Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.
Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.
Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Lin Zhantian.
Lampu dipadamkan, tirai ditarik perlahan. Di dalam kamar sederhana namun bersih itu, udara malam menggantung hening, setipis embun di ujung pedang.
Sebuah erangan lirih memecah sunyi.
Dengan sisa tenaga yang nyaris terkuras habis, Lin Zhantian perlahan membuka kelopak matanya yang berat seakan digelayuti gunung. Pandangannya yang masih kabur menatap langit-langit kayu yang telah menemaninya sejak kecil. Dinding kusam, meja kayu tua, serta samar aroma obat—semuanya begitu akrab, namun terasa jauh seperti mimpi yang hampir terlepas dari genggaman.
Ia tertegun.
Lalu dengan tergesa, kepalanya menoleh ke samping.
Benar saja.
Di dekat meja, dua sosok duduk berdampingan—seorang pria dan seorang wanita. Cahaya pelita yang redup membentuk bayangan panjang di belakang mereka, rapuh namun tetap kokoh.
“Ayah… Ibu…”
Suara Lin Zhantian lirih, namun sarat kelegaan.
Wanita itu adalah ibunya, Liu Yan. Wajahnya lembut dan anggun, mengenakan pakaian sederhana yang tak mampu menyembunyikan kehangatan dalam tatapannya. Begitu mendengar suara putranya, matanya segera berbinar.
“Zhantian, kau sudah sadar?”
Di sampingnya duduk seorang pria berwajah pucat—bekas luka lama telah menguras darah dan kejayaannya. Namun di antara alisnya masih tersisa ketajaman yang tak sepenuhnya padam.
Dialah Lin Xiao, ayah Lin Zhantian.
“Ilmu belum matang, sudah berani bertarung dengan orang. Bukankah itu mencari penderitaan sendiri?”
Nada suaranya datar dan dingin, seperti bilah pedang yang belum sepenuhnya ditarik dari sarungnya.
Lin Zhantian mengerutkan lehernya tanpa sadar. Namun bara dalam dadanya belum padam.
“Siapa suruh mereka menyebut Ayah sebagai… sampah…”
Tangannya meraba dada yang masih berdenyut nyeri. Ingatan tentang siang tadi membuat rahangnya mengeras.
Hari ini adalah ujian kecil keluarga. Ia baru berkultivasi setengah tahun, hasilnya biasa saja. Namun ia tak pernah menganggap dirinya lebih rendah. Jika diberi waktu dan sumber daya yang sama, ia yakin takkan kalah dari siapa pun.
Namun setelah ujian, ia bertemu beberapa pemuda yang memang sering memusuhinya. Ejekan terhadap ayahnya membakar darah mudanya.
Amarah menguasai akal.
Ia menyerang.
Dan hasilnya—ia dipukuli hingga pingsan.
“Lin Shan… tunggu saja. Jika lain kali aku tidak membuat wajahmu membengkak seperti kepala babi, aku bukan bermarga Lin!”
Dendam terukir dalam hatinya.
Namun tekad itu segera dihantam kenyataan.
Lin Shan telah mencapai Tingkat Keempat Penempaan Tubuh.
Sedangkan ia… baru Tingkat Kedua.
Di jalan kultivasi, Penempaan Tubuh adalah fondasi segalanya.
Tubuh manusia adalah misteri terdalam antara langit dan bumi. Sebelum berbicara tentang Yuan Qi dan hukum alam, seseorang harus terlebih dahulu menaklukkan raga fana ini.
Penempaan Tubuh terbagi menjadi sembilan tingkat.
Tiga tingkat pertama hanya memperkuat fisik secara dasar. Namun pada Tingkat Keempat—Pemurnian Kulit—kulit akan mengeras seperti kayu dan batu, kekuatan serta kecepatan melonjak drastis.
Lin Shan berada di tahap itu.
Lin Zhantian jelas bukan tandingannya.
Perbedaan ini bukan sekadar bakat. Pada tahap Penempaan Tubuh, hampir semua orang dapat berkultivasi. Namun seberapa jauh melangkah, ditentukan oleh modal dan keberuntungan.
Tubuh harus didorong ke batasnya berulang kali. Tanpa ramuan obat mahal untuk memulihkan kerusakan, tubuh akan hancur sebelum mencapai puncak.
