NovelToon NovelToon
Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: hairil

Utang Rp500 juta dan biaya pengobatan adik yang sakit ginjal menjadi paksa bagi Putri Aulia untuk menerima tawaran perjodohan dari keluarga Adinata—salah satu sindikat mafia terkuat di kota.

Dia berpikir ini adalah jalan keluar terbaik, sampai saatnya dia menemukan kaset rahasia yang membuktikan Pak Hidayat, ayah calon suaminya, adalah dalang kematian orang tuanya untuk mengambil alih bisnis keluarga.

Tanpa pilihan lain, Putri menyembunyikan niat balas dendam dalam diri dan hidup sebagai istri yang patuh. Dia mulai menyusup ke dalam sistem mafia keluarga itu, mengumpulkan bukti dan merusak rencana kejahatan mereka secara tersembunyi.

Namun, semakin dekat dia dengan Rizky Adinata—putra Pak Hidayat yang tidak suka dengan dunia kekerasan dan menyembunyikan usaha untuk membantu anak-anak korban konflik mafia—semakin besar kebingungannya. Cinta mulai tumbuh di hati yang penuh dendam, sementara rival mafia Pak Darmawan mencoba memanfaatkannya untuk menggulingkan Pak Hidayat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: PERTEMUAN DI TAMAN KOTA TUA

 

Jam menunjukkan pukul dua lewat seperempat sore. Putri duduk di kursi belakang mobil yang diparkir di sebuah gang sempit dua blok dari taman kota tua. Jantungnya berdegup kencang, tidak hanya karena ketakutan, tapi juga karena adrenalin dari rencana berani yang akan dia lakukan.

Dia mengenakan jaket tebal berwarna gelap dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Di dalam tas kecilnya, dia membawa ponsel yang sudah dia atur ke mode perekam suara diam-diam, salinan foto-foto bukti yang dia enkripsi di dalam kartu memori tersembunyi, dan tentu saja, selembar kertas kecil berisi pesan balasan untuk Bang Rio.

Di kursi depan, Nina duduk dengan wajah penuh kekhawatiran, tangannya mencengkeram setir dengan kuat.

"Putri, apakah kamu yakin harus melakukan ini?" tanya Nina untuk kesekian kalinya. "Ini terlalu berisiko. Bagaimana jika itu jebakan? Bagaimana jika Pak Hidayat atau Pak Darmawan sudah menunggu di sana?"

Putri menepuk bahu sahabatnya itu lembut. "Aku yakin, Nina. Aku harus tahu kebenarannya. Jika Bang Rio benar-benar ingin membunuhku atau melaporkanku, dia sudah melakukannya sejak kemarin. Dia punya banyak kesempatan."

"Tapi dia tahu kamu menulis pesan itu di kamarmu sendiri, Putri! Bagaimana dia bisa tahu kalau dia tidak memasang alat sadap atau mata-mata di sekitar rumah?" Nina masih tidak yakin.

"Itulah yang ingin aku tanyakan langsung padanya," jawab Putri tegas. "Dengar, Nina, jika dalam satu jam aku belum keluar dari taman atau jika kamu tidak mendapat kabar dariku, kamu harus pergi ke kantor polisi dan temukan Rizky. Katakan padanya semuanya—atau setidaknya apa yang aman untuk dikatakan—agar dia bisa mencariku."

"Baiklah," sahut Nina dengan napas panjang. "Hati-hati, Putri. Aku akan menunggu di sini. Jika ada mobil mencurigakan keluar atau masuk, aku akan tahu."

Putri mengangguk, lalu membuka pintu mobil perlahan dan turun. Dia berjalan cepat namun tenang menuju taman kota tua. Taman ini terletak di pusat kota yang sudah tua, dikelilingi bangunan peninggalan kolonial yang mulai rapuh, dengan pohon-pohon besar yang rimbun membuat suasana di dalamnya terasa teduh dan agak misterius.

Jam menunjukkan tepat pukul 3 sore saat Putri melangkah masuk ke taman. Dia melihat sekeliling. Ada beberapa orang tua yang duduk di bangku, dan beberapa anak yang bermain di ayunan. Tidak terlihat ada yang mencurigakan, tapi Putri tahu dia tidak boleh lengah.

Matanya mencari-cari sosok Bang Rio. Akhirnya, di sudut taman yang paling sepi, di bawah pohon beringin tua yang rimbun, dia melihatnya. Pria itu duduk sendirian di bangku kayu, mengenakan kemeja hitam dan celana jeans seperti tadi pagi. Dia tidak melihat ke sekeliling, seolah dia yakin Putri akan datang.

