NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: perjanjian di ambang kematian

Malam di Seoul terasa seolah-olah sedang menahan napas dalam kecemasan yang purba. Di lantai sembilan Rumah Sakit St. Jude, koridor panjang itu tampak seperti usus beton yang diterangi oleh lampu neon yang berkedip sekarat dengan suara mendengung yang menyakitkan telinga. Keheningan di sini bukan sekadar absennya suara, melainkan sebuah entitas berat yang menekan dada siapa pun yang berani melangkah di atas lantainya yang dingin. Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman, bersaing dengan aroma samar dari mesin-mesin penunjang hidup yang menderu rendah—sebuah simfoni monoton yang hanya dipahami oleh mereka yang sedang menghitung detik-detik terakhir keberadaan mereka di atas bumi yang mulai membusuk oleh energi Abyss.

Arkan berdiri di sudut bayangan kamar 908. Keberadaannya benar-benar tidak terdeteksi oleh sensor mana rumah sakit maupun indra manusia paling tajam sekalipun. Ia tidak lagi mengenakan seragam SMA Gwangyang yang lusuh dan kebesaran, yang biasanya ia gunakan untuk menyamar di antara remaja-remaja bodoh. Kali ini, tubuh jangkungnya dibalut oleh jubah Sanguine Sovereign yang terbuat dari serat mana yang dikompresi hingga mencapai kepadatan ekstrem melalui manipulasi darah murni. Jubah itu berwarna hitam legam dengan corak merah tua yang hanya akan berpendar seperti bara api jika terkena cahaya bulan. Tanpa kacamata berbingkai tebal yang biasa ia gunakan, sepasang mata merah delimanya berkilat dengan otoritas yang mampu membuat aliran darah siapa pun membeku hanya dengan satu tatapan dingin.

Di hadapannya, Bastian terbaring kaku. Remaja itu tampak seperti kerangka manusia yang hanya dibungkus oleh selapis kulit pucat yang hampir transparan. Napasnya pendek, tersendat-sendat di balik masker oksigen yang mulai berembun. Kanker tulang yang bermutasi akibat paparan mana Abyss tingkat tinggi telah menghancurkan struktur kalsiumnya secara total; sel-sel jahat itu tidak lagi sekadar merusak, melainkan membusuk dan memancarkan energi hitam yang perlahan-lahan mematikan setiap jaringan saraf di tubuhnya. Monitor jantung di samping ranjang mengeluarkan bunyi ritmis yang semakin lama semakin melambat, sebuah detak jam pasir yang pasirnya hampir habis, menandakan bahwa nyawa Bastian sedang meluncur menuju jurang kehampaan.

"Waktunya telah tiba, Bastian," suara Arkan memecah kesunyian. Suaranya rendah, namun memiliki resonansi yang mampu menggetarkan partikel udara dalam ruangan kedap suara itu. "Di luar sana, dunia sedang sibuk merayakan festival musim semi di bawah lampu-lampu kota yang indah, sementara kau di sini, membusuk dalam kesunyian yang dipaksakan oleh takdir yang tidak pernah meminta pendapatmu."

Bastian menggerakkan matanya yang cekung dengan sangat lambat, sebuah usaha yang sangat berat bagi tubuh yang sudah hancur. Kesadarannya sudah berada di ambang batas antara dunia ini dan kekosongan abadi. Di dalam benaknya yang mulai gelap, suara Arkan terdengar seperti dentuman lonceng gereja tua di tengah badai—menakutkan namun memberikan arah bagi jiwa yang tersesat.

"Siapa... kau...?" bisik Bastian. Suaranya pecah, lebih mirip desis udara yang keluar dari paru-paru yang bocor daripada suara manusia. Setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti serpihan kaca yang menggores tenggorokannya.

Arkan melangkah keluar dari bayangan, membiarkan cahaya bulan dari celah jendela menyinari wajahnya yang simetris namun sedingin es. "Aku adalah akhir dari penderitaanmu, atau awal dari neraka barumu. Kau memiliki dua pilihan malam ini, Bastian. Pertama, kau bisa membiarkan paru-parumu berhenti bekerja dalam waktu dua jam ke depan. Perawat akan datang, menyatakan kematianmu secara medis pada pukul satu dini hari, dan keluargamu—orang-orang yang telah membuangmu ke tempat ini karena takut akan beban biaya pengobatan—akan menangis palsu di depan peti matimu selama tiga hari sebelum akhirnya mereka benar-benar melupakanmu dan merasa lega karena beban mereka telah hilang."

