"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 - Rasa Benci Bima
Aura merobek bungkus plastik di tangannya. Aroma gandum yang khas menyeruak, roti favoritnya, persis seperti yang sering Arfan belikan dulu. Sambil mengunyah pelan, Aura mencuri pandang ke arah Bima yang masih menatap kosong ke arah jalanan. Kontras sekali, di tangannya ada perhatian lembut yang tak terlihat dari Arfan, sementara di depannya ada kemarahan yang nyata dari Bima.
Aura menelan rotinya perlahan, lalu memberanikan diri bertanya, "Kak... sebenarnya kenapa Kakak benci banget sama Kak Arfan? Padahal dulu Kakak yang bilang dia asyik."
Gerakan tangan Bima yang sedang mengaduk kuah bakso mendadak terhenti. Ia meletakkan sendoknya dengan bunyi klotak yang cukup keras di pinggiran mangkuk.
"Karena gue ini satu-satunya laki-laki di keluarga kita, Ra," jawab Bima, suaranya parau, nyaris berbisik namun penuh penekanan. "Tapi sejak ada dia, gue merasa kayak orang asing di rumah sendiri. Perhatian Bunda, rasa aman kamu... semuanya seolah-olah cuma bisa dikasih sama Arfan. Gue ngerasa nggak berarti, Ra. Seolah-olah kehadiran gue di rumah itu nggak ada harganya lagi karena dia sudah ambil alih semua peran gue."
Bima mengepalkan tangannya di atas meja kayu yang kusam itu. Sorot matanya mendadak berubah tajam, seolah ada luka lain yang sedang ia tutupi rapat-rapat.
"Dia licik. Dia pakai uang dan pengaruhnya buat bikin kita ketergantungan. Dan yang paling bikin gue muak..." Bima menjeda kalimatnya, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap. "...dia selalu bisa dapetin dengan gampang sesuatu yang buat gue adalah hal paling susah di dunia."
Aura mengerutkan kening, mencoba mencerna kalimat kakaknya yang terasa ambigu. "Maksud Kakak? Mendapatkan apa?"
Bima tertegun. Bayangan saat Arfan berdiri begitu dekat dengan seseorang di bawah pohon kembali menghantam pikirannya, membuat hatinya terasa seperti diremas. Namun, ia segera membuang muka, tidak ingin adiknya menyadari ada sesuatu yang lebih pribadi dari sekadar urusan keluarga.
"Udah, lupain. Nggak penting," potong Bima cepat, suaranya kembali ketus untuk menutupi getaran di nadanya. "Pokoknya lo jangan sampai kemakan sama kebaikan-kebaikan kecil dia itu. Fokus aja sama beasiswa London lo. Gue bakal pastiin lo berangkat, biar lo jauh dari jangkauan tangan kotor si Arfan itu."
Aura terdiam, merasakan roti di mulutnya mendadak terasa hambar. Ternyata, Arfan bukan hanya mencuri ketenangannya, tapi juga telah menghancurkan sesuatu yang berharga dalam diri kakaknya, sesuatu yang Bima sendiri belum sanggup untuk katakan.
...****************...
Motor Bima terus melaju membelah jalanan yang mulai temaram. Aura masih bersandar di punggung kakaknya, pikirannya masih melayang, memikirkan kenapa Arfan harus seobsesi itu padanya.
Namun, saat mereka melewati sebuah toko buku besar di persimpangan jalan, tubuh Bima mendadak menegang. Pegangan tangannya pada stang motor mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.
Dari balik kaca spion, mata tajam Bima menangkap pemandangan yang membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. Di pelataran toko itu, Arfan sedang berdiri sambil membukakan pintu untuk seorang gadis berkerudung. Meski hanya terlihat sekilas dari kecepatan motor, Bima sangat yakin itu adalah gadis yang sama dengan yang ia lihat kemarin. Gadis yang selama ini selalu ia perhatikan dari jauh dengan perasaan yang ia simpan sendiri.
Rahang Bima mengeras. Giginya bergelatuk menahan amarah yang mendidih. Ingin rasanya ia memutar balik, turun, dan menuntut penjelasan. Bagaimana bisa pria semengerikan Arfan bisa berada sedekat itu dengan gadis itu?
Aura yang sedang melamun tidak menyadari ketegangan itu. Ia hanya merasa laju motor kakaknya sedikit tidak stabil untuk sesaat.
"Kak Bima? Kok goyang motornya? Ngantuk ya?" tanya Aura setengah berteriak, suaranya teredam angin.
Bima tidak menjawab. Ia justru menarik gas lebih dalam, membuat motor mereka melesat lebih cepat membelah keramaian. Ia tidak ingin berhenti. Ia takut jika ia berhenti, ia tidak akan bisa menahan diri untuk tidak menghampiri mereka dan membuat keributan yang akan membuat Aura bertanya-tanya.