Ayah Lin Shan mengelola keuangan keluarga. Ramuan tak pernah kurang.
Sedangkan Lin Zhantian…
Tak memiliki kemewahan itu.
Di dalam kamar, Lin Xiao yang mendengar gumaman putranya mengepalkan tangan di atas meja. Wajahnya menggelap seperti awan badai.
“Aku tak butuh kau menang dengan lidah,” ucapnya datar. “Berlatihlah dengan baik. Jika kau cukup kuat, mulut mereka akan tertutup sendiri.”
Ia terdiam sejenak, lalu berkata berat:
“Liu Yan, ambilkan akar ginseng merah itu untuk Zhantian. Dengan itu, latihannya bisa lebih cepat. Tinggal setengah tahun sebelum Kompetisi Klan.”
Liu Yan terkejut.
“Itu untuk menyembuhkan lukamu…”
Lin Xiao tersenyum pahit.
“Aku sudah menjadi orang cacat. Seberapa pun aku berobat, takkan banyak berubah.”
Bayangannya memanjang di bawah cahaya pelita—sunyi dan getir.
Namun dalam kesunyian itu, tekad seorang ayah lebih berat dari gunung.
“Ayah bukanlah seorang pecundang! Ayah dahulu adalah yang terkuat di Keluarga Lin selain Kakek!”
Wajah Lin Zhantian memerah padam. Di dalam hati seorang anak, ayah adalah langit yang tak boleh runtuh.
Kata-kata itu membuat tangan Lin Xiao mengepal. Luka lama kembali menganga.
Ia bangkit dan berjalan keluar.
“Rebuskan obat untuk anak itu. Lukaku tak penting.”
Liu Yan menunduk, air matanya nyaris jatuh.
“Ibu, jangan menangis. Zhantian pasti akan berlatih lebih keras. Aku akan menyembuhkan Ayah!”
Mata bocah itu bersinar.
“Tiga besar Kompetisi Klan akan mendapatkan Buah Zhu Penggumpal Darah. Jika aku mendapatkannya, luka Ayah pasti membaik!”
Liu Yan tersenyum getir. Masuk tiga besar bukan perkara mudah.
Namun setelah pintu tertutup, tangan kecil Lin Zhantian mengepal kuat.
“Aku pasti mendapatkannya.”
Begitu memikirkan luka ayahnya, kebencian menyala di matanya.
Semua ini…
Bermula dari satu orang.
Keluarga Lin di Kota Qingyang hanyalah cabang kecil dari Klan Lin—salah satu Empat Klan Agung Kekaisaran Yan Agung.
Dahulu mereka adalah bagian inti. Namun karena kegagalan besar, mereka diusir.
Harapan untuk kembali bertumpu pada Pertemuan Klan Sepuluh Tahunan.
Dan dahulu, harapan itu berada pada Lin Xiao.
Ia menembus Tingkat Kesembilan Penempaan Tubuh. Memasuki Alam Yuan Bumi. Lalu menerobos ke Alam Yuan Langit.
Namun semua runtuh.
Satu jurus.
Dalam pertandingan pertama, ia dikalahkan.
Lebih buruk lagi, serangan lawannya menghancurkan meridiannya. Kultivasinya jatuh. Jalur latihannya terputus.
Tatapan hormat berubah menjadi kekecewaan.
Di sudut ruangan, Lin Zhantian kecil menyaksikan semuanya.
Kebencian tumbuh perlahan.
Orang itu…
Menghancurkan ayahnya.
Menghancurkan keluarganya.
Sepuluh tahun mulai berkultivasi. Dua belas tahun menembus Penempaan Tubuh tingkat sembilan. Lima belas tahun mencapai Alam Yuan Langit. Dua puluh tahun membentuk Yuan Dan.
Hidupnya adalah legenda.
Namanya—
Lin Zhantian.
Di kamar yang sunyi itu, Lin Zhantian mengepalkan tinjunya erat-erat.
Api kecil di dadanya kini bukan lagi bara lemah.
Ia telah menemukan bahan bakarnya.
Dan suatu hari nanti—
api itu akan membakar langit.
(Bersambung…)