Gurial Tempest
Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.
Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.
Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.
Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.
Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.
Inilah awal kisah Gurial Tempest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Perjalanan baru Marvin.
Langit di atas kota yang porak-poranda itu berwarna kelabu keunguan, tertutup debu dan asap dari bangunan yang runtuh. Angin membawa bau besi, pasir, dan asap mesiu. Di antara reruntuhan menara tertinggi, seekor griffin raksasa bersayap hitam melayang dengan kepakan berat—WUUUUSH… WUUUSH…
Di punggung makhluk itu, Triani duduk anggun namun penuh amarah. Rambutnya menjuntai seperti ular hidup, matanya menyala keemasan. Ia menatap ke bawah, ke arah kota yang kini dipenuhi tubuh bandit tumbang dan sisa-sisa pertempuran.
Tangannya mengepal.
“…Tidak… tidak mungkin…”
Suaranya gemetar antara marah dan tak percaya.
“Siapa mereka…?” gumamnya. “Siapa yang berani menginjak wilayahku dan menghancurkan pasukanku seperti ini…?”
Ia mendengus tajam, lalu mengangkat sebuah kurungan besi hitam di tangannya. Di dalamnya, seorang gadis kecil berambut gelap meringkuk ketakutan—Nayla. Tangannya gemetar memegang jeruji.
Namun meski wajahnya pucat, matanya tetap berani.
“K… kamu lihat?” suara Nayla bergetar, tapi penuh harap.
“Tuan Marvin… pasti akan datang menyelamatkanku…”
Triani menoleh perlahan. Senyum tipis—dingin dan bengkok—terbit di wajahnya.
“Oh?”
Lalu tiba-tiba ia mengguncang kurungan itu dengan kasar.
GLANG—GLANG—GLANG!!
“DIAM KAU!!” bentaknya.
“Atau kau sendiri yang akan kujadikan santapan griffinku!”
Nayla menjerit kecil dan jatuh terduduk di dalam kurungan.
Di bawah sana, di antara puing bangunan dan pasir yang beterbangan…
Marvin dan Selena berlari menerobos medan perang yang baru saja berakhir. Napas mereka berat, langkah mereka menghantam tanah dengan suara tap—tap—tap di atas batu pecah.
“Chika!” teriak Marvin sambil berlari lebih dulu ke depan.
“Ikuti aku!”
“Hah? Ke mana?!” Chika menyusul di belakang dengan langkah kikuk.
Chika berhenti mendadak dan menoleh ke princess kecil yang berdiri cemas di antara Selena dan sisa para knight.
“Princess… tunggu di sini, ya!”
Princess mengangguk cepat. “B… baik, Chika…”
Selena melangkah ke depan dan berdiri di depan princess, pedangnya masih berlumur debu dan darah bandit.
“Tenang saja,” katanya tegas.
“Aku yang akan melindungimu.”
Chika menatap mereka, lalu tersenyum bodoh seperti biasa—senyum yang anehnya menenangkan.
“I… iya!”
Lalu ia berbalik dan berlari mengejar Marvin.
Chika mengangkat kepala ke langit.
“Eh… Marvin…” katanya sambil menunjuk ke atas.
“Di atas sana ada manusia besar… mirip Medusa!”
Marvin mengerutkan mata.
“…Dan di tangannya,” lanjut Marvin pelan, suaranya berubah dingin,
“dia menyekap Nayla.”
Di atas langit, Triani menyadari gerakan mereka.
“Loh?”
Matanya menyipit.
“Dia… menuju ke sini?”
Ekornya—panjang, bersisik, dan berat—menghantam bangunan tertinggi yang masih berdiri.
DOOOOM!!!
Menara itu runtuh. Batu-batu raksasa meluncur seperti hujan meteor ke arah Chika dan Marvin.
“W—Wih wih wih!!” teriak Chika sambil menengadah.
“BATU-BATUNYA!!”
Marvin langsung melangkah ke depan Chika, tubuhnya condong ke arah ancaman.
“Tenang, Chika.”
Suaranya tegas.
“Aku yang urus.”
Ia menghentakkan kakinya ke tanah.
“Burst Drive!”
Tubuh Marvin melesat ke depan seperti peluru.
BZZZSH!!
Ia menghantam batu pertama dengan pukulan lurus.
“Iron Breaker!”
DUAARRR!!
Batu itu pecah jadi serpihan. Marvin berputar, menendang batu kedua.
“Crush Kick!”
BAAM!!
Potongan-potongan batu berjatuhan seperti hujan kerikil.
Debu mengepul menutup pandangan.
FSSSSHHH…
Saat debu menghilang…
Triani sudah tidak ada.
“…Dia kabur!” teriak Chika.
Marvin berhenti berlari, mengatur napas. Ia menoleh ke kanan-kiri, lalu ke arah puing-puing.
“…Bagaimana kita mengejar yang bisa terbang…” gumamnya.
Lalu matanya tertuju pada sesuatu di dekat bebatuan:
sebuah motor besar futuristik, berwarna hitam dengan garis biru menyala.
Chika melongo.
“E… eh?! Motor?!”
“Aku… aku cuma bisa naik kuda!”
Marvin tersenyum tipis.
“Kalau begitu aku yang menyetir.”
Ia naik ke motor dan menyalakan mesinnya.
VRRROOOOMMMMM!!
“Kau…” lanjut Marvin sambil menoleh,
“…tembak dia dengan senjata barumu.”
Chika mengangkat busur bercahaya biru di punggungnya—Lumina Bow.
“…Lumina Bow?”
“Ya.”
Marvin memutar gas.
“Pegangan yang kuat.”
Chika naik ke belakang motor, nyaris jatuh sebelum memeluk pinggang Marvin.
“W—Wih! Cepat banget!”
Motor melesat di antara reruntuhan kota.
VRRRRSHHH!!
Di atas langit, Triani menoleh.
“Mereka mengejar…”
Senyumnya berubah bengis.
“Bagus. Akan kupatahkan harapan mereka… bersama tulang mereka.”
Ia mengangkat kurungan Nayla ke depan.
“Lihatlah,” bisiknya ke arah gadis kecil itu.
“Bagaimana pahlawanmu gagal.”
