"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"
"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."
"Hentikan! Jangan sentuh aku!"
"Jika aku tak mau?"
"Kau tidak waras!"
Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.
Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.
Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 selama kau disini aku masih hidup
Kabut tipis menggantung di udara, membalut jalanan batu yang basah oleh sisa hujan semalam.
Rodrigo duduk diam di balik kemudi mobil hitamnya. Mesin mati. Kaca film gelap. Kacamata hitam menutupi sorot matanya yang tajam.
Dari seberang jalan, toko kue kecil dengan papan kayu bertuliskan Valeria & Co. Patisserie tampak ramai. Aroma roti panggang dan kopi hangat seperti menembus ingatannya.
Di balik meja kasir, Valeria tersenyum ramah. Celemek krem melilit pinggangnya. Rambutnya terikat sederhana. Ia terlihat damai.
Sementara hatinya tidak.
‘Walaupun kau ingin aku menjauh, aku akan tetap berada di sisimu,’ batin Rodrigo.
Tangannya mengepal di atas setir. Sudah dua tahun. Dua tahun Valeria meninggalkannya tanpa penjelasan yang memuaskan. Dua tahun Rodrigo mencari tahu di mana gadis itu bersembunyi, membangun hidup baru seolah masa lalu tak pernah ada.
“Aku ingin tahu, mengapa dia selalu menghindar dariku?” gumamnya pelan.
Ia memang pria sibuk. Kesepakatan bisnis, kontrak jutaan pound, rapat tanpa akhir. Tapi semua itu bisa ia lempar pada orang kepercayaannya.
Beberapa jam sebelumnya.
“Kerjakan ini. Selesaikan berkasnya sekarang juga. Aku ada urusan penting.”
“Baik, Tuan,” jawab Jared Harped tanpa banyak tanya.
Rodrigo pergi. Tidak menjelaskan. Karena Rodrigo tidak suka ada yang ikut campur dalam urusannya.
Seharian itu ia hanya memantau dari jauh. Tidak keluar. Tidak mendekat. Ia ingin memastikan satu hal, apakah Valeria benar-benar bahagia atau hanya berpura-pura.
Setiap kali seorang pelanggan pria mendekati kasir, rahangnya mengeras. Setiap kali Valeria tertawa kecil, hatinya terasa ditarik paksa.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu pada mereka?” bisiknya penuh cemburu.
Menjelang sore, toko mulai sepi. Rodrigo menyalakan mesin perlahan, menjaga jarak ketika Valeria akhirnya menutup toko.
Ia tidak menyadari dirinya sedang dipantau.
***
Malam turun cepat. Lampu jalan menyala redup, memantulkan bayangan panjang di trotoar.
Valeria berjalan sendiri menuju toko makanan di sudut jalan. Ia mengenakan mantel panjang dan syal tipis. Tasnya disampirkan di bahu.
Rodrigo memarkir mobil sedikit jauh. Instingnya tidak pernah salah. Sejak sore, ia merasa ada yang aneh.
Dan benar saja. Dari gang sempit di samping
Toko makanan , seorang pria bertopeng hitam keluar. Gerakannya cepat. Terlalu cepat untuk kebetulan.
Rodrigo langsung turun dari mobil. “Valeria!” teriaknya.
Valeria menoleh, terkejut. Pria bertopeng itu meraih lengannya.
“Lepaskan!” Valeria berusaha menarik tangannya.
Rodrigo berlari, menarik pria itu menjauh dengan satu dorongan keras.
“Sentuh dia lagi, dan kau mati,” suara Rodrigo rendah, penuh ancaman.
Pria bertopeng itu tertawa sinis. “Jadi kau pahlawannya?”
Perkelahian terjadi cepat. Tinju beradu. Napas berat. Sepatu menghantam aspal.
Valeria mundur, gemetar. “Rodrigo, hentikan!”
Namun, dalam sepersekian detik yang salah, kilatan logam muncul dari tangan pria bertopeng.
