Gurial Tempest
Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.
Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.
Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.
Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.
Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.
Inilah awal kisah Gurial Tempest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Lana.
Lampu-lampu di lorong padam serempak.
TUK—TUK—TUK.
Hanya obor di dinding yang menyala dengan api hitam keunguan. Bayangan mereka memanjang dan bergetar di lantai seperti makhluk hidup.
Dari balik Lana, dua retakan gelap terbuka di udara.
KRRRRAAAKK—!!
Dua monster raksasa muncul.
Tubuh mereka seperti kabut pekat yang dipadatkan, bertulang cahaya merah. Kepala mereka tak berbentuk jelas—hanya rongga hitam dengan mata menyala seperti bara neraka.
WHOOSH—!!
Keduanya melesat ke arah mereka berlima.
“SEMUA MENYEBAR!!” teriak Chika.
Ia melompat ke depan, menarik Princes ke belakangnya. Tina memutar tongkatnya, lingkaran sihir hijau muncul di bawah kaki mereka.
“Formasi pelindung!” teriak Tina panik.
Cahaya hijau menyelimuti Princes seperti kubah kaca.
Tinasya maju dengan mata menyala biru.
“Berani ganggu bocil… KAU MATI!!”
Ia menghantam lantai dengan tangan kosong.
“TEKNIK PENGUAT — TINJU GEMPA!!”
DOOOOM!!
Lantai batu retak. Gelombang kejut menghantam monster pertama, membuat tubuh gelapnya terlempar ke dinding.
Namun monster kedua sudah melesat ke arah Beatrix.
“JANGAN DEKAT-DEKAT!!” Beatrix menjerit sambil mengangkat pistol futuristiknya.
Bola sihir biru di senjata itu bersinar terang.
“MODE PEMBERSIH ARWAH… AKTIF!”
Ia menarik pelatuk.
“SERANGAN: HOLOGRAM EXTRACTOR!!”
BWOOOOOM—!!
Sinar kuning berbentuk spiral keluar, membungkus tubuh monster kedua. Monster itu meraung, tubuhnya tersedot seperti asap ke dalam cahaya.
Namun Lana hanya tertawa.
“Hihihihi… kalian lucu…”
Ia mengangkat kedua tangannya.
Dari lantai, bayangan berubah menjadi puluhan tangan hitam yang meraih kaki mereka.
Chika mengayunkan Pedang Lumina.
“TEKNIK LUMINA — BLUE ARC SLASH!!”
Ia melompat, berputar di udara, dan menebas ke bawah.
ZZZRAAAKK!!
Petir biru memotong tangan-tangan bayangan itu. Chika mendarat dengan satu lutut, lalu langsung berguling ke samping menghindari serangan monster pertama yang bangkit lagi.
Monster itu mengayunkan cakar raksasa.
“WOOSH!!”
Chika melompat mundur, lalu meloncat ke dinding, memantul seperti akrobat.
“SERANGAN KECEPATAN — LUMINA DASH!!”
Ia melesat lurus ke depan, menembus dada monster itu.
KRRRZZZTT!!
Tubuh monster retak bercahaya biru.
Namun tiba-tiba Lana muncul di belakang Chika.
“Kau terlalu fokus…”
Tangan Lana berubah menjadi tombak bayangan.
SLASH!!
Tinasya melompat di depan Chika.
“JANGAN SENTUH DIA!!”
Ia menangkis dengan tangan kosong.
KRAK!!
Benturan sihir membuat lorong bergetar.
Tinasya meraung marah.
“KAU YANG MEMBUAT SEMUA INI?!”
Ia menyerang bertubi-tubi.
“SERANGAN KOMBO — AMUKAN PENJAGA!!”
Tinju kanan, tinju kiri, tendangan berputar, lalu hantaman telapak tangan ke dada Lana.
Lana terlempar ke belakang, menghantam pilar.
Namun ia bangkit sambil tertawa.
“Kalian tidak tahu… seberapa sakitnya aku dulu…”
Di sisi lain, Tina memegang tongkatnya dengan kedua tangan gemetar.
“Chika… Tinasya… Beatrix… terima ini!!”
Lingkaran sihir besar muncul di bawah kaki mereka.
“SIHIR PENOPANG — BERKAT KEHIDUPAN!!”
Cahaya hijau menyelimuti tubuh mereka. Luka kecil langsung menutup. Nafas mereka terasa ringan.