Nayla menatap ke kejauhan, matanya berkaca-kaca…
dan di sana, di antara debu kota…
ia melihat kilatan biru dari Lumina Bow.
“…Tuan Marvin…”
“…Chika…”
Siang… malam di gurun terasa dingin dan kejam.
Langit gelap tanpa bulan, hanya dihiasi bintang-bintang pucat yang bergetar di balik awan pasir tipis. Angin gurun menderu rendah seperti bisikan ribuan roh, menggesek bukit pasir dan reruntuhan bangunan tua yang terkubur separuh. Cahaya api dari kota yang hancur di kejauhan masih terlihat samar, seperti luka membara di cakrawala.
Motor besar itu melaju membelah pasir.
VRRRRRRMMM—!!
Roda-rodanya menyemburkan pasir ke belakang seperti ombak emas. Marvin membungkuk di atas setang, otot lengannya menegang, mata tajam mengunci siluet raksasa di depan mereka.
Di belakangnya, Chika berdiri di atas jok belakang motor.
Zirah ksatria Gurial Tempest membalut tubuhnya—perak kebiruan dengan ukiran halus. Scarf merah di pinggangnya berkibar liar tertiup angin, seperti api kecil yang menolak padam. Rambutnya tergerai karena ia tak mengenakan helm, wajahnya tegang namun matanya bersinar penuh tekad.
Ia menggenggam Lumina Bow—busur putih-emas dengan garis cahaya biru berdenyut di sepanjang lengkungannya.
Di kejauhan, Triani meluncur di atas pasir seperti bayangan raksasa. Tubuh bagian atasnya humanoid, bersisik gelap kehijauan, sementara ekornya panjang dan besar seperti ular raksasa, meninggalkan parit di pasir.
Kurungan besi berkilau di tangannya… dan di dalamnya, Nayla menggigil.
Marvin berteriak menembus deru angin, “Pegangan yang kuat, Chika!! Dia mulai mempercepat!”
Chika mengangguk, menekuk lututnya agar seimbang. “Aku siap! Jangan belok tiba-tiba tanpa bilang!”
Triani menoleh sedikit. Mata kuningnya menyala di kegelapan.
“Hmph… masih mengejarku, semut-semut kecil…” suaranya menggema berat. “Kalian tak akan mengganggu parade makanku.”
Ia mengangkat tangannya.
Pasir di sekelilingnya bergetar.
BOOOOM—!!
Tiga tombak pasir raksasa mencuat dari tanah dan melesat ke arah motor seperti meriam.
Marvin membanting setang ke kiri. SKREEEET—!!
Motor meluncur miring, hampir terguling.
“WOAH—!!” Chika terhuyung, cepat menancapkan satu kaki ke jok agar tidak jatuh.
Tombak pasir menghantam tempat mereka tadi.
KRAAASH!!
Pasir meledak seperti dinding runtuh.
Chika menarik napas cepat, lalu mengangkat Lumina Bow.
Cahaya biru berkumpul di talinya.
“Mode listrik… aktif!”
... ZIIIING—!!
Anak panah cahaya terbentuk, bergetar dengan suara seperti dengungan petir kecil.
Chika membidik sambil berdiri di atas motor yang melaju.
“Marvin! Sedikit luruskan!”
“Tahan… sekarang!”
Chika melepaskan tembakan.
“LUMINA SHOT: BLUE STRIKE!!”
.........
ZRAAAKK—!!
Panah listrik melesat, membelah udara, lalu menghantam sisi ekor Triani.
BAAM!!
Listrik biru menjalar di sisik ekornya.
Triani menggeram. “Tch—!”
Tubuhnya sedikit oleng, tapi ia tertawa.
“Listrik? Lucu…”
Ia menghentakkan ekornya ke tanah.
Pasir bergulung seperti ombak.
WOOOOM—!!
Sebuah dinding pasir naik di depan motor.
Marvin menyipitkan mata. “Pegang erat!”
Ia memutar gas penuh.
VRRRRRRMMM—!!
Motor melompat menabrak tanjakan pasir, terangkat ke udara.
Chika refleks meraih bahu Marvin dengan satu tangan, tangan lainnya tetap memegang busur.
Di udara, scarf merahnya berkibar seperti bendera perang.
Mereka mendarat keras.
DOOOM!!
Suspensi motor berderit.
Triani tiba-tiba menenggelamkan tubuhnya ke pasir.
SHHHHHK—!!
Ia menghilang.
Chika membelalak. “Dia… masuk ke tanah?!”
Marvin memandang sekeliling cepat. “Awas… dia bukan kabur… dia mengincar dari bawah!”
Pasir di belakang motor bergetar.
BOOOOM—!!
Ekor raksasa Triani muncul dari bawah dan menghantam bagian belakang motor.
KRAAANG—!!
Motor terlempar ke samping.
Marvin dan Chika terlempar ke pasir.
BRUK—!!
Chika berguling beberapa kali, zirahnya bergesek pasir, scarf merahnya terseret debu.
Ia meringis. “Ugh…!”
Marvin menancapkan satu tangan ke tanah, berhenti dengan satu lutut.
Triani muncul di depan mereka, tubuhnya menjulang di bawah langit gelap.
Kurungan Nayla masih tergantung di tangannya.
Triani tersenyum lebar.
“Kejar-kejaran yang menghibur.” “Tapi parade ini punya tujuan.”
Ia mengangkat kurungan sedikit.
Nayla menatap ke bawah dengan mata berkaca-kaca. “Tuan Marvin…!”
Triani berkata dengan suara dingin dan bangga: “Aku mengumpulkan semua elf gurun.” “Untuk satu hal saja…”
Matanya menyipit.
“Santapan.”
Angin gurun berhenti sesaat.
Chika bangkit perlahan, pasir jatuh dari zirahnya.
Ia menatap Triani dengan rahang mengeras, lalu melangkah maju satu langkah.
Lumina Bow kembali bersinar biru di tangannya.
“Kalau begitu…”
Ia mengangkat busur, berdiri tegap di bawah langit malam.
Scarf merahnya berkibar perlahan.
“…parademu berhenti di sini.”
Marvin berdiri di sampingnya, mengepalkan tinju besar. “Turunkan dia. Sekarang.”
