Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Sudut pandang Sari
“Ahhh…”
“Ada apa, Sari? Kamu kelihatan tidak sehat,” tanya Andi sambil mendorong gelas kopiku dengan nada khawatir.
“Hah? Eh, tidak apa-apa kok, Andi,” jawabku sambil menggelengkan kepala, tapi senyumku terasa kaku dan terpaksa.
Sejak kemarin aku menyatakan perasaan kepada Rian, hati ku benar-benar hancur. Perasaan depresi ini tidak bisa dibandingkan dengan apa pun, bahkan saat Rian punya pacar dulu. Aku merasa lesu sekali, tidak ada semangat untuk melakukan apa saja.
Saat ini aku sedang berkencan dengan pacarku, Andi. Hari ini libur, jadi kami memilih makan siang di kafe favoritku sambil minum kopi.
Rian sebenarnya tidak suka kopi, tapi aku sangat menyukai tempat ini sehingga sering datang ke sini. Itu juga alasan mengapa Rian memberikan kupon kopi kepada tiga anak laki-laki itu kemarin... Sekarang setelah dia memutuskan hubungan denganku, dia pasti tidak akan datang lagi ke tempat ini. Karna dia memang tidak menyukainya.
Perasaan ku sekarang membuat ku tidak mood untuk berkencan. Aku ingin pulang segera. Aku ingin fokus memikirkan cara memperbaiki hubungan dengan Rian.
Tetapi aku sudah berjanji keluar dengan Andi hari ini. Aku tidak bisa membatalkannya lagi. Kemarin saja aku sudah melanggar janji pulang bersama dia. Aku tidak mau sering membatalkan rencana dengan pacar, jadi aku datang meskipun sedang tidak bersemangat.
...Seandainya aku bisa menunjukkan perhatian yang sama kepada Rian, hubungan kami pasti tidak akan serumit ini...
Hubungan kami sebagai teman masa kecil dan sikap Rian yang biasanya pemaaf hanya membuat ku semakin sombong.
Memperbaiki hubungan dengan Rian mulai sekarang akan sangat sulit. Setidaknya bagi ku. Karena meskipun Rian sudah mengatakan hal-hal itu, aku masih belum menyadari kesalahanku sendiri...
“Kamu kelihatan masih belum bersemangat... Yakin baik-baik saja? Kita pulang sekarang kalau kamu mau?” tanya Andi sambil mengerutkan kening, tangannya memegang gelas kopi.
“...Tidak, tidak apa-apa. Aku cuma khawatir sama Rian...” jawabku pelan sambil menatap kosong ke meja.
“...Rian, ya?” Andi mengerutkan kening lebih dalam saat nama Rian disebut.
Aku bahkan tidak menyadari nada suaranya berubah. Ini selalu terjadi, bahkan kalau lawan bicaranya bukan Rian.
“Kalau dipikir-pikir lagi, Sari... kamu selalu cerita tentang teman masa kecilmu setiap kali kita ketemu, ya?” tanya Andi dengan nada datar, tapi ada nada kesal yang terselip.
“...Eh? Kurasa tidak begitu,” jawabku sambil menggeleng.
“Aku rasa iya,” balas Andi sambil menatapku tajam.
(Itu memang sering terjadi... Bahkan setelah salaman pagi, hal pertama yang aku omongin pasti tentang Rian... Dan sekarang aku ingin kenalkan dia ke Andi? Apa aku bercanda?)
──Sebelum pacaran denganku, Andi sudah tahu tentang hubunganku dengan Rian.
Andi cukup populer. Beberapa cewek pernah menyatakan perasaan kepadanya meskipun sudah punya pacar, dan dia pernah berkencan dengan mereka tanpa tahu, yang akhirnya menimbulkan masalah baginya.
Makanya dia bertanya tentang hubunganku dengan Rian, dan waktu itu aku bilang dengan jelas:
“Aku dan Rian cuma teman masa kecil!”
...Jadi Andi menerima perasaanku, tetapi... bertentangan dengan harapannya, setiap kali ketemu aku selalu berakhir cerita tentang teman masa kecilku.
(Meskipun teman masa kecil, dia tetap cowok. Aku ingin dia lebih pengertian sedikit...)
Walaupun aku mengizinkan Rian bertemu berdua dengannya, itu hanya pura-pura. Di hati ku tidak tenang sama sekali.
Kopi yang aku pesan sudah hampir habis.
Andi juga sudah memesan minuman kedua.
Walaupun kami sudah mengobrol lama, aku hanya menghela napas dan kelihatan linglung.
Andi sudah muak dengan kekhawatiranku yang terus-terusan tentang teman masa kecilku. Akhirnya dia bilang langsung.
“Sekadar memastikan sekali lagi... kalian benar-benar cuma teman masa kecil, kan?” tanyanya dengan nada tegas, matanya menatap lurus.
“...Cuma teman masa kecil...?” ulangku dengan nada bingung.
“Hah?! Hei, apa aku menyakiti perasaanmu?” tanya Andi cepat, wajahnya tegang.
Aku merasakan aura kesal darinya, tapi Andi tidak tahu apa yang membuat ku marah.
Maksudmu cuma teman masa kecil? Aku sudah bersama Rian lebih dari sepuluh tahun, kami seperti keluarga! Bukankah agak kasar menyebut kami cuma teman masa kecil?