Princes berteriak dari balik perisai cahaya.
“HATI-HATI!! MONSTER SATU LAGI!!”
Monster pertama yang retak tadi menyatu kembali dan melompat ke arah Princes.
“NGGRAAAHH!!”
Chika menjerit.
“PRINCES!!”
Ia berlari, lalu melompat tinggi.
“TEKNIK ULTIMATE — LUMINA COMET!!”
Tubuhnya berputar di udara, pedangnya diselimuti cahaya biru pekat. Ia jatuh seperti meteor.
BOOOOOMM!!
Monster itu hancur menjadi kabut hitam.
Beatrix menggeram, wajahnya memerah.
“Cukup… CUKUP MAIN-MAIN!!”
Ia mengubah mode senjatanya.
“MODE PERANG TOTAL!!”
Bola sihir biru berubah menjadi merah-oranye.
“SERANGAN: GRAVITY DISRUPTOR!!”
Ia menembak ke arah Lana.
WHOOOOM!!
Gelombang tekanan menghantam Lana dan menempelkannya ke dinding seperti serangga di kaca.
Tinasya langsung maju.
“SEKARANG!!”
Ia melompat dan menghantam Lana dengan kedua tangan.
“PALU KEADILAN!!”
DOOOOOM!!
Lorong runtuh sebagian.
Debu mengepul.
Namun dari balik debu, suara tertawa terdengar lagi.
“Hihihihi… kalian memang kuat…”
Lana berdiri, tubuhnya dikelilingi aura hitam.
“Tapi kebencianku lebih kuat…”
Dua monster baru mulai terbentuk di belakangnya.
Chika berdiri di depan, pedangnya berkilau, napasnya berat.
“Selama aku berdiri…”
Ia melirik Princes.
“…aku tidak akan biarkan kau menyentuh siapa pun.”
Beatrix mengangkat senjata lagi.
“Dengar itu, penyihir gila.”
Tinasya mengepalkan tangan.
“Giliran kita habisi dia.”
Tina mengangkat tongkatnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku akan melindungi kalian… apa pun yang terjadi.”
Obor hitam berkedip.
Dua monster mengaum bersamaan.
Pertarungan mereka…
baru saja dimulai.
Aura hitam Lana meledak keluar seperti asap dari tungku neraka.
WHOOM—!!
Dinding lorong retak. Obor-obor padam satu per satu. Dua monster bayangan yang tersisa menyatu menjadi satu sosok yang lebih besar, menjulang hampir menyentuh langit-langit.
Beatrix terhuyung.
“Gorila… aku kehabisan energi baterai senjata…!”
Tinasya menahan serangan bayangan dengan kedua lengannya yang diperkuat sihir.
“GRRR—!! CEPATAN, TINA!!”
Tina gemetar sambil mengangkat tongkat penyembuh.
“A-aku… aku masih bisa memberi satu buff lagi…!”
Lingkaran sihir hijau menyala, tapi melemah.
Lana melayang di udara, rambut hitamnya terurai seperti tirai gelap.
“Kalian sudah sejauh ini… tapi tetap saja…”
“…kalian akan mati seperti mereka.”
Monster raksasa itu menghantam lantai.
DOOOOM!!
Gelombang kejut membuat Beatrix dan Tina terlempar.
Princes menjerit.
“CHIKA!!”
Chika berdiri di depan mereka.
Helm knight-nya retak sedikit. Napasnya berat. Bahunya berdarah.
Tapi…
ia tersenyum.
Senyum khasnya.
Senyum bodoh.
Senyum yang selalu muncul saat ia takut.
“Eh… seriusan ya…”
“Kenapa sih… tiap aku liburan… selalu berakhir kayak gini…”
Lana menyipitkan mata.
“Kau masih bisa tersenyum?”
Chika menancapkan Pedang Lumina ke lantai.
ZZZTT—!!
Petir biru merambat di ubin.
“Aku knight.”
“Dan tugasku…”
“…bukan menang.”
Ia melirik Princes, lalu Tina, Tinasya, dan Beatrix.
“Tugasku… bikin semua orang di belakangku tetap hidup.”
Dadanya terasa panas.
Ia teringat Eric.
Marianne.
Warga Teatan.
Princes yang selalu percaya padanya.
