NovelToon NovelToon
Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: hairil

SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT

SINOPSIS SEASON 2

Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.

Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: BUKTI YANG TAK TERLUPAKAN

 

Malam hari menjelang tanggal yang ditetapkan untuk pertemuan resmi antara Putri dan Rizky semakin dekat, namun hati Putri tidak bisa menemukan kedamaian sama sekali. Setelah kunjungan ke panti asuhan bersama Nina beberapa hari lalu, ia merasa bingung semakin dalam—bagaimana mungkin anak dari orang yang telah merusak banyak nyawa bisa memiliki hati yang begitu lembut terhadap anak-anak yang terkena dampak konflik mafia?

Pada hari yang telah ditentukan, Putri bangun lebih awal dari biasanya. Dia melihat Rara yang sedang tidur dengan wajah yang lebih cerah dibandingkan beberapa minggu yang lalu—terima kasih pada perawatan medis yang diberikan keluarga Adinata. Namun, ingatan tentang kaset rekaman dan buku catatan ayahnya membuatnya tidak bisa merasakan kegembiraan sama sekali.

“Saya akan pergi ke kos lama untuk mengambil barang-barang yang tersisa, Nina,” ucap Putri sambil menyiapkan tas kecilnya. “Ada beberapa hal penting yang perlu saya ambil sendiri.”

Nina mengangguk dengan pemahaman. “Baik saja, Putri. Saya akan mengatur agar Rara bisa bermain dengan anak-anak dari tetangga dekat sini. Jangan terlalu lama ya, kita masih punya jadwal latihan sopan santun sore ini.”

Setelah sampai di kos lama yang sudah sepi dan sunyi, Putri langsung masuk ke kamar yang dulu menjadi miliknya dan orang tuanya. Ia mulai mencari barang-barang yang mungkin bisa menjadi bukti tambahan, mengingat pelajaran hukumnya yang mengajarkan bahwa setiap detail penting tidak boleh terlewatkan.

Saat ia sedang menyortir kotak-kotak yang tersisa di sudut kamar, tangannya menyentuh permukaan kayu yang kasar di balik tumpukan koran tua. Dengan hati-hati, ia membuka lapisan koran yang menutupinya dan menemukan sebuah kotak besi kecil yang terkunci rapat. Menggunakan kail kecil yang ia bawa, ia berhasil membukanya setelah beberapa saat berusaha.

Di dalam kotak itu, selain kaset rekaman yang sudah ia temukan sebelumnya, ada sebuah berkas dokumen yang menyimpan catatan rinci tentang bisnis kayu orang tuanya dan kontrak kerja sama dengan perusahaan milik Pak Hidayat sebelum mereka dibunuh. Ada juga surat-surat rahasia yang menunjukkan bahwa Pak Hidayat telah lama mengincar kawasan kayu keluarga Putri karena lokasinya yang strategis untuk jalur distribusi barang-barang ilegal.

Putri merasa darahnya membeku saat membaca setiap barisnya. Sebagai mahasiswa hukum, ia tahu bahwa bukti seperti ini adalah kunci untuk mendapatkan keadilan, namun juga bisa menjadi ancaman besar jika jatuh ke tangan yang salah. Ia menyimpan dokumen-dokumen itu ke dalam amplop khusus yang telah ia sediakan, lalu menyembunyikannya di dalam bagian terdalam tasnya.

Saat hendak meninggalkan kamar, sebuah suara membuatnya terkejut. “Kau benar-benar berpikir bisa menyembunyikan semua ini dari saya, Putri?”

Putri menoleh dan melihat Pak Darmawan berdiri di pintu kamar dengan senyum sinis di wajahnya. “Pak Darmawan? Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Saya sudah mengawasi gerakanmu sejak kamu menerima tawaran Pak Hidayat,” jawab pria itu dengan suara dalam. “Saya tahu tentang kaset itu dan dokumen yang kamu punya. Pak Hidayat adalah pembunuh yang kejam—dia telah merusak banyak keluarga, termasuk keluarga saya. Anak saya terbunuh karena konflik mafia yang dia buat!”

Putri berdiri tegak menghadapnya. “Apa yang kamu inginkan dari saya, Pak Darmawan?”

“Saya ingin kerja sama denganmu,” ucapnya dengan pandangan yang tajam. “Kita bisa bersama-sama membuat Pak Hidayat mendapatkan hukuman yang layak. Kamu mendapatkan keadilan untuk orang tuamu, dan saya mendapatkan balas dendam untuk anak saya. Namun, kamu harus berjanji tidak akan pernah membocorkan rahasia saya juga.”

Putri berpikir sebentar. Pengalaman kuliah hukumnya membuatnya tahu bahwa bekerja sama dengan orang lain dalam kasus seperti ini bisa berisiko, namun juga bisa memberikan keuntungan jika dikelola dengan baik. “Saya perlu waktu untuk mempertimbangkannya, Pak Darmawan. Dan saya punya syarat—semua bukti yang saya miliki harus tetap berada di tangan saya, dan kamu tidak boleh menyentuh Rara atau saya sebelum waktunya.”

Pak Darmawan mengangguk perlahan. “Baiklah. Saya akan tunggu keputusanmu. Tapi ingat, waktu tidak selalu berada di pihak kita.”

