Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Sejati
Maya kembali setelah dua minggu tanpa kabar tidak memberitahu. Ia ingin melihat, Ingin tahu, ingin meyakinkan apakah keputusannya untuk pergi benar atau salah.
Rumah kontrakan tidak ada yang berubah, kecil mungil tampak sama dari luar. Tapi ada sesuatu yang berbeda—payung hitam di teras, ukurannya besar, gagang chrome, bukan milik Raka, kepunyaan Kinan, bukan milik siapa pun yang ia kenal.
Ia berdiri di gerbang tangan di kunci motor, Ingin masuk atau ada yang berlari memeluknya penuh antusias, " May...gue kangen"
Tapi hanya pintu terbuka keluar, Raka tersenyum, bukan untuknya, tapi seseorang belakang.
"Thanks ya, Ras, besok gue bawa payungnya."
"Nggak usah, Gue punya banyak di rumah." Ia muncul di ambang pintu, rambutnya di kuncir, memakai blazer abu-abu, sepatu hak rendah, profesional, anggun, semua yang Maya tidak punya—atau tidak pernah merasa punya.
Mereka berdiri terlalu dekat, bahu bersentuhan, senyum Laras tidak pernah pudar menyungging, sejenak mata almond eyeliner tipisnya membesar melihat seorang berdiri dilaman ragu, pakaian sederhana tapi wajahnya lembut tenang
"May? Lo... lo kapan balik?"
"Baru," jawabnya datar, tubuhnya kaku. "Gue... gue cuma lewat salah jalan." Bohong, jelas itu bohong. Tapi ia tidak peduli ingin pergi secepatnya sekarang.
"May, tunggu—"
Tapi Maya sudah di motor, mesin menyala, helm dipakai cepat-cepat, sebelum Raka melihat air matanya.
"May!"
Ia menarik gas kencang, di balik kaca spion Raka berlari ke gerbang, Laras di belakangnya hanya diam menarik tangannya.
---
Maya berhenti di taman kota bangku tempat Kinan berjualan dulu, tempat Raka menunggunya, tempat segalanya dimulai, dan mungkin akan segera berakhir.
Ia menangis pelan, teratur, seolah air mata adalah sesuatu yang bisa diatur tapi tidak, tidak kali ini.
"Gue bodoh," bisiknya pada diri sendiri. "Gue pergi, dan dia... dia langsung... "
Bukan Raka yang salah. Maya tahu Ia yang pergi jauh meminta jarak. Tapi ia melihat gadis itu di rumah pagi hari, dengan payung, dengan bingkisan dan senyuman —itu terlalu banyak.
Ponselnya bergetar dari Raka, tidak ia angkat, tiga kali, empat kali sampai mati.
Pesan masuk: "May, please, bukan seperti lo pikirkan. Laras cuma nganterin file kerjaan. gue sakit semalam, dia bawa obat."
Maya hanya diam tidak mengetik apapun
"Lo di mana May? Gue bisa jelasin."
Ia menatap layar ingin percaya, ingin menjawab semuanya. Tapi jiwa perih terluka, tidak cukup untuk berteriak: "Dia bohong Mereka semua bohong."
Akhirnya ia menyimpan ponsel tidak dimatikan, tapi tidak juga ingin dilihat, hatinya pecah.
---
Sore itu, Maya masih di taman tidak pulang ke rumahnya sendiri—rumah kosong, sepi, penuh kenangan salah orang.
"May?"
Ia menoleh laki laki itu berdiri dengan napas terengah berlari, dari mana? kantor? rumah?
"Lo ngapain di sini?" tanyanya duduk di bangku, satu jengkal terlalu dekat dan jauh.
"Gue nggak ngapa-ngapain," jawabnya datar "Lo ngapain cari gue?"
"Gue khawatir."
"Khawatir?" Ia tertawa getir. "Lo punya waktu khawatir? Dengan... dengan dia di rumah lo?"
Raka menghela napas. "Laras cuma temen kerja, May"
"Temen kerja yang nganterin obat pagi-pagi?payung yang sengaja tertinggal di teras ? Temen kerja yang dipeluk ? menggenggam tangannya begitu hangat, ?" Maya berhenti, air matanya jatuh lagi. "Gue liat, Ra, cara lo tersenyum ke dia, seperti dulu lo senyum ke gue."
Raka diam, hanya diam, lalu..."Gue nggak bisa bohong, Laras... dia ada, di sana. Gue nggak minta, tapi dia ada. Dan gue... gue butuh seseorang, May. Gue butuh—"
"Bukan gue," potongnya rintih. "Gue butuh..., tapi bukan gue, karena itu gue pergi, Ra gue yang salah."