Triani tertawa, ekornya melingkar siap menyerang.
“Menarik… dua serangga ingin jadi pahlawan.”
Pasir mulai berputar di sekeliling mereka.
Langit malam terasa semakin berat.
Pertarungan di gurun…
baru saja benar-benar dimulai.
Angin malam gurun berdesir rendah, membawa bau pasir panas dan debu reruntuhan. Di antara bayang-bayang bukit pasir, Triani berdiri menjulang, ekornya melingkar di belakang seperti cambuk raksasa. Kurungan Nayla masih tergantung di tangannya, bergoyang pelan seolah mengejek mereka.
Chika menarik napas dalam-dalam.
Dadanya naik turun di balik zirah ksatria Gurial Tempest yang berkilau redup di bawah cahaya bintang. Scarf merah di pinggangnya berkibar tertiup angin. Wajahnya tegang… tapi matanya menyala.
Ia mengangkat Lumina Bow.
Tali busur bergetar, cahaya biru berkumpul di sekeliling anak panah.
“Marvin… tutupi aku setelah ini.”
Marvin menurunkan kuda-kudanya sedikit, lalu menyeringai tipis. “Serahkan pembukaan padamu, Knight Pemula.”
Chika memejamkan mata sepersekian detik.
Lalu—
Ia membentangkan busurnya ke langit.
“LUMINA BARRAGE: RAIN VEIL!!”
.........
ZIIIIING—!!
Puluhan anak panah cahaya terbentuk di udara dan jatuh serempak seperti hujan meteor biru.
SHRRRAAAK—!!
Panah-panah itu menghantam pasir di sekitar Triani, meledak menjadi kilatan cahaya dan debu listrik.
BOOM! BOOM! BOOM!
Kabut pasir bercampur cahaya biru menutup pandangan.
Triani menggeram di balik asap. “Apa ini—?!”
Dalam kekacauan itu…
Marvin bergerak.
Sarung tangan baja raksasa di lengannya mengembang, lapisan logamnya saling mengunci dengan bunyi mekanis.
KLAK—KRAKK!!
Ia melesat maju.
Pasir terbelah di bawah kakinya.
“GAUNTLET DRIVE!!”
DOOOOM—!!
Marvin menerobos kabut dan menghantam dada Triani dengan tinju baja raksasa.
Benturan itu menggetarkan udara.
Triani terhuyung, sisiknya retak sedikit.
“GRAAH—!”
Namun ekornya langsung menyapu.
WUUUSH—!!
Marvin meloncat mundur, ekor itu menghantam tanah dan menciptakan kawah kecil.
Di saat itu—
Cahaya biru di tangan Chika padam.
Lumina Bow memudar dan berubah bentuk.
Cahaya putih-emas memanjang menjadi pedang ramping.
Lumina Sword.
Chika menjejak pasir, lalu berlari.
Ia melompat ke atas batu runtuh, lalu berputar di udara.
Scarf merahnya berputar seperti pita api.
“Aku datang dari depan!”
Ia mendarat di sisi Triani dan menebas.
“LUMINA SLASH: ARC FLASH!!”
... SHIIING—!!
Pedang cahaya menyayat sisik Triani, meninggalkan garis bercahaya biru-putih.
Triani meraung dan memukul dengan tangan bebasnya.
Chika meloncat mundur, berguling di pasir, lalu bangkit dengan satu lutut.
Napasnya berat.
“Dia… keras banget…”
Marvin berdiri di sisi lain, mengangkat tinjunya lagi. “Tapi dia mulai goyah. Jangan beri dia waktu!”
Triani mengangkat kurungan Nayla lebih tinggi. “Kalian berisik sekali…!”
Ia menghentakkan ekornya.
Pasir meledak ke udara.
BOOOOSH—!!
Chika melompat, memutar tubuhnya di udara untuk menghindari semburan pasir, lalu menancapkan pedang ke tanah agar seimbang.
Ia meluncur rendah di bawah ayunan ekor Triani.
Gerakannya luwes, tidak lagi kaku seperti ksatria pemula.
Saat melewati bawah tubuh Triani, Chika melompat lagi.
Ia memutar tubuhnya, lalu menendang kepala Triani dengan sepatu zirahnya.
“HAA—!!”
Triani terhuyung ke belakang dan menabrak Marvin.
DOOOOM!!
Mereka berdua terpental.
Kurungan Nayla terlepas dari tangan Triani.
KRAAANG—!!
Kurungan itu jatuh dan menggelinding di pasir.
“NAYLA!!” teriak Chika.
Nayla di dalam kurungan menatap mereka dengan mata terbelalak.
Triani bangkit sambil mendesis marah. “KALIAN—!!”
Ia menghentakkan kedua tangannya ke tanah.
Pasir berputar membentuk pusaran.
Chika berdiri tegap.
Ia menoleh ke Marvin sebentar. “Aku pakai semuanya.”
Marvin mengangguk keras. “Tunjukkan kalau kau bukan pemula lagi.”
Cahaya muncul di kedua tangan Chika.
Tangan kanan: Lumina Sword bersinar putih-emas.
Tangan kiri: Lumina Bow kembali terbentuk dengan cahaya biru.
Ia berdiri dalam posisi rendah, satu kaki di depan, satu di belakang.
Angin gurun bertiup, mengibarkan scarf merahnya.
Triani menyerang dengan lompatan besar.
“HANCUR!!”
Chika bergerak.
Ia menembakkan satu panah ke pasir di depan Triani.
“FLASH STEP ARROW!!”
... ZRAK—!!
Cahaya meledak, menyilaukan mata Triani sesaat.
Chika melesat ke samping, memutari tubuh Triani, lalu melompat ke atas punggungnya.
Ia menancapkan pedangnya.
“LUMINA STRIKE: RISING EDGE!!”
... SHRAAANG—!!
Cahaya menjalar di tubuh Triani.
Triani meraung dan menggeliat.
Chika melompat mundur, mendarat dekat kurungan Nayla.
Ia menarik busurnya sekali lagi.
Pedang di tangan kanan bersinar lebih terang.
“Mode ganda…”
Ia menatap Triani dengan wajah penuh tekad.
“…AKTIF.”