Arkan berhenti sejenak, membiarkan kebenaran pahit itu meresap ke dalam sisa-sisa kesadaran Bastian. Ia bisa merasakan melalui Sanguine Perception bahwa detak jantung Bastian mendadak meningkat sesaat. Ada gelombang kemarahan yang meluap di dalam darah remaja itu. Itu adalah tanda yang bagus; kemarahan adalah bahan bakar terbaik untuk sebuah kelahiran kembali.

"Pilihan kedua," lanjut Arkan, matanya menyipit tajam. "Kau ikut denganku. Kau akan 'mati' di mata dunia malam ini juga. Aku akan memalsukan kematianmu, menghapus keberadaanmu dari setiap catatan sipil, dan memastikan tidak ada satu pun manusia yang mengenalmu lagi. Kau akan meninggalkan namamu, masa lalumu, dan kemanusiaanmu yang rapuh. Sebagai imbalannya, aku akan memberimu kekuatan yang tidak bisa dibayangkan oleh Hunter kelas S papan atas sekalipun. Aku akan memberimu tulang yang tidak akan pernah patah, dan darah yang akan menghanguskan setiap monster yang berani menatap matamu."

Bastian gemetar hebat di bawah selimutnya yang tipis. Di dalam kilasan memorinya yang mulai memudar, ia teringat hari-hari saat ia berdiri di atas podium sebagai pelari tercepat nasional. Ia teringat sorak-sorai penonton yang memuja namanya. Namun, memori manis itu segera digantikan oleh rasa sakit yang membakar saat monster Crusher meremukkan kakinya di tengah jalan raya dua tahun lalu, dan bagaimana dunia yang memujanya tiba-tiba berbalik arah dengan rasa jijik karena ia dianggap sebagai sampah yang cacat dan tidak berguna.

"Kenapa... aku?" Bastian bertanya, setetes air mata darah mengalir dari sudut matanya yang kering.

"Karena kau tidak memohon pada Tuhan untuk diselamatkan, Bastian. Kau tidak meminta belas kasihan saat kau menderita," jawab Arkan, nadanya penuh dengan apresiasi yang gelap. "Kau mengutuk takdirmu. Kau membenci ketidakadilan ini dengan seluruh jiwamu. Kebencian murni itulah yang membuat darahmu memiliki frekuensi yang selaras dengan esensiku. Kau adalah wadah yang kucari untuk menjadi ksatria pertamaku."

Arkan mengangkat tangan kanannya ke udara. Dari ujung jarinya yang panjang, setetes cairan merah pekat—yang tampak lebih menyerupai permata cair daripada darah—muncul dan melayang perlahan. Itu adalah esensi Sovereign murni, inti dari kekuatannya yang mengandung kode genetik kuno dari peradaban yang telah lama punah. Cairan itu berdenyut dengan irama yang agung, memancarkan cahaya merah darah yang seketika memenuhi seluruh ruangan, menenggelamkan cahaya neon yang pucat dan menyedihkan.

"Jika kau menerima, telanlah ini. Jika kau menolak, aku akan pergi, dan kau akan tertidur dalam kehampaan yang damai namun membosankan."

Bastian menatap tetesan merah itu dengan sisa-sisa semangatnya. Ia tahu ini bukan sekadar obat; ini adalah perjanjian dengan sesuatu yang jauh lebih kuat dari apa pun di bumi. Namun, ia sudah tidak memiliki apa pun untuk dipertaruhkan. Dengan satu gerakan yang membutuhkan seluruh sisa kekuatannya, Bastian menarik masker oksigen dari wajahnya secara paksa. Ia membuka mulutnya yang kering, menunjukkan sebuah penerimaan yang mutlak dan kepasrahan yang penuh amarah.

Arkan menjentikkan jarinya, dan tetesan esensi itu meluncur masuk ke dalam kerongkongan Bastian seperti bara api yang membara.