“Maaf... Cuma kamu selalu kelihatan khawatir sama teman masa kecilmu... Maaf aku bilang hal kasar tadi,” kata Andi sambil menunduk.
“Ah...! Akulah yang seharusnya minta maaf! Tapi kamu sudah mengakui hubunganku sama Rian, jadi kurasa kamu tidak seharusnya bilang hal kejam seperti itu... kan?” jawabku dengan nada kesal.
“Ya... aku mengerti,” balas Andi pelan.
Andi tidak paham apa yang salah dengan menyebut kami cuma teman masa kecil.
Setelah itu, kami meninggalkan kafe dan akhirnya berpisah.
Andi awalnya mau mengajak nonton film bareng, tapi aku sudah tidak berminat lagi.
──────
“Rumah Rian...”
Aku berdiri di depan rumah Rian.
Aku hampir menekan interkom, tapi tiba-tiba berubah pikiran dan berhenti. Aku takut dihina lagi seperti kemarin.
Setelah itu, aku berjalan-jalan keliling area rumah Rian.
Tidak ada maksud khusus. Aku hanya ingin melihat rumah Rian dari berbagai sudut.
“...Ah.”
Setelah muter-muter beberapa puluh kali, aku tidak sengaja melihat Rian sedang mengintip dari jendela. Aku merasa itu takdir, lalu dengan senang hati aku melambai ke Rian.
──BAM!
Begitu Rian melihat ku, dia langsung membanting jendela sampai tertutup rapat.
Dia bahkan tidak mau melihat wajahku. Banyak orang bilang kebalikan cinta itu ketidakpedulian, tapi itu tidak berlaku buat Rian.
Dia sudah tidak suka aku lagi. Rian benci aku. Aku menyebalkan. Cuma merasakan kehadiranku saja sudah membuatnya jengkel... begitulah tipe orangnya sekarang.
“Ini masih belum baik... kenapa kamu marah sekali?” gumamku pelan sambil menatap jendela kamar Rian selama sekitar 30 menit sebelum akhirnya pulang.
……
Bahkan setelah sampai rumah, aku masih memikirkan Rian.
Hal itu tidak berubah, hanya saja belakangan ini semakin sering.
“Rian... hubungan pacaran tidak bertahan lama, tahu? Aku sama Andi cuma ingin merasakan sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya... tapi kamu salah kalau mengira aku akan bersama Andi selamanya.”
Bagi aku, kejadian ini hanya kesalahpahaman yang disayangkan. Aku pikir cukup bilang ke Rian bahwa dia lebih penting daripada Andi... tetapi kalau Rian masih tidak yakin, dalam kasus terburuk aku pikir aku tidak punya pilihan selain putus dengan Andi.
“Lagipula, Rian itu teman masa kecilku, keluargaku, dan bagian dari diriku... Aku tidak bisa mengubahnya menjadi pacarku sekarang...”
Tidak mungkin aku menerima pengakuan yang akan menurunkan kualitas hubungan kami... tetapi meskipun begitu, Rian sangat jahat.
Aku menganggap Rian sebagai anggota keluarga yang penting... dan karena dia sekarang sudah menjadi keluarga, wajar kalau aku tidak gugup saat bersamanya.
Tetapi aku tidak tahu apa-apa...
...Mungkin penjelasanku kurang jelas... Aku akan merenungkan ini dan menjelaskan lagi besok dengan lebih baik!
Aku harus membuatnya mengerti bahwa kita itu keluarga!
── Sebelum tidur, aku kembali ke depan rumah Rian.
Aku melihat ke jendela kamarnya, berharap ada kebetulan lagi seperti tadi...
...Tetapi kali ini, setelah menunggu hampir satu jam, tidak ada kesempatan sama sekali. Akhirnya aku pulang dengan hati berat.
“Hmm...”
“──Umm, Nona? Boleh saya bertanya sesuatu?” tanya seorang polisi yang tiba-tiba muncul dari belakang.
“Oh, Pak Polisi, selamat malam... ada apa?” jawabku kaget sambil menoleh.
“Nah, apa yang sedang Nona lakukan saat ini?” tanyanya dengan nada ramah tapi tegas.
“Ya, aku cuma mengecek keadaan Rian. Jaraknya cuma beberapa langkah saja... rumahku tepat di depan sana,” jawabku sambil menunjuk rumahku.
“Rian? Ya, kalau tetangga sih tidak apa-apa... tapi Nona harus hati-hati, kalau polisinya tidak tegas, bisa sampai ditahan lho,” kata polisi sambil tersenyum kecil.
“Ya, aku akan hati-hati,” jawabku sambil mengangguk.
“Selain itu, ada laporan tentang orang mencurigakan yang berkeliaran di sekitar sini.”
“Ah, apa itu orang yang mencurigakan?!” tanyaku kaget.
“Ya, katanya dia sudah menatap rumah yang sama. Benar-benar penguntit.”
“Ya... itu benar-benar seperti menguntit...” gumamku pelan.
“Ini masalah serius. Jadi meskipun rumah Nona dekat, tetap berbahaya keluar malam-malam begini, kan?”
“Ya, aku akan hati-hati. Kuharap mereka segera menangkapnya!” jawabku cepat.
“Ya, kami akan berusaha sebaik mungkin. Selamat malam, Nona!”
“Ya, selamat malam, Pak.”
──Penguntit... itu menakutkan...
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