Chika menembak panah listrik ke kaki Triani.
... ZRAAAK—!!
Saat Triani tersentak, Chika melesat ke depan dan menebas dengan pedangnya.
“DUAL LUMINA: CROSS JUDGMENT!!”
...⚔️
Cahaya biru dan putih-emas menyilang di tubuh Triani.
BOOOOM—!!
Triani terpental jauh, menghantam bukit pasir dan terbenam sebagian.
Angin gurun kembali berdesir.
Chika berdiri terengah-engah.
Dadanya naik turun cepat.
Tangannya gemetar… tapi ia masih menggenggam kedua senjatanya.
Nayla menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Marvin berjalan mendekat, bahunya penuh debu pasir. “Heh… kau benar-benar melampaui pemula.”
Chika menatap ke arah Triani yang tertimbun pasir, lalu mengepalkan tangannya.
“Aku… bukan pion.”
Scarf merahnya berkibar di angin malam.
Dan di bawah langit gurun yang gelap,
seorang Knight muda baru saja membuktikan…
bahwa ia layak berdiri di garis depan.
Pasir yang menimbun tubuh Triani mulai bergetar.
Awalnya hanya getaran kecil, seperti napas tertahan di bawah tanah.
Lalu—
KRRRRRKKK…
Bukit pasir itu terbelah dari dalam.
Sisik hitam kehijauan menyembul keluar, disusul cahaya ungu tua yang menyala dari celah-celah tubuhnya.
Chika refleks mengangkat pedangnya. “Marvin… dia belum tumbang.”
Marvin menyipitkan mata. “Tidak… ini bukan sekadar bangkit.”
Triani berdiri perlahan.
Tubuhnya membesar.
Lebih besar.
Lebih besar lagi.
Otot-ototnya mengembang, tulang-tulangnya berderak seolah dipaksa berubah bentuk.
KRAK—KRAK—KRAK—!!
Ekornya memanjang dan membelah menjadi beberapa cabang seperti ular raksasa yang saling melilit. Di punggungnya, pola-pola cahaya ungu membentuk simbol kuno.
Matanya bersinar menyala, pupilnya berubah menjadi celah vertikal seperti reptil.
Ia mengangkat kedua tangannya ke langit.
“Kalian memaksaku… membuka bentuk sejati.”
Udara di sekelilingnya berubah dingin.
Pasir berhenti bergerak.
Bintang-bintang seakan meredup.
“TRANSFORMASI PENUH—”
Suara Triani menggema, berlapis-lapis seperti datang dari banyak mulut.
“MEDUSA DOMINION FORM.”
BOOOOOM—!!
Ledakan energi ungu menyapu gurun.
Chika dan Marvin terlempar ke belakang.
“GH—!!”
Chika terguling beberapa kali sebelum menancapkan pedangnya ke pasir untuk berhenti.
Marvin menghantam batu dan jatuh berlutut.
Saat debu mengendap…
Triani kini berdiri setinggi menara.
Tubuhnya seperti perpaduan manusia dan monster Medusa raksasa:
Rambutnya berubah menjadi kumpulan ular bercahaya ungu.
Ekornya melingkar seperti pilar hidup.
Matanya memancarkan aura menekan dada.
Nayla di dalam kurungan menutup wajahnya ketakutan.
Chika menelan ludah.
“…Auranya beda.”
Marvin berdiri dengan napas berat. “Ini… levelnya naik gila-gilaan.”
Triani mengangkat satu tangan.
Udara bergetar.
“Tatap aku.”
Mata Triani bersinar.
Cahaya ungu menyapu ke arah mereka.
Chika merasakan tubuhnya berat.
Ototnya menegang.
“…Jangan lihat matanya!” teriak Marvin.
Chika memutar wajah, tapi terlambat.
Lengan kirinya mulai mengeras.
Kulitnya berubah keabu-abuan seperti batu.
“Chika!!”
Chika menggertakkan gigi.
“Sial… ini efek Medusa…”
Ia menjatuhkan diri ke pasir dan berguling agar tidak menatap Triani langsung.
Marvin melompat ke depan dan memukul tanah.
“SMASH BARRIER!!”
Tinju baja menghantam pasir, menciptakan gelombang debu tinggi seperti dinding.
BOOOOSH—!!
Debu menghalangi pandangan Triani.
Namun dari baliknya…
Ular-ular di kepala Triani melesat.
SSSHRRRAAA—!!
Marvin menangkis dengan lengannya.
KLANG—KLANG—KLANG!!
Namun satu ular melilit pinggangnya dan mengangkatnya ke udara.
“GH—!!”
Chika berdiri terpincang.
Lengannya masih setengah membatu.
Ia menggenggam Lumina Sword dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya gemetar.
“Marvin…!”
Triani mengangkat Marvin tinggi-tinggi.
“Kalian terlalu kecil untuk menantang bentuk ini.”
Ia melempar Marvin ke arah Chika.
WOOOSH—!!
Chika meloncat dan memeluk Marvin agar tidak menghantam batu.
Mereka terguling bersama.
Pasir berhamburan.
Marvin terbatuk. “…Kalau terus begini, kita habis.”
Chika menatap Triani yang melangkah mendekat, setiap langkahnya membuat pasir bergetar.
Ular-ular di kepalanya mendesis.
Mata ungunya bersinar.
Chika berdiri, meski lututnya gemetar.
Ia memegang Lumina Bow dengan tangan kiri yang hampir membatu.
Cahaya biru muncul… tapi lemah.
“…Aku masih bisa.”
Marvin memaksakan diri berdiri. “Jangan sok kuat sendirian.”
Triani mengangkat kedua tangannya.
Tanah di sekitar mereka retak membentuk lingkaran.
“MEDUSA FIELD: STONE CRADLE.”
Cahaya ungu menyebar di pasir.
Chika dan Marvin merasakan kaki mereka mulai mengeras.
“Tidak… tidak…!”
Chika memejamkan mata, berkeringat.
Ia menarik busurnya tanpa melihat.
“LUMINA SHOT: BLIND HORIZON!!”
...
Panah cahaya terbang lurus ke langit dan meledak, menciptakan cahaya putih menyilaukan.
FRAAASH—!!
