NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Bara, Brian dan satu gadis

Suasana di kamar Bara semakin terasa kaku. Setiap pertanyaan yang dilontarkan Brian terasa seperti peluru yang mencoba menembus pertahanan Bara. Bara yang mulai merasa terpojok, mencoba bersikap acuh tak acuh sambil membereskan buku-bukunya.

​"Gue juga gak tau Brian, Lo kan pacar nya masa iya tanya ke gue," ujar Bara datar, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya.

​Brian tidak langsung menyerah. Ia menopang dagu, menatap punggung sahabatnya itu. "Ya siapa tau Lo ngerti, Bar?"

​Bara mendengus pelan, lalu menoleh dengan tatapan seolah Brian baru saja mengatakan hal paling konyol sedunia. "Lo gila kali."

​Melihat Bara yang mulai emosi, Brian pun menarik napas panjang dan mengangkat tangan. "Yaudah, yaudah gue minta maaf."

​Bara membuang muka kembali ke mejanya. "Ya udah tidur sana, gue masih ada tugas yang belum gue selesai in."

​"Oke," jawab Brian singkat.

​Brian pun beranjak menuju tempat tidur. Namun, saat hendak merebahkan tubuhnya, matanya menangkap sesuatu di sudut meja belajar Bara. Sebuah gelang tergeletak begitu saja di bawah temaram lampu meja. Entah mengapa, jantung Brian berdegup lebih kencang. Ia meraih benda itu, menimbangnya di telapak tangan.

​"Ini gelang siapa?" bisik Brian pada dirinya sendiri. Ia mengamati detail manik-maniknya dengan saksama. "Kok, seperti gak familiar ya sama gelang ini, kayaknya aku pernah lihat tapi dimana ya..."

​Brian nyaris menemukan jawaban di ingatannya ketika suara pintu terbuka mengejutkannya. Bara melangkah masuk ke kamar.

​"Eh Brian, Lo ngapain disitu?" tanya Bara dengan nada penuh selidik.

​Brian sontak kaget, ia segera meletakkan kembali gelang itu meski gerakannya terlihat sangat kikuk. "Eh. Ini..ini gue lagi cari angin."

​Bara mengernyitkan dahi, menatap jendela kamar yang justru tertutup rapat. "Cari angin kok disitu?"

​Brian tertawa kaku sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehe....yaudah yuk tidur, Lo udah selesai kan ngerjain tugas nya?"

​Bara menghela napas panjang, memutuskan untuk tidak memperpanjang kecurigaannya. "Iya gue udah selesai, yaudah tidur geh, besok kita telat lo."

​"I..iya bar," sahut Brian pelan.

​Brian pun menaruh kembali gelang itu di posisi semula, namun pikirannya kini melayang jauh. Ia yakin pernah melihat gelang itu.

Lampu kamar sudah dipadamkan, menyisakan kegelapan yang hanya ditembus oleh sedikit cahaya bulan dari celah gorden. Namun bagi Brian, kegelapan itu justru membuat pikirannya bekerja semakin liar. Brian tidak bisa tidur meski matanya sudah mengantuk. Ia terus membalikkan badannya ke kiri dan ke kanan, namun bayangan gelang di atas meja tadi tidak mau hilang dari ingatannya.

"Gelang itu kenapa aku seperti pernah lihat ya, tapi dimana," batin Brian gelisah.

Ia memejamkan mata, mencoba memutar kembali memori beberapa minggu terakhir. Ia mengingat setiap momen saat menjemput Aluna, saat makan bersama, hingga saat Aluna merapikan rambutnya. Tiba-tiba, sebuah ingatan muncul dengan sangat jelas.

"Oh iya, kok gelang itu mirip kaya punya Aluna ya?"

Brian tersentak dalam diam. Dadanya terasa sesak. Ingatannya terkunci.

"Besok aku harus cari tahu sendiri," tekad Brian dalam hati.

Di sampingnya, Bara ternyata belum sepenuhnya terlelap. Ia bisa merasakan pergerakan gelisah Brian sejak tadi. Bara yang merasa ada yang tidak beres pun akhirnya bersuara di tengah kegelapan.

"Brian, Lo kok gak tidur-tidur sih, Lo mikirin apa?" tanya Bara, suaranya terdengar berat dan penuh selidik.