Putri menarik napas dalam-dalam, menenangkan dirinya. Dia berjalan mendekat, langkahnya terukur. Saat dia berjarak beberapa meter dari bangku itu, Bang Rio akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, namun tidak terlihat marah atau mengancam.

"Kamu datang," ucap Bang Rio pelan, suaranya berat dan tenang. Dia menepuk bangku di sebelahnya. "Duduklah."

Putri tidak langsung duduk. Dia berdiri tegak di hadapannya, menjaga jarak aman. "Bagaimana kamu tahu aku menulis pesan itu semalam?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi. "Apakah kamu memasang alat sadap di kamarku?"

Bang Rio tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Tidak perlu alat sadap untuk tahu apa yang dipikirkan orang cerdas sepertimu, Nyonya muda. Aku tahu kamu tidak akan membalas lewat ponsel. Aku tahu kamu akan menulisnya di kertas. Itu insting."

"Itu bukan insting, itu tebakan berani," sanggah Putri. "Atau mungkin kamu memang sudah mengawasiku jauh lebih dekat dari yang aku kira."

"Mungkin," jawab Bang Rio mengelak. "Tapi duduklah. Kita tidak akan menyelesaikan apa-apa jika kamu berdiri di sana seperti tentara yang siap perang."

Putri menimbang sebentar, akhirnya memutuskan untuk duduk di ujung bangku, menjaga jarak sejauh mungkin dari pria itu. "Apa yang ingin kamu bicarakan? Kenapa kamu memanggilku ke sini? Dan kenapa kamu berbohong pada Pak Hidayat soal rekaman CCTV yang rusak?"

Bang Rio menatap lurus ke depan, ke arah anak-anak yang bermain. "Aku berbohong karena aku tidak ingin dia tahu bahwa ada orang yang berani menantangnya. Dan aku memanggilmu ke sini karena aku ingin tahu seberapa jauh kamu berani melangkah."

Dia menoleh ke arah Putri, tatapannya menjadi lebih serius. "Kamu tahu siapa kami. Kamu tahu apa yang kami lakukan. Dan kamu masih berani mengirim laporan itu, menyusup ke gudang, mengambil foto. Kamu bukan wanita biasa, Putri Aulia."

Putri menahan napas saat pria itu menyebut nama lengkapnya. "Apa maksudmu?"

"Aku tahu siapa kamu," lanjut Bang Rio pelan. "Aku tahu siapa orang tuamu. Aku tahu apa yang terjadi pada mereka bertahun-tahun yang lalu."

Darah Putri seakan berhenti mengalir. Dia menatap Bang Rio dengan mata terbelalak. "Kamu... kamu tahu?"

"Aku ada di sana saat itu," jawab Bang Rio, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Aku masih anak buah baru saat Hidayat menyusun rencana untuk mengambil alih perusahaan orang tuamu. Aku mendengar percakapan itu. Aku melihat mereka membawa kotak-kotak itu. Dan aku tahu... itu bukan kecelakaan."

Putri merasakan dunianya berputar. Selama ini dia mencari kebenaran, dan sekarang, pria yang merupakan tangan kanan musuhnya sendiri yang mengaku tahu segalanya. Air mata mulai menggenang di matanya, campur antara marah dan sedih.

"Kenapa..." suara Putri bergetar. "Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak melaporkannya? Kenapa kamu tetap bekerja untuknya setelah tahu dia pembunuh?"

Bang Rio menghela napas panjang, menatap langit yang mulai mendung. "Karena aku pengecut, Putri. Saat itu, aku masih muda, punya keluarga yang harus diberi makan. Hidayat adalah satu-satunya pelindungku. Dan selain itu... dia punya cara untuk membuat orang takut membangkang. Aku melihat apa yang terjadi pada siapa saja yang berani melawannya. Aku tidak ingin itu terjadi pada keluargaku."

Dia menoleh ke arah Putri, dan untuk pertama kalinya, Putri melihat rasa bersalah di mata pria yang biasanya dingin itu. "Tapi selama bertahun-tahun, rasa bersalah itu terus menghantuiku. Aku melihat Hidayat semakin berkuasa, semakin kejam. Dan saat aku melihatmu... melihat bagaimana kamu berani melawan dia dengan cara yang cerdas, tanpa kekerasan... aku melihat harapan. Mungkin ini saatnya aku menebus dosaku."