Cahaya itu memantul di pasir, di zirah, di udara.
Triani mendesis kesakitan. “GH—!!”
Efek petrifikasi melemah sesaat.
Chika dan Marvin meloncat mundur, melepaskan diri dari zona cahaya ungu.
Mereka berdiri terengah-engah.
Chika memandang lengannya yang masih setengah batu.
“…Kita hampir kalah.”
Marvin mengepalkan tinjunya. “Tapi belum.”
Triani berdiri tegak di tengah gurun, tubuh raksasanya diterpa angin malam.
Ular-ularnya melingkar seperti mahkota hidup.
“Sekarang… rasakan keputusasaan.”
Langit seolah makin gelap.
Pertarungan belum selesai.
Dan kini…
mereka berhadapan dengan bentuk sejati seorang Medusa raksasa
yang bisa mengubah pahlawan…
menjadi patung pasir di malam gurun.
Angin malam gurun berhembus lebih kencang.
Pasir berputar membentuk pusaran kecil di sekitar kaki Triani yang raksasa. Cahaya ungu dari matanya menyinari gurun seperti dua bulan kecil yang mengancam.
Chika berdiri dengan napas terengah, satu lutut hampir menyentuh pasir. Lengannya yang tadi membatu masih terasa dingin dan berat. Ia menatap Triani… lalu dadanya tiba-tiba berdenyut.
“Hng…?”
Dari balik zirah Gurial Tempest-nya, cahaya biru muda menyala.
Pelan… lalu semakin terang.
Seperti denyut jantung kedua.
Chika menunduk, membuka sedikit pelindung dadanya.
Di sana, di dalam tubuhnya, Hero Sword berpendar.
“…Eh? Hero Sword-ku…?” suaranya bergetar, antara bingung dan takut.
Cahaya itu bukan sekadar menyala.
Ia bergetar.
Seakan… menjawab sesuatu.
Marvin yang berdiri beberapa langkah di belakangnya membeku.
Matanya membesar.
Dadanya ikut bersinar.
“…Jadi akhirnya…”
Ia tertawa kecil, tapi suaranya serak dan berat oleh emosi.
Ia melangkah maju tertatih, debu menempel di rambut dan wajahnya.
“Aku kira… aku cuma penumpang dalam perjalananmu, Chika.”
Cahaya biru muda menembus dadanya, membentuk retakan cahaya seperti kristal.
“Tapi rupanya…”
Ia menatap Chika dengan senyum hangat.
“…takdir masih menulis namaku di dalam pedang itu.”
CRAAAK—
Sebuah kristal biru muda keluar perlahan dari dada Marvin, melayang di udara.
Cahayanya lembut, tapi tekanannya membuat pasir di bawahnya bergetar.
Chika refleks melangkah mundur.
“Marvin…?!”
Marvin mengangkat tangan.
“Tenang.”
Napasnya berat.
“Aku telah merestui perjalananmu… Chika.”
Kristal itu melayang ke depan, menembus dada Chika tanpa luka.
Saat menyatu—
BOOOM—!!
Gelombang cahaya biru muda meledak, menyapu pasir, memantulkan bayangan panjang di batu-batu gurun.
Di dalam Hero Sword—
satu cahaya kecil lagi menyala.
Keempat.
Chika terhuyung, lalu berdiri tegak.
Matanya memantulkan cahaya biru muda.
“…Hero keempat…”
Ia menatap pedang di dalam dirinya.
“…Marvin.”
Dengan satu gerakan cepat, ia menarik Hero Sword keluar dari tubuhnya.
SHIIING—!!
Pedang panjang biru muda muncul, kristal biru di gagangnya berdenyut lembut.
Empat cahaya kecil berputar di dalam kristal itu seperti bintang mini.
Angin berhenti sesaat.
Triani mendesis.
“Pedang takdir…?”
Chika menggenggam gagang pedang.
Tangannya gemetar… tapi bukan karena takut.
Karena tekad.
Ia berdiri tegak, scarf merahnya berkibar di pinggang, rambutnya tertiup angin malam.
Ia menatap Triani tanpa menunduk.
“Aku… bukan pahlawan besar.”
Ia melangkah maju satu langkah.
“Aku cuma knight pemula.”
Langkah kedua.
“Tapi…”
Pedang biru muda menyala terang.
“Apa pun yang menghalangi jalanku—”
Ia mengangkat pedangnya.
“—tidak akan menghentikan tujuan knight yang ditakdirkan!”
Triani mengangkat tangannya.
“MEDUSA GAZE—OBLITERATION.”
Cahaya ungu menyapu seperti banjir.
Chika meloncat ke udara.
Marvin berteriak.
“SEKARANG, CHIKA!!”
Ia menghantam tanah dengan tinju baja dan melompat, lalu melempar Chika ke depan seperti proyektil manusia.
WOOOOSH—!!
Chika melayang di udara, tubuhnya berputar.
Triani menatapnya.
Cahaya petrifikasi menyambar.
Namun—
Hero Sword bersinar.
FRAAASH—!!
Cahaya biru muda membungkus Chika seperti perisai transparan.
Sinar Medusa pecah seperti cahaya yang menabrak kaca.
Triani terkejut.
“Apa—?!”
Ia mencabut bongkahan batu dari tanah dan melemparnya beruntun.
DOOM—DOOM—DOOM—!!
Batu melesat seperti meteor kecil.
Chika mendarat, lalu berlari zig-zag.
Langkahnya ringan.
Ia melompat ke satu batu, menebas.
“LUMINA CUT: SKY ARC!!”
SLASH—!!
Batu terbelah.
Ia berputar di udara, menebas batu kedua.
“HERO STEP: WIND TURN!!”
Tubuhnya berputar satu lingkaran penuh, menapak di bongkahan batu ketiga, lalu melompat lagi.
Triani mengayunkan ekornya.
WUUUSH—!!
Chika meluncur di bawahnya, hampir menyentuh pasir.
Scarf merahnya berkibar panjang.
Ia berlari di sepanjang tubuh ekor Triani, menapak sisik-sisiknya seperti tangga hidup.
Triani meraung.
“BERHENTI—!!”
Chika melesat ke depan wajah Triani.