Seketika, monitor jantung di samping ranjang mengeluarkan bunyi 'tit' panjang yang melengking. Garis hijau di layar itu menjadi datar sempurna. Secara medis, Bastian telah meninggal dunia. Namun, di dalam anatomi tubuh remaja itu, sebuah revolusi biologis sedang mengamuk dengan dahsyat.

Darah Arkan merangsek masuk ke dalam sistem sirkulasi Bastian layaknya lahar panas yang membanjiri parit. Sel-sel kanker yang hitam dan jahat di tulang-tulangnya menjerit dalam kehancuran saat mereka dilahap habis oleh esensi Sovereign. Bastian melengkungkan tubuhnya ke atas dengan sudut yang mustahil bagi manusia normal, tulang-tulangnya berderak keras, patah, dan menyatu kembali dalam hitungan detik. Ia merasakan sensasi seolah-olah seluruh tubuhnya sedang dibakar dari dalam dan ditempa kembali di atas paron dewa yang tak kenal ampun. Rasa sakitnya melampaui deskripsi rasa sakit manusia manapun, namun Bastian tidak berteriak. Ia menggertakkan giginya hingga hancur berkeping-keping, namun sorot matanya tetap terpaku pada Arkan, menunjukkan kesetiaan yang lahir dari penderitaan.

Arkan berdiri tidak bergerak, mengawasi setiap perubahan seluler itu melalui visi merahnya. Ia memanipulasi tekanan atmosfer di dalam kamar 908 agar suara-suara transformasi yang mengerikan itu tidak merembat keluar pintu. "Tahanlah, Bastian. Jika kau mampu melewati sepuluh menit ini tanpa kehilangan kewarasanmu, kau akan menjadi orang pertama yang berdiri di sisi takhtaku sebagai perisai yang tak terpatahkan."

Di dalam jaringan tubuh Bastian, esensi darah Arkan mulai membangun struktur organik yang baru. Tulang-tulangnya yang tadinya keropos kini memadat dengan struktur molekul yang lebih rapat dari titanium namun seringan serat karbon. Otot-ototnya yang layu mulai tumbuh kembali dengan serat yang lebih padat dan efisien, dialiri oleh energi Sanguine yang memberikan kekuatan fisik murni tanpa batas. Seluruh DNA-nya telah ditulis ulang oleh kehendak sang Raja Darah.

Sepuluh menit berlalu, yang bagi Bastian terasa seperti ribuan tahun di dalam neraka yang membeku. Ia jatuh kembali ke ranjang, terengah-engah dengan dada yang kini bidang dan kuat. Kulitnya yang tadi kusam kini memiliki warna porselen yang sehat namun misterius. Ia membuka matanya, dan pupilnya kini memiliki cincin perak yang berkilat di tengah warna merah delima—tanda permanen bahwa ia telah menjadi budak sekaligus ksatria bagi sang Sovereign.

Bastian duduk tegak dengan gerakan yang sangat lancar dan penuh tenaga. Ia meraba kakinya yang dulu hancur berkeping-keping, dan kini ia merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir di sana seolah ia bisa berlari mengelilingi dunia tanpa henti. Ia melompat turun dari ranjang, mendarat di lantai beton tanpa menimbulkan suara sedikit pun, namun lantai di bawah kakinya retak halus akibat kepadatan tubuh barunya yang luar biasa.

"Bagaimana rasanya, Vanguard?" tanya Arkan, memberikan gelar pertama pada bawahannya.

Bastian berlutut dengan satu kaki di depan Arkan, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Suaranya kini dalam, berat, dan penuh tenaga, tidak ada lagi jejak kelemahan seorang pasien kritis. "Aku merasa... seolah-olah aku baru saja dilahirkan untuk pertama kalinya. Setiap tetes darah di tubuhku tunduk pada kehendak-Mu, Tuanku. Perintahkan aku, maka aku akan menghancurkan apa pun bagi-Mu."