Putri terdiam, mencoba mencerna semua informasi yang dia terima. Ini terlalu banyak, terlalu cepat. "Jadi... kamu ingin membantuku? Menggulingkan Pak Hidayat?"

"Aku ingin keadilan, Putri," jawab Bang Rio tegas. "Dan aku ingin melihat Hidayat dihukum atas apa yang dia lakukan. Tapi aku tidak butuh kekerasan. Aku punya anak juga, seusia Rara. Aku tidak ingin ada darah yang tertumpah lagi."

Putri terkejut lagi. "Kamu tahu soal Rara?"

"Aku tahu banyak hal tentangmu, Putri. Itu tugasku sebagai pengawalnya Hidayat, memeriksa latar belakang siapa saja yang masuk ke keluarganya," jawab Bang Rio jujur. "Tapi saat aku mempelajari latar belakangmu, aku justru semakin mengagumimu. Kamu bertahan demi adikmu. Kamu memilih jalan hukum meski hatimu penuh dendam."

Putri mengeluarkan kertas yang dia tulis semalam dari sakunya, lalu menyerahkannya pada Bang Rio. "Aku menulis ini karena aku ragu. Tapi sekarang... aku masih ragu. Bagaimana aku bisa percaya padamu? Bagaimana jika ini semua aktingmu untuk menjebakku?"

Bang Rio mengambil kertas itu, membacanya pelan, lalu merobeknya kecil-kecil dan membuangnya ke tempat sampah di dekatnya. "Aku tidak bisa memaksamu percaya padaku sekarang. Tapi aku akan memberimu bukti. Bukti yang nyata."

Dia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam. Dia menyerahkannya pada Putri.

"Apa ini?" tanya Putri waspada.

"Di dalam ini ada rekaman percakapan antara Hidayat dan Darmawan tentang pengiriman kayu ilegal bulan lalu, serta catatan keuangan rahasia yang menunjukkan bagaimana mereka memutar uang hasil kejahatan itu," jawab Bang Rio. "Ini cukup untuk membuat mereka dipenjara bertahun-tahun. Dan ada juga... dokumen yang menyebutkan keterlibatan mereka dalam kasus tanah beberapa tahun lalu, yang mungkin berhubungan dengan kematian orang tuamu. Aku belum yakin, tapi ada namamu disebutkan di sana sebagai ahli waris yang harus 'disingkirkan'."

Tangan Putri gemetar saat menerima flashdisk itu. Ini adalah harta karun. Ini lebih dari yang dia harapkan. "Kenapa kamu memberiku ini? Kenapa tidak langsung ke polisi?"

"Karena polisi di kota ini banyak yang dibeli oleh Hidayat," jawab Bang Rio dingin. "Aku butuh seseorang yang bisa dipercaya. Seseorang yang punya latar belakang hukum dan tahu cara menangani bukti dengan benar. Dan aku rasa... kamu orangnya."

Dia menatap mata Putri dalam-dalam. "Hati-hati, Putri. Darmawan semakin curiga padamu. Dia tidak sepolos Hidayat. Dia licik dan dia punya dendam pribadi pada Hidayat. Dia mungkin akan mencoba menggunakanmu untuk menjatuhkan Hidayat, lalu membuangmu setelah itu."

"Aku tahu," jawab Putri pelan, menyimpan flashdisk itu dengan aman di dalam tasnya. "Terima kasih, Bang Rio. Aku... aku tidak tahu harus berkata apa."

"Tidak perlu berterima kasih," ucap Bang Rio, berdiri dari bangku. "Ingat, aku tidak akan bisa membantumu secara langsung. Itu akan membahayakan kita berdua. Aku akan mengirimimu informasi jika ada sesuatu yang penting, lewat cara yang aman. Tapi mulai sekarang, kita berjalan di jalur yang sama. Tapi ingat satu hal..."

Dia menatap Putri dengan tatapan serius. "Rizky... hati-hati dengan dia."

Putri terkejut. "Rizky? Kenapa? Dia orang yang baik. Dia membelaku."

"Aku tahu dia membelamu, dan aku tahu dia punya sisi baik," kata Bang Rio. "Tapi dia adalah putra Hidayat. Dia tumbuh di tengah dunia ini. Tidak peduli seberapa baik dia, dia tetap bagian dari keluarga ini. Dan jika dia tahu apa yang kamu lakukan, apa yang kamu rencanakan... aku tidak tahu di mana kesetiaannya akan berada. Apakah pada ayahnya, atau pada istrinya."