Rodrigo sempat mendorong Valeria menjauh.
Lalu—
Tusukan itu mengenai perutnya. Udara seperti berhenti. Rodrigo terhuyung. Hangat darah merembes di balik kemeja gelapnya.
Valeria menjerit. “Tidak!”
Tubuh Valeria membeku, matanya berkaca-kaca.
“Rodrigo!” jerit Valeria, suara pecah histeris.
Pria bertopeng itu kabur ke dalam gelap sebelum Rodrigo sempat mengejarnya. Rodrigo jatuh berlutut.
Valeria berlari memeluk tubuhnya yang hampir roboh.
“Kenapa kau ada di sini?! Kenapa kau selalu muncul di hidupku!” suaranya bergetar antara marah dan panik dan gemetar.
Rodrigo tersenyum tipis meski wajahnya memucat.
“Aku....aku tidak akan menjauh.”
“Bodoh!” air mata Valeria jatuh. “Kau bisa mati!”
“Selama bukan kau!”
Kalimatnya terpotong oleh erangan pelan. Valeria menekan luka di perutnya dengan tangan gemetar. Darah mengalir di sela jari-jarinya.
“Diam. Jangan bicara. Kau kehilangan banyak darah.”
“Aku tidak akan mati sebelum kau menjawab pertanyaanku,” Rodrigo berbisik lemah. “Kenapa kau pergi, dua tahun lalu? Kenapa kau selalu menghindar dan meninggalkanku.”
“Ini bukan waktunya!” bentaknya.
Rodrigo hampir tak sadarkan diri. Ia merangkul tubuh pria itu. Berat. Hangat. Dan semakin lemah. Langkah mereka terseok menuju rumah toko miliknya. Setiap langkah meninggalkan jejak merah samar di trotoar malam London yang dingin.
Dengan susah payah, Valeria menyeret Rodrigo ke pintu belakang toko kuenya. Tangannya gemetar saat memasukkan kunci.
Klik.
Pintu terbuka.
Aroma roti, gula, dan mentega menyambut mereka. Hangat. Kontras dengan darah dan bahaya yang baru saja terjadi.
Mau tidak mau, Valeria Dengan susah payah ia membersihkan luka dan membalutnya. Ia pernah belajar pertolongan pertama. Untunglah.
Sepanjang malam ia tidak tidur. Rodrigo terbaring di sofa sempitnya yang berada di ujung kamar.
Valeria duduk di sampingnya, wajahnya lelah. Namun, matanya penuh konflik.
“Aku ingin pergi dari hidupmu, Rodrigo,” katanya pelan saat pria itu membuka mata. “Aku sudah berusaha membangun hidup tanpa bayangan masa lalu.”
Rodrigo menatapnya, lemah namun keras kepala.
“Kalau kau benar-benar ingin pergi… kenapa kau masih menangis untukku?”
Valeria terdiam. Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal yang paling ia takuti. Bukan pria bertopeng itu. Bukan masa lalu yang kelam.
Tapi kenyataan bahwa perasaannya pada Rodrigo belum pernah benar-benar mati. Dan kini, dengan pria itu terluka di rumahnya, takdir seperti sedang menertawakan keputusannya untuk menjauh.
Karena pria bertopeng tidak mungkin menyerang tanpa alasan. Dan Rodrigo sadar, luka di perutnya mungkin bukan ancaman terbesar. Melainkan rahasia tentang siapa yang sebenarnya ingin menghancurkan Valeria.
Rodrigo setengah sadar di atas sofa. Napasnya berat. Darah masih merembes meski sudah ditekan dengan syalnya.
“Ayolah, jangan pingsan sekarang,” bisik Valeria dengan suara bergetar.
Ia tidak mungkin membawanya ke rumah sakit. Luka tusuk seperti itu akan menimbulkan pertanyaan. Polisi. Laporan. Masa lalu Rodrigo bukan sesuatu yang bisa disentuh aparat dengan mudah.