Waktu seolah melambat.
Pasir melayang di udara.
Mata mereka bertemu.
Hero Sword bersinar makin terang.
Empat cahaya di gagangnya berputar cepat.
“…Ultimate…” bisik Chika.
Ia mengangkat pedang dengan dua tangan.
“HERO SWORD—”
Cahaya membentuk garis lurus ke depan.
“—DESTINY DIVIDER.”
.........
Satu tebasan.
Tidak ada suara ledakan.
Hanya—
SHHHHH—
Seperti kain disobek oleh cahaya.
Tubuh Triani terbelah dua dari atas ke bawah.
Cahaya biru muda membelah malam.
Sesaat…
Triani membeku.
Lalu tubuhnya runtuh ke pasir.
BOOOOOM—!!
Debu naik tinggi.
Angin malam kembali berhembus.
Chika mendarat perlahan, satu lutut menyentuh pasir.
Hero Sword meredup, tapi tetap hangat di tangannya.
Marvin berdiri terpaku, lalu tertawa pelan.
“…Kau sudah bukan knight pemula lagi.”
Chika terengah, menatap pedangnya.
Empat cahaya kecil berdenyut lembut.
Di tengah gurun malam…
seorang knight muda berdiri
dengan pedang takdir di tangannya,
baru saja menebas makhluk yang seharusnya
tak bisa dikalahkan oleh pemula.
Dan perjalanan…
baru benar-benar dimulai.
Tubuh Triani yang telah terbelah perlahan larut menjadi pasir dan cahaya. Angin malam kembali berhembus normal, membawa bau tanah hangus dan sisa panas pertempuran.
Chika berdiri beberapa detik…
lalu—
“PLUK.”
Ia langsung menjatuhkan diri terlentang di pasir.
Kedua lengannya direntangkan seperti orang menyerah pada dunia.
“Haaahhh!! CAPEK!!”
napasnya tersengal, suaranya nyaring memecah keheningan gurun.
“Knight pemula nggak seharusnya disuruh belah Medusa raksasa, tahu!”
Scarf merahnya menutupi sebagian wajahnya, naik-turun mengikuti napasnya.
Marvin baru sempat melangkah ketika—
“MARVIIIN!!”
Nayla berlari sekuat tenaga.
Langkah kakinya kecil tapi cepat, pasir berhamburan di belakangnya.
Ia langsung menabrak Marvin dan memeluk pinggangnya erat-erat.
“HIK—HIK—”
bahunya bergetar.
“Aku takut… aku pikir… aku pikir kamu nggak bakal datang…”
Marvin terdiam.
Tangannya kaku di udara… lalu perlahan turun memeluk Nayla.
Satu tangan di punggungnya, satu di kepalanya.
“…Maaf.”
suaranya lebih pelan dari biasanya.
“Hari itu… aku tidak ada di sisimu.”
Nayla mendongak, matanya merah dan basah.
“Tapi… aku percaya.”
Ia mengusap matanya dengan lengan bajunya.
“Aku percaya Marvin pasti datang nyelamatin aku.”
Marvin tersenyum kecil.
Bukan senyum sok keren.
Tapi senyum lega.
Di kejauhan—
“WOOOII—!!”
Suara langkah ramai mendekat.
Pasir berderak.
Rombongan tiba:
Princes dengan jubahnya berkibar.
Vivi sambil mengipasi diri.
MK.99 melayang santai.
Selena berjalan anggun dengan payung vampirnya.
Marianne dan Beatrix menyusul dari belakang.
Princes mengangkat tangan tinggi.
“SELAMAT, CHIKA!!”
Vivi ikut bersorak.
“Dan juga Marvin!! HERO KEEMPAT RESMI TERPILIH!!”
MK.99 menatap Chika yang masih rebahan.
“…Dia pingsan?”
Chika mengangkat satu tangan.
“Belum… cuma… mati rasa sementara…”
Marianne menepuk bahunya.
“Kerja bagus.”
Beatrix menyeringai.
“Lumayan buat knight tanpa helm.”
Chika mendengus.
“Ini gaya.”
Selena melangkah mendekati Marvin.
Gaunnya berkibar pelan, matanya menyipit manis.
“Ara ara…”
suaranya halus seperti malam.
“Marvin… kau sangat keren tadi.”
Ia menutup mulutnya dengan jari.
“Melempar Chika seperti tombak manusia… sangat… vampir.”
Marvin berkedip.
“…Itu bukan gaya vampir.”
Nayla langsung maju setengah langkah.
Wajahnya tegang tapi sopan.
“E-eh… aku Nayla.”
Ia menunduk sedikit.
“Terima kasih sudah menolongku.”
Selena tersenyum lembut.
“Aku Selena.”
lalu dengan bangga ia menepuk dadanya.
“Hero pertama yang dipilih Hero Sword.”
Ia melirik Marvin.
“…Sekaligus partner-nya Marvin.”
Nada suaranya turun di bagian akhir.
Pipinya sedikit memerah.
“Ma-Marvin…”
Marvin memalingkan wajah.
“…Kenapa semua orang bilang begitu dengan nada aneh?”
Beatrix maju sambil menguap.
“Jadi intinya…”
menatap Selena dari atas ke bawah.
“Kamu kelelawar sok elegan?”
Suasana langsung beku.
Selena menoleh perlahan.
SENYUMNYA MASIH ADA.
TAPI MATANYA GELAP.
“…Apa?”
Beatrix mengangkat bahu.
“Rasis? Enggak. Aku diskriminatif ke semua spesies.”
Selena mendekat satu langkah.
“Aku bisa meminum darahmu.”
Beatrix menyeringai.
“Silakan. Takut sama gigi susu?”
Chika yang masih di tanah mengangkat kepala.
“Eh… ini mau jadi perang lagi?”
MK.99 mengaktifkan sensor.
“…Tingkat ancaman: absurd.”
Princes menghela napas panjang.
“Kalian… baru saja menyelamatkan dunia, bisa nggak lima menit tanpa mau bunuh-bunuhan?”
Selena menoleh ke Nayla lagi, lalu tersenyum tipis.
“…Baiklah. Untuk malam ini.”
Beatrix melambaikan tangan.
“Oke, Batwoman.”
