Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Vania tengah menikmati malam di taman kota, wajahnya yang cantik sengaja ditutup oleh masker supaya tidak ada orang yang mengenalinya. Ia juga memakai topi agar penyamarannya sempurna.
Vania berdiri sembari termenung di tengah lingkaran taman yang luas. Ia mendongak ke langit malam yang bertabur bintang, air matanya mengalir sampai pelipis, pertanda sedang merindukan kedua orang tuanya. Meski di bawah kelap-kelip bintang dan di tengah keramaian orang, hatinya terasa hampa. Cobaan yang ia terima secara bertubi-tubi membuatnya harus terpaksa tetap berdiri tegak, walaupun sebenarnya hidupnya sedang rapuh.
Tidak ada pelukan hangat yang dapat membuatnya tenang, tidak ada tempat untuk bercerita. Rumah yang dulu menjadi tempat ternyamannya kini sudah tidak ada lagi, kehidupan harmonis dan bergelimang harta seketika runtuh. Semua tiada arti tanpa ada kedua orang tuanya. Kini Vania berusaha menjadi gadis mandiri di tengah keterpurukan hidupnya.
Vania menjalani hidup sembari berpikir arah dan tujuan hidupnya di masa depan. Sementara di sisi lain Rika sibuk memperhatikan kalian dan Laras asyik memakan cemilannya. Rika tahu Vania masih sangat berat untuk menerima kepahitan dalam hidupnya. Di usia muda, ketika Vania pertama kalinya jatuh hati pada seseorang malah dikhianati, setelahnya kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan yang disengaja. Wajar saja jika Vania butuh ketenangan dari hingar-bingar dunia maya.
"Mbak Rika tolong foto dan video in aku dong. Mumpung kita lagi di sini dan suasananya juga bagus," pinta Vania seraya memberikan ponselnya kepada Rika.
Mata Rika tertuju pada sepasang mata Vania yang sembab." Vania, kamu habis nangis ya?"
Mendengar ucapan Rika, Vania segera menghapus air matanya." Udah aku hapus nih air matanya. Ayok fotoin aku mbak."
"Yaudah, tapi itu masker dan topinya gak kamu buka dulu?"
Vania menggelengkan kepalanya." Gak usah, aku gak mau jadi perhatian banyak orang malam ini."
"Yaudah kalau gitu."
"Oke, aku di tengah-tengah situ ya."
Meski sedang dilanda kesedihan Vania bisa bersikap seolah dia bahagia, ia berpose seolah menikmati hembusan angin malam. Rika tersenyum datang melihat Vania yang berusaha menyenangkan diri sendiri. Rika dengan piawai memotret berbagai pose Vania SE bagus mungkin. Diantara orang-orang di sekitarku, hanya Rika dan Laras yang masih setia bersamanya.
Sembari memotret, Rika memperhatikan Vania. " Vania gak ragu untuk kasih rumah dan usaha kedua orang tuanya pada keluarga besarnya. Meskipun dia memiliki banyak harta dan menjadi pewaris tunggal tidak menjamin hidupnya tenang dns bahagia. Bahkan sebelumnya dia di khianati oleh tunangannya sendiri dan kemudian ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Wajah ceria yang selalu ditampakkan dulu, sekarang menjadi redup. Dan tentu setelah apa yang terjadi Vania butuh waktu untuk memulihkan energinya. Aku bersyukur bisa bekerja dengan wanita kuat seperti Vania," guman Rika sembari memotret Vania
"Udah banyak belum fotonya, mbak?" tanya Vania sedikit membuat Rika terkejut.
"Eum, udah dapat banyak nih fotonya." Rika melirik ke arah jam di ponsel Vania." Udah jam sepuluh malam ternyata, kita pulang ke hotel aja yuk, Van."
" Yuk, aku juga udah mulai capek nih, ngantuk juga," Timpal Laras.
"Yaudah kita pulang sekarang ya."
Ketiganya beranjak dari sana menuju ke jalan raya, selama di perjalanan menuju jalan raya Vania menundukkan kepalanya supaya tidak ada yang menyadari siapa dirinya. Beruntung begitu sampai di jalan raya sebuah taksi melintas dan langsung diberhentikan oleh Rika, akhirnya ketiganya pun naik taksi itu menuju ke hotel.
____
"Kamu nggak ada rencana untuk nikah lagi gitu?" Banyak seorang wanita di depannya.
"Aduh kak, Kalau aku sih nggak kepikiran untuk menikah lagi. Tapi anakku yang malah pengen punya ibu sambung," ucap Farel sembari mengunyah hidangannya.
"Ya baguslah, anakmu itu kan pasti butuh sosok ibu, biarlah dia punya ibu sambung supaya ada yang merhatiin, jagain dan merawat dia. Anak-anakku yang punya ibu sibuk kayak aku aja selalu ngerengek kangen, begitu juga sebaliknya. Kami nggak bisa berjauhan, meskipun ada baby sitter yang merawat dia, tetap saja kasih sayang ibu nomor satu,"ucap Wanita itu lagi.
"Tapi aku mencintai mendiang istriku. Aku nggak mau menyakiti perempuan yang nanti jadi ibu sambung anakku, hanya karena aku masih mencintai mendiang istriku."