"Sial!" maki Bima dalam hati.
Ia membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang panas karena emosi. Di belakangnya, Aura kembali menyandarkan kepala, sama sekali tidak melihat ke arah toko buku tadi. Aura tetap dalam dunianya sendiri, tidak tahu bahwa di detik yang sama, kakaknya sedang merasakan pengkhianatan yang paling perih.
Bima terus memacu motornya. Di matanya, jalanan di depannya seolah berubah jadi buram. Rasa iri, marah, dan tidak berdaya bercampur jadi satu. Ia benci Arfan karena terobsesi pada adiknya, tapi sekarang, ia punya alasan yang jauh lebih pribadi untuk membenci pria itu sampai ke tulang sumsumnya.
Sampai di depan pagar rumah, Bima baru menurunkan kecepatan. Ia memarkirkan motor dengan gerakan kasar yang tidak biasa.
"Turun," ucap Bima pendek, bahkan tanpa menoleh ke arah Aura.
"Loh, Kak Bima mau kemana lagi? Nggak masuk dulu?" tanya Aura heran melihat kakaknya masih duduk di atas motor dengan helm yang belum dilepas.
"Gue ada urusan. Masuk sana, jangan lupa kunci pintu," sahut Bima dengan nada dingin yang menusuk.
Tanpa menunggu jawaban Aura, Bima kembali menghidupkan mesin dan melesat pergi, meninggalkan kepulan asap dan Aura yang berdiri termangu sendirian di depan rumah, bertanya-tanya apa yang sebenarnya baru saja terjadi pada kakaknya.
Aura melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang tidak menentu. "Bunda? Aura pulang," panggilnya, namun hanya keheningan yang menyambut. Saat ia melangkah ke arah kamar, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Bunda tergeletak di lantai, wajahnya pucat pasi dan napasnya terdengar sangat tipis.
"Bunda! Bunda bangun!" teriak Aura histeris. Ia segera merogoh ponselnya, air matanya tumpah seketika. Dengan tangan gemetar, ia menekan nomor Bima. Aktiflah, Kak, tolong aktif! Namun, hanya suara operator yang menyahut. Bima benar-benar tidak bisa dihubungi di saat nyawa Bunda di ujung tanduk.
Tepat saat Aura nyaris kehilangan harapan, deru mobil terdengar berhenti di depan rumah dan langkah kaki terburu-buru mendekat. Itu Arfan. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak kacau, matanya membelalak melihat posisi Bunda.
"Ya Allah, Bunda!" Arfan langsung berlutut di samping Aura, wajahnya menunjukkan kepanikan yang luar biasa. "Kita harus bawa ke rumah sakit sekarang, Ra!"
Arfan hendak mengangkat tubuh Bunda, tapi Aura refleks menepis tangannya. "Nggak, Kak! Jangan!"
"Ra, apa-apaan? Bunda pingsan!" Arfan menatapnya tidak percaya.
"Aku panggil ambulans aja! Aku... aku bisa urus sendiri," isak Aura. Di tengah ketakutannya, ia masih bersikeras tidak ingin berutang budi lagi pada Arfan. Ia tidak mau masuk ke dalam jeratan pria itu lebih dalam lagi.
"Ambulans butuh waktu, Aura! Kamu mau nunggu di sini sementara kondisi Bunda kayak gini?" suara Arfan meninggi karena panik sekaligus frustrasi.
"Aku nggak mau bergantung sama Kakak! Tolong pergi, biar aku tunggu ambulans!" Aura mencoba meraih ponselnya lagi, namun Arfan menatapnya dengan tajam dan penuh urgensi.
"Aura, dengerin aku! Buang ego kamu sekarang!" bentak Arfan, ini pertama kalinya Arfan membentaknya. "Nyawa Bunda lebih penting daripada rasa nggak suka kamu ke aku. Aku nggak bakal biarin Bunda kenapa-napa cuma karena kamu keras kepala!"
Tanpa menunggu persetujuan lagi, Arfan langsung menyusupkan tangannya ke bawah tubuh Bunda dan mengangkatnya dengan kuat. Aura mencoba menghalangi, tapi Arfan mendorong bahunya perlahan agar memberi jalan.
"Buka pintu mobilnya, Ra! SEKARANG!" perintah Arfan dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Aura membeku sejenak melihat kemarahan dan ketakutan yang bercampur di wajah Arfan. Ia akhirnya lari membukakan pintu mobil dengan isak tangis yang semakin kencang. Di dalam hatinya, ia merasa sangat hancur, ia harus menerima bantuan dari orang yang paling ia takuti karena kakaknya sendiri, Bima, menghilang entah ke mana.
Bersambung......
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