“JANGAN PANGGIL AKU KELELAWAR!!”
Chika tertawa dari tanah.
“Hahaha… aku suka tim ini… berisik tapi hidup.”
Ia bangkit perlahan, menopang lututnya.
Hero Sword di punggungnya berkilau lembut.
Empat cahaya kecil di gagangnya berdenyut stabil.
Nayla menatap Chika.
“Terima kasih…”
Chika menggaruk pipinya.
“Sama-sama… tapi lain kali jangan diculik monster Medusa, ya.”
Angin gurun berhembus.
Di bawah langit malam,
para Hero berdiri—
bukan sebagai legenda…
tapi sebagai sekelompok orang aneh
yang baru saja melewati maut
dan malah ribut soal kelelawar.
Dan di tengah mereka…
seorang knight pemula
yang kini tak lagi benar-benar pemula.
Keesokan harinya, matahari naik perlahan di atas Gurun Gila—yang untuk pertama kalinya setelah sekian lama… tidak terasa gila sama sekali.
Langit biru terang.
Angin berembus lembut, membawa aroma pasir hangat dan rempah kaktus yang sedang direbus.
Rumah-rumah tanah liat elf gurun kembali dibuka. Tirai anyaman dibentangkan. Anak-anak berlarian sambil membawa kendi kecil berisi air, tertawa tanpa rasa takut.
Para elf gurun menjalani rutinitas mereka: ada yang menjemur biji kristal pasir,
ada yang memperbaiki atap rumah,
ada pula yang menumbuk kaktus muda jadi acar hijau cerah.
Di gerbang desa…
Chika berdiri sambil meregangkan badan.
“Hnnnghh—”
tulang punggungnya berbunyi krek.
“Hihihi… damai banget ya sekarang.”
Selena berdiri di sampingnya, sudah membuka payung hitamnya yang lebar.
Sinar matahari baru saja menyentuh ujung sepatunya, dan ia langsung melompat mundur setengah langkah.
“Terlalu terang…”
Ia mendesis pelan.
“Kalau aku berasap, itu bukan efek dramatis, itu terbakar.”
Chika nyengir.
“Payungmu kayak benteng mini.”
Selena mendengus kecil.
“Ini artefak vampir kelas atas.”
Di depan mereka, Marvin berdiri menghadap desa.
Posturnya tinggi dan kokoh, bayangannya jatuh panjang di pasir.
Matanya menyapu rumah-rumah, sumur desa, dan para elf yang tersenyum padanya.
Chika mengangkat tangan.
“Oi, Marvin! Udah kayak patung pahlawan, tuh.”
Selena ikut melangkah ke depan, lalu menengadah karena Marvin jauh lebih tinggi darinya.
Ia menatap wajah Marvin dari bawah payung.
“Jadi…”
suaranya lembut tapi serius,
“kau sekarang Hero keempat Chika.”
Ia berhenti sebentar.
“Apakah kau akan ikut dengan kami ke Havenload… atau tetap di sini?”
Marvin tidak langsung menjawab.
Ia melihat ke samping.
Nayla sedang sibuk membagikan mangkuk acar kaktus pada warga.
“Satu untukmu, satu untukmu—eh, jangan dua, nanti perutmu meledak!”
Seorang elf tua tertawa.
“Dia seperti matahari kecil desa ini.”
Marvin menarik napas.
“…Dulu aku hanya orang yang lari dari Invader.”
Suaranya berat tapi tenang.
“Datang ke sini dengan luka dan ketakutan.”
Ia mengepalkan tangannya perlahan.
“Sekarang… kita telah melindungi desa ini.”
Ia menoleh ke arah Nayla.
“Termasuk dia.”
Chika dan Selena menunggu.
Marvin akhirnya berbalik menghadap mereka.
“…Dan sekarang saatnya aku pergi.”
Chika langsung melompat kecil.
“Eh?! Serius?!”
Selena…
matanya langsung membentuk simbol hati.
✨❤✨
“Kau akan ikut?”
Marvin mengangguk.
“Ya. Aku akan ikut kalian.”
Chika langsung mengepalkan tangan.
“YES! Tim makin gede!”
Selena hampir menjatuhkan payung karena terlalu senang.
“Hero Sword benar-benar punya selera.”
Namun Marvin tidak langsung melangkah ke arah mereka.
Ia justru berjalan ke arah Nayla.
Langkah kakinya berat di pasir:
krsssh… krsssh…
Nayla sedang memberikan mangkuk terakhir ketika melihat Marvin mendekat.
Ia tersenyum cerah.
“Tuan Marvin! Mau acar kaktus?”
Marvin menggeleng pelan.
“Nayla…”
Nada suaranya membuat Nayla berhenti bergerak.
Ia menurunkan mangkuk.
“…Terima kasih telah menyelamatkanku.”
“Dan mengobatiku saat aku datang ke gurun ini.”
Nayla menatapnya, matanya besar.
“Namun… maafkan aku.”
“Sekarang… aku tidak bisa berada di sisimu selamanya.”
Nayla terdiam beberapa detik.
Angin berhembus.
Pasir berputar kecil di antara mereka.
Lalu Nayla tersenyum.
Bukan senyum sedih.
Tapi senyum yang berusaha kuat.
“Aku tahu.”
“Kamu kan Hero yang ditakdirkan.”
Ia mengangkat bahu kecil.
“Kalau kamu tinggal di sini terus, malah aneh.”
Ia menatap Marvin serius.
“Tapi… satu hal.”
Ia mengangkat jari telunjuk.
“Hati-hati.”
“Dan jangan lupakan aku.”
Marvin menghela napas kecil.
“…Bagaimana aku bisa melupakan seseorang yang sudah kuanggap adik sendiri?”
Nayla tertawa kecil.
“Hah… waktu memang cepat, ya.”
Ia mengeluarkan sebuah kalung kecil dari saku kainnya.
Kalung itu terbuat dari tali pasir kristal dan batu hijau gurun.
“Ini.”
“Hadiah perpisahan.”
Ia menyodorkannya dengan dua tangan.
“Aku harap… dalam petualanganmu, kamu selalu memakainya.”
Marvin menerima kalung itu perlahan.