Chika mengangkat pedangnya.
“LEVEL KNIGHT… TERKONFIRMASI.”
“STATUS: MELAMPAUI PEMULA.”
Listrik biru membesar di bilah pedang.
Rambut pirangnya berkibar tertiup angin sihir.
“MODE TEMPUR — KNIGHT’S AWAKENING!!”
BAAAM!!
Chika menghilang dari tempatnya berdiri.
“APA—?!” Lana terkejut.
Chika muncul di udara, tepat di atas monster.
“TEKNIK CEPAT — LUMINA FLASH STEP!!”
Ia memantul dari dinding, berputar di udara seperti akrobat.
“TEKNIK PEDANG — CROSS THUNDER CUT!!”
ZRAAAKK!!
Dua tebasan berbentuk X menghantam tubuh monster.
Monster meraung.
“NGGGRRRAAAHH!!”
Chika mendarat, lalu langsung berguling ke samping menghindari tombak bayangan Lana.
“WOOSH!!”
Ia melompat ke dinding, memantul, lalu menyerang dari sudut buta.
“TEKNIK AKROBATIK — SKY SPIN SLASH!!”
Ia berputar seperti baling-baling, pedangnya meninggalkan jejak cahaya biru di udara.
Lana mundur.
“Tidak mungkin… kau hanya knight rendahan!”
Chika tersenyum lebar.
“Iya. Aku rendahan.”
“Tapi aku latihan… sambil lari dari monster… sambil bawa bocil… sambil dimaki gorila…”
Beatrix teriak dari belakang.
“WOI ITU BAGIAN PENTING?!”
Chika melompat lagi.
“TEKNIK KOMBINASI — LUMINA DASH + THUNDER STRIKE!!”
Ia melesat, lalu menghantam tanah di depan Lana.
DOOOOM!!
Petir biru menjalar seperti akar.
Lana terlempar ke belakang.
Namun ia bangkit sambil tertawa.
“Kau cepat… kau kuat… tapi hatimu terlalu lunak.”
Bayangan muncul di belakang Beatrix.
“MATI SAJA—”
“NGGAK BOLEH!!”
Chika menutup jarak dalam satu kedipan mata.
“TEKNIK PELINDUNG — KNIGHT BARRIER!!”
Perisai Lumina muncul di udara.
KLANG!!
Serangan bayangan terpental.
Chika berdiri di antara Lana dan teman-temannya.
Napasnya tersengal.
“Aku… nggak mau…”
“…ada yang mati lagi.”
Lana menatapnya lama.
“…kau berbeda dari mereka.”
“Ya.”
“Soalnya aku… bodoh.”
Chika tersenyum lagi.
“Tapi aku tahu satu hal.”
“Kalau aku jatuh…”
Ia mengencangkan genggaman pedang.
“…mereka yang di belakangku bakal hancur.”
Petir biru menyelimuti tubuhnya.
“TEKNIK ULTIMATE KNIGHT—”
Ia melompat tinggi.
“LUMINA HEAVEN BREAKER!!”
Tubuhnya jatuh seperti meteor biru.
BOOOOOOM!!!
Ledakan cahaya memenuhi lorong.
Bayangan tersapu.
Lana terhempas ke dinding, batuk hitam keluar dari mulutnya.
Chika mendarat dengan satu lutut.
Napasnya berat.
Helmnya miring.
Senyumnya…
masih ada.
“Eh… gimana…”
“…aku kelihatan keren nggak barusan?”
Beatrix menatapnya dengan mata melotot.
“…kau bukan gorila.”
“…kau tank.”
Tinasya mengepalkan tangan.
“Sekarang… kita dorong bareng.”
Tina mengangkat tongkatnya.
“Buff terakhir… untuk knight bodoh kita.”
Cahaya hijau menyelimuti Chika.
Lana menatap mereka semua.
“Kalian…”
“…memang pantas disebut pahlawan.”
Obor-obor menyala kembali.
Dan Chika melangkah maju, pedang di bahu, senyum bodoh di wajahnya.
“Giliran terakhir ya, Lana.”
“Knight ini… belum tumbang.”
Chika terengah. Tubuhnya penuh debu dan luka, tapi matanya tetap menyala.
Ia menatap Pedang Lumina di tangannya… lalu menghela napas panjang.
“Maaf ya… Lumina.”
