NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Bukan atas Namaku

Pukul enam pagi. Kabut tipis masih menyelimuti koridor sekolah yang sunyi, menciptakan suasana mencekam yang seolah mendukung kehampaan hati Bara. Ia duduk sendirian di bangkunya, hanya ditemani suara detak jarum jam dinding yang terasa seperti hitung mundur menuju kehancurannya sendiri.

​Dengan tangan yang masih sedikit gemetar sisa dari demam kemarin, Bara mulai menggoreskan pena di atas kertas putih. Setiap kata yang lahir bukan sekadar tinta, melainkan potongan jiwanya yang ia cabut paksa.

​“Setiap tawamu adalah rumah yang diam-diam ingin ku tinggali, dan setiap tatapan mu adalah langit yang tak pernah bosan ku pandangi...”

​Bara berhenti sejenak. Matanya memanas menatap baris itu. Ia sedang menuliskan rumah yang tak akan pernah ia huni. Ia sedang menggambarkan langit yang tak akan pernah ia miliki. Dengan napas yang tertahan, ia menyelesaikan bait demi bait hingga penutup yang paling menyesakkan:

“Mencintaimu bukan tentang seberapa lama, melainkan seberapa tulus aku ingin tinggal di hatimu… tanpa pernah ingin pergi.”

​Selesai. Bara melipat kertas itu dengan gerakan yang sangat pelan, seolah sedang melipat hatinya sendiri. Ia mengeluarkan pita cantik berwarna pink yang sudah ia siapkan dari rumah, lalu mengikatnya dengan simpul yang rapi. Cantik, namun mematikan bagi perasaannya.

​"Hey, Bro! Tumben pagi-pagi udah dateng ke sekolah?"

​Suara lantang Brian memecah keheningan. Ia masuk ke kelas dengan wajah cerah, sangat kontras dengan Bara yang tampak pucat di bawah lampu kelas yang remang.

​Bara segera menyembunyikan getar tangannya, lalu menyerahkan lipatan kertas berpita itu. "Iya, dong. Ini... puisi yang Lo minta."

​Mata Brian berbinar-binar. Ia menerima kertas itu seolah-olah itu adalah kunci menuju surga. "Ya ampun, Lo beneran buatin buat gue, Bar? Makasih banget! Lo emang sahabat terbaik gue!"

​"Iya, sama-sama," sahut Bara lirih. Setiap kata "sahabat" dari Brian terasa seperti paku yang menancap di dadanya.

​"Gue boleh buka?" tangan Brian sudah gatal ingin menarik pita pink itu.

​"Ya jangan dong! Itu udah gue bungkus rapi-rapi, masa mau Lo buka sih?" cegah Bara cepat. Ia tidak sanggup melihat Brian membaca kata-kata tulusnya dengan suara yang berbeda.

​"Hehe, gue penasaran, Bar. Pasti keren banget isinya," Brian terkekeh, memasukkan puisi itu ke dalam saku seragamnya, tepat di atas jantungnya—padahal jantung Bara lah yang sebenarnya berdenyut di dalam tulisan itu.

"Ya udah lah, nanti juga gue tau sendiri, pas gue baca di depan dia."

​Bara hanya bisa memaksakan sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Iya."

​"Oke deh. Kalau gitu gue mau tungguin Aluna di depan ya. Doain gue berhasil, Bar!" Brian menepuk bahu Bara dengan keras sebelum berlari keluar kelas dengan penuh semangat.

Di dalam kelas, Bara tetap terpaku di tempat duduknya. Ia menatap telapak tangannya yang kini kosong, seolah nyawanya baru saja dicuri dari sana. Di luar sana, suara gaduh mulai terdengar, menandakan pertunjukan yang ia tulis sendiri sedang dimulai.

Begitu Aluna menginjakkan kaki di dikelas, Brian langsung menyambar tangannya. Wajah Brian memerah penuh semangat.

"Hey teman-teman sini! Gue mau jujur tentang perasaan, gue ke Aluna!" teriak Brian dengan suara menggelegar, mengundang kerumunan siswa yang penasaran untuk segera melingkari mereka.