Setelah Pak Darmawan pergi, Putri segera kembali ke kediaman keluarga Adinata. Nina sudah menunggunya dengan wajah khawatir. “Kamu pergi terlalu lama, Putri. Pak Hidayat memanggilmu ke ruang kerjanya sekarang juga. Dia ingin membicarakan tentang tanggal pernikahan yang akan segera datang.”

Di ruang kerja Pak Hidayat yang megah dan penuh dengan barang-barang mahal, Putri melihat pria tua itu sedang duduk di belakang meja besarnya dengan tatapan yang tegas. “Putri, saya sudah mengatur semua persiapan untuk pernikahanmu dengan Rizky dalam dua minggu ke depan. Dokumen pernikahan sudah siap, dan rumah baru untukmu berdua juga telah disiapkan dengan baik.”

“Terima kasih, Pak Hidayat,” ucap Putri dengan suara tenang meskipun hatinya berdebar kencang. “Namun, saya ingin memastikan bahwa Rara akan tetap tinggal bersama saya dan mendapatkan pendidikan terbaik seperti yang telah disepakati.”

“Tentu saja,” jawab Pak Hidayat. “Saya sudah menyediakan sekolah terbaik untuknya di kota ini. Dia akan mulai bersekolah setelah operasinya selesai.”

Saat keluar dari ruangan Pak Hidayat, Nina menarik lengan Putri dan membawanya ke taman belakang kediaman keluarga Adinata. “Kita perlu berbicara, Putri,” ucap Nina dengan suara rendah. “Aku tahu kamu menyimpan sesuatu yang penting—sesuatu yang berhubungan dengan kematian orang tuamu. Aku tidak akan menyebarkannya, tapi kamu harus berhati-hati. Ada mata-mata Pak Hidayat di mana-mana, termasuk di antara orang-orang yang kamu percayai.”

Putri merasa sedikit terkejut namun tidak bisa menyangkalnya. Ia tahu bahwa Nina benar—dunia mafia adalah dunia yang penuh dengan kebohongan dan pengkhianatan. Ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih padanya.

Malam itu, Putri duduk di kamar pribadinya sambil melihat kaset rekaman dan dokumen-dokumen yang ia miliki. Ia menyimpan semua itu dengan sangat aman di dalam lemari besi yang terkunci dengan dua kunci berbeda. Ia tahu bahwa bukti ini adalah harapan terakhirnya untuk mendapatkan keadilan bagi orang tuanya, namun juga menyadari bahwa menggunakan bukti ini bisa membahayakan Rara dan bahkan Rizky yang belum pernah menyakiti dirinya.

Ia melihat foto keluarga yang ditempel di dinding kamar—ayah, ibu, dirinya sendiri, dan Rara yang masih kecil, semua sedang tersenyum bahagia. Rasa dendam terhadap Pak Hidayat semakin kuat, namun ingatan tentang Rizky dan panti asuhan yang dia kelola membuat hatinya bercampur aduk. Bagaimana mungkin anak dari pembunuh orang tuanya bisa memiliki hati yang begitu baik?

Pada hari berikutnya, Nina mengajak Putri untuk mengunjungi panti asuhan yang dikelola Rizky secara diam-diam. Tempat itu kecil namun nyaman, dengan anak-anak yang bermain riang di halaman belakang. Putri melihat Rizky sedang duduk bersama beberapa anak kecil, membantu mereka menyelesaikan pekerjaan rumah mereka dengan sabar dan penuh kasih.

Saat anak-anak sedang makan siang, Rizky melihat Putri dan datang menghampirinya dengan senyum lembut. “Putri, akhirnya kita bisa berbincang secara santai,” ucapnya dengan suara yang tenang dan ramah. “Saya sudah tahu tentang situasi keluarga kamu dari ayah saya. Saya minta maaf atas semua yang kamu alami.”

Putri merasa hati nya sedikit tergerak. “Kenapa kamu melakukan semua ini untuk anak-anak ini, Rizky? Padahal kamu adalah anak dari keluarga Adinata yang dikenal dengan kekerasannya?”

Rizky menghela napas panjang. “Saya tidak bisa mengubah siapa saya atau dari mana saya berasal, tapi saya bisa memilih bagaimana saya menjalani hidup saya. Anak-anak ini adalah korban dari dunia yang saya coba hindari sepenuhnya. Ini adalah cara saya untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, walau hanya sedikit.”

Putri melihat wajahnya yang tulus dan penuh perhatian. Ia merasa semakin bingung—bagaimana mungkin dia bisa membenci seseorang yang memiliki hati seperti ini? Namun, ingatan tentang kaset rekaman dan kematian orang tuanya membuatnya tetap fokus pada tujuan utamanya: mendapatkan keadilan bagi orang tuanya dan melindungi Rara dengan sebaik-baiknya.

 

[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Apakah kamu berpikir Putri harus memberitahu Rizky tentang kebenaran ayahnya, atau menyembunyikannya untuk melindungi Rara dan hubungan mereka yang baru mulai terbentuk?

1
Iril
semoga suka
Iril
halo KK mohon atas dukungannya saya penulis pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!