Dengan gerakan pelan tapi tegas, Chika menancapkan pedang dan perisai Lumina ke lantai.
KLANG!
Petir biru meredup.
Beatrix terbelalak.
“WOI, GORILA! KENAPA SENJATAMU DIBUANG?!”
Chika tersenyum bodoh.
“Soalnya… yang ini butuh temannya.”
Ia mengulurkan tangan ke udara.
Hero Sword muncul perlahan, melayang di depannya. Pedang energi biru muda dengan gagang belah ketupat dan kristal kecil di tengahnya berdenyut… semakin cepat… semakin terang.
Tiba-tiba—
CRACK!
Dari dada Beatrix, cahaya biru muda keluar seperti kristal hidup.
Beatrix menjerit.
“APA INI?! DADAKU NYALA?! AKU BUKAN LAMPU JALANAN!!”
Kristal itu melayang menuju Hero Sword dan menyatu ke gagangnya.
Hero Sword bersinar lebih kuat.
Suara bergema di seluruh ruangan.
“HERO KETIGA… TERKONFIRMASI.”
“BEATRIX.”
Beatrix gemetar.
“…jadi… aku… pahlawan?”
Tinasya melotot.
“Mulutmu masih jahat, tapi statusmu naik.”
Tina menutup mulutnya.
“B-Beatrix… kamu… bercahaya…”
Namun sebelum mereka sempat bernapas lega—
Princes terhuyung.
“Chika…”
Tubuh kecilnya tiba-tiba memancarkan cahaya emas.
Lingkaran sihir muncul di bawah kakinya.
Rantai cahaya emas keluar dari udara, melilit tubuh Chika dengan lembut, seperti pelukan.
Chika terkejut.
“Princes…?”
Princes menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku… nggak mau… Chika mati…”
Rantai emas menyatu ke tubuh Chika.
Hero Sword bergetar hebat.
“ANOMALI KEDUA… AKTIF.”
“RESONANSI HERO SWORD: MAKSIMUM.”
Lana menjerit dari dinding.
“BERHENTI!! KALIAN TIDAK BERHAK—”
Bayangan besar muncul lagi di belakangnya.
Chika menggenggam Hero Sword dengan dua tangan.
Cahaya biru dan emas bercampur.
Angin berputar liar di ruangan itu.
Debu terangkat.
Buku-buku beterbangan.
Beatrix menutup wajah.
“INI SUDAH BUKAN SKALA SEKOLAH!!”
Tinasya melindungi Tina dan Princes.
“CHIKA, CEPAT!!”
Chika menatap Lana.
Senyumnya… masih senyum bodoh.
“Lana… aku nggak tahu sakitmu seberapa dalam.”
Ia mengangkat Hero Sword ke atas.
“Tapi… sekolah ini bukan tempat dendam.”
Hero Sword bersinar seperti matahari kecil.
“TEKNIK ULTIMATE — HERO SWORD.”
Cahaya membentuk lingkaran sihir raksasa di udara.
Chika berteriak.
“ETERNAL HERO:
SKY-CHAIN JUDGMENT SLASH!!!”
Rantai emas dari tubuhnya melesat ke udara, membentuk jalur cahaya.
Chika melompat tinggi.
Hero Sword ditarik ke belakang.
“HA—!!”
Ia menebas ke bawah.
ZZZZZZZZZRAAAAAAAAAKKKK!!!!
Satu tebasan raksasa biru-emas membelah ruangan.
Lantai retak.
Dinding hancur.
Langit-langit runtuh.
Bayangan Lana terpotong oleh cahaya itu.
“AAAAAA—!!”
Tubuh Lana pecah menjadi partikel hitam.
Monster kegelapan menguap seperti asap.
BOOOOOOOMMMMM!!!
Seluruh ruangan runtuh sebagian, meninggalkan kawah besar.
Saat cahaya menghilang…
Hanya satu benda tersisa.
Sebuah buku tua.
Buku catatan Lana.
Terjatuh perlahan ke lantai.
TUK.
Sunyi.
Debu beterbangan.
Chika jatuh berlutut.
Hero Sword menghilang.
Rantai emas lenyap.
Princes langsung berlari dan memeluk punggungnya.
“Chika!!”
Chika tersenyum lemah.
“Eh… aku… masih hidup?”
Beatrix menatap kawah bekas serangan itu.