"Yo gak apa-apa, cinta bisa hadir karena terbiasa. Aku memang awalnya kamu nggak mencintai perempuan itu, tapi ketika kalian sudah menikah dan melakukan kegiatan selayaknya suami istri, gak akan mustahil kalau nanti kamu akan jatuh cinta pada perempuan itu."
"Tapi kakak tahu sendiri kalau aku tipe orang yang sulit buat jatuh cinta. Kadang kalau dipikir lagi, aku tuh menyesal karena dulu gak sempat nemenin istriku melahirkan. Aku malah sibuk dengan pekerjaan ku."
Di tengah obrolan mereka, seorang pria berkulit sawo matang hadir dan duduk diantara mereka sambil membawa cemilan. Di sela-sela kepadatan syuting, mereka melepas anak sejenak di salah satu tempat makan ternama di sana. Farel tersedak karena terkejut dengan kehadiran laki-laki itu yang tiba-tiba.
"Iya kamu ambil cuti lah masalah syuting drama ini selesai, supaya kamu ada waktu banyak untuk anakmu. Kalau kamu pernah menyesal karena tidak sempat menanami istri kamu melahirkan dulu, harusnya kamu meluangkan waktu yang banyak untuk anak semata wayangmu," ujar pria itu pada Farel.
"Aku sempat dapat tawaran untuk bermain di drama action. Aku rencananya mau menerima tawaran itu, aku kerja gini juga kan untuk menghidupi anakku, bang."
"Ayah macam apa kamu ini? Selalu saja pekerjaan yang kamu prioritaskan, aku dengar kemarin anakmu sampai diculik orang ya? Apa kamu nggak mengambil pelajaran dari kejadian itu? Kalau kamu pernah kehilangan seorang istri, jangan pula kamu sampai kehilangan anakmu. Saranku sih jangan dulu ambil pekerjaan baru, uang masih bisa dicari dari mana saja. Tapi kebahagiaan anakmu itu tidak bisa di di beli dengan uang," tegur pria itu.
" Namanya juga Farel, aktor terbaik yang langganan dapat penghargaan jadi ya wajar kalau dia laris tawaran main film," timpal wanita yang tadi bersama Farel.
"Engga gitu juga, kak, Bang. Yaudah deh, nanti aku ambil cuti dan pulang."
"Kamu itu masih muda loh, Rel. Cari istri lagi sama atau perlu ku Carikan perempuan di sini untuk kamu jadikan istri?"
Farel sontak tersedak begitu mendengar ucapan pria itu. " Gak usah, bang. Biar jodohku datang dengan sendirinya."
Suara notifikasi pesan bunyi, ia mengecek ponselnya ternyata pesan dari putri kecilnya. Farel membuka pesan itu, lantas matanya terbelalak melihat pesan yang dikirim oleh pengasuh Cila.
Cila sayang
Selamat siang, pak. Maaf saya baru ngasih kabar sama bapak. Mertua pak Farel nginep di sini, mereka baru datang beberapa jam yang lalu.
Sebenarnya saya gak di bolehin mertua bapak buat kasih tau keberadaan mereka ke bapak katanya supaya jadi kejutan dan bisa nemenin non Cila.
Anda
Yasudah gak apa-apa, Bi. Syukurlah kalau Cila ada yang nemenin.
Cila sayang
Tapi pak maaf, uang untuk keperluan non Cila malah dipegang sama ibu mertua bapak. Kata beliau supaya beliau yang atur dan uang itu juga buat masak untuk makan non Cila.
Anda
Yaudah gak apa-apa, Bi. Nanti saya hubungi mertua saya. Kamu gak usah khawatir.
" Ya Allah, sabarkanlah hati hamba-Mu ini," gumam Farel setelah berbalas pesan dengan pengasuh Cila.
Kedua temannya itu sontak melihat Farel. " Ada apa, Rel? Wajahmu kok ditekuk gitu, ada masalah?" tanya pria itu dengan tatapan heran.
"Ini ada mertuaku Bang di rumah," jawab Farel.
"Oh orang tua istrimu ada di rumah, terus kenapa?"
" Gak apa-apa sih, aku sebenarnya senang ada mereka dengan begitu Cila gak kesepian lagi. Tapi masalahnya uang Cila yang di pegang pengasuhnya diambil alih sama ibu mertuaku. Aku mau negur tapi takut jadinya salah paham, dan menganggap aku kurang ajar sama orang tua. Memang ibu dari istriku itu suka ikut campur dns tukang ngatur bang. Jadi aku musti banyak bersabar."
"Ya itu mah gampang, kamu kasih tau mertuamu itu perihal peraturan di rumah kamu. Kamu kan kepala keluarga, semua urusan keluargamu yang ada di tangan kamu, mereka gak perlu ikut campur walaupun dengan alasan membantu. Jadi laki-laki harus tegas loh, Farel."
Farel seketika teringat akan Cila yang punya keinginan untuk mempunyai ibu sambung. Matanya sontak terbelalak, khawatir jika putri kecilnya itu menceritakan apa yang dimaksud pada kakek dan neneknya. Ia mengigit bibir bawahnya karena khawatir." Kalau ibu tahu Cila punya keinginan untuk aku menikah lagi, bisa jadi runyam ini urusannya. Mudah-mudahan Cila gak berita soal keinginannya itu, apalagi sampai cerita soal Vania, bisa makin runyam. Aku harus segera selesaikan pekerjaan ku di sini dan pulang."