"Bukan!" Raka meraih tangannya, kali ini ia tidak menarik karena terlalu lelah. "Bukan lo yang salah. May, Gue nggak tahu, bingung. Gue... gue cinta Kinan, May, masih, sampai saat sekarang. Tapi dia pergi, Dan lo... lo juga pergi. Dan gue nggak tahu harus gimana lagi."
Maya menatap mata coklat—mirip Kinan, tapi lebih hidup, lebih sakit—memandang lurus. "Gue gak tahu apa yang lo rasakan, Ra? Cinta datang bukan karena Kinan, bukan karena rasa kesepian. Cinta yang keluar memang dari dalam hati."
Raka terhenyak mulutnya terbuka. "Gue... gue nggak tahu lagi May, apa itu cinta gue lupa rasanya."
Maya menarik tangannya perlahan, pasti.
"Itu jawaban, Ra, dan itu lah jawabannya."
Ia berdiri, Raka tidak mengejar kali ini ia tahu—tidak ada yang bisa dikejar.
---
Di rumah, Maya mengemasi barangnya
buku catatan Kinan, pakaian yang ia tinggalkan, foto-foto di lemari—Raka dan Kinan di pantai, di taman, di rumah sakit. tidak ada foto Raka dan Maya, tidak akan pernah ada.
Ponselnya bergetar bukan dari Raka tapi Ibu.
"Sayang, kamu baik-baik aja?"
"Baik, Bu," jawabnya pecah.
"Pulanglah, Nak, jika itu membuatmu tersenyum, Ibu selalu menunggu."
Maya menatap kamarnya, bukan kamar yang selalu ia bersihkan, bukan dapur tempat nya memasak, menunggu dengan sabar, kamar yang ia pikir akan menjadi rumah meneruskan cinta sahabatnya.
"Iya, Bu, Maya pulang."
---
Malam itu, Raka duduk di teras, payung Laras masih di sudut harus di kembalikan, tapi tidak malam ini.
Krisan putih, mawar, lavender—semuanya mati dan kering, walaupun ia sering menyiramnya sekali dua hari, tapi semenjak Laras datang, segalanya berantakan, bunga bunga itu seolah merajuk, tidak mau makan dan minum
"Ya Tuhan aku gagal," Katanya menunjuk langit, "Aku Gagal lagi."
Matanya berkaca kaca, berharap angin bertiup membawa bau mawar, daun daun berbisik menandakan kerinduannya .
Ia duduk dikursi menutup wajah dengan kedua tangannya," Sayang, Mas rindu, benar benar rindu, mas tidak mencintai, mas hanya sayang ma Kinan."
Tapi sesuatu yang aneh terjadi menjawab pertanyaan nya, selembar kertas kecil, terbang dari arah jendela jatuh di pangkuannya.
Raka menatap tulisan tangan huruf miring. "A" dengan hati kecil di ujungnya
"Mas, jangan pilih yang membuat lupa, tapi pilih lah orang yang ingat akan tuhan, melanjutkan kenangan agar tetap hidup."
Matanya terbuka lebar membaca berulang ulang, satu, dua, diulang lagi, sampai hampir hapal' "Terimakasih ya cantik bisiknya halus "Tapi Mas nggak tahu karena pilihannya cuma satu, dirimu, Kinan."
---
Di Ruang Tunggu, Kinan terbaring lemas.
Intervensi itu—di cafe, kertas itu—memakan sisa energinya memudar, menjadi kabut, dan bersiap pulang ke alam lain, mimpi yang panjang
"Kamu bodoh," Perempuan tua itu menepuk entah siapa yang ditepuk, " Kamu sudah di peringatkan."
" Aku harus, Bu," bisiknya. " Aku nggak bisa melihatnya salah pilih, aku sudah pergi Bu, Mas tidak ada yang membimbing." Mungkin di alam dunia ia sudah menangis terisak-isak tapi sekarang hanya jiwanya yang terluka
"Dan siapa yang benar? Maya? Laras? Dirimu yang sudah mati?"
Ia tersenyum lemah "Bukan aku, tapi mereka... mereka belum."
Raka di teras, menatap kertas; Maya di perjalanan, menatap jalan; Laras di apartemennya, menatap ponsel, menunggu.
"Cinta memang rumit lebih rumit setelah mati."
"Tapi lebih tulus karena tidak ada lagi untuk dipalsukan."
mampir 🤭