“Kalau kau mati di tokoku, aku tidak akan memaafkanmu.”
Sudut bibir Rodrigo terangkat tipis meski wajahnya pucat.
“Jadi, kau peduli?”
“Diam!”
“Jangan bergerak,” perintahnya tegas.
Rodrigo menatap langit-langit, berusaha tetap sadar.
“Kau selalu memerintahku sejak dulu.”
Valeria membuka kemeja Rodrigo dengan tangan yang masih gemetar. Luka itu cukup dalam, tapi tidak mengenai titik vital. Namun darahnya banyak.
“Siapa pria itu?” tanyanya tanpa menatap Rodrigo.
Rodrigo menghela napas pelan.
“Bukan orang sembarangan.”
“Karena dia ingin menggangguku?”
“Karena dia tahu kau penting bagiku.”
Valeria berhenti sejenak. Hening. Detak jam dinding terdengar jelas.
“Aku bukan siapa-siapa lagi untukmu,” katanya pelan.
Rodrigo memaksakan dirinya mengangkat kepala sedikit. “Kalau kau bukan siapa-siapa, kenapa dia menusukku saat aku melindungimu?”
Valeria tidak menjawab. Ia menuangkan antiseptik. Rodrigo meringis pelan.
“Ah, ternyata rasa sakitmu masih sama.”
“Masih bisa bercanda dalam kondisi begini?” ketus Valeria.
“Selama kau di sini, aku masih hidup.”
Ia menekan kain bersih pada luka itu, membalutnya dengan perban tebal dari kotak P3K.
“Aku seharusnya membiarkanmu tadi,” ucap Valeria lirih. “Aku ingin lepas dari semua ini. Dari hidupmu. Dari duniamu.”
Rodrigo menoleh padanya. “Kalau kau benar-benar ingin lepas, kenapa kau tidak membiarkanku berdarah di jalan?”
Pertanyaan itu seperti pisau kedua. Valeria berdiri membelakanginya. “Aku tidak sekejam itu.”
Rodrigo perlahan duduk meski terasa perih.
“Tidak. Kau tidak pernah kejam. Itu sebabnya aku tidak bisa menjauh.”
“Jangan bergerak!” bisik Valeria.
Valeria menghembuskan napas panjang.
“Ini belum selesai,” katanya pelan.
“Apa maksudmu?”
“Dia tidak menyerang untuk merampok. Dia ingin menguji sesuatu.”
“Menguji apa?”
“Menguji seberapa jauh aku akan melindungimu.”
Valeria memeluk dirinya sendiri. “Kenapa hidupku selalu kembali padamu, Rodrigo?”
Rodrigo menatapnya dalam-dalam. “Karena mungkin takdir kita belum selesai.”
Valeria menatapnya dengan mata yang bercampur marah dan takut. “Jangan membicarakan soal takdir. Aku lelah.”
Rodrigo perlahan bangun dan hendak bangkit dari sofa mendekatinya meski langkahnya goyah.
“Kalau kau ingin aku pergi, katakan sekarang. Saat aku masih bisa berjalan keluar dari toko ini.”
Valeria terdiam. Ia bisa saja menyuruhnya pergi.
Ia bisa saja mengakhiri semuanya malam ini.
Tapi ketika melihat darah yang masih merembes samar dari perban itu, Hatinyalah yang mengkhianatinya.
“Duduk,” katanya akhirnya.
Rodrigo mengangkat alis.
“Kau belum boleh pergi. Lukamu belum stabil.”
Senyum tipis muncul di wajah pucat itu.
“Baik, sayang.”
Valeria berbalik mengambil selimut tipis dari lemari kecil miliknya. Ia mungkin ingin menjauh dari kehidupan Rodrigo. Tapi malam ini, Pria itu berada di dalam tokonya. Dan ancaman di luar sana belum benar-benar hilang.