"Bagus. Namun perjalananmu baru dimulai. Kekuatan yang kau rasakan sekarang barulah satu persen dari potensi yang kuberikan padamu," Arkan melambaikan tangannya ke arah ranjang. Seketika, gumpalan darah yang tercecer di udara memadat membentuk sesosok mayat identik dengan Bastian yang sekarat beberapa menit lalu, lengkap dengan tanda-tanda kanker tulang yang mematikan. "Biarkan dunia mengubur sisa-sisa kelemahanmu ini. Bastian yang lama telah mati dalam kesunyian."

Arkan berjalan menuju jendela besar kamar lantai sembilan itu dan membukanya dengan satu jentikan jari. Angin malam yang kencang masuk ke dalam ruangan, menerbangkan tirai-tirai putih yang ternoda darah. Arkan menoleh sedikit, memberikan isyarat agar Bastian mengikutinya masuk ke dalam kegelapan yang menjanjikan kekuasaan.

"Kita akan pergi ke tempat di mana kau akan ditempa menjadi senjata yang paling tajam. Di sana, tidak ada belas kasihan, hanya ada pertumbuhan atau kehancuran total," ucap Arkan sebelum ia melompat keluar ke kegelapan malam Seoul yang dingin.

Bastian tidak ragu sedikit pun. Ia mengikuti tuannya, terjun bebas dari ketinggian tiga puluh meter dengan keyakinan yang membuta. Sebelum mereka menyentuh aspal jalanan, Arkan memanipulasi tekanan udara di bawah kaki mereka, membuat pendaratan mereka seringan bayangan di tengah gang gelap di belakang rumah sakit yang sunyi.

Malam itu, di dalam catatan resmi Rumah Sakit St. Jude, pasien bernama Bastian dinyatakan meninggal dunia pada pukul 23.45 karena kegagalan organ sistemik akibat kanker mutasi mana. Keluarganya diberitahu melalui telepon, dan alih-alih isak tangis, hanya terdengar helaan napas lega yang memuakkan dari seberang sana karena beban finansial mereka telah berakhir. Mereka tidak akan pernah menyadari bahwa di sebuah gudang bawah tanah yang terisolasi di pinggiran kota, putra mereka sedang menghancurkan pilar beton setebal satu meter dengan satu pukulan tangan kosong sebagai bagian dari latihan dasarnya di bawah pengawasan Sang Raja.

Arkan duduk di atas tumpukan peti kayu di gudang tersebut, mengamati Bastian yang berlatih dengan intensitas yang mengerikan, menghancurkan beton demi beton untuk membiasakan diri dengan berat tubuh barunya. "Satu pion telah diangkat menjadi ksatria," gumam Arkan pelan sambil menatap bayangannya sendiri di lantai. "Sekarang, aku harus bergerak ke Daegu. Gadis yang hidup dalam getaran saraf yang menyiksa itu... dia akan menjadi bayanganku yang paling mematikan."

Arkan melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul empat pagi. Ia harus segera kembali ke apartemennya, mencuci noda debu di pakaiannya, dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ia harus kembali menjadi Arkan yang membosankan, murid beasiswa yang selalu di-bully di SMA Gwangyang, pemuda yang duduk di bangku paling belakang dan diabaikan oleh dunia, sementara diam-diam ia sedang menyusun kepingan-kepingan untuk menguasai bumi dari balik layar.

Saat Arkan berjalan keluar dari gudang tersembunyi itu, ia menatap ke arah ufuk timur yang mulai memucat. Dunia masih berputar dalam ketidaktahuan mereka yang naif, tidak menyadari bahwa di bawah lapisan masyarakat yang tampak tenang ini, sebuah orkestra darah sedang disusun. Dan ia, sang Sanguine Sovereign, akan memastikan bahwa saat simfoni kematian dimulai, tidak akan ada satu pun monster Abyss atau manusia korup yang bisa melarikan diri dari penghakimannya yang mutlak.

Hari itu, saat bel sekolah berbunyi nyaring di SMA Gwangyang, Arkan duduk tenang sambil mencatat pelajaran sejarah, bahkan ketika Rian sengaja menjatuhkan bukunya ke lantai. Ia hanya tersenyum tipis sebuah senyum yang menyembunyikan kenyataan bahwa ia baru saja menciptakan monster perang pertama di bumi.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!