“…itu bukan serangan.”
“…itu penghapusan.”
Tina memeluk bukunya.
“Lana… sudah… tenang…”
Tinasya menghela napas panjang.
“Sekolah ini… bebas.”
Chika mengambil buku catatan Lana.
Ia menatap sampulnya.
“…Lana… kamu nggak sendirian lagi.”
Angin malam masuk dari dinding yang hancur.
Obor menyala kembali satu per satu.
Dan di tengah reruntuhan sekolah sihir…
seorang knight bodoh, seorang bocah bercahaya,
dan Hero ketiga yang masih suka ngomel,
berdiri…
sebagai pemenang.
...----------------...
Debu masih melayang di udara ketika suasana akhirnya sedikit tenang.
Di tengah ruangan yang setengah runtuh, Chika duduk di atas pecahan meja, bahunya turun-naik menahan napas. Tina berlutut di depannya, tongkat penyembuhnya menyala hijau lembut.
“Jangan bergerak… lukanya masih terbuka,” kata Tina dengan suara gemetar tapi fokus.
Cahaya hangat menyelimuti lengan dan dada Chika.
FSSSHH… luka-luka itu menutup perlahan seperti dijahit cahaya.
Chika meringis, lalu nyengir.
“Hehe… geli…”
Beatrix menyandarkan punggung ke dinding retak, melipat tangan.
“Wah… kau tadi beneran mirip gorila penghancur, tahu?”
Ia menyeringai lebar.
“Chika si Gorila Kiamat.”
Chika menggaruk pipinya.
“Hehe… makasih ya… itu juga karena kekuatan takdir Hero Sword-mu…”
Ia menoleh ke Princes.
“…dan bantuan tak terduga dari Princes.”
Princes langsung menunduk malu.
“A-aku cuma… nggak mau kamu mati…”
Tinasya menghela napas panjang sambil duduk di dekat pintu.
“Romantis nanti dulu… aku masih dengar suara… sesuatu bergerak di bawah.”
Dan saat itu—
Langit-langit sekolah yang terlihat dari lubang runtuhan…
BERUBAH MERAH TERANG.
Cahaya merah seperti darah menyiram seluruh koridor.
Angin dingin berhembus.
Lampu sihir mati serentak.
Lalu… suara wanita menggema dari segala arah.
Lembut, tapi penuh tekanan.
“Perhatian… seluruh area sekolah sihir…”
Semua membeku.
“Lana telah dibasmi…
Namun… arwah murid masa lalu… semakin mengamuk…”
Chika berdiri perlahan.
“…uh oh.”
Suara itu melanjutkan, lebih tegas.
“Knight Gurial Tempest…
Aku, Kepala Sekolah Sihir… memohon padamu…”
Lantai bergetar.
“Selamatkan seluruh murid di lantai satu…
Dan bawa mereka ke ruanganku… di lantai enam.”
Cahaya merah berkedip.
“Kita akan melakukan ritual pengusiran massal.”
Keheningan sesaat.
Lalu—
Chika menghela napas panjang.
“Ehh… ternyata belum selesai…”
Ia berjalan ke Beatrix dan menepuk pundaknya.
“Gimana, Hero ketiga… sudah siap kerja lembur?”
Beatrix menyeringai, mata birunya berkilat.
“Tentu saja…”
“…Gorilaku.”
Tinasya berdiri, mengencangkan sarung tangannya.
“Aku di depan.”
Tina menggenggam tongkatnya erat.
“Aku lindungi murid-murid…”
Princes menelan ludah, lalu berdiri di belakang Chika.
“…aku ikut.”
—
Mereka berlari menuruni tangga spiral menuju lantai satu.
Koridor lantai satu…
gelap.
Kabut hitam mengalir di lantai seperti asap dingin.
Teriakan murid terdengar dari kejauhan.
“TOLONG!!”
“ARWAHNYA DATANG LAGI!!”
Bayangan putih bermunculan dari dinding.
WIIIIIIII—
Sosok murid-murid transparan dengan wajah kosong melayang maju.
“FORMASI!” teriak Tinasya.
Chika maju satu langkah.
Pedang Lumina muncul kembali di tangannya.
“Serangan pembuka!”
“⚡ LUMINA FLASH CUT!”
Chika melesat ke depan, tubuhnya berputar rendah, menebas tiga arwah sekaligus.