Kata-kata itu menampar hati Putri. Itu adalah ketakutan terbesarnya selama ini. "Rizky tidak tahu apa-apa soal kejahatan ayahnya. Dia bilang dia hanya mengurus bisnis legal."

"Semoga saja itu benar," ucap Bang Rio tidak yakin. "Tapi waspadalah, Putri. Di dunia ini, tidak ada yang sepenuhnya putih atau hitam. Semuanya abu-abu."

Bang Rio berbalik hendak pergi, tapi Putri memanggilnya lagi. "Bang Rio! Kenapa kamu menaruh bukti tambahan di dalam kontainer kemarin? Itu yang membuat polisi semakin keras menekan mereka."

Bang Rio berhenti sejenak, tidak menoleh. "Aku hanya memastikan rencanamu berhasil, Nyonya muda. Dan memberimu sedikit kejutan. Sekarang, pergilah. Sebelum ada yang melihat kita."

Putri menatap punggung Bang Rio yang menjauh, menghilang di antara pepohonan. Dia masih merasa seperti sedang bermimpi. Dia baru saja mendapatkan sekutu yang paling tidak terduga, dan bukti yang paling berharga. Tapi dia juga mendapatkan peringatan yang mengerikan tentang Rizky.

Perlahan, Putri berdiri dan berjalan keluar dari taman dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Saat dia kembali ke mobil, Nina langsung menoleh dengan wajah cemas.

"Gimana? Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja kan?"

Putri duduk di kursi belakang, napasnya masih memburu. Dia mengeluarkan flashdisk itu dan menunjukkannya pada Nina. Nina ternganga.

"Itu dari mana?!"

"Dari Bang Rio," jawab Putri pelan, suaranya masih bergetar. "Dia memberikannya padaku. Dia tahu segalanya, Nina. Dia tahu soal orang tuaku. Dia ingin membantu."

Nina menggeleng tak percaya. "Ini gila, Putri. Ini terlalu berisiko. Bagaimana jika itu jebakan?"

"Aku tidak tahu, Nina. Tapi ini terasa nyata," jawab Putri. "Tapi dia memberiku peringatan soal Rizky. Dia bilang aku harus hati-hati, karena aku tidak tahu di mana kesetiaan Rizky berada."

Wajah Nina berubah muram. "Aku tidak ingin mencurigai Rizky, Putri. Dia orang yang baik. Tapi... Bang Rio benar. Kita tidak boleh mengambil risiko. Kita harus menyembunyikan ini dengan sangat aman."

"Iya," Putri mengangguk, menyimpan flashdisk itu kembali ke tempat tersembunyi di dalam tasnya. "Kita harus pulang sekarang. Dan aku harus berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi mulai sekarang... semuanya berubah."

Sepanjang perjalanan pulang, Putri menatap keluar jendela mobil dengan pikiran yang kacau. Dia memegang flashdisk itu erat-erat. Dia punya bukti. Dia punya sekutu. Tapi dia juga punya keraguan yang lebih besar dari sebelumnya tentang pria yang dia cintai.

Saat mobil memasuki halaman rumah Adinata, Putri melihat mobil Rizky sudah ada di sana. Dia sudah pulang dari kantor polisi.

Jantung Putri berdegup kencang lagi. Apakah dia bisa menatap mata Rizky dan berpura-pura semuanya normal setelah apa yang dia lakukan dan apa yang dia dengar hari ini?

Putri menarik napas dalam-dalam, menyusun ekspresi wajahnya. Dia harus kuat. Demi orang tuanya, demi Rara, dan demi kebenaran.

Dia turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama. Saat dia membuka pintu, dia melihat Rizky sedang berdiri di ruang tamu, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara lega dan... curiga?

"Kamu dari mana, Putri?" tanya Rizky pelan, matanya menyapu penampilan Putri, lalu beralih ke Nina yang baru saja memarkirkan mobil. "Aku pulang dan kamu tidak ada di rumah."

Putri berhenti sejenak, jantungnya berpacu. Ini adalah ujian pertama.

 

[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri baru saja mendapatkan bukti berharga dan sekutu tak terduga dari Bang Rio, namun dia juga mendapat peringatan keras untuk waspada terhadap Rizky. Sekarang, Rizky menanyakan keberadaan Putri yang baru saja pulang dari pertemuan rahasia. Jika kamu jadi Putri, apa alibi yang akan kamu berikan pada Rizky? Apakah kamu akan terus berbohong, atau mulai sedikit membuka diri?

1
Iril
semoga suka
Iril
halo KK mohon atas dukungannya saya penulis pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!