy nya.
Ya, lelaki muda itu tak lain adalah He Qiaoran yang merupakan putra bungsu dari pasangan He Jinmao dan He Jiaxi. Lelaki itu lebih muda tiga tahun dari Qiaoyan yang notabene kakak nya. Qiaoran merupakan CEO daei Heshi Group, lebih tepatnya lelaki itu telah menggantikan posisi kakaknya saat sang kakak mengalami insiden kecelakaan.
Sedari dulu Qiaoran selalu iri dan selalu menginginkan apa yang dimiliki oleh Qiaoyan. Hingga sampai sekarang pun Qiaoran tetap menginginkan apa yang dimiliki oleh sang kakak, bahkan dia tak peduli jika gadis yang dia inginkannya pun adalah kakak iparnya, istri dari kakaknya sendiri. Dan Qiaoran selalu mengandalkan Daddy nya untuk merebut semua itu dari kakaknya. Daddy Jinmao yang memang sangat menyayangi Qiaoran, lelaki paruh baya itu selalu mengabulkan keinginan putranya.
Daddy Jinmao menghela napas beratnya mendengar keinginan putra bungsunya. "Baiklah, akan Daddy usahakan. Tapi ingat, kau jangan bertindak gegabah yang akan menghancurkan segalanya. Kau mengerti kah tidak?"
.
.
.
🥕Bersambung🥕