ZZRAK!
Mereka pecah jadi kabut cahaya.
Beatrix mengangkat pistol futuristiknya.
“Mode anti-roh: AKTIF.”
Bola biru di senjata berputar.
“PLASMA SEAL BARRAGE!”
DU-DU-DU-DU!!
Tembakan biru berubah jadi jaring cahaya, menjerat arwah-arwah yang mencoba menembus barisan.
Tinasya menghentakkan kaki ke lantai.
“Sihir Amukan —
EARTH SHATTER GAUNTLET!”
Ia meninju lantai.
DOOOOM!!
Gelombang batu suci naik, menghancurkan arwah yang keluar dari lantai.
Tina mengangkat tongkatnya ke murid-murid yang meringkuk di sudut aula.
“DEFENSE HEAL —
ANGEL VEIL!”
Kubah cahaya hijau keemasan menyelimuti para murid.
Princes memegang lengan Chika.
“Di kiri… ada yang besar…”
Dinding kiri pecah.
KRAAAASH!!
Arwah raksasa setengah transparan muncul, tubuhnya seperti gabungan banyak murid.
Chika tersenyum bodoh.
“Yang gede… bagianku.”
Ia melompat ke meja, lalu ke tiang, berlari di dinding.
“⚡ LUMINA STEP!”
Tubuhnya berkilat, melesat zig-zag menghindari tangan raksasa yang menyapu udara.
WHOOSH!
Ia berputar di udara.
“LUMINA CROSS SLASH!”
Dua tebasan silang memotong kepala arwah itu.
SHRRRRAAK!
Arwah itu mengerang lalu pecah jadi cahaya.
Beatrix berteriak,
“MURID KE TENGAH! CEPAT!”
Tinasya menendang satu arwah yang lolos.
“PHANTOM BREAK KICK!”
Tina memandu murid-murid.
“Jangan lihat ke belakang! Pegang tangan satu sama lain!”
Princes menutup mata sambil berteriak kecil.
“Chika! Yang di atas!”
Langit-langit meneteskan bayangan hitam.
Chika meloncat ke udara, menancapkan pedang ke balok kayu.
“LUMINA ANCHOR!”
Ia berayun seperti akrobat, lalu menebas ke atas.
SHING!!
Bayangan itu lenyap.
Aula kini dipenuhi murid yang terlindungi kubah Tina.
Tinasya berdiri di depan mereka, napas berat.
“Area lantai satu… hampir bersih!”
Beatrix mengangkat senjatanya.
“Masih ada… di tangga barat!”
Chika mengibaskan debu dari bahunya, senyum bodoh muncul lagi.
“Baiklah…
misi selamatkan murid…”
Ia mengangkat pedang.
“…lanjut ronde dua.”
Dan di bawah langit merah sekolah sihir,
lima sosok kecil berdiri menghadapi puluhan arwah lagi…
bukan sebagai pelajar…
melainkan sebagai
pelindung sekolah itu sendiri.
...----------------...
Lorong menuju tangga utama tiba-tiba tertutup oleh dinding cahaya biru transparan.
Di tengah aula lantai satu, muncul sebuah lingkaran sihir raksasa di lantai, dipenuhi simbol-simbol kuno yang berputar perlahan. Udara terasa berat, seolah tekanan tak terlihat menekan dada semua orang.
Para murid yang selamat berkumpul di belakang Tina, sebagian duduk gemetar, sebagian saling berpegangan tangan.
“Kenapa tangganya nggak bisa dilewati…?” bisik salah satu murid.
Tinasya maju selangkah, matanya menyipit mengamati pola di lantai.
“Ini bukan segel biasa… ini teka-teki pengunci lantai.”
Beatrix menurunkan pistolnya sedikit, lalu berlutut di dekat simbol.
“Hmm… simbol elemen, angka, dan… urutan waktu. Rumit juga.”
Chika menggaruk kepala.
“Jadi… kita harus mikir dulu sebelum naik?”
“Untuk sekali ini, iya,” jawab Beatrix datar.
Di udara, suara Kepala Sekolah kembali menggema, lebih pelan tapi jelas.
“Untuk mencapai lantai enam…
Kalian harus membuka Gerbang Ujian Bersama…
Ini bukan ujian kekuatan…
melainkan ujian kerja sama.”