Brian tersentak kaget mendengar suara Bara. Ia segera mengatur napas agar tidak terdengar panik. "Eh, enggak kok, mungkin gue gak terbiasa tidur di kamar Lo jadi gue susah tidur," jawab Brian memberi alasan seadanya.

Bara terdiam sejenak. Ia merasa alasan itu masuk akal, meski instingnya mengatakan ada hal lain yang sedang mengganggu pikiran sahabatnya itu.

"Oh," sahut Bara singkat.

Matahari pagi belum sepenuhnya terik saat Brian sudah berdiri tegak di parkiran sekolah. Matanya terus tertuju pada gerbang, menanti sebuah motor yang sangat ia kenal. Kegelisahan semalam belum juga hilang, justru semakin menggebu-gebu. Begitu sosok Aluna muncul di kejauhan, Brian langsung melangkah cepat menemui gadis itu.

"Aluna, selamat pagi sayang," sapa Brian dengan senyum yang dipaksakan.

Aluna tampak sedikit terkejut melihat kehadiran Brian yang begitu awal. "Pagi BRI, tumben jam segini udah ada disekolah biasanya kamu datang selalu siang."

Brian terkekeh pelan, namun matanya terus mengamati gerak-gerik Aluna. "Hehe, soalnya aku tadi malam tidur dirumah bara, jadi bisa berangkat pagi deh."

"Oh gitu," sahut Aluna singkat. Ia mencoba berjalan menuju kelas, namun langkahnya terhenti saat Brian secara tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.

Mata Brian langsung tertuju pada sebuah benda yang melingkar di sana. Benar saja. Gelang itu identik dengan yang ia lihat di meja belajar Bara semalam.

"Lun, itu gelang siapa yang kamu pakai?" tanya Brian, nadanya mulai terdengar menuntut.

Aluna tampak bingung dengan perubahan sikap Brian. "Ini... ya gelang aku lah Brian, emang kenapa?"

"Kok, gelang kamu mirip punya bara ya," cetus Brian tanpa basa-basi lagi.

Darah Aluna seolah berhenti mengalir. Ia mencoba menarik tangannya pelan. "Maksud kamu apa?"

"Tadi malam aku lihat gelang itu ada dikamar bara," ucap Brian sambil menatap lurus ke dalam mata Aluna, mencari celah kebohongan di sana.

Aluna sontak panik. Pikirannya mendadak kosong. Tidak mungkin ia jujur bahwa gelang yang ada di rumah Bara adalah gelang yang pernah ia beli sebagai tanda permintaan maaf karena sempat membuat Bara kecewa. Kebenaran itu terlalu berbahaya untuk situasi sekarang.

"Em, mungkin cuma mirip, kan ditoko banyak gelang seperti ini BRI," jawab Aluna, mencoba mencari alasan yang masuk akal.

Brian menyipitkan mata. Ia bisa merasakan kegugupan yang luar biasa dari nada suara Aluna. "Masa sih lun?"

"I.. Iya lah," jawab Luna gugup sambil membuang muka, tak berani menatap sorot mata Brian yang penuh curiga.

Suasana di parkiran itu terasa membeku selama beberapa detik. Tatapan Brian yang tajam seolah sedang menguliti setiap kata yang keluar dari bibir Aluna. Aluna bisa merasakan telapak tangannya mulai berkeringat dingin. Ia tahu, jika ia membiarkan Brian terus menatapnya seperti itu, benteng pertahanannya akan runtuh.

Dengan gerakan cepat yang sedikit dipaksakan, Aluna mencoba mengalihkan pandangan mata Brian. Ia menyentuh lengan Brian pelan, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan itu.

"Eh, Bri, kok bengong sih, masuk kelas yuk," ujar Aluna dengan nada yang diusahakan seceria mungkin, seolah kecurigaan Brian tadi hanyalah angin lalu.

Brian tersentak, tersadar dari lamunan pahitnya. Ia menatap Aluna sekali lagi, mencari jejak kejujuran yang tersisa, namun yang ia temukan hanyalah kegelisahan yang disembunyikan di balik senyum tipis gadis itu. Brian menghela napas panjang, mencoba menekan rasa sesak di dadanya.

"Oke," jawab Brian singkat.

Bersambung......

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!