Tangannya besar, hampir menutupi seluruh kalung.
Ia memasangnya di leher.
“…Baik.”
“Aku tidak akan melepasnya.”
Nayla tersenyum lebar.
Beberapa menit kemudian…
Chika, Selena, Princes kecil, dan Marvin berjalan menjauh dari desa.
Nayla berdiri di gerbang, melambaikan tangan.
Wajahnya tersenyum…
meski matanya sedikit berkilau.
Princes tiba-tiba melompat dan duduk di atas pundak Marvin.
“Yee!! Petualangan kita lanjut lagi, Chika!!”
Marvin sedikit oleng.
“Berat.”
“Aku simbol semangat!”
Chika tertawa.
“Ya dong!! Kita belum selesai!”
Selena membuka payung lebih lebar.
“Dan Havenload menunggu.”
Mereka berhenti sejenak di bukit pasir.
Di kejauhan, pulau melayang Havenload tampak menggantung di langit—
seperti benua yang menunggu takdir.
Angin gurun meniup jubah mereka.
Chika mengepalkan tangan.
“Ayo.”
Empat Hero.
Satu tujuan.
Dan sebuah dunia yang masih harus diselamatkan.
Di belakang mereka, Nayla berbisik pelan:
“…Pergilah, Hero.”
“Dan pulanglah suatu hari nanti.”
Petualangan pun berlanjut. 🌤️🏜️✨
Malam kembali menguasai kawasan gurun.
Tidak ada lagi jeritan monster.
Tidak ada gemuruh pertempuran.
Hanya pasir yang membentang sunyi, diterangi cahaya bulan pucat.
Angin bertiup perlahan—fsssshh…—menyapu bekas jejak pertempuran yang kini hanya berupa retakan tanah dan serpihan batu hitam.
Di tengah gurun itu…
Vivi berdiri dengan senyum lebarnya yang khas.
Matanya tertutup, seolah ia tidak perlu melihat untuk memahami dunia.
Di hadapannya berdiri Kaden.
Sosok tinggi dengan mantel gelap dan topeng paruh burung yang menyembunyikan seluruh ekspresinya.
Keheningan mereka terasa berat, seolah pasir pun enggan bergerak.
Vivi membuka suara lebih dulu, suaranya ringan… namun mengandung nada getir.
“Akhirnya…”
“…aku bertemu lagi dengan penciptaku.”
Ia sedikit memiringkan kepala.
“Dan dengan makhluk yang kau ubah menjadi… Labose.”
Kaden menunduk perlahan.
Topengnya memantulkan cahaya bulan.
“Vivi…”
“Sekarang… hanya kau yang bisa kuminta bantuan.”
Senyum Vivi tidak berubah, tapi bahunya sedikit turun.
“Clara?”
“Di mana dia sekarang?”
Angin berhenti sejenak, seolah menunggu jawaban itu.
Kaden mengepalkan tangannya di balik mantel.
“Dia…”
“…dicuci otaknya oleh Veronica.”
Nada suaranya berat.
“Tubuhnya mengecil.”
“Ia dijadikan Pendeta Darah.”
“Membunuh mereka yang menolak ajarannya.”
Ia menoleh sedikit ke samping.
“Semua ini karena Veronica.”
“Dia menculik Clara untuk mengambil sihir kebalnya.”
“Dia memutasinya… berkali-kali.”
Nada suaranya bergetar tipis.
“Meski Clara kebal…”
“semua luka terus terulang.”
“Dan akhirnya… tubuhnya berubah menjadi kecil.”
Vivi terdiam.
Senyumnya… masih ada.
Tapi kini terasa kosong.
“…Menyedihkan.”
Ia mengangkat satu tangan ke dada.
“Jadi?”
“Apa yang ingin kau minta dariku?”
Kaden berbalik, menatap ke kejauhan.
Di langit, pulau Havenload melayang diam—pulau yang dulu ia ciptakan.
“Vivi…”
“Awasi penerus Hero Sword.”
“Dan Princes dari kerajaan Gurial Tempest.”
Vivi mengangguk kecil.
“Chika… dan princes kecil itu?”
Kaden mengangguk.
“Apakah kau sadar…”
“dunia ini tidak pernah benar-benar tenang?”
Ia mengangkat satu jarinya.
“Dunia ini… telah berulang puluhan ribu kali.”
Pasir di sekitarnya bergetar tipis.
“Aku telah menjelajah banyak timeline.”
“Dan Chika yang sekarang…”
“…adalah orang ke 8.766.123.”
Vivi mengangkat alis sedikit.
“Timeline terakhir?”
“Ya.”
“Sebelumnya… ada Chika versi 8.766.122.”
“Namun dia laki-laki.”
“Dan dunia kembali looping.”
Nada Kaden dingin.
“Kemungkinan besar…”
“semua Chika sebelumnya juga begitu.”
Vivi terdiam beberapa detik.
Lalu ia bertanya pelan:
“Lalu… princes kecil itu?”
Kaden menoleh perlahan.
“Itulah yang aneh.”
“Di semua timeline yang kuteliti…”
“…dia tidak pernah ada.”
Angin malam kembali bertiup.
“Namun di timeline ini…”
“dia muncul.”
Nada Kaden menjadi lebih tajam.
“Itulah sebabnya aku meminta bantuanmu.”
“Awasi mereka.”
“Chika…”
“Hero Sword…”
“Dan sang Princes.”
Vivi melangkah mundur satu langkah.
Senyumnya kembali cerah—terlalu cerah untuk suasana seberat ini.
“Baiklah…”
“Penciptaku.”
Tubuhnya mulai memudar, berubah menjadi cahaya tipis seperti asap biru.
Sebelum menghilang sepenuhnya, ia berkata ringan:
“Sampaikan salamku pada Clara.”
“Kalau bisa…”
Ia tertawa kecil.
“Hihihi…”
Puff…
Vivi menghilang.
Tinggallah Kaden seorang diri di tengah gurun.
Ia menatap Havenload.
“…Timeline terakhir…”
Pasir kembali sunyi.
Angin kembali berembus.
Dan jauh di sana…
para Hero melangkah menuju takdir yang belum mereka pahami.
Chapter 4: Gurun Kegilaan
END