Cahaya di lingkaran sihir berubah warna: merah, biru, hijau, kuning, emas.
Princes melangkah pelan ke depan, menatap simbol-simbol itu.
“…aku merasa… simbol ini bereaksi pada jumlah orang…”
Ia menyentuh salah satu ukiran.
Ukiran itu menyala lembut.
Tina terkejut.
“Bercahaya…?”
Beatrix berdiri cepat.
“Jumlah murid… dan kita… mungkin harus berdiri di posisi tertentu.”
Di sekeliling lingkaran, muncul enam pilar kecil dari lantai, masing-masing bertuliskan:
– KEKUATAN
– PENGETAHUAN
– KEBERANIAN
– BELAS KASIH
– PERLINDUNGAN
– TAKDIR
Tinasya menatap pilar-pilar itu.
“Ini… peran.”
Chika membaca keras-keras.
“Berarti… kita harus menempatkan orang sesuai sifatnya?”
Beatrix mendengus kecil.
“Kalau begitu, Gorila cocok di mana?”
Chika melotot.
“Oi.”
Namun Princes menunjuk pilar terakhir.
“…Takdir.”
Cahaya emas samar muncul di kakinya.
“Sejak awal… aku selalu ditarik ke arahmu, Chika… dan Hero Sword… mungkin ini alasannya.”
Tina menggenggam tongkatnya.
“Kalau begitu… aku di Belas Kasih.”
Ia berdiri di pilar itu. Pilar hijau menyala.
Tinasya melangkah ke KEKUATAN.
Lantai di bawah kakinya bergetar sedikit.
Beatrix berdiri di PENGETAHUAN, senjatanya berubah bentuk menjadi seperti alat analisis.
“Ya… masuk akal.”
Chika terdiam sebentar, lalu berjalan ke PERLINDUNGAN.
“Aku… nggak mau ada yang mati lagi.”
Begitu mereka berdiri di pilar masing-masing, simbol di lantai berputar lebih cepat.
Namun… tidak aktif sepenuhnya.
Tiba-tiba, salah satu murid kecil mengangkat tangan gemetar.
“Umm… kami… kami harus di mana?”
Princes menoleh ke lingkaran tengah.
“Di tengah… masih kosong.”
Chika tersenyum kecil.
“Karena ini… ujian bersama.”
Ia menghadap para murid.
“Kalian… masuk ke tengah.”
Murid-murid saling berpandangan, lalu perlahan berjalan ke lingkaran tengah.
Begitu mereka semua berada di sana—
Cahaya putih naik dari lantai, membungkus mereka seperti kabut hangat.
Lingkaran sihir menyala penuh.
GRAAAAMMM…
Seluruh aula bergetar.
Tangga besar dari cahaya muncul dari langit-langit, mengarah lurus ke atas, menembus lantai demi lantai.
“Gerbang… terbuka…” bisik Tina.
Beatrix menghela napas.
“Jadi… kita lulus ujian mental juga.”
Namun belum sempat bergerak—
Bayangan hitam terakhir muncul di dinding.
Arwah besar, terdistorsi, dengan suara banyak murid sekaligus.
“JANGAN… PERGI…”
Chika maju selangkah, berdiri di depan murid-murid.
“Sudah cukup.”
Ia mengangkat pedangnya.
“Ini bukan tempat kalian lagi.”
Tinasya berdiri di sampingnya.
“Untuk semua yang masih hidup.”
Beatrix mengarahkan pistol.
“Untuk masa depan sekolah ini.”
Tina mengangkat tongkatnya.
“Dan untuk arwah yang belum tenang.”
Princes menutup mata.
Cahaya emas keluar dari tubuhnya, menyatu dengan lingkaran sihir.
“Pelepasan Jiwa —
RITUAL PENGANTAR.”
Arwah itu berhenti bergerak.
Tubuhnya pecah menjadi cahaya kecil seperti kunang-kunang, naik ke atas dan menghilang.
Keheningan turun.
Tangga cahaya kini terbuka sepenuhnya menuju lantai enam.
Chika menoleh ke belakang, melihat semua murid.
“Pegangan… jangan lepas.”
Mereka mulai naik bersama.
Langkah demi langkah.
Di bawah mereka, lantai satu kembali gelap…
namun di atas—
cahaya lantai enam menunggu.
Dan ujian terakhir…
baru saja dimulai.