Aluna tertegun, tubuhnya kaku saat puluhan pasang mata menatapnya. Namun, Brian tidak memberinya ruang untuk bicara. Dengan tangan sedikit gemetar, Brian merogoh saku seragamnya, mengeluarkan lipatan kertas berpita pink yang masih beraroma parfum kamar Bara.

"Aluna, aku mau jujur sama kamu. Aku mau kamu tau perasaan, aku yang sebenarnya," ucap Brian mantap.

Ia mulai membaca puisi yang telah dibuat oleh bara. Suara Brian yang lantang berubah menjadi lembut saat bait-bait itu terucap.

“Setiap tawamu adalah rumah yang diam-diam ingin ku tinggali, dan setiap tatapan mu adalah langit yang tak pernah bosan ku pandangi...”

Seketika, kelas yang tadinya bising berubah menjadi hening. Teman-teman mereka terdiam, beberapa siswi menangkupkan tangan di dada, tersentuh oleh keindahan diksi yang terasa begitu magis. Namun, bagi Aluna, setiap kata yang keluar dari bibir Brian justru membuatnya membeku.

Bukan karena ia terlalu bahagia, melainkan karena rasa familiar yang menghantam kesadarannya.

“Ada debar yang selalu belajar sabar, ada rindu yang memilih diam demi melihatmu bahagia tanpa beban...”

Aluna menatap Brian, namun yang ia dengar di kepalanya bukanlah suara Brian. Ia teringat akan sebuah buku catatan yang pernah ia temukan, ia teringat akan aura dingin namun hangat milik seseorang yang selalu duduk di sampingnya. Kata-kata ini... rasa ini... semuanya begitu identik dengan "jiwa" yang ia temukan di kamar Bara.

“...seperti senja menjaga jingganya agar tetap indah sebelum gelap tiba.”

Saat Brian mengakhiri puisi itu dengan kalimat “.Dengan..tulus aku ingin tinggal di hatimu… tanpa pernah ingin pergi,”

sorak-sorai meledak. Teman-teman mereka berteriak, "Terima! Terima! Terima!".

Brian menatap Aluna penuh harap, menunggu jawaban. Namun Aluna hanya diam. Matanya yang berkaca-kaca perlahan berputar, mencari sosok di balik kerumunan, mencari satu-satunya orang yang ia yakini sebagai pemilik asli dari setiap doa yang tertulis di kertas itu.

Sorakan teman-teman yang meneriakkan kata "Terima! Terima!" perlahan meredup, tergantikan oleh bisik-bisik bingung saat melihat Aluna hanya mematung. Brian, yang tadinya penuhi semangat, mulai merasa ada yang salah. Senyum di wajahnya perlahan luntur.

​"Aluna, ayo jawab... kenapa kamu diam saja?" tanya Brian, suaranya kini bergetar karena cemas.

​Aluna menatap kertas di tangan Brian. Lalu beralih menatap mata Brian dengan tatapan penuh luka. "Brian, aku minta maaf. Aku gak bisa terima kamu."

​Seketika Brian mematung. Seluruh dunianya seolah runtuh di depan teman-temannya sendiri. Kertas puisi itu nyaris terlepas dari jemarinya. "Tapi... kenapa, Aluna? Apa yang kurang dari aku? Apa kata-kata di puisi ini belum cukup?"

​Aluna menggeleng pelan, air matanya kini benar-benar jatuh. Ia tidak bisa mengatakan bahwa justru karena puisi itulah dia sadar siapa yang sebenarnya ada di hatinya. "Bukan itu, Bri. Tapi karena... aku sudah mencintai seseorang."

​Wajah Brian menegang, rahangnya mengeras. Rasa malu dan sakit hati bercampur menjadi satu. "Siapa? Siapa Aluna?! Kasih tahu aku!" tuntutnya dengan suara yang mulai meninggi.

​"Aku gak bisa kasih tahu kamu, Brian" bisik Aluna parau.

​Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Aluna berbalik. Ia berlari sekuat tenaga menembus kerumunan teman-temannya yang masih ternganga. Ia meninggalkan Brian yang berdiri mematung sendirian di tengah lapangan, menggenggam sebuah puisi indah yang kini terasa seperti sampah tak berguna.

Bersambung........

Jangan lupa like dan vote ya kakak ♥️🥰🙏 Terimakasih semoga rezekinya lancar dan sehat selalu amin 🤲